NovelToon NovelToon
Di Ujung Asa

Di Ujung Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Baim

Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

      Hesti terdiam. Menatap serius pada Amira.

      "Semua karena Ibu. Ibu itu seperti hantu bagi ku. Dia selalu menghantuiku setiap saat, setiap waktu, sampai-sampai aku nggak bisa napas saking merasa tercekiknya."

     Amira diam lagi. Kepalanya bersandar pada dinding. Matanya terpejam.

     "Hes."Masih dengan posisinya.

     "Apa tanggapan kamu, kalau bahagia itu aku dapatkan setelah aku menjadi janda?"

     Hesti terkejut . Matanya terbelalak.

     "Amira, jangan bilang kalau kamu yang akan menceraikan suamimu."

     Amira tertawa. Membuka matanya, menoleh pada Hesti.

      "Kamu tau nggak..bahkan Bu RT bersedia menyewa pengacara sehebat Hotman Paris untuk mendampingi ku, seandainya aku mau bercerai dari Mas Dika. Hebat kan aku, di dampingi pengacara sekelas Bang Hotman Paris."Amira tersenyum lebar.

     "Mir..apa sebaiknya kamu sama Alif ikut saja suami mu dan kalian tinggal di kota, jauh dari Ibu mertua kamu?"

     Amira kembali tertawa. Dia menggelengkan kepalanya berulangkali.

     "Hesti, Hesti..baru beberapa menit lalu aku katakan, Ibu itu seperti hantu bagi ku. Dia nggak akan pernah membiarkan aku hidup dengan tenang, selama aku masih menjadi istri anaknya."

    "Aku pikir-pikir, demi kebahagiaan kita semua, lebih baik aku yang mengalah. Harus ada yang berkorban. Dan itu aku. Aku akan mengakhiri semuanya. Walau di tebus dengan harga yang sangat mahal. Modal cinta besar dari suami saja nggak akan cukup Hes, untuk kebahagiaan sebuah pernikahan. Harusnya, cinta suami, cinta mertua, cinta keluarga , baru lah kita bisa rasakan bahagia yang sesungguhnya."

    Suasana kembali hening. Amira melanjutkan menonton TV. Begitu juga dengan Hesti.

    "Kalau aku nggak bisa bercerai dengan Mas Dika, pergi yang jauh adalah jalannya."

   Hesti menengok ke samping dimana Amira duduk dengan kembali menyandarkan punggung dan kepalanya di dinding.

    "Maksud kamu?"

      Amira memalingkan wajahnya menatap Hesti. Lalu tersenyum penuh arti. "Aku dan anak ku akan pergi jauh. Jauh sekali. Sampai Mas Dika nggak bisa menemukan kita."

    "Apa kamu nggak cinta sama suami mu?"

     Amira terdiam. Masih menatap Hesti. Detik berikutnya, dia memejamkan mata. Tes...air matanya menetes.

    "Cintaku pada Mas Dika, nggak bisa di ucapkan dengan hanya kata-kata. Cuma keluarga Mas Dika yang aku punya di dunia ini. Awalnya aku takut, sewaktu Ibu menyumpahi Mas Dika akan menceraikan aku dan menikah dengan perempuan kaya. Dunia ku seakan runtuh. Aku takut sumpah Ibu akan menjadi kenyataan. Aku nggak sanggup Hes. Benar-benar nggak sanggup. Bagaimana nasib aku dan Alif kalau Mas Dika menuruti permintaan Ibunya. Kami akan di buang. Aku dan Alif sama siapa nanti?"

    Amira menarik beberapa lembar tisu yang ada di taruh di lantai. Lalu mengeluarkan cairan kental dari hidungnya.

    "Kamu tau Hes."Lanjutnya.

     "kedua orang tua ku pergi meninggalkan aku, di saat aku lagi butuh di sayang-sayang. Lagi butuh di perhatian. Mereka tega pergi meninggalkan aku Hes."

    "Di saat aku terpuruk, keluarga besar Ayah memperlakukan aku seperti sampah. Hampir setiap hari, mereka menyiksa ku, menjadikan aku babu di rumah ku sendiri. Nggak ada kasih sayang secuil pun yang aku dapatkan dari mereka."

    Amira menghapus pipinya yang basah.

    "Setelah aku bertemu dengan Mas Dika, secercah harapan indah muncul dalam anganku. Aku berharap kasih sayang seorang Ibu aku dapatkan dari Ibunya Mas Dika, walau itu cuma Ibu mertua."

     Amira tertawa. Tertawa mengejek dirinya sendiri. Yang terlalu banyak berharap dan menuntut.

     "Tapi itu semua cuma hayalan ku saja. Kadang-kadang aku bertanya pada diri ku sendiri. Apa salah ku? Kenapa semua orang bisa begitu bencinya sama aku. Aku juga berpikir, mungkin juga Allah membenci ku, sampai Dia nggak mau menghadirkan yang namanya kebahagiaan buat aku. Hes...apa kamu juga membenci ku?"

      "Amira.."

      Air mata Amira, tidak bisa di bendung lagi. Di tumpahkan cairan bening itu, dengan isakan tertahan. kedua tangan Hesti, meraih tubuh yang bergetar itu, membawanya dalam dekapan. Hesti juga ikut menangis.

     "Aku harus bagaimana Hes..aku cuma ingin di sayang. Ingin merasakan pelukan hangat seorang Ibu. Ingin bahagia, ingin di cintai. Tapi kenapa hal yang sederhana itu, sangat begitu sulit? Apa salah ku? Apakah ini sebuah dosa atau karma yang harus aku bayar dari seseorang di masa lalu Hes?"

     Amira terus mengeluarkan semua isi hatinya. Sambil menangis tersedu.

......................

     Waktu terus berjalan. Dan hari ini Amira mendapat transfer bulan kedua gaji suaminya.

     "Assalamu'alaikum dek."

     "Wa'alaikumssalam Mas."Amira menjawab salam suaminya di suatu hari menjelang sore. Saat Amira baru pulang dari pekerjaannya.

     "Lagi ngapain?"Tanya Andika.

      

"Ini Mas, baru pulang kerja."Jawab Amira yang memang baru pulang dari kerja di ladangnya Pak Sobari. Yang kali ini Pak Sobari sedang panen cabe.

      Hembusan napas panjang yang Amira dengar dari suaminya.

       "Alif ikut juga?"

    .  "Nggak, Alif sama Bu Sinta."

      "Mas udah bilang..nggak usah kerja begitu lagi. Kasihan Alif. Hari ini sama Bu Sinta, besok-besok kalau nggak ada orang yang jagain anak ku, kamu pasti bawah dia lagi."Kata Andika.

      Amira diam saja. Karena dia tahu suaminya saat ini sedang marah. Itu jelas terdengar dari nada suaranya, yang tidak enak didengar.

      "Maafkan Mira."

      Mau membela diri, tidak mungkin. Amira sadar, dia memang salah.

      "Kalau kamu masih kerja begitu lagi, lebih baik Mas berhenti kerja saja dek. Kamu..."

      "Mas."Amira sontak memotong ucapan suaminya.

       "Kalau Mira nggak kerja, Mira juga mau ngapain di rumah seharian. Mas tau Mira orangnya nggak bisa cuma duduk manis di rumah."

       "Mas tau, sangat tau malah. Tapi bukan pekerjaan seperti itu yang Mas maksud. Cobalah kerja sesuatu yang kamu nggak bisa ninggalin Alif."

      Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.

      "Kalau kamu masih terus seperti itu, tinggal pilih, mau ikut Mas kesini, atau Mas yang pulang kesana. Pilihan ada pada kamu."

     Amira diam. Bibir bawahnya digigit. Dia benar-benar dilema. Mau berhenti dari pekerjaan nya, mau ngapain di kos. Seharian bermain bersama Alif, bisa bikin otaknya panas.

    Tapi kalau masih nekat, malah suaminya yang akan pulang ke kampung. Dan itu tidak baik bagi dirinya. Bisa-bisa Ibu mertuanya benar-benar menghabisi nyawanya.

     Pekerjaan seperti apa yang akan dia kerjakan, yang tidak meninggalkan anaknya, saat ini belum terlintas di pikirannya.

     Entah kenapa saat ini hatinya belum bisa mengikuti suaminya ke kota. Ada sesuatu yang memberatkan langkahnya. Amira sendiri tidak tahu apa itu.

    "Mas udah transfer uang di rekening kamu ya...empat juta. Dek, maaf ya...bisa kan kasih Ibu satu juta. Bukan apa-apa, Mas cuma nggak mau Ibu ribut-ribut soal uang lagi. Nggak papa kan?"Ujar Andika, dengan suara yang sudah sangat lembut.

    "Nggak papa kok Mas. Tenang aja, Mira juga udah capek denger Ibu marah-marah terus."Sambungnya sedikit ketus. Andika menyadari itu. Tapi dia cuma diam.

    Kembali desahan panjang yang didengar Amira.

    "Atas nama Ibu, Mas minta maaf..tapi Mas mohon sama kamu dek..jangan pernah membenci Ibu. Kalau kamu mau marah, marah nya ke Mas saja, jangan sama Ibu."

Bersambung......

1
tanpa nama
Dsni perannya amira trlalu bodoh, trllu lemah. Udah bener d belain suami, mlah bersikap bodoh.
Jd gmes bcanya bkin emosi

Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya
tanpa nama
Smngt nulis kryanya thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!