NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Nama yang Terlahir dari Api

Dinding sel penjara wanita di Madrid itu dingin dan berlumut, namun bagi Isabel, ruangan itu adalah kantor mewah dengan dinding kaca yang menghadap ke arah Gran Vía. Ia duduk di atas kasur tipis yang keras, namun jemarinya bergerak di udara seolah-olah sedang menyentuh permukaan meja kayu ek yang mahal.

"Sekretaris, bawakan aku kopi. Dan pastikan jadwal rapat dengan investor dari London tidak terlambat," gumam Isabel. Suaranya serak, matanya yang cekung menatap kosong ke arah jeruji besi yang dalam khayalannya adalah bingkai jendela emas.

Ia tersenyum sendiri, sebuah senyum yang menyeramkan. Dalam pikirannya, ia sedang mengenakan gaun sutra merah, berdiri di samping Santiago Valero. Ia membayangkan Alicia—wanita sombong itu—sedang bersujud di kakinya, memohon ampun karena telah mencoba merebut posisi yang seharusnya milik Isabel sejak awal.

Seorang narapidana wanita lain lewat dan meludah di depan selnya. "Hoi, gila! Berhenti bicara sendiri! Kau di penjara, bukan di istana! Dasar tidak waras!"

​Isabel tidak bergeming. Ia menyisir rambutnya yang kusam dengan jemari yang gemetar, lalu tersenyum tipis ke arah dinding. "Lihatlah, Santiago... akhirnya kita berhasil. Wanita sombong itu, Alicia, sudah pergi. Dia tidak lebih dari sekadar pelayan yang mencoba menjadi ratu. Sekarang, akulah Nyonya Valero yang sesungguhnya. Akulah pemimpin Solera."

Namun, tiba-tiba suara dentuman keras dari sipir yang memukul jeruji besi memecahkan keheningan. "Waktunya makan, nomor 402! Ambil nampanmu!"

Suara itu seperti petir yang menghancurkan kaca khayalan Isabel. Seketika, kantor mewah itu lenyap. Dinding kaca berubah kembali menjadi beton kusam yang pesing. Meja kayu eknya berubah menjadi lantai dingin yang kotor. Dan Santiago... Santiago tidak ada di sana.

Isabel menatap tangannya yang kusam, tanpa perhiasan, tanpa harga diri. Kesadaran menghantamnya seperti palu gada. Ia bukan direktur. Ia bukan istri Santiago. Ia hanyalah seorang narapidana yang dibuang dan dilupakan.

"TIDAK! TIDAK MUNGKIN!" teriak Isabel tiba-tiba. Suaranya melengking, membelah kesunyian lorong penjara. "AKU ADALAH NYONYA VALERO! KELUARKAN AKU DARI SINI! ALICIA, KAU PENCURI! KAU MEREBUT SEGALANYA DARIKU!"

Ia mulai memukul-mukul kepalanya ke dinding sel, menangis histeris dengan tubuh gemetar hebat. "Ini tidak nyata! Ini mimpi buruk! Santiago, jemput aku! SANTIAGOOOO!"

Tangisannya berubah menjadi tawa liar yang kemudian pecah menjadi raungan keputusasaan. Isabel meringkuk di pojok sel, memeluk lututnya, menyadari bahwa takhtanya telah musnah dan hidupnya hanyalah puing-puing yang tak akan pernah bisa disusun kembali.

...****************...

Ditempat lain, berbeda drastis dengan kegelapan di penjara, suasana di depan kantor pusat Solera sangat riuh. Puluhan wartawan berdiri dengan kamera yang siap membidik. Di atas gedung, papan nama raksasa bertuliskan "Solera Valero" tertutup kain hitam besar yang berkibar ditiup angin kencang.

Alicia berdiri di belakang podium. Ia tidak mengenakan gaun desainer ternama hari ini. Ia hanya mengenakan setelan jas putih yang elegan namun bersahaja. Rambutnya diikat rapi, menonjolkan raut wajahnya yang tegas namun penuh luka yang baru saja mengering. Di barisan depan, Rafael duduk dengan tatapan bangga yang tak terputus.

"Lima belas tahun lalu, saya menyerahkan diri saya—nama saya, jiwa saya—kepada sebuah nama yang saya pikir akan menjadi pelindung. Nama Valero," suara Alicia bergema melalui pengeras suara. Ia tidak membaca teks. Kata-katanya datang langsung dari hatinya yang perih.

"Saya mencintai nama itu. Saya membangunnya dengan darah dan air mata. Tapi saya sadar, nama itu hanyalah rantai emas yang menjerat saya dalam kebohongan. Nama itu adalah simbol dari pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan suami saya, Santiago Valero terhadap saya, terhadap keluarga saya, dan terhadap kalian semua. Valero bukan tentang kemewahan, tapi tentang manipulasi."

Alicia berhenti sejenak, menatap kerumunan itu dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh api.

"Hari ini, saya tidak lagi menjadi Alicia Valero. Saya mengembalikan identitas saya kepada orang tua yang telah memberikan hidupnya untuk kejujuran. Saya adalah Alicia Fernández. Dan perusahaan ini tidak akan lagi berdiri di bawah bayang-bayang seorang penipu."

Dengan satu sentakan kuat, Alicia menarik tali besar di samping podium. Kain hitam jatuh, dan di baliknya, papan nama baru berkilau di bawah sinar matahari: FERNÁNDEZ LUXURY HOMES.

"Selamat tinggal, Valero" bisik Alicia, air mata akhirnya jatuh di pipinya saat ia menatap nama orang tuanya terpampang megah. "Selamat datang kembali, Ayah, Ibu. Nama kalian sudah pulang."

Tepuk tangan dan jepretan kamera meledak. Alicia turun dari podium, mengabaikan ribuan pertanyaan wartawan yang merangsek maju. Ia hanya butuh satu hal sekarang. Ia butuh pelukan dari satu-satunya orang yang mengerti perihnya kehilangan sebuah nama untuk menemukan jati diri.

...****************...

Malam itu, Alicia kembali ke apartemen rahasia tempat Rafael menunggunya. Begitu pintu tertutup dan terkunci, Alicia langsung jatuh ke pelukan Rafael. Ia menangis tersedu-sedu, melepaskan seluruh beban yang ia tahan selama konferensi pers tadi. Seluruh ketegangan, kemarahan, dan kelegaan meluap menjadi satu.

"Aku melakukannya, Rafael... Aku sudah membuangnya," isak Alicia di dada Rafael.

Rafael mencium dahi Alicia dengan penuh pemujaan, tangannya mendekap erat pinggang wanita itu seolah tak ingin melepaskannya lagi. "Kau sangat hebat, Alicia Fernández. Kau jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah dibangun ayahmu atau Santiago. Kau pahlawanku."

Mereka saling menatap dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu kota yang masuk dari celah jendela. Gairah yang muncul malam ini berbeda dari sebelumnya. Tidak ada perjanjian bisnis yang mendasarinya. Tidak ada ketakutan akan hari esok. Hanya ada dua orang yang baru saja lahir kembali, yang ingin merasakan bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.

Rafael menarik Alicia masuk ke dalam kamar tidur. Ia mendorong Alicia ke atas ranjang dengan kelembutan yang menuntut. Saat bibir mereka bertemu, itu bukan sekadar ciuman, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap masa lalu yang pernah membelenggu mereka.

"Malam ini, hanya ada Alicia dan Rafael," bisik Rafael, suaranya parau dan panas di telinga Alicia. Tangannya mulai membuka kancing jas putih Alicia dengan tidak sabar. "Bukan Montenegro, bukan Valero. Hanya kita... yang saling memiliki tanpa syarat."

"Ya... hanya kita," desah Alicia, jemarinya mencengkeram bahu kokoh Rafael, menarik pria itu lebih dekat. "Bantu aku melupakan semuanya, Rafael. Buat aku hanya merasakanmu."

Rafael menanggalkan pakaian Alicia dengan tangan yang gemetar karena gairah yang meluap. Saat kulit mereka bersentuhan sepenuhnya, Alicia merasakan sengatan panas yang menjalar ke seluruh sarafnya. Rafael menciumi setiap inci kulitnya, dari leher hingga perut, seolah sedang menyucikan Alicia dari semua kenangan pahit.

"Kau sangat indah, Alicia... Aku sangat menginginkanmu hingga rasanya sakit," gumam Rafael, napasnya memburu di atas kulit Alicia yang lembut.

"Bawa aku, Rafael. Buat aku merasa hidup kembali," Alicia menarik kepala Rafael, membalas ciumannya dengan liar, lidah mereka bertaut dalam tarian gairah yang jujur.

Pertemuan mereka kali ini penuh dengan emosi yang meledak-ledak. Setiap sentuhan terasa lebih dalam, setiap desahan terasa seperti pelepasan beban yang bertahun-tahun menghimpit. Rafael merasuki Alicia dengan dorongan yang kuat namun penuh perasaan, sebuah ritme yang menceritakan betapa ia sangat mencintai dan memuja wanita ini.

"Alicia... Oh Tuhan, Alicia..." rintih Rafael, matanya menatap tajam ke dalam mata Alicia yang berkabut karena nikmat yang luar biasa. "Kau adalah duniaku sekarang."

"Aku milikmu... Rafael Lara," jawab Alicia, menyebut nama baru Rafael dengan penuh cinta saat ia merangkul pinggang Rafael dengan kakinya, menarik pria itu lebih dalam ke dalam dirinya. "Hanya kau... lebih dalam, Rafael... Ah!Jangan pernah lepaskan aku!"

Gairah mereka memuncak dalam sebuah simfoni desahan dan erangan yang jujur. Di kamar yang sunyi itu, mereka saling memberikan diri secara mutlak. Tidak ada kontrak yang ditandatangani, hanya keringat, aroma tubuh, dan detak jantung yang beradu kencang. Mereka bercinta seolah-olah dunia akan berakhir esok pagi, melampiaskan segala kemarahan, luka, dan harapan ke dalam satu penyatuan yang suci dan penuh gairah.

Setelah badai kenikmatan itu mereda, mereka berbaring berpelukan di bawah selimut tipis, napas mereka perlahan kembali tenang di tengah keheningan malam.

"Itu... itu adalah hal paling nyata yang pernah kurasakan dalam hidupku," bisik Alicia, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rafael yang masih naik turun.

"Sangat nyata," Rafael mencium puncak kepala Alicia, jemarinya mengelus punggung polos Alicia dengan lembut. "Nama boleh berubah, kekuasaan boleh runtuh, tapi apa yang kita rasakan di sini... ini adalah kebenaran yang tidak akan pernah bisa direbut oleh siapa pun. Kita akan membangun masa depan dari sini, Alicia Fernández."

Di luar, Madrid tetap sibuk dengan drama-drama korporatnya yang busuk. Namun di dalam ruangan itu, Alicia Fernández dan Rafael Lara akhirnya menemukan rumah mereka yang sesungguhnya: satu sama lain, bebas dari bayang-bayang nama besar yang pernah menghancurkan mereka.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!