NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia memerlukan sekutu: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34 : Senja yang Membebaskan

Suasana kafe La Esperanza yang hangat perlahan tertinggal di belakang saat Alicia dan Rafael melangkah keluar menuju trotoar Madrid. Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan semburat warna jingga dan ungu yang memantul di dinding-dinding bangunan tua.

"Kau tahu, Alicia?" Rafael memecah keheningan sambil meraih jemari Alicia, mengunci jari-jari mereka dalam genggaman yang erat. "Selama puluhan tahun tinggal di kota ini, aku tidak pernah benar-benar melihat jalanan ini. Aku selalu melewatinya dengan mobil lapis baja, sibuk dengan ponsel, dan terburu-buru menuju rapat yang membosankan."

Alicia tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Rafael saat mereka berjalan pelan. "Aku juga. Dunia kita dulu hanya sebatas ruang rapat dan balkon mewah. Kita tidak pernah menjadi bagian dari kerumunan ini."

Mereka berjalan menyusuri area pejalan kaki, melewati deretan toko buku tua dan penjual bunga yang aromanya terbawa angin sore. Tidak ada pengawal yang membayangi, tidak ada jadwal yang mengejar. Untuk beberapa jam yang berharga, beban sebagai "Sang Ratu Solera" dan "Pangeran Montenegro" menguap begitu saja. Mereka hanyalah sepasang kekasih yang menikmati sisa hari.

"Lihat pasangan tua di sana," bisik Alicia, menunjuk sepasang kakek-nenek yang duduk di bangku taman sambil berbagi sepotong roti. "Apa menurutmu kita bisa memiliki ketenangan seperti itu suatu saat nanti?"

Rafael menghentikan langkahnya, memutar tubuh Alicia agar menghadapnya. Di bawah lampu jalan yang baru saja menyala, matanya berkilat penuh emosi. "Jika itu bersamamu, aku bersedia menukarkan seluruh sisa hartaku untuk bangku taman itu, Alicia."

Kata-kata itu bukan sekadar bualan. Alicia bisa merasakan ketulusan yang menggetarkan jiwa dari pria di hadapannya. Tanpa peduli pada orang-orang yang melintas, Alicia berjinjit dan mengecup bibir Rafael singkat namun dalam.

Mereka berhenti di sebuah kedai kecil di sudut jalan. Rafael membeli dua kerucut es krim vanilla sederhana—sesuatu yang tampak sangat tidak lazim bagi seorang mantan penguasa korporat. Namun, sore itu, mereka tidak peduli. Mereka berjalan-jalan sambil menikmati es krim, tertawa kecil saat sisa krim menempel di sudut bibir masing-masing.

​"Rasanya aneh, ya?" Alicia menjilat es krimnya, matanya berbinar menatap orang-orang yang melintas. "Kita baru saja kehilangan kerajaan kita, tapi entah kenapa, memakan es krim di pinggir jalan bersamamu terasa lebih mewah daripada makan malam di Restoran Coque." (*restoran bintang Michelin ketiga, lokasi dimana acara gala perayaan Proyek Ibiza. Acara yang ironisnya diprakarsai oleh Santiago Valero sebelum kehancurannya - pada Chapter 5).

​"Karena ini nyata, Alicia," sahut Rafael lembut. Ia berhenti berjalan, memutar tubuh Alicia agar menghadapnya. "Tidak ada pengawal di belakang kita. Tidak ada wartawan yang mengintai. Hanya ada kau, aku, dan senja ini."

​Mereka terus berjalan, menyusuri area pejalan kaki yang mulai temaram diterangi lampu-lampu jalan. Rasa lepas itu begitu kuat, seolah beban ribuan ton yang selama ini menghimpit pundak mereka telah menguap bersama angin sore. Untuk beberapa jam yang berharga, mereka bukan lagi pelarian dari skandal, melainkan sepasang kekasih yang baru saja menemukan kembali dunianya.

"Mari kita pulang," bisik Alicia dengan napas yang mulai memberat. "Aku ingin dunia benar-benar berhenti berputar malam ini."

...****************...

Begitu pintu apartemen tertutup, suasana berubah menjadi elektrik. Tidak ada lagi percakapan tentang bisnis atau masa depan. Rafael menyudutkan Alicia ke pintu, menciumnya dengan rasa lapar yang murni—sebuah gairah yang tidak lagi dibatasi oleh ego atau kesepakatan-kesepakatan dingin di atas kertas.

Rafael mengangkat tubuh Alicia, membuat wanita itu melingkarkan kakinya di pinggang kokoh sang pria. Mereka bergerak menuju kamar tidur tanpa memutus tautan bibir. Di dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya bulan, mereka saling menanggalkan pakaian dengan gerakan yang terburu-buru, seolah-olah kulit mereka telah merindukan sentuhan ini selama berabad-abad.

​"Aku milikmu... seutuhnya milikmu," isak Alicia.

​Setelah memastikan Alicia benar-benar terbang ke puncak kenikmatan, Rafael merangkak naik, kembali menyatukan bibir mereka sebelum akhirnya mereka bersatu dalam ritme yang sinkron.

Saat mereka kembali menyatu di atas ranjang, segalanya terasa berbeda. Ini bukan lagi tentang pelampiasan rasa sakit, melainkan perayaan atas kebebasan baru mereka.

"Kau... milikku," desah Rafael, suaranya parau saat ia membenamkan wajahnya di leher Alicia, menghirup aroma tubuh wanita itu yang membangkitkan gairahnya. "Bukan karena kontrak, bukan karena kerja sama bisnis... tapi karena aku tidak bisa bernapas tanpamu."

Alicia melengkungkan punggungnya, mencengkeram sprei saat Rafael memberikan sentuhan-sentuhan yang membakar setiap sarafnya. "Lebih dalam, Rafael... buat aku melupakan siapa diriku. Buat aku hanya menjadi milikmu."

Gerakan mereka menjadi sebuah ritme yang sinkron, penuh dengan dialog-dialog bisikan yang panas dan jujur. Rafael menatap mata Alicia dalam-dalam di setiap dorongannya, memastikan bahwa wanita itu tahu betapa ia memujanya.

"Alicia... tatap aku," rintih Rafael, keringat bercucuran di pelipisnya. "Katakan kau mencintaiku. Bukan sebagai Montenegro, tapi sebagai pria ini... pria yang berdiri tanpa apa-apa di depanmu."

"Aku mencintaimu, Rafael Lara," jawab Alicia dengan suara bergetar, air mata kebahagiaan menyelinap di sudut matanya. "Hanya kau... selamanya kau."

Gairah itu meledak dalam sebuah kepuasan yang membuat mereka berdua lemas, terengah-engah dalam dekapan satu sama lain. Malam itu, di bawah selimut yang berantakan, mereka benar-benar menang atas dunia yang mencoba menghancurkan mereka.

...****************...

Keesokan paginya, realitas kembali mengetuk pintu. Saat Alicia sedang menyesap kopi di meja makan, asisten setianya, Elena, datang dengan amplop cokelat kusam yang berstempel resmi dari Lembaga Pemasyarakatan Madrid.

Alicia membukanya dengan tenang. Di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan, seolah ditulis dengan kemarahan yang meluap. Surat dari Isabel.

^^^"Alicia, kau pikir dengan mengganti namamu menjadi Fernández, kau sudah suci? Jangan sombong. Aku punya dokumen yang kau cari selama ini. Ayahmu, Tuan Fernández yang agung, tidak sesetia yang kau bayangkan. Dia memiliki perselingkuhan yang akan menghancurkan citra 'keluarga terhormat' yang sedang kau bangun. Serahkan sebagian saham Solera padaku, atau aku akan merilis nama wanita simpanan ayahmu ke publik. Kau akan malu menjadi seorang Fernández."^^^

Alicia membaca setiap kata dengan wajah datar. Beberapa waktu yang lalu, mungkin ia akan gemetar. Tapi sekarang?

"Ada apa?" Rafael muncul dari kamar mandi, hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Ia melihat surat itu dan raut wajah Alicia.

Alicia menyodorkan surat itu sambil menyesap kopinya lagi. Rafael membacanya, dan rahangnya mengeras. "Wanita gila ini tidak tahu kapan harus menyerah. Aku masih bisa memerintahkan orang untuk membungkamnya di dalam sel."

Alicia tertawa kecil, suara tawa yang elegan namun dingin. "Jangan repot-repot, Rafael. Isabel adalah hantu dari masa lalu yang mencoba menakut-nakuti orang yang masih hidup. Dia pikir aku masih Alicia yang dulu, yang peduli pada apa kata dunia tentang nama baik keluarga."

"Kau tidak peduli jika dia memfitnah ayahmu?"

"Ayahku adalah manusia, Rafael. Jika dia punya masa lalu, itu urusannya dengan Tuhan. Tapi aku mengenal Hugo Fernández. Dia memberikan segalanya untukku. Dan dokumen rahasia? Isabel tidak punya apa-apa kecuali delusi," Alicia berdiri, merobek surat itu menjadi potongan-potongan kecil dan menjatuhkannya ke tempat sampah. "Lagipula, aku terlalu sibuk untuk meladeni wanita yang kini... bahkan tidak tahu cara membedakan kenyataan dan khayalan."

Alicia memutar badannya menuju cermin, merapikan setelan jas berwarna krem yang sangat tegas. "Hari ini adalah hari pertama pengerjaan proyek Fernández Luxury Homes. Aku tidak akan membiarkan surat sampah itu mencuri fokusku satu detik pun."

Rafael tersenyum bangga. Ia mendekat dan mencium pipi Alicia. "Itulah wanitaku. Wanita yang akan mengguncang Madrid tanpa butuh izin dari siapa pun."

Beberapa jam kemudian, di sebuah lahan luas di pinggiran Madrid, alat-alat berat sudah mulai menderu. Alicia berdiri di depan para pekerjanya. Tidak ada lagi papan nama Valero yang megah, hanya sebuah spanduk sederhana bertuliskan: "Fernández - Membangun dengan Hati".

Ia melihat tanah yang mulai digali, fondasi yang mulai diletakkan. Baginya, setiap kerikil yang dipindahkan adalah bukti bahwa ia telah merdeka.

"Nyonya Fernández," salah satu mandor mendekat. "Kita siap melakukan peletakan batu pertama."

Alicia mengambil sekop perak, menatap ke arah Rafael yang berdiri di kejauhan dengan tatapan mendukung. Ia menancapkan sekop itu ke tanah, merasakan koneksi yang kuat dengan akar keluarganya.

"Untuk Ibu, untuk Ayah... dan untukku," bisik Alicia.

Masa depan memang belum sepenuhnya aman. Musuh masih mengintai, dan Isabel mungkin akan terus berteriak dari balik selnya. Namun, saat Alicia Fernández menatap bangunan yang akan berdiri itu, ia tahu satu hal—ia bukan lagi boneka siapa pun. Ia adalah arsitek dari takdirnya sendiri.

1
Vanillastrawberry
tembakan nya tepat banget lagi🤭😅
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
cie.. cie.. yang diratukan🤭
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
ya punya dong
Tulisan_nic
saling melengkapi ya rafael
j_ryuka
emang
Panda%Sya🐼
Tidak semuda itu ferguso ehh Salah Santiago
Panda%Sya🐼
Lantas kau itu apa /CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Kalau bisa semua kenapa harus satu kan/Tongue/
chas_chos
tajam ehhh perkataannya
chas_chos
rutinitas yang ingin di lakuin bnyak orang 🤧
Kim Umai
gak apa jual aja, aku dukung👍
Blueberry Solenne
Aduhh Rafael ni bener2 ya menyervice Alicia hahaha
chrisytells: Benar² diratukan pokoknya sama sosok Rafael ini
total 1 replies
Blueberry Solenne
Sakit hati banget jadi isabella, cuma di jadikan pelampiasan
Blueberry Solenne
Buset nyampe 10 saham
chrisytells: Persenannya, Kak 😄
total 1 replies
Mentariz
Ciee yang diratukan ama rafael niih yee 😁
chrisytells: Impian banget nggak sih?🤣🤭
total 1 replies
Mentariz
Bener, pokoknya alicia pengennya lu hancur sehancur-hancurnya
Mentariz
Punya dong, kan rafael punya saham di situ
Tulisan_nic
Sia-sia Marco
Tulisan_nic
Ketahuan,🥲
kasychan❀ ⃟⃟ˢᵏ
kayaknya orkay banget nih...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!