Selama ini Tania hidup dalam peran yang ia ciptakan sendiri: istri yang sempurna, pendamping yang setia, dan wanita yang selalu ada di belakang suaminya. Ia rela menepi dari sorot lampu demi kesuksesan Dika, mengubur mimpinya menjadi seorang desainer perhiasan terkenal, memilih hidup sederhana menemaninya dari nol hingga mencapai puncak kesuksesan.
Namun, kesuksesan Dika merenggut kesetiaannya. Dika memilih wanita lain dan menganggap Tania sebagai "relik" masa lalu. Dunia yang dibangun bersama selama lima tahun hancur dalam sekejap.
Dika meremehkan Tania, ia pikir Tania hanya tahu cara mencintai. Ia lupa bahwa wanita yang mampu membangun seorang pria dari nol, juga mampu membangun kembali dirinya sendiri menjadi lebih tangguh—dan lebih berbahaya.
Tania tidak menangis. Ia tidak marah. Sebaliknya, ia merencanakan pembalasan.
Ikuti kisah Tania yang kembali ke dunia lamanya, menggunakan kecerdasan dan bakat yang selama ini tersembunyi, untuk melancarkan "Balas Dendam yang Dingin."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui jendela sebuah kafe tua di sudut terpencil Jakarta Selatan. Kafe itu sengaja dipilih karena letaknya yang tersembunyi dan atmosfernya yang sepi, sangat cocok bagi seseorang yang ingin melakukan transaksi rahasia. Di pojok ruangan, di bawah temaram lampu gantung yang berdebu, Farah duduk dengan gelisah. Ia mengenakan jaket bertudung besar dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya yang pucat dan kantung matanya yang menghitam.
Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya bernama Ahmad, yang mengaku sebagai jurnalis investigasi dari sebuah media daring yang terkenal berani mengungkap skandal para pesohor. Farah merasa ini adalah kesempatan emasnya. Ia telah menghabiskan malam-malam tanpa tidur untuk menyusun narasi fitnah yang paling keji, dan sekarang ia siap meledakkannya.
"Anda bilang Anda punya bukti yang bisa meruntuhkan reputasi Tania dan PT Hartadinata?" tanya Ahmad dengan suara rendah, sambil meletakkan alat perekam di atas meja kayu yang lecet.
Farah mencondongkan tubuhnya ke depan, tangannya yang kurus gemetar saat ia mengeluarkan beberapa lembar foto hasil cetakan kasar dari tasnya. "Bukan sekadar bukti, Pak Ahmad. Ini adalah kebenaran tentang bagaimana seorang wanita bernama Tania menjual kehormatannya kepada bosnya sendiri, Rei, demi jabatan Chief Designer. Dia tidak sesuci yang terlihat di televisi. Dia menggunakan pengaruh bosnya untuk menghancurkan suaminya sendiri, Dika, hingga mendekam di penjara."
Ahmad memeriksa foto-foto itu satu per satu dengan wajah yang sulit diartikan. "Foto-foto ini hanya menunjukkan mereka sedang makan malam dan keluar dari mobil yang sama. Di dunia profesional, ini bisa dianggap biasa. Saya butuh sesuatu yang lebih... menggigit."
Farah menggigit bibir bawahnya, merasa terdesak. "Saya punya catatan saksi! Saya tahu kapan mereka masuk ke hotel, saya tahu transaksi rahasia mereka! Tania sengaja mengosongkan rekeningnya dan menyumbangkannya ke panti asuhan hanya untuk menutupi pencucian uang yang ia lakukan bersama Rei!"
Farah mulai bercerita dengan menggebu-gebu. Kebohongan demi kebohongan meluncur dari bibirnya seolah-olah itu adalah naskah drama yang sudah ia hafal di luar kepala. Ia tidak menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan sedang direkam bukan untuk sebuah berita gosip, melainkan untuk barang bukti hukum. Ahmad sebenarnya adalah orang kepercayaan Rendi, asisten setia Rei, yang telah diperintahkan untuk memancing Farah keluar dari persembunyiannya.
"Saya ingin lima ratus juta untuk semua informasi ini," desak Farah, matanya berkilat penuh keserakahan. "Dengan uang itu, saya bisa memberikan Anda eksklusivitas total. Anda akan mendapatkan cerita terbesar tahun ini."
Ahmad menyesap kopinya perlahan, menatap Farah dengan tatapan yang hampir seperti rasa kasihan. "Lima ratus juta untuk menghancurkan hidup seseorang? Itu harga yang cukup tinggi, Farah."
"Dia sudah menghancurkan hidupku!" bentak Farah, suaranya naik satu oktav hingga beberapa pengunjung kafe menoleh. Ia segera menurunkan suaranya kembali menjadi bisikan tajam. "Dia membuatku hidup seperti tikus got! Dia pantas mendapatkan ini!"
Namun, tepat saat Farah merasa sudah berada di puncak kemenangannya, pintu kafe berdenting. Seorang pria tinggi berjas safari gelap masuk dengan langkah yang berat dan tegas. Langkah kakinya yang beradu dengan lantai kayu menciptakan irama yang seolah-olah menghentikan waktu bagi Farah.
Farah membeku. Suara langkah itu... ia seperti pernah mendengarnya di masa lalu yang sangat ingin ia lupakan.
Pria itu tidak menuju ke kasir. Ia berjalan langsung menuju meja tempat Farah dan Ahmad duduk. Saat pria itu mendekat, ia melepaskan topi fedora-nya, menampakkan wajah yang keras dengan bekas luka tipis di dahi—wajah yang selama setahun terakhir ini selalu muncul dalam mimpi buruk Farah.
"Farah... atau haruskah aku memanggilmu 'Putri', nama samaran yang kamu pakai saat membawa kabur uang kas kantorku?" suara pria itu berat dan penuh ancaman.
Darah Farah seolah berhenti mengalir. Tubuhnya mendadak kaku, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Pria itu adalah Pak Baskoro, pemilik perusahaan distribusi di kota asalnya tempat Farah bekerja sebagai bendahara sebelum ia melarikan diri ke Jakarta dan bertemu Dika.
"Pak... Pak Baskoro?" bisik Farah, suaranya nyaris tak terdengar.
Pak Baskoro tidak membuang waktu. Ia menggebrak meja dengan keras, membuat cangkir kopi di atasnya melompat. "Akhirnya aku menemukanmu, perempuan penipu! Kamu pikir setelah memalsukan tanda tanganku, mencuri uang asuransi karyawan senilai delapan ratus juta, dan menghilang begitu saja, kamu bisa hidup tenang di kota ini dengan identitas baru?!"
Ahmad, sang "wartawan", tetap duduk tenang. Ia mematikan alat perekamnya dan menatap Farah dengan senyum tipis. "Sepertinya narasumber saya punya cerita yang jauh lebih menarik tentang dirinya sendiri daripada tentang orang lain."
Farah mencoba berdiri, niatnya ingin lari secepat mungkin, namun kakinya terasa seperti lumpuh. "Ini salah paham! Pak Baskoro, saya... saya akan kembalikan uangnya! Saya sedang butuh uang sekarang, itu sebabnya—"
"Kembalikan dengan apa?!" potong Baskoro dengan murka. "Dengan menjual fitnah tentang wanita sukses yang bahkan tidak mengenalmu dengan baik? Aku sudah melaporkanmu ke Polda sejak setahun lalu, dan berkat bantuan seseorang yang mengirimkan lokasimu pagi ini, polisi sedang dalam perjalanan ke sini."
Farah menoleh ke arah Ahmad dengan tatapan penuh pengkhianatan. "Kamu... kamu menjebak ku?"
Ahmad hanya mengangkat bahu. "Saya hanya menjalankan instruksi untuk menemui seseorang yang katanya ingin 'berbagi rahasia'. Ternyata, rahasia terbesarmu adalah bahwa kamu seorang buronan."
Kepanikan mulai mengambil alih akal sehat Farah. Ia melihat ke arah pintu keluar, namun dua orang pria berbadan tegap berpakaian preman sudah berdiri di sana, mengunci akses keluar. Farah menyadari bahwa pertemuannya dengan "wartawan" ini bukanlah awal dari kebangkitannya, melainkan akhir dari pelariannya.
Setiap kebohongan yang ia susun selama berbulan-bulan untuk menjatuhkan Tania kini runtuh dalam sekejap. Ia yang ingin membongkar "keburukan" Tania, justru harus menghadapi kebusukannya sendiri yang telah ia kubur dalam-dalam. Masa lalunya yang kotor telah menjemputnya tepat di saat ia merasa paling cerdik.
"Tania..." gumam Farah dengan nada penuh kebencian sekaligus ketakutan. "Ini pasti ulah Tania..."
"Bukan Tania," sahut sebuah suara dingin dari arah belakangnya.
Rendi melangkah maju dari bayang-bayang di sudut kafe. Ia membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan yang sangat rapi. "Bu Tania terlalu sibuk dengan kesuksesannya untuk mengurusi orang seperti Anda, Farah. Beliau bahkan tidak tahu saya mengundang Pak Baskoro ke sini. Ini adalah inisiatif manajemen untuk memastikan bahwa parasit seperti Anda tidak lagi mengganggu ketenangan aset berharga kami."
Farah jatuh terduduk di kursinya, napasnya tersengal. Ia melihat Pak Baskoro mengeluarkan berkas laporan kepolisian. Di luar, suara sirine mulai terdengar mendekat, membelah kesunyian pagi.
Seluruh rencana balas dendamnya, seluruh jaring fitnah yang ia rajut dengan penuh kebencian, kini hancur menjadi debu. Ia bukan lagi sang pemburu yang sedang mengintai mangsa; ia adalah mangsa yang sudah lama masuk ke dalam perangkap, dan sekarang, perangkap itu telah tertutup rapat tanpa celah untuk melarikan diri.
Bersambung...