NovelToon NovelToon
Demi Anakku, Aku Akan Merebut Cinta Suamiku

Demi Anakku, Aku Akan Merebut Cinta Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Romansa Fantasi
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,

Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia

mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sementara di kota jakarta, tepatnya di sebuah mansion mewah, Aditya .... laki-laki tampan yang usianya sudah matang untuk berumah tangga, namun Aditya belum juga menemukan pendamping yang bisa menggetarkan hati nya....orang tuanya mendesak agar dirinya cepat menikah, sudah banyak,gadis yang di jodohkan dengan nya, namun Aditya menolak mentah-mentah. Dan kali ini, ia benar-benar marah sekaligus kecewa, bagaimana tidak, orang tuanya sudah sepakat untuk mengadakan acara pertunangan untuk nya....

Suasana di ruang keluarga Mansion Pratama malam itu lebih dingin dari suhu AC yang disetel 18°C. Di atas meja marmer, tergeletak foto seorang gadis, putri sepupu ibunya, yang baru saja menyelesaikan studi di London. Cantik, terpelajar, dan setara di mata keluarga Pratama.... Sesuai adat di keluarga nya, agar harta tidak habis, maka akan menjodohkan anak-anaknya dengan kerabat dekatnya.

"Dia adalah pasangan yang sempurna untuk menjaga aset kita, Adit," suara Tuan Pratama berat dan mutlak.

Aditya berdiri, tangannya masuk ke saku celana bahan yang mahal. Tatapannya lurus, tanpa emosi. "Aku membangun Pratama Automotive untuk menjual mobil, bukan untuk menjual diriku sendiri demi aset."

"Jaga bicaramu!" bentak ibunya, matanya berkaca-kaca antara marah dan kecewa. "Kalau kamu menolak perjodohan ini, lepaskan semua fasilitasmu. Keluar dari rumah ini tanpa membawa satu sen pun dari nama Pratama..., tanpa nama kami, kamu tidak akan bisa berada di puncak seperti ini!"

Aditya menarik napas pendek. Sudut bibirnya terangkat sedikit, sebuah senyum sinis yang jarang terlihat.

Tanpa sepatah kata pun, Aditya melepas jam tangan Patek Philippe senilai miliaran rupiah dari pergelangan tangannya. Ia meletakkannya pelan di atas meja kayu jati, tepat di atas foto gadis itu. Disusul dengan kunci mobil Lamborghini dan dompet kulitnya yang berisi kartu-kartu hitam tak terbatas.

"Adit! Apa yang kamu lakukan?!" teriak ibunya histeris.

"Membayar kebebasanku," jawab Aditya pendek.

" Adit....Adit.... jangan pergi....." teriak Adelia.

Ardan Pratama suami Adelia menarik tangan istrinya " Sudah mah... biarkan anak itu pergi, papa tidak akan tinggal diam, papa pastikan Adit akan memohon kembali ke rumah ini ".

Sedangkan Aditya melangkah menuju pintu besar mansion. Para pelayan tertunduk, tidak berani bernapas. Penjaga keamanan yang biasanya membukakan pintu dengan hormat, hanya bisa mematung melihat sang pewaris tunggal berjalan kaki keluar tanpa membawa koper satu pun.

"Langkahmu di luar gerbang itu berarti kamu bukan lagi anakku!" Tuan Pratama berdiri di ambang pintu, suaranya menggelegar ke seluruh halaman luas itu.

Aditya berhenti sejenak di depan gerbang besi raksasa. Ia menoleh sedikit, angin malam menerpa rambutnya yang rapi.

"Terima kasih atas tumpangannya selama 28 tahun ini, Pa. Mulai detik ini, jangan cari aku."

Aditya terus berjalan. Ia tidak memanggil taksi mewah atau menghubungi asisten pribadinya. Ia berjalan menyusuri trotoar kota yang mulai sepi. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kerasnya aspal tanpa perlindungan ban Michelin dari mobil mewahnya.

Ia meraba saku jaketnya. Hanya ada satu hal yang ia bawa, sebuah ponsel lama yang tidak terhubung dengan sistem kantor, dan uang tunai lima ratus ribu rupiah yang ia selipkan di saku celana sebelum perdebatan dimulai. Serta kartu ATM milik sahabatnya yang berada di Jerman, tanpa sepengetahuan siapapun, ia memiliki tabungan pribadi untuk berjaga-jaga, dan ternyata benar... kali ini tabungan itu akan terpakai juga.

"Sejauh mungkin," gumamnya.

Ia masuk ke terminal bus antarkota. Bau asap knalpot dan keringat manusia menyambutnya, dunia yang sangat asing bagi seorang Aditya Pratama. Ia membeli tiket paling jauh yang bisa dijangkau oleh bus ekonomi malam itu.

Tujuannya? Sebuah kota kecamatan kecil yang jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Tempat di mana nama Pratama tidak berarti apa-apa.

Dua belas jam kemudian, dengan baju yang mulai kusut dan wajah yang kusam karena debu jalanan, Aditya turun di depan sebuah pasar tradisional. Perutnya melilit. Ia butuh sesuatu yang manis untuk mengganjal energinya yang terkuras.

Langkahnya terhenti di depan sebuah toko kecil dengan papan nama kayu yang catnya sudah mulai mengelupas: Toko Kue Melati.

Di sana, di balik etalase kaca yang sedikit berembun, ia melihat seorang gadis dengan celemek usang sedang menata roti sisir. Gadis itu menoleh, matanya yang teduh bertemu dengan tatapan dingin Aditya yang sedang hancur.

"Selamat pagi, Mas. Ingin mencari roti hangat?" tanya Nadine dengan senyum tulus yang tidak pernah Aditya temui di kalangan sosialita Jakarta.

Aditya terpaku. Untuk pertama kalinya, sang pengusaha dingin itu kehilangan kata-kata....

"Aku mau kopi, dan sepotong roti" jawab Aditya sedikit terbata...

" mau di bungkus apa makan sini?" tanya Nadine dengan ramah.

" Di sini saja" sahut Aditya gugup.

" Baik...kalau begitu Anda bisa menunggu di sana!"tunjuk Nadine pada meja yang berada di pojok, karena di sana terlihat kosong... sedangkan meja yang lain yang hanya ada beberapa buah sudah ada penghuninya.

"kalau begitu saya tunggu di sana"balas Aditya tersenyum.

___

Aditya duduk di sebuah kursi kayu kecil di sudut Toko Kue Melati. Kursi itu sedikit bergoyang, jauh dari kenyamanan sofa kulit Italia di kantornya, namun entah mengapa, suasana di sini terasa lebih bernapas.

Ia menyesap kopi hitam dalam gelas kaca murahan yang uapnya mengepul. Di tangan kirinya, sepotong roti manis hangat yang harganya tak sampai lima ribu rupiah baru saja ia gigit. Manisnya pas, tidak berlebihan, seperti senyum gadis di balik etalase itu.

Aditya pura-pura menatap jalanan di luar, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Nadine.

Nadine sedang sibuk menata donat kampung bertabur gula halus. Rambutnya tertutup jilbab kain yang sederhana, namun gerakannya begitu anggun. Ia sesekali menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya, lalu kembali tersenyum pada pelanggan lain.

"Kenapa jantungku berisik sekali?" batin Aditya heran. Sebagai pengusaha, ia terbiasa menghadapi negosiasi miliaran rupiah dengan detak jantung yang stabil. Tapi melihat gadis itu tertawa kecil saat melayani seorang anak kecil, pertahanan Aditya runtuh.

Nadine menyadari tatapan itu. Ia mendekat sambil membawa nampan kecil berisi sisa remahan roti.

"Bagaimana kopinya, Mas? Terlalu pahit? Atau rotinya kurang empuk?" tanya Nadine ramah, berdiri tepat di depan meja Aditya.

Aditya tersedak kecil, buru-buru meletakkan gelasnya. "Ah, tidak. Ini... enak. Semuanya enak."

Nadine tertawa kecil, suara yang terdengar seperti melodi jernih di telinga Aditya. "Mas sepertinya bukan orang sini ya? Dari Jakarta? Bajunya bagus, tapi kelihatannya Mas lelah sekali." sebagai seorang pelayan,Nadine di tuntut untuk ramah, walaupun dengan lawan jenis asal masih di posisi aman bagi seorang muslimah.

Aditya menunduk, menatap kemeja mahalnya yang kini kusut. "Saya hanya... sedang mencari suasana baru. Nama saya Adit."

"Saya Nadine," jawabnya singkat sambil mengangguk sopan. "Kalau Mas butuh tempat istirahat yang lebih tenang, di belakang pasar ada penginapan kecil milik warga. Tidak mewah, tapi bersih."

Aditya terdiam. Ia baru sadar, di Jakarta ia dikelilingi ribuan orang yang memujinya karena hartanya. Di sini, di toko kue kecil ini, seorang gadis belia menatapnya dengan tulus hanya karena ia telah menolongnya.

"Aku tidak akan pergi dari kota ini," janji Aditya dalam hati. "Masa bodoh dengan warisan Pratama. Aku ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini."

1
@Mita🥰
Noah mau di bikin kan adik🤭🤭
Rosna Marleni
syukur Alhamdulillah akhirnya mereka kembali bersatu , semoga mereka mampu menyingkirkan parasit dari kehidupan mereka...dan Noah menjadi anak yang paling bahagia...
Sri Supriatin
alhamdullilah n sukses utk selanjutjya ms Adit n Nadine 😍😍😍
Indriani Kartini
Alhamdulillah, mulailah berjuang bersama2
nunik rahyuni
syukurlah..mudah mudahn g ada lg yg mengganggu...buat ortu mu tak bisa bekutik adit klo tidak mereka akan betingkah lg memisahkan kalian
Sukarti Wijaya
alhamdulillah sdh menyatu🤭👍
Meiny Gunawan
lanjuuttt....💪
@Mita🥰
wah Ardan ketemu noah
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 syukur in kamu Aurel 🤣🤣🤣
Rosna Marleni
kapan lah para lampir itu tobatnya ya....gak sabaran nunggu mereka bertobat dan menjadi orang baik....kasihan Nadin penderitaannya masih belum berakhir...semangat Nadin semoga perjuanganmu tidak sia sia...
Dewi kunti
Adelia dan Ardan sedang mendatangi pesta kerabatnya,sedangkan Adelia berpura-pura menjadi gadis polos,ini benar gak nulis nya,trus belum ada pergerakan mungkin ya bukan pergelangan 🤭
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻: 🙏🙏🙏🥰, terimakasih koreksinya
total 1 replies
Rosna Marleni
kenapa gak jujur aja Adit supaya Nadin bahagia....
Sukarti Wijaya
masih diulur2 ya thor, bikin penisirin😄
🥰🥰m4r1n4.sg🙏🏻🙏🏻🙏🏻
terimakasih untuk hari ini 🥰🥰🥰
Sri Supriatin
tks upnya yg buanyaak 👍💪💪💪
Sri Supriatin
Thor bikin readers penasaran dulu 🤭🤭😍😍
@Mita🥰
la kirain langsung jujur sama Nadine adit
Sri Supriatin
sy ikut seneng thor perjalanan bertahun...tahun slmt berpieran Amnesia Adit semoga membuahkan hasil...bertemu abang Asep membangun desa bersama 🙏🙏🙏
nunik rahyuni
sedikit sandiwara dlu..hancurkn ego kelg mu...mereka hidup diatas derita ank istrimu..ingat kekejaman mereka..pindh kn smua aset kerja keras mu buat mereka miskin biar bisa merasakn bagaimn jd org miskin biar g terus memandang rendah org
Rosna Marleni
syukur Alhamdulillah akhirnya ingatan Aditya kembali lagi....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!