Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Kontras itu terlalu tajam.
Sepeda tua yang hampir lapuk… dan gadis secantik bintang iklan.
Beberapa pengendara mobil melambatkan laju untuk melihat lebih jelas. Ada yang tersenyum geli, ada yang menggeleng tak percaya, bahkan ada yang mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen itu.
Seorang pemuda dengan sepeda kuno, membonceng gadis luar biasa cantik, melaju santai di tengah kota modern.
Pemandangan canggung sekaligus menggetarkan.
Jika harus dinilai, mungkin inilah salah satu adegan paling mengejutkan tahun ini.
Namun bagi Zhang Yuze, semua tatapan itu tidak berarti apa-apa.
Yang ia rasakan hanyalah kehangatan di punggungnya—jarak tipis yang memisahkannya dari Guo Xiaolu. Sesekali, ketika sepeda berguncang melewati jalan yang tidak rata, ia bisa merasakan gadis itu sedikit merapat.
Hatinya berdebar.
Di tengah derit sepeda tua dan riuh kota, sebuah awal yang tak terduga perlahan terbentuk—awal dari persaingan, rahasia, dan perasaan yang semakin sulit untuk diabaikan.
“Yuze, sepertinya aku akan pulang naik bus saja!” ujar Guo Xiaolu dengan suara sedikit gemetar.
Wajahnya tampak pucat, kontras dengan sikap Zhang Yuze yang justru terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat itu juga, Guo Xiaolu benar-benar menyesal telah naik “kapal pencuri” ini—begitulah ia menyebut sepeda tua Zhang Yuze dalam hati. Sepeda itu berguncang hebat setiap kali melewati jalan yang tidak rata. Rangkanya berderit, bannya terasa seperti bisa kempis kapan saja. Setiap detik terasa seperti pertaruhan nyawa.
Karena terlalu khawatir akan terjatuh, tanpa sadar ia memeluk erat pinggang Zhang Yuze. Kepalanya bersandar di punggung pemuda itu agar bisa menjaga keseimbangan. Jika tidak, ia benar-benar yakin dirinya bisa terlempar dari boncengan, dan keselamatan “nyawa kecilnya” terancam.
“Tidak apa-apa, aku di sini!” jawab Zhang Yuze dengan penuh keyakinan.
Dalam hati, ia justru menikmati situasi itu.
Pelukan Guo Xiaolu terasa hangat dan lembut. Aroma samar rambutnya—bersih, ringan, dengan sentuhan wangi yang sulit dijelaskan—membuat pikirannya terasa segar. Bagaimana mungkin ia rela membiarkan Kak Xiaolu turun dari sepeda?
Lebih dari itu, setiap kali sepeda terguncang, ia bisa merasakan tekanan lembut dari dua lekukan kenyal di punggungnya. Sensasi itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa sadar, imajinasinya mulai melayang.
“Wah…”
Lamunannya hampir berujung petaka.
Dengan suara “krek!” yang keras, sepeda itu oleng tajam ke samping. Hampir saja ia menabrak pembatas jalan. Zhang Yuze buru-buru mengendalikan setang dan mengerem perlahan, napasnya tercekat.
Ia segera menenangkan pikirannya. Jika ia terus membiarkan imajinasinya berlari liar, bukan tidak mungkin mereka benar-benar akan jatuh.
Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang mendebarkan, keduanya tiba di kawasan perumahan.
Begitu turun dari sepeda, Zhang Yuze baru menyadari sesuatu yang aneh.
Guo Xiaolu hampir basah kuyup oleh keringat. Rambut di pelipisnya menempel, napasnya masih sedikit terengah. Sekilas, justru ia yang terlihat seperti baru saja mengayuh sepeda sejauh puluhan kilometer.
“Kak Xiaolu, kamu tidak apa-apa? Kenapa bisa…” Zhang Yuze menatapnya dengan heran.
Guo Xiaolu mengambil tisu dari tasnya, mengusap keringat di dahi, lalu menatapnya dengan kesal.
“Jangan pernah lagi mengantarku naik sepeda. Sekali saja hampir membuatku kehilangan separuh nyawa,” gerutunya.
Zhang Yuze memasang wajah murung yang dibuat-buat. “Jangan bilang Kak Xiaolu sebenarnya ingin naik Bentley mewah itu dan meremehkan rongsokanku ini?”
Ia meliriknya diam-diam, mencoba membaca ekspresinya.
Ucapan itu membuat Guo Xiaolu sedikit tersipu. Ia memelototinya dengan mata indahnya, namun nada suaranya terdengar manja.
“Mana mungkin? Kalau memang aku ingin naik mobil itu, aku tidak akan kembali bersamamu dengan sepeda tua ini, bukan? Hari ini hanya kebetulan saja dia menawariku tumpangan karena aku tidak mendapat bus di halte.”
Penjelasan itu membuat dada Zhang Yuze terasa lega.
Selama ia tidak benar-benar tertarik pada Lan Zhenglong, berarti ia masih memiliki peluang.
***
Malam harinya, setelah makan malam yang dimasak ibunya, Zhang Yuze kembali ke kamar. Ia menyalakan komputer dan membuka QQ seperti biasa.
Namun, hampir semua kontaknya berwarna abu-abu—tidak ada yang sedang daring.
Tiba-tiba ia teringat bahwa ia telah mendapatkan nomor QQ Liu Mengting dan Guo Xiaolu. Tanpa ragu, ia segera memasukkan nomor tersebut ke kolom pencarian.
Beberapa detik kemudian, layar menampilkan hasilnya.
Namun kegembiraannya hanya berlangsung sekejap.
Kedua gadis itu ternyata mengatur verifikasi penambahan teman pada mode penolakan otomatis.
Zhang Yuze terdiam, lalu menghela napas panjang.
Ternyata menambahkan gadis cantik di QQ bukan perkara mudah.
Ia tidak ingin memikirkan hal itu terlalu lama. Jika belum bisa, ya sudah. Lagipula, ia masih punya banyak waktu.
Tanpa ragu, ia membuka situs favoritnya—situs dewasa yang hampir setiap hari ia kunjungi. Pikiran remajanya yang sedang panas langsung terbawa suasana.
Namun, tepat ketika ia sedang larut dalam fantasi, tiba-tiba terdengar suara mendesis dari tangannya.
“Tidak mungkin… mouse-nya bocor listrik?”
Ia menatap perangkat itu dengan terkejut. Peristiwa yang mungkin hanya terjadi satu dalam sepuluh ribu kali justru menimpanya.
Seketika, arus listrik kecil menjalar melalui tubuhnya.
Namun alih-alih panik, Zhang Yuze secara refleks mengerahkan Zhen Qi—energi sejati yang selama ini ia latih melalui Seni Naga Terpendam—untuk mengusir arus tersebut keluar dari tubuhnya.
Detik berikutnya, kecelakaan tak terduga terjadi.
“Boom!”
Dunia di hadapannya menghitam.
Ketika penglihatannya kembali, ia mendapati dirinya berada di ruang aneh yang tak dikenalnya. Di sekelilingnya, partikel-partikel cahaya bergerak bebas, berkilauan seperti bintang. Benang-benang tipis dengan berbagai ketebalan saling terjalin, memanjang ke arah yang tak terhitung jumlahnya.
“Di mana ini?” gumamnya tercengang.
“Sepertinya kekuatan mentalmu telah memasuki dunia jaringan lokal,” suara Roh Kitab terdengar di dalam pikirannya.
“Kekuatan mental?”
“Kekuatan otakmu telah berkembang dua puluh persen. Karena itu, secara alami otakmu melahirkan kekuatan bawaan yang disebut kekuatan psikis, atau kekuatan mental. Namun saat ini masih sangat lemah. Seiring meningkatnya tingkat Seni Naga Terpendam, kekuatan ini akan bertambah.”
Dunia jaringan?
Jantung Zhang Yuze berdegup cepat.
Berarti ia benar-benar memasuki jaringan internet?
Setelah sekian banyak kejadian aneh yang ia alami belakangan ini, ia memang sudah lebih kebal terhadap keterkejutan. Namun pengalaman ini tetap membuatnya takjub.
Ia menatap benang-benang tipis seperti helaian rambut di hadapannya. Intuisinya mengatakan bahwa itulah jalur koneksi jaringan.
Dengan dorongan rasa ingin tahu, ia mengikuti salah satu benang.
Kecepatannya… tidak bisa digambarkan.
Ia bergerak secepat jaringan itu sendiri. Dalam sekejap, ia tiba di ujung jalur—sebuah terminal server.
Yang lebih mengejutkan, ia merasakan bahwa kekuatan mentalnya mampu mengendalikan server tersebut.
Tiba-tiba, sebuah gambaran muncul jelas dalam pikirannya.
Seorang gadis bertubuh gemuk, mengenakan kaus longgar, duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard, menulis kode program dengan tekun. Di sudut layar, QQ berkedip-kedip tanpa henti.
Ia sedang mengobrol dengan tujuh pria sekaligus.