NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ruang untuk bermimpi

"Baiklah, Tuan-tuan muda," seru Isaac sembari bertepuk tangan pelan untuk menarik perhatian kelompok anak laki-laki. "Ikuti aku. Kita akan melihat markas rahasia kalian di sayap barat. Siapa yang paling cepat sampai di tangga, dia boleh memilih tempat tidur paling atas!"

Seketika, Bumi, Rian, dan anak laki-laki lainnya berlarian kecil mengikuti langkah lebar Isaac. Suara derap kaki mereka di atas lantai kayu terdengar seperti perkusi yang riang, mengisi kekosongan yang selama ini menghuni bangunan itu.

Sementara itu, Luna berjongkok di depan Aira, Sinta, dan kelompok anak perempuan. Ia tersenyum lembut, menyampirkan anak rambut Aira ke belakang telinga. "Dan untuk para putri, mari ikut Kak Luna. Kita akan melihat tempat di mana kalian bisa menyimpan rahasia, boneka, dan buku-buku cerita."

Luna membimbing mereka menuju sayap timur bangunan. Koridor di area ini dirancang dengan jendela-jendela besar yang menghadap langsung ke kebun buah, membiarkan cahaya matahari sore masuk dan memantul di dinding berwarna krem.

"Ini adalah ruang tengah kalian," ujar Luna saat mereka sampai di sebuah ruangan terbuka dengan karpet bulu yang tebal dan rak buku yang rendah. "Kalian bisa bermain di sini sebelum tidur."

Sinta, yang hobi menggambar, langsung terpaku pada sebuah meja bundar kecil yang sudah dilengkapi dengan kertas gambar dan krayon warna-warni. "Kak Luna, apakah ini boleh kami pakai kapan saja?"

"Tentu saja, Sinta. Itu milik kalian," jawab Luna.

Mereka kemudian sampai di depan pintu kamar asrama putri. Saat Luna membuka pintu ganda yang terbuat dari kayu pinus itu, aroma harum bunga lavender yang menenangkan menyeruak keluar. Di dalam ruangan, barisan tempat tidur kayu yang rapi dengan seprai motif bintang menunggu mereka.

Aira berlari kecil menuju salah satu tempat tidur dan menyentuh boneka matahari rajut yang diletakkan Luna semalam. "Bonekanya sedang menunggu aku ya, Kak?" tanyanya dengan mata berbinar.

Luna duduk di tepi tempat tidur Aira. "Iya, dia menunggumu sejak kemarin. Dia akan menjagamu saat tidur nanti."

Di saat yang sama, di sayap barat, Isaac sedang disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan teknis dari anak-anak laki-laki. Mereka sangat antusias melihat meja belajar yang memiliki laci rahasia dan lampu baca yang bisa ditekuk.

"Pak Isaac, kenapa jendelanya besar sekali?" tanya Rian sembari menempelkan hidungnya ke kaca.

"Agar kalian bisa melihat bintang sebelum tidur, Rian," jawab Isaac sembari merangkul pundak anak itu. "Dan agar kalian ingat bahwa dunia ini sangat luas untuk kalian jelajahi nanti."

Proses pembagian kamar itu berjalan dengan penuh tawa. Tidak ada lagi wajah-wajah murung yang mereka lihat saat bus pertama kali datang. Anak-anak mulai meletakkan tas-tas kecil mereka di dalam lemari, menata pakaian yang tidak seberapa itu dengan rasa bangga karena kini mereka memiliki "hak milik" atas sebuah ruang.

Luna berdiri di ambang pintu kamar putri, memperhatikan bagaimana anak-anak itu mulai saling bercerita dan berbagi mainan. Ia merasa bahwa setiap inci dari desain yang ia dan Isaac perdebatkan dulu, kini menemukan fungsinya yang paling hakiki: memberikan rasa aman.

"Mereka sudah mulai merasa di rumah, Isaac," bisik Luna saat ia berpapasan dengan Isaac di koridor tengah, setelah mereka selesai memastikan semua anak nyaman di kamar masing-masing.

Isaac mengangguk, menyeka keringat di dahinya, namun wajahnya tampak sangat puas. "Ini adalah tahap desain yang paling sulit, Luna. Mengubah bangunan menjadi perasaan. Dan sepertinya, kita berhasil."

Matahari sore merendah, membiaskan semburat oranye yang hangat ke seluruh area halaman belakang. Setelah selesai merapikan barang-barang di kamar, pintu-pintu besar panti asuhan mulai terbuka, membiarkan rombongan kecil itu tumpah ke ruang terbuka hijau yang telah disiapkan dengan penuh kasih.

"Pelan-pelan! Jangan sampai menginjak bedengan sayurnya ya!" seru Isaac sembari tertawa, tangannya memberi isyarat agar mereka berkumpul di tengah kebun.

Jika di dalam gedung tadi mereka sedikit sungkan, di alam terbuka ini keceriaan mereka benar-benar meledak. Luna memperhatikan seorang anak laki-laki bernama Dito yang sejak tadi hanya diam. Namun, begitu melihat barisan tanaman tomat, mata Dito berbinar. Ia berlutut di depan satu tanaman yang buahnya sudah mulai merona merah.

"Ini buahnya boleh dipetik nanti kalau sudah merah semua, Kak?" tanya Dito dengan nada antusias yang baru pertama kali Luna dengar.

"Tentu saja, Dito. Kau bisa menjadi 'Kapten Tomat' di sini jika kau mau merawatnya," jawab Luna sembari memberikan kaleng penyiram kecil padanya. Dito menerimanya dengan bangga, seolah baru saja menerima pedang kehormatan.

Di sudut lain, seorang gadis kecil bernama Lulu yang memiliki rambut ikal pendek tampak sangat tertarik dengan pohon persik. Ia tidak sendiri; ia menggandeng tangan Hani, anak perempuan yang lebih kecil darinya. Lulu menunjukkan daun-daun persik yang hijau kepada Hani.

"Lihat, Hani, nanti di sini tumbuh buah yang manis sekali. Ayah Kak Luna yang minta pohon ini ditanam," jelas Lulu dengan gaya seperti seorang kakak pelindung.

Hani hanya mengangguk-angguk kagum, tangannya yang mungil mencoba menyentuh ujung daun dengan hati-hati.

Isaac sendiri sedang dikelilingi oleh Tedi dan Aris. Berbeda dengan Bumi atau Rian yang lebih berani, Tedi dan Aris tampak lebih tertarik pada cara kerja sistem irigasi tetes yang dipasang Isaac di sepanjang kebun sayur.

"Pak, kenapa airnya cuma menetes sedikit-sedikit?" tanya Tedi, wajahnya sangat dekat dengan pipa plastik kecil itu.

"Itu supaya tanahnya tidak kaget, Tedi. Seperti kita kalau minum, lebih baik sedikit-sedikit tapi sering daripada langsung satu galon," jelas Isaac dengan analogi sederhana yang membuat Tedi dan Aris tertawa terpingkal-pingkal.

Ibu Sari keluar dari dapur membawa nampan berisi potongan buah semangka segar yang merah merekah. "Ayo semuanya, istirahat dulu! Siapa yang mau semangka?"

Seketika, anak-anak yang tadinya tersebar—termasuk Doni yang sedang asyik memperhatikan semut di balik pohon jambu, dan Sari (anak panti yang namanya sama dengan sang pengasuh) yang sedang asyik memilin rumput—berlari mendekat. Mereka duduk melingkar di atas rumput hijau yang empuk.

Luna menatap pemandangan itu dengan perasaan haru yang mendalam. Ia melihat keberagaman karakter di depannya: ada yang pemberani, ada yang pengamat, ada yang sangat peduli pada sesama, dan ada yang masih sangat pemalu. Setiap anak adalah warna yang berbeda di atas kanvas mimpi Dendra.

"Kalian lihat kebun ini?" Luna bertanya kepada mereka semua saat mereka sedang menikmati semangka. "Kebun ini, gedung ini, dan kita semua di sini adalah sebuah keluarga. Tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil. Kita semua akan tumbuh bersama seperti pohon-pohon ini."

Sore itu diakhiri dengan aktivitas penyiraman bersama. Suara gemericik air dan tawa anak-anak yang sesekali saling mencipratkan air menciptakan suasana yang begitu hidup. Dito dengan tomatnya, Lulu dengan persiknya, dan Tedi dengan pipa-pipa airnya; setiap anak mulai menemukan tempatnya di rumah baru ini.

Bagi Luna dan Isaac, inilah arsitektur yang sesungguhnya: membangun keterikatan antara manusia dan tempat tinggalnya.

Malam pertama di perbukitan itu turun dengan keheningan yang mencekam bagi sebagian jiwa kecil yang baru saja berpindah tempat. Meskipun kasur yang mereka tempati empuk dan selimutnya hangat, bayang-bayang masa lalu dan kerinduan akan sesuatu yang akrab tetap merayap masuk melalui celah-celah jendela, membawa serta rasa cemas yang tak kasat mata.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!