NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:608
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Teror terhadap keluarga

Kebenaran yang mulai menampakkan wajahnya ternyata memancing amarah yang tak lagi tersembunyi.

Teror itu tidak datang dengan ledakan besar atau ancaman terbuka di siang hari. Ia merayap perlahan, masuk melalui celah-celah kehidupan pribadi, menyentuh titik paling rapuh dari setiap orang yang terlibat.

Pagi itu, ibu Bima menemukan amplop cokelat tergeletak di teras rumah. Tak ada nama pengirim, tak ada cap pos. Di dalamnya hanya satu foto yaitu Bima sedang berdiri di depan rumah sakit, diambil dari jarak jauh. Di bagian belakang foto tertulis kalimat pendek dengan tinta merah, berhenti sebelum semuanya terlambat.

Tangan ibunya gemetar saat menunjukkan foto itu pada Bima.

Untuk sesaat, kemarahan membakar dada Bima. Namun yang lebih kuat adalah rasa bersalah. Ia sadar, kini bukan hanya dirinya yang menjadi sasaran.

“Kita laporkan,” katanya tegas, meski suaranya tertahan.

Di kantor kepolisian, Inspektur Vino menerima laporan itu dengan wajah muram. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Musuh yang terdesak tak lagi bermain di wilayah hukum mereka menyerang lewat rasa takut.

“Kami akan tempatkan pengamanan,” kata Raka. “Tapi kau harus ekstra hati-hati.”

Teror tak berhenti di situ.

Sinta menerima pesan anonim berisi alamat rumah orang tuanya di luar kota. Kirana mendapati motornya dirusak tanpa jejak pelaku. Bahkan salah satu anggota tim khusus kepolisian menemukan anaknya diikuti mobil asing sepulang sekolah.

Tak ada kekerasan fisik, tapi pesan itu jelas bahwa mereka tahu di mana kelemahan berada.

Di ruang rapat kecil yang kini terasa semakin sempit, Bima dan timnya duduk dalam keheningan yang berat.

“Mereka mulai menyerang keluarga,” ujar Kirana pelan. “Ini sudah melewati batas.”

Sinta mengepalkan tangan. “Itulah tujuan mereka. Membuat kita goyah.”

Bima menatap satu per satu wajah di hadapannya. Ia melihat kelelahan, ketakutan, tapi juga api yang belum padam.

“Aku tidak akan memaksa siapa pun bertahan,” katanya akhirnya. “Jika kalian ingin mundur, aku mengerti.”

Tak satu pun menjawab. Namun diam itu bukan tanda menyerah, melainkan tanda keputusan yang telah bulat.

Sementara itu, di kantor kepolisian, perpecahan semakin terasa. Beberapa perwira mulai mempertanyakan apakah penyelidikan ini layak diteruskan jika dampaknya merembet ke keluarga aparat.

Seorang penyidik senior bahkan secara terbuka menyarankan agar tim khusus dibubarkan demi “keamanan bersama.”

Komisaris Darma berdiri di hadapan mereka dengan sorot mata tajam. “Jika kita berhenti karena takut, maka kita mengakui bahwa hukum bisa dikalahkan dengan teror.”

“Tapi keluarga kita, Pak,” sahut seseorang lirih.

Mahendra terdiam sejenak. Ia juga seorang ayah. Ia memahami rasa itu. Namun ia juga tahu, menyerah sekarang berarti membiarkan generasi berikutnya hidup dalam bayang-bayang yang sama.

“Kita akan perkuat perlindungan,” katanya tegas. “Dan kita akan lanjut.”

Keputusan itu tak disambut tepuk tangan, tapi cukup untuk menjaga bara tetap menyala.

Malam berikutnya, listrik di rumah Bima mendadak padam. Hanya rumahnya yang gelap di antara deretan bangunan lain. Dalam kegelapan itu, suara batu menghantam jendela terdengar memekakkan.

Ibunya menjerit pelan.

Bima berlari keluar, tapi jalan sudah kosong. Hanya kaca pecah dan secarik kertas terlipat di lantai. Kali ini pesannya lebih singkat: Ini baru awal.

Polisi datang tak lama kemudian, namun seperti biasa, pelaku tak meninggalkan jejak berarti.

Di kamar rumah sakit, ayah Bima mendengar kabar itu dengan mata berkaca-kaca. “Maafkan Ayah,” bisiknya. “Karena Ayah, kalian harus menghadapi ini.”

Bima menggenggam tangan yang kurus itu. “Bukan karena Ayah. Karena mereka.”

Namun di dalam hati, ia tahu beban itu nyata.

Teror bukan hanya soal ancaman fisik. Ia merusak ketenangan, mencuri tidur, dan membuat setiap suara kecil terasa mencurigakan. Ia menekan dari dalam, perlahan, tanpa ampun.

Beberapa hari kemudian, sebuah unggahan anonim di media sosial menyebarkan fitnah baru tentang keluarga Bima,tuduhan lama yang dibungkus cerita baru. Komentar kebencian mengalir deras, menambah luka di atas luka.

Kirana memandang layar ponselnya dengan rahang mengeras. “Mereka mencoba membunuh karakter kita jika tak bisa membungkam kita.”

Namun di tengah gelombang itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Sejumlah warga mulai menyatakan dukungan secara terbuka. Tagar dukungan bermunculan. Beberapa tokoh masyarakat mendesak aparat melindungi para saksi dan keluarga yang terancam.

Teror memang menebar ketakutan, tapi juga memancing simpati.

Di suatu malam yang sunyi, Bima berdiri di teras rumah yang kini dijaga dua polisi. Angin berembus pelan, membawa aroma laut yang samar.

Ia tahu ancaman belum akan berhenti. Bahkan mungkin akan semakin kasar.

Namun satu hal menjadi jelas: jika musuh sudah menyerang keluarga, itu berarti mereka kehabisan cara untuk melawan kebenaran secara terbuka.

Bima menatap langit gelap tanpa bintang. Dalam dadanya, rasa takut masih ada ia tak menyangkalnya. Tapi di balik takut itu, ada tekad yang lebih kuat.

Teror terhadap keluarga mungkin dimaksudkan untuk mematahkan mereka.

Namun justru di situlah, mereka menemukan alasan paling kuat untuk tidak pernah mundur.

1
jstmne.
hadir Thor. kayaknya seru ni cerita
Reza Ashari: mkasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!