tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayang-Bayang di Balik Frekuensi
Angka-angka di layar ponsel Elara berkedip pelan, seolah memiliki detak jantung sendiri."18.9 Hz" Frekuensi infrasonik yang nyaris tak terdengar oleh telinga manusia, namun mampu menciptakan perasaan cemas, tekanan di dada, hingga halusinasi. Itu adalah tanda tangan teknis Marcus—sebuah frekuensi yang dulu mereka sebut sebagai "Ghost Frequency".
"El? Ada apa?" Arlo menyentuh bahu Elara, menyadari perubahan drastis pada raut wajah wanita itu.
Elara segera mematikan layar ponselnya, namun tangannya tetap gemetar. "Marcus. Dia masih ada, Arlo. Atau setidaknya, sesuatu yang dia bangun masih beroperasi."
Arlo mengambil ponsel itu dari tangan Elara. Ia menatap deretan angka tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dia tidak mungkin selamat dari ledakan di Salford. Jamie melihat sendiri bunker itu runtuh."
"Tapi dia tidak butuh tubuh untuk menghancurkan kita, bukan?" Elara menunjuk ke arah gedung label rekaman yang baru saja mereka tinggalkan. "Dia sudah mengubah dirinya menjadi data. Jika dia berhasil mengirimkan frekuensi ini ke ponselmu atau ponselku, artinya dia masih memiliki akses ke jaringan pribadi kita."
Pesan dari Masa Lalu
Mereka memutuskan untuk tidak kembali ke apartemen Greenwich. Alih-alih, mereka masuk ke sebuah warnet tua di Shoreditch, tempat di mana bau rokok dan mesin panas menyamarkan keberadaan mereka. Arlo mulai bekerja, jemarinya menari di atas keyboard yang kusam, mencoba melacak asal pesan tersebut.
"Ini bukan pesan instan biasa," gumam Arlo. "Ini adalah pemicu. Seseorang mengirimkan sinyal ini untuk mengaktifkan sesuatu yang sudah tertanam di perangkat kita."
Tiba-tiba, semua monitor di warnet itu berkedip serentak. Suara dengungan rendah mulai merayap keluar dari speaker-speaker murah di ruangan itu. Orang-orang di sekitar mereka mulai merasa tidak nyaman; ada yang memegang lehernya, ada yang tiba-tiba merasa mual.
"Arlo, hentikan!" bisik Elara dengan nada mendesak.
"Aku sedang mencoba! Dia menggunakan protokol yang kita buat sepuluh tahun lalu di London, El. Protokol 'About You' yang belum selesai." Arlo berkeringat dingin. Di layar monitor, sebuah video mulai terputar secara otomatis.
Bukan video Marcus, melainkan rekaman CCTV dari sebuah apartemen tua. Elara menutup mulutnya dengan tangan. Itu adalah apartemen mereka sepuluh tahun lalu. Dalam video hitam putih yang kasar itu, terlihat Arlo muda sedang duduk di depan piano, dan Elara sedang tertawa di latar belakang.
Suara Marcus terdengar melalui speaker, serak dan terdistorsi: "Kalian pikir kebebasan bisa dibeli dengan menghancurkan karya? Keheningan adalah bentuk tertinggi dari suara, Arlo. Dan aku sudah merekam keheningan kalian selama sepuluh tahun ini."
Paradoks Keheningan
"Dia tidak ingin kita kembali normal," Arlo menyadari dengan ngeri. "Dia ingin membuktikan bahwa bahkan saat kita diam, kita tetaplah bagian dari eksperimennya. Setiap detik kesunyian kita di Skotlandia, setiap bisikan kita di loteng... dia merekam frekuensi atmosfernya."
"Untuk apa?" tanya Elara.
"Untuk menciptakan 'The Perfect Silence'. Sebuah frekuensi yang bisa membatalkan semua suara lain. Jika dia merilisnya, dia bukan lagi musisi. Dia adalah pemilik keheningan dunia. Dan dia butuh kode terakhir yang baru saja aku gunakan di kantor label tadi untuk menyempurnakannya."
Arlo menyadari kesalahannya. Strategi 'dekonstruksi' yang ia gunakan untuk merusak lagu lamanya justru menjadi kunci terakhir yang dibutuhkan algoritma Marcus untuk mencapai titik nol mutlak.
Langkah Berbahaya
"Kita harus menemukan server asalnya," Elara berdiri, matanya berkilat dengan amarah yang dingin. "Dia tidak di Manchester, tidak juga di London. Jika dia merekam keheningan kita di Skotlandia secara *remote*, artinya pusat kendalinya ada di tempat yang memiliki koneksi satelit langsung."
"Mercusuar," ucap mereka bersamaan.
Tempat di mana semuanya bermula, dan tempat di mana Arlo mengira dia telah meninggalkan seluruh bebannya, ternyata adalah jantung dari mesin yang sekarang sedang bangun. Marcus tidak perlu berada di sana secara fisik; dia hanya butuh sistem yang tetap menyala.
"Kita harus kembali ke utara, El," kata Arlo pelan. "Bukan untuk bersembunyi kali ini. Tapi untuk membakar habis jantung dari 'About You'."
Di luar warnet, hujan London mulai turun, namun kali ini suaranya terdengar berbeda. Seolah-olah setiap tetes air yang jatuh membawa pesan rahasia yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Perang mereka dengan frekuensi baru saja memasuki babak final yang paling mematikan: melawan keheningan itu sendiri.
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐