NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi
Popularitas:103.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Pagi itu suasana kastil terasa berbeda. Bukan karena dekorasi. Bukan karena pesta. Justru karena tidak ada apa-apa. Terlalu sunyi untuk sebuah rumah besar yang biasanya selalu dipenuhi langkah kaki pelayan.

Sandrina sedang duduk di ruang makan sayap kiri ketika Patrick muncul dengan ekspresi aneh setengah serius, setengah menahan sesuatu.

“Kenapa mukamu seperti baru kehilangan saham?” tanya Sandrina curiga.

Patrick berdeham pelan. “Hari ini adalah ulang tahun Tuan Alecio.”

Kemoceng di tangan Sandrina berhenti di udara. “Hah? Serius?”

Patrick mengangguk.

Sandrina spontan berdiri. “Kenapa nggak ada balon? Kue? Spanduk? Paling nggak lilin angka gitu?”

Patrick tersenyum tipis. “Beliau tidak pernah merayakan ulang tahunnya.”

“Kenapa?”

Patrick terdiam sejenak, lalu hanya berkata, “Bukan saya yang berhak menjelaskan.”

Beberapa jam kemudian, Alecio sendiri muncul di ruang tamu utama dengan wajah datar seperti biasa.

Sandrina sudah menunggunya dengan tangan terlipat di dada. “Selamat ulang tahun,” ucapnya cepat, nada suaranya masih seperti orang yang belum sepenuhnya rela.

Alecio menatapnya. “Terima kasih.” Lalu, dengan santai, ia menambahkan, “Aku ingin kado.”

Sandrina membelalak. “Apa?!”

Patrick yang berdiri tak jauh dari sana hampir tersedak udara. Sementara itu, Max yang baru masuk ruangan langsung berhenti melangkah. Lalu, Rosa dan Gianni yang kebetulan membawa bunga juga membeku di tempat.

Sandrina menunjuk dirinya sendiri. “Kado? Dari aku?”

Alecio mengangguk tanpa rasa bersalah. “Ya.”

“Apa tidak salah kamu minta kado dari aku?” ulang Sandrina, kali ini lebih keras.

“Aku hanya meminta sesuatu darimu,” jawabnya tenang.

“Mana ada korban kasih hadiah ke penculiknya!” Sandrina menunjuk dirinya sendiri dramatis. “Logikanya di mana, Tuan Alecio?”

Patrick yang berdiri di dekat pintu menunduk, pura-pura mengamati lantai agar tidak tertawa. Sedangkan Max bahkan sampai memalingkan wajahnya.

Alecio hanya menatap Sandrina dengan ekspresi nyaris tak terbaca. “Aku tidak pernah meminta apa pun sebelumnya.”

Nada itu tidak menuntut dan tidak juga memaksa. Hanya berharap.

Sandrina mendengus kesal, lalu berbalik pergi. “Kamu memang menyebalkan.”

Namun, kepergian pria itu justru meninggalkan tanda tanya di hatinya. Kenapa tidak ada perayaan? Kenapa seluruh kastil justru terlihat lebih sunyi dari biasanya?

Sandrina menemukan Rosa dan Gianni di dapur. Keduanya sedang sibuk memasak. Namun, tidak membuat menu spesial atau kue ulang tahun.

“Ada apa sebenarnya?” tanya Sandrina, kali ini lebih pelan. “Kenapa ulang tahun Alecio nggak pernah dirayakan?”

Rosa yang sedang mengupas apel berhenti. Pisau kecil itu menggantung di udara beberapa detik. Sementara Gianni menunduk.

Suasana di dapur berubah. Sandrina bisa merasakan itu dan rasa penasarannya semakin kuat.

“Karena hari ini ....” ucap Rosa dengan suara melembut, “… bukan hanya hari ulang tahun Tuan Alecio. Tapi, hari ini juga adalah hari yang paling kelam dalam hidupnya.”

Sandrina mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Gianni menarik napas panjang, lalu duduk pelan di kursi kayu tua. “Dua puluh tahun lalu,” katanya perlahan, “di hari yang sama ibunya meninggal.”

Kata meninggal itu terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang berat. Sandrina menatap mereka bergantian. “Sakit?”

Rosa menggeleng. “Dibunuh.”

Pisau kecil di tangan Rosa akhirnya diletakkan. Tangannya bergetar tipis.

Sandrina merasa udara di dapur tiba-tiba menipis.

“Nyonya dibunuh di tempat umum,” lanjut Gianni dengan suara serak. “Di tengah keramaian. Di alun-alun kota, ketika pergi tanpa pengawalan ketat.”

Rosa memejamkan mata sejenak, seolah memutar kembali kenangan yang tak ingin ia lihat.

“Tuan Alecio waktu itu masih kecil. Baru berusia sepuluh tahun,” katanya pelan. “Nyonya Alexia membawanya berjalan-jalan. Mereka membeli roti manis seperti kebiasaan setiap ulang tahunnya.”

Sandrina merasakan dadanya mulai sesak.

“Lalu sekelompok pria datang membawa senjata,” lanjut Gianni. “Musuh lama keluarga. Mereka tidak peduli itu tempat umum. Tidak peduli ada anak kecil di sana.”

Rosa menahan napas. “Nyonya Alexia berdiri di depan untuk melindungi Tuan Alecio.”

Suara Rosa pecah. “Ia memeluk Tuan Alecio dan menerima semua tembakan itu.”

Sandrina spontan menutup mulutnya.

“Orang-orang di sekitar…” Gianni menelan ludah, “…tidak ada yang berani mendekat. Mereka hanya menonton. Beberapa orang ada yang pingsan karena ketakutan. Tidak ada yang menolong.”

Air mata pertama jatuh dari mata Rosa. “Anak itu,” bisiknya, “memanggil ibunya berkali-kali. Berteriak sampai suaranya habis. Tangannya penuh darah. Tapi tidak ada yang datang.”

Sandrina merasa lututnya melemah. Ia duduk perlahan di kursi.

“Beliau meninggal di pelukan Tuan Alecio,” lanjut Rosa lirih. “Di hari ulang tahunnya.”

Dapur yang tadi biasa saja kini terasa seperti ruang kenangan yang terlalu berat.

“Sejak hari itu,” kata Gianni pelan, “Tuan Alecio tidak pernah merayakan ulang tahun. Baginya, hari itu bukan tentang dirinya lahir, tapi tentang orang yang melahirkannya pergi.”

Sandrina tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia membayangkan seorang anak kecil memeluk ibunya yang berdarah di tengah kerumunan orang yang hanya menonton. Ia membayangkan ulang tahun yang berubah menjadi hari paling kelam. Ia membayangkan bagaimana seorang anak kehilangan satu-satunya pelindungnya di hadapan mata sendiri.

Air matanya jatuh tanpa bisa dicegah. “Kenapa, tidak ada yang menolong?” tanya Sandrina suaranya bergetar.

Rosa menggeleng pelan. “Pengawal yang ikut mati terbunuh juga. Orang sipil pastinya takut. Orang lebih memilih selamat daripada berani.”

Sandrina menangis lebih keras. Selama ini ia hanya melihat Alecio sebagai pria dingin, arogan, menyebalkan. Ia tidak pernah membayangkan anak kecil yang berlumuran darah itu masih hidup di dalam dirinya.

“Pantas…” bisiknya terisak, “dia selalu sendirian.”

Rosa mengusap punggung Sandrina lembut. “Nyonya Alexia sangat menyayanginya. Ia selalu membuat cookies sederhana setiap ulang tahunnya. Katanya, meski dunia kejam, hidup tetap harus terasa manis.”

Kalimat itu membuat tangisan Sandrina semakin pecah. Ia membayangkan aroma cookies hangat, tawa seorang ibu, dan anak kecil yang menunggu di dapur. Lalu bayangan itu hancur oleh darah dan teriakan.

“Aku, tadi marah-marah sama dia,” gumam Sandrina sambil menangis. “Aku bilang mana ada korban kasih hadiah ke penculik.”

Rosa tersenyum sedih. “Beliau tidak meminta hadiah mahal, Nona. Ia hanya ingin hari ini tidak sepi.”

Tangisan Sandrina perlahan berubah menjadi tekad. “Aku nggak bisa menghapus masa lalunya,” katanya lirih, menyeka air mata. “Tapi aku nggak mau hari ini terasa seperti hari kematian lagi.”

Gianni menatapnya lembut. “Apa yang ingin kau lakukan?”

Sandrina menarik napas dalam. Matanya masih merah, tapi ada cahaya berbeda di sana.

“Kita bikin cookies.”

Rosa tersenyum tipis. “Seperti yang dibuat ibunya?”

Sandrina mengangguk. Lalu di dapur itu, di antara air mata dan tepung yang berterbangan, seorang gadis dari negeri jauh mencoba membuat ulang kenangan yang pernah menjadi satu-satunya cahaya bagi seorang anak kecil bernama Alecio.

***

Baca karya aku yang lainnya juga, ya.

1
seftya
lanjut
Mineaa
udah ga sabar liat para mafioso ikut takbir keliling .... pasti seru dengan semua culture shock mereka.....dengan segala tingkah konyolnya.....
belum lagi di liatin para warga lokal....karena mereka " bule "....
mana bule no kaleng kaleng lagi....
thoooorrrr di tunggu update secepatnya ya.... please.....🙏🔥🔥🔥🔥🔥
Sartini 02
lanjut kak double up ya....🤭🤣😍
Lilis Yuanita
lucu🤣🤣
Sartini 02
lanjut kak double up ya...🤭🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
😄😄😄😄😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
benar ale. serandom itulah kami kaum cewek
ken darsihk
Ngguyu kemekelennn 😂😂😂
Bule Itali ra umum ha ha ha
Halimah
Astaghfirullah ngakak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
kak Santi kalau up minimal 2 bab donk biar gak nanggung 🙏🙏
seruu soal nya 😘😘
Halimah
dasar somplak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
aku malah kasihan pula sama Ayam nya yg JD panik 🤣
untung gda ayam yg mau bertelur ,, JK ayam yg mo bertelur panik yg ada telur nya masuk lg dan gak JD keluar 🤣🤣🤣
sakit perut aku baca nya sangking ngakak nya. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
V3
astaghfirullah al'adzim ... aku ketawa cekikikan mpe keluar air mata ini 🤣🤣🤣
sumpah kak ini lucu bgt , Astaghfirullah ... Yaa Allah 🤣
aku baca mpe ku ulang-ulang ttp ja aku ngakak 🤣🤣
ketiga bule ngerasain apa yg Alecio rasakan waktu pertama kali mendengar kentongan sahur ,, sama-sama panik dan berfikir sdg di serang 🤣🤣
Lianty Itha Olivia
sungguh keluarga dan pertemanan yg unik
Endang Sulis
diskuni lebaran masih kurang 9 hari lagi,disitu besok kok sudah lebaran🤣🤣🤣
Vie
ih kok aku gak sabar nunggu alecio lebaran ya... 😁😁😁😁😁
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
Ita rahmawati
udh lebaran duluan aja sih kalian 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!