Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

01. Berikan aku anak!

Suara gelas beradu di meja makan besar keluarga Wirantara terdengar kaku malam itu.

Makan malam keluarga selalu tampak sempurna di mata orang luar, meja panjang berlapis linen putih, piring porselen berjejer rapi, dan tawa sopan yang terdengar seperti kewajiban.

Namun bagi Amara, semuanya terasa dingin, seperti panggung sandiwara yang diulang setiap minggu.

Dia duduk di samping suaminya, Kapten Shaka Wirantara, pria dengan tatapan tajam yang pernah membuat banyak orang segan.

Seragam pilotnya masih menempel di tubuh, setelan biru tua yang selalu tampak terlalu formal bahkan di meja makan keluarga sendiri. Shaka jarang bicara, sejak awal pernikahan mereka, kata-katanya selalu sedikit, emosinya bahkan lebih sedikit lagi.

Malam itu, percakapan berlangsung datar sampai suara ibunya memecah keheningan.

“Shaka, lima tahun sudah kau menikah, tapi kenapa belum juga memberi kami cucu?”

Nada lembut tapi menekan, semua mata langsung tertuju pada mereka berdua.

Amara menunduk, jarinya menggenggam serbet makan yang terlipat rapi di pangkuannya. Shaka menatap piringnya tanpa ekspresi.

“Kami hanya khawatir,” lanjut sang ibu, “usia Amara juga tak muda lagi. Kau sibuk terus, Nak, jangan sampai nanti terlambat.”

Satu kalimat lagi, dan suasana meja berubah sesak. Shaka hanya mengangguk singkat lalu meletakkan sendoknya.

“Saya paham, Bu,” jawabnya datar, lalu berdiri.

“Permisi.”

Tanpa menunggu siapa pun, ia meninggalkan meja. Amara bergegas berdiri, membungkuk sopan pada mertuanya sebelum mengikuti langkah suaminya yang sudah lebih dulu menuju tangga besar. Lorong menuju kamar terasa panjang dan sunyi. Begitu pintu kamar tertutup, suara kuncinya terdengar jelas.

Shaka berdiri membelakangi Amara, kedua tangannya bertumpu di meja kerja yang penuh dokumen penerbangan, napasnya berat.

“Mas?” panggil Amara pelan. “Tolong jangan marah, Ibu hanya khawatir.”

Tanpa menoleh, Shaka berkata dengan nada yang lebih dingin dari biasanya.

“Khawatir, atau ingin menekan?”

Amara terdiam, dia tahu tak ada jawaban yang bisa meredakan amarah pria itu. Shaka berbalik perlahan, matanya tajam, tapi ada letih di baliknya.

“Aku lelah, Amara.”

“Aku tahu,” jawab Amara lembut.

“Tidak, kamu tidak tahu,” suaranya meninggi, menahan frustrasi.

“Aku lelah karena terus ditanya soal anak, soal pernikahan yang bahkan tidak aku inginkan.”

Amara tertegun, kata-kata itu jatuh pelan tapi mematikan, seperti serpihan kaca yang melukai dari dalam.

'Ini sudah lima tahun, apa Mas Shaka belum bisa menerima pernikahan ini?'

“Mas…”

“Berikan aku anak, Amara.”

“Apa?”

“Biar mereka berhenti menjeratku dengan ikatan ini. Biar mereka pikir aku bahagia, biar aku bisa … bebas.”

Kata bebas membuat dada Amara sesak.

Bukan karena ia kaget, tapi karena kini ia benar-benar mengerti sekarang, pernikahan mereka hanyalah kewajiban yang harus dijalani Shaka, bukan pilihan. Dan ia hanyalah bagian dari rencana besar keluarga Wirantara untuk menyelamatkan nama, bukan cinta.

Shaka memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang hampir berubah jadi putus asa.

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti di hadapan Amara. Pandangan mereka bertemu, tapi tak ada kehangatan di sana, hanya dua orang yang sama-sama kehilangan arah.

“Aku tidak pernah membencimu, Amara,” katanya perlahan, “tapi aku juga tidak pernah mencintaimu.”

Amara menarik napas dalam, tak ada air mata, hanya keheningan yang panjang.

“Aku tahu,” bisiknya. “Sejak hari pertama kita bertemu, aku sudah tahu.”

Keheningan kembali mengisi ruangan, hujan di luar jatuh semakin deras, menimbulkan suara berirama yang menyayat telinga.

Shaka melangkah mundur, melepaskan dasinya dengan gerakan kasar lalu berjalan ke arah balkon, dan menatap langit malam tanpa kata.

Sementara Amara tetap berdiri di tengah kamar, menatap punggung pria yang menjadi suaminya selama lima tahun tanpa pernah tahu bagaimana rasanya dicintai.

Shaka kemudian berbalik, menatap Amara yang masih berdiri di tempat semula. Tatapannya berat, napasnya terengah menahan emosi yang tak bisa dijelaskan.

Di balik wajah tegasnya, hanya tersisa satu hal, keinginan untuk mengakhiri tekanan yang datang dari keluarganya.

Amara berdiri diam, menatap suaminya yang kini melangkah mendekat, ia tahu kemana arah tatapan itu. Ia tahu niat di balik gerakan tangan Shaka yang terulur ke arahnya.

“Mas…”

Suara Amara hampir tak terdengar, lembut dan bergetar. Namun sebelum ia sempat melanjutkan, tubuhnya sudah terangkat.

Shaka menggendongnya tanpa kata, membawa Amara ke arah ranjang besar di sisi kamar.

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Shaka memintanya untuk menunaikan satu-satunya hal yang tersisa dalam pernikahan mereka yaitu kewajiban.

Amara tak melawan, dia hanya memejamkan mata dan membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. Baginya, menjadi istri berarti patuh, sekalipun hatinya perlahan mati.

Ia tidak pernah menolak Shaka, tidak pernah berkata tidak, karena di antara dinginnya hubungan mereka, ia masih ingin percaya bahwa suatu hari, mungkin suaminya Shaka akan memandangnya dengan penuh cinta.

Namun yang datang bukan cinta, hanya keheningan. Hanya napas berat dua orang yang terjebak dalam ikatan tanpa perasaan. Ketika semuanya berakhir, Shaka berbalik tanpa sepatah kata pun, membelakangi Amara yang masih terbaring diam di sisi ranjang.

Dia menarik selimutnya sendiri dan menatap langit-langit kamar. Suara hujan masih terdengar di luar sana, jatuh satu-satu di atas jendela, menandai malam yang sama dinginnya dengan hati mereka berdua.

Amara menatap punggung pria itu lama sekali. Satu sisi dirinya ingin marah, sisi lainnya hanya ingin menyerah. Namun akhirnya, ia memilih diam. Karena diam adalah satu-satunya hal yang bisa menjaga harga dirinya tetap utuh. Dia kemudian berbisik lirih pada dirinya sendiri, kalimat yang tak akan pernah didengar siapa pun.

"Kalau ini yang kau inginkan, Mas ... aku akan menuruti. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti aku berhenti berharap.”

Hujan kian deras dan malam itu, dua manusia di bawah satu atap berbagi kehangatan tanpa ada rasa, sementara cinta mereka perlahan mati tanpa sempat dilahirkan.

Terpopuler

Comments

Mega Prasetya T.R.N

Mega Prasetya T.R.N

ini maksudnya gimana sih hubungan shaka sama amara kok nggak ada perasaan sih cuma nikah karena merasa shaka balas budi sama amara, apalagi ibunya shaka sekaligus ibu mertuanya amara kok enak banget minta untuk dibuatkan cucu apa nggak lihat shaka sama amara nikah selama 5 tahun tahun tapi shaka anaknya nggak ada perasaan apapun ke amara

2025-12-07

1

Tamirah

Tamirah

Dalam kehidupan nyata nikah 5 tahun
itu itu waktu yg sangat lama.
Kalau tiap hari tidur bersama, melakukan hubungan intim masak gk tumbuh rasa sayang sedikit pun.
Entah kalau diluar sana dia masih berhubungan dengan cinta pertama nya ya mau' dikata.Kalau sdh gak kuat ucapkan kata cerai, dari pada makan hati mending makan bakmi, bakso.

2025-12-30

1

Ainy Hendrawan

Ainy Hendrawan

sudah like n subscribe tamatkan cerita ini ? takutnya dah baca gk lanjut 😅

2025-12-31

1

lihat semua
Episodes
1 01. Berikan aku anak!
2 02. Ada sesuatu di hati yang sulit dijelaskan.
3 03. Mas Kapten, ayo bercerai!
4 04. Tidak akan menunggu seseorang yang sedang membuat luka lebih dalam
5 05. menjaga jarak itu penting dari orang yang membuat luka.
6 06. Dalam dua hari itu tidak mudah memutuskan hubungan tanpa cinta
7 07. Kadang pergi itu lebih baik dari pada tinggal hanya untuk terluka
8 08. Mau kamu gu-gurkan atau pertahankan anak itu?
9 09. Meski jarak memisah sementara, namun ke khawatiran itu ada.
10 10. Meski dia kembali aku akan berusaha merebut - Karina
11 11. Sekali lagi kau lebih percaya dia dari pada aku!
12 12. Sampai bertemu di pengadilan, Mas Shaka.
13 13. Meskipun aku pergi setidaknya aku akan membawa pengkhianat itu bersama
14 14. Amara siapa kamu?
15 15. Belajar menghargai sebelum kamu kehilangan, Mas.
16 16. Kenapa hanya selalu aku yang salah?
17 17. Jika aku kehilangan anakku, orang satu satunya yang salah adalah kamu!
18 18. pergilah ke adik kesayanganmu, Mas!
19 19. Siapa yang pandai bermain seperti ini?
20 20. Kamu tak pernah mau berada dipihakku kan, Mas?
21 21. Pergi tanpa menoleh
22 22. Menyesal pun tiada guna
23 23. Shaka buang berlian demi serpihan kaca
24 24. Tiga bulan kemudian
25 25. Penyesalan itu selalu datang terlambat
26 26. Meskipun jauh orang yang dikhawatirkan Amara tetap Shaka
27 27. Enam Tahun Kemudian
28 28. Dia...
29 29. Jangan pergi ... Amara
30 30. Cucu kami masih hidup?
31 31. Bukan soal cinta yang hilang tapi kepercayaan yang hancur.
32 32. dua hari berlalu.
33 33. Semakin dikejar semakin jauh
34 34. Aku berusaha bahagia ...
35 35. masih cemburu
36 36. Om! jangann dekatin mama!
37 37. Memutar balikkan fakta
38 38. Aku kembali untuk membuka mata kamu kalau selama ini kamu salah.
39 39. Karena dia ayahmu!
40 40. Dua Minggu kemudian
41 41. Dia berhak jadi ayah Azril, tetapi...
42 42. Papa jangan sakiti Mama lagi.
43 43. Memaafkan itu mudah yg sulit itu melupakan
44 44. Malam itu
45 45. Biarkan aku memelukmu!
46 46. tidak hadir maka timbul rasa rindu
47 47. Rindu tapi gensi
48 48. Aku panik, aku pikir kamu diculik.
49 49. Aku akan memperbaiki semuanya
50 50. papa janji jangan tinggalin mama ya?
51 51. Gagal bukan berarti kalah
52 52. Shaka belajar menerima apapun keputusan Amara
53 53. dua hari berlalu
54 54. Hanya saja mereka takut jika dua orang itu bersatu
55 55. Bahaya
56 56. Setidaknya dia selalu ada.
57 57. serangan dadakan
58 58. Rumah sakit
59 59. Dia selamat dan musuh hancur
60 60. Seminggu kemudian.
61 61. Akhir yang indah
62 62. Hari pernikahan
63 63. Kembali bersama
64 Pengumuman
65 65
66 66. Spesial episode Shaka & Amara
67 67
68 68. Spesial Episode
Episodes

Updated 68 Episodes

1
01. Berikan aku anak!
2
02. Ada sesuatu di hati yang sulit dijelaskan.
3
03. Mas Kapten, ayo bercerai!
4
04. Tidak akan menunggu seseorang yang sedang membuat luka lebih dalam
5
05. menjaga jarak itu penting dari orang yang membuat luka.
6
06. Dalam dua hari itu tidak mudah memutuskan hubungan tanpa cinta
7
07. Kadang pergi itu lebih baik dari pada tinggal hanya untuk terluka
8
08. Mau kamu gu-gurkan atau pertahankan anak itu?
9
09. Meski jarak memisah sementara, namun ke khawatiran itu ada.
10
10. Meski dia kembali aku akan berusaha merebut - Karina
11
11. Sekali lagi kau lebih percaya dia dari pada aku!
12
12. Sampai bertemu di pengadilan, Mas Shaka.
13
13. Meskipun aku pergi setidaknya aku akan membawa pengkhianat itu bersama
14
14. Amara siapa kamu?
15
15. Belajar menghargai sebelum kamu kehilangan, Mas.
16
16. Kenapa hanya selalu aku yang salah?
17
17. Jika aku kehilangan anakku, orang satu satunya yang salah adalah kamu!
18
18. pergilah ke adik kesayanganmu, Mas!
19
19. Siapa yang pandai bermain seperti ini?
20
20. Kamu tak pernah mau berada dipihakku kan, Mas?
21
21. Pergi tanpa menoleh
22
22. Menyesal pun tiada guna
23
23. Shaka buang berlian demi serpihan kaca
24
24. Tiga bulan kemudian
25
25. Penyesalan itu selalu datang terlambat
26
26. Meskipun jauh orang yang dikhawatirkan Amara tetap Shaka
27
27. Enam Tahun Kemudian
28
28. Dia...
29
29. Jangan pergi ... Amara
30
30. Cucu kami masih hidup?
31
31. Bukan soal cinta yang hilang tapi kepercayaan yang hancur.
32
32. dua hari berlalu.
33
33. Semakin dikejar semakin jauh
34
34. Aku berusaha bahagia ...
35
35. masih cemburu
36
36. Om! jangann dekatin mama!
37
37. Memutar balikkan fakta
38
38. Aku kembali untuk membuka mata kamu kalau selama ini kamu salah.
39
39. Karena dia ayahmu!
40
40. Dua Minggu kemudian
41
41. Dia berhak jadi ayah Azril, tetapi...
42
42. Papa jangan sakiti Mama lagi.
43
43. Memaafkan itu mudah yg sulit itu melupakan
44
44. Malam itu
45
45. Biarkan aku memelukmu!
46
46. tidak hadir maka timbul rasa rindu
47
47. Rindu tapi gensi
48
48. Aku panik, aku pikir kamu diculik.
49
49. Aku akan memperbaiki semuanya
50
50. papa janji jangan tinggalin mama ya?
51
51. Gagal bukan berarti kalah
52
52. Shaka belajar menerima apapun keputusan Amara
53
53. dua hari berlalu
54
54. Hanya saja mereka takut jika dua orang itu bersatu
55
55. Bahaya
56
56. Setidaknya dia selalu ada.
57
57. serangan dadakan
58
58. Rumah sakit
59
59. Dia selamat dan musuh hancur
60
60. Seminggu kemudian.
61
61. Akhir yang indah
62
62. Hari pernikahan
63
63. Kembali bersama
64
Pengumuman
65
65
66
66. Spesial episode Shaka & Amara
67
67
68
68. Spesial Episode

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!