Harap bijak dalam memilih bacaan, sebagian konten ini berunsur dewasa 21+
Demi menyelamatkan panti asuhan yang akan di gusur, Fatimah rela menikah dengan pria setengah baya berusia 50 tahun. Tetapi laki - laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Kenapa ? dan ada rahasia apa di balik pernikahannya....
Lalu bagaimana reaksi Glenn Wijaya Liem yang melihat Ayahnya sendiri menikahi wanita yang diam-diam ia cintai sejak tiga tahun yang lalu.... kuy ikutin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanggung jawablah
Fatimah yang merasa tidak tahan dengan dirinya, dia langsung keluar dari bathup. Berdiri di bawah guyuran shower, dengan cekatan dia membuka seluruh pakaiannya tidak perduli ada Glenn yang sedang berdiri mematung di depannya.
Melihat seorang wanita yang begitu ia cintai, berdiri di depannya tanpa sehelai benang yang melekat di badannya membuat jiwa kelaki-lakiannya goyah.
Entah ia sadari atau tidak badannya merangsek maju mendekati Fatimah hingga kemeja kerjanya juga basah kuyup karena terkena guyuran air dingin dari shower.
"Glenn, panas." rintih Fatimah nampak tersiksa.
"Liontin itu, jadi Fatimah adalah gadis kecilku itu."
Glenn terkejut ketika Fatimah memakai liontin yang dia berikan lima belas tahun yang lalu, di sebuah tempat kursus sempoa sebelum mereka berpisah dulu.
Saking bahagianya Glenn langsung memeluk gadis tanpa pakaian di depannya, tapi itu justru membuat Fatimah merasa ada gelanyar aneh di tubuhnya. Sepertinya obat perangsang dengan dosis tinggi itu mulai bereaksi ketika Glenn menyentuhnya.
Fatimah merasa dirinya seperti jal*ng, ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh laki-laki di depannya itu. Tanpa aba-aba dia mencium bibir Glenn dengan rakus. Glenn terkejut, bukan ini yang dia mau. Dia tidak mau memanfaatkan keadaan Fatimah yang sedang lemah.
Tapi sentuhan Fatimah begitu memabukkan, hingga hasratnya mulai naik. Dia balik mencium gadis di pelukannya itu, lalu ia melepaskan seluruh kain yang menempel di badannya.
"Aku mencintaimu Fatimah, tidak ada cara lain untuk menolongmu. Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatan yang aku lakukan meski harus berhadapan dengan papa sekalipun."
Glenn mengambil handuk, ia mengeringkan seluruh badan Fatimah dan dirinya kemudian dia membawa gadis itu ke keluar dari kamar mandi dan merebahkan di ranjangnya.
"Aku sangat mencintaimu Fatimah." bisik Glenn ketika memulai penyatuannya.
Fatimah sangat sadar apa yang sedang dia lakukan bersama Glenn, tapi tubuhnya tidak bisa menolaknya. Pengaruh obat perangsang dosis tinggi itu membuat tubuhnya menginginkan lebih dari sekedar sentuhan hingga Glenn harus melakukan beberapa kali malam itu sampai obat sialan itu menghentikan efeknya.
Keesokan harinya
Fatimah mengerjapkan matanya, ketika cahaya matahari menelusup melalui celah gorden mengenai wajahnya.
Ia membuka matanya, Fatimah tersentak ketika melihat wajah Glenn hanya beberapa senti di depannya dan tangan kokohnya itu melingkar di pinggangnya.
"Glenn." teriak Fatimah terkejut, ia segera menjauh dan melilitkan selimut menutupi dadanya.
Merasa kaget, Glenn membuka matanya. "Sudah bangun ?" tanya Glenn dengan senyum manisnya, wajahnya sangat cerah seperti pengantin baru yang baru saja menghabiskan malam pertamanya.
"A-apa yang terjadi ?" Fatimah nampak bingung, ia mencoba mengumpulkan serpihan memori semalam.
"Fatimah, tenang lah aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu oke ?" Glenn berusaha menenangkan gadis di depannya itu yang sudah terisak.
Fatimah merasa sangat bersalah, ia kini sudah kotor. Dia merasa sangat berdosa pada Ibunya dan terutama pada Sang Robbnya.
Tangis Fatimah semakin menjadi ketika ia mengingat semalam, bukan Glenn yang memperdayanya tapi dia lah yang memperdaya laki-laki itu.
"Fatimah aku mencintaimu, aku akan bertanggung jawab." bujuk Glenn di sela isak tangis Fatimah.
"Aku akan menikahimu." Glenn merengkuh tubuh Fatimah dan memeluknya dengan erat berharap gadis yang sedang terisak tangis itu bisa sedikit tenang.
Fatimah merasa sangat nyaman berada dalam pelukan Glenn, tapi ia langsung sadar mereka berdua bukanlah mahram meski semalam sudah melakukannya.
Fatimah mendorong tubuh Glenn dan dia merangsek menjauhinya. "Ma-maafkan aku." ucap Fatimah dengan bibir bergetar.
"Aku yang harus meminta maaf karena tidak bisa menahan diriku." Glenn di liputi perasaan bersalah tapi ia juga merasa bahagia, karena untuk pertama kalinya ia melakukan hubungan badan dengan seseorang yang ia cintai dari kecil.
"A-aku tidak akan menuntutmu, anggap saja kita tak melakukan apa-apa." ucap Fatimah tapi itu justru membuat Glenn langsung murka.
"Apa kamu bodoh, bagaimana kalau setelah ini kamu hamil ?" sentak Glenn dengan tatapan tajam.
"A-aku yang bersalah sudah memaksa mu semalam."
"Kita melakukannya karena suka sama suka, tatap aku Fatimah. Kamu juga mencintaiku kan, semalam kita melakukannya karena cinta aku bisa merasakan itu."
Fatimah tetap menunduk, ia bingung dengan perasaannya. Dari kecil ia sudah menutup rapat hatinya pada laki-laki manapun. Karena dia sudah mencintai teman kecilnya itu tapi sejak bertemu Glenn, entah mulai kapan Fatimah merasa ada getaran aneh di hatinya jika laki-laki itu menatapnya.
Ia mencintai Glenn tapi ia selalu menepis perasaannya. "A-aku tidak mencintaimu." Fatimah menatap Glenn mencoba membohongi perasaannya sendiri.
"Apa sudah ada laki-laki yang kamu cintai ?" tanya Glenn dingin.
"Dari kecil aku sudah mencintai seseorang." sahut Fatimah dengan memalingkan wajahnya, ia takut laki-laki di sebelahnya itu mengetahui kebohongannya.
"Apakah dia ?" Glenn memegang liontin huruf G yang menggantung di leher Fatimah.
"Ba-bagaimana kamu bisa tahu ?" Fatimah terkejut.
Glenn beranjak dari ranjang, dengan keadaannya yang tanpa penutup dia berjalan ke arah meja dan mengambil dompetnya.
"Astaghfirullah, bisa tidak kamu memakai baju dulu." Fatimah menutup wajahnya dengan telapak tangannya ketika melihat Glenn berjalan kesana kemari dengan tubuh polos
"Kenapa malu, bukannya semalam kamu sudah melihatnya bahkan kamu memberi beberapa tanda ini." goda Glenn dengan menunjukkan beberapa tanda merah di dada dan lehernya.
Fatimah yang penasaran, ia segera membuka tangan yang menutupi wajahnya. "memalukan." gerutu Fatimah sembari memukuli bibirnya sendiri.
"Sayang, jangan lakukan itu. Kamu akan membuat bibir indahmu ini terluka." Glenn menahan tangan Fatimah.
"Aku seperti wanita murahan yang sudah memperkosamu."
"Jadi kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu." ucap Glenn dengan senyum liciknya yang sukses membuat bola mata Fatimah langsung membulat.
"Bukankah yang di rugikan aku, ini pertama kalinya bagiku. Harusnya aku persembahkan untuk suamiku." protes Fatimah.
"Ini juga yang pertama kalinya bagiku." Glenn tak mau kalah, bagaimanapun juga dia harus meyakinkan wanita keras kepala itu agar setuju dia nikahi.
"Aku nggak percaya, laki-laki seperti mu pasti sudah tidur dengan banyak wanita."
"Kamu pikir aku laki-laki murahan, hanya kamu wanita pertama yang berani menyentuhku seperti ini. Ternyata dibalik kepolosanmu kamu sosok wanita yang liar." ucap Glenn yang seketika membuat Fatimah meradang dan memukulinya dengan guling.
"Jadi kamu mau bertanggung jawab atau nggak ?" tanya Glenn setelah berhasil menyingkirkan guling yang di pakai Fatimah untuk memukulinya.
"Nggak mau." ucap Fatimah keukeh.
"Tapi kalau kamu melihat ini, apa kamu tetap tidak mau menikah denganku ?" Glenn mengambil dompet yang ia taruh di atas nakas lalu mengeluarkan kalung dengan liontin yang begitu Fatimah kenal.
"Liontin ini....."