Ana terpaksa menikah dengan seorang pria lumpuh atas desakan ibu dan kakaknya demi mahar uang yang tak seberapa. Pria itu bernama Dave, ia juga terpaksa menikahi Ana sebab ibu tiri dan adiknya tidak sanggup lagi merawat dan mengurus Dave yang tidak bisa berjalan.
Meskipun terpaksa menjalani pernikahan, tapi Ana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan ikhlas dan sabar. Namun, apa yang didapat Ana setelah Dave sembuh? Pria itu justru mengabaikannya sebagai seorang istri hanya untuk mengejar kembali mantan kekasihnya yang sudah tega membatalkan pernikahan dengannya. Bagaimana hubungan pernikahan Ana dan Dave selanjutnya? Apakah Dave akan menyesal dan mencintai Ana? atau, Ana akan meninggalkan Dave?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip
Keesokan sorenya, Ana duduk di ruang tamu rumah kontrakan yang sederhana. Jendela terbuka, membiarkan angin sore masuk membawa aroma tanah basah setelah hujan. Hatinya gelisah sejak pagi, karena Dave sempat mengirim pesan singkat, “Aku ingin bertemu. Tolong jangan hindari aku.” Pesan itu tidak ia balas. Baginya, tidak ada lagi ruang untuk Dave dalam hidupnya.
Ketukan di pintu terdengar, pelan namun mantap. Ana tahu, hanya ada satu orang yang berani datang tanpa kabar lebih dulu. Dengan berat hati, ia membuka pintu. Benar saja, Dave berdiri di sana. Wajahnya terlihat lebih pucat dari terakhir kali mereka bertemu, matanya redup seakan menyimpan penyesalan.
“Ana, boleh aku masuk?” tanya Dave lirih.
Ana menatapnya lama, lalu menarik napas dalam-dalam. “Kalau hanya untuk mengulang pembicaraan yang sama, lebih baik kau pulang saja, Dave.”
Dave tersenyum pahit. “Aku hanya ingin menjelaskan. Aku tahu aku banyak salah. Aku kehilangan arah tanpamu.”
Ana memalingkan wajah, menahan perasaan yang dulu begitu mudah goyah setiap kali Dave menunjukkan sisi rapuhnya. “Hentikan, Dave. Kau pandai sekali menggunakan kata-kata. Tapi sudah cukup. Aku tidak mau lagi terjebak dalam lingkaranmu. Lagipula aku sudah menandatangani kesepakatan perceraian diantara kita.”
Dave melangkah masuk tanpa menunggu izin. Walaupun Ana sudah berusaha melarang, tapi Dave tetap masuk. “Aku tidak pernah bermaksud memanfaatkanmu. hanya butuh waktu untuk memperbaiki semuanya.”
Ana menutup pintu dengan sedikit keras, lalu menatap Dave penuh amarah. “Tidak ada yang perlu diperbaiki lagi. Semua sudah berakhir.”
Dave menunduk, suaranya nyaris bergetar. “Aku sadar aku egois. Tapi aku mencintaimu, Ana. Aku ingin kita mulai lagi dari awal.”
Ana berjalan ke arah meja, menaruh gelas berisi air, berusaha menenangkan diri. “Kau tidak benar-benar mencintaiku, Dave. Yang kau cintai hanyalah kenyamanan yang kuberikan. Aku hanya tempat kau kembali ketika semua orang meninggalkanmu. Aku bukan pelarianmu.”
Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya detak jam dinding yang terdengar jelas. Dave terdiam, tampak kesulitan mencari alasan untuk membantah.
“Aku minta satu hal saja, Dave.” Suara Ana melembut tapi tegas. “Pergilah. Jangan pernah temui aku lagi. Aku ingin hidupku tenang tanpa bayanganmu.”
Dave menatapnya, matanya basah. “Jadi ini benar-benar akhir untuk kita?”
Ana mengangguk, meski hatinya perih. “Ya. Aku tidak membencimu, tapi aku harus menyelamatkan diriku sendiri. Kalau aku terus bersamamu, aku hanya akan hancur pelan-pelan.”
Dave berdiri perlahan. Tangannya sempat terangkat, seakan ingin menyentuh bahu Ana, tapi ia urungkan. Ia tahu, kehadirannya kini hanya membawa luka. Dengan langkah berat, ia menuju pintu. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi. “Aku harap suatu hari kau bisa memaafkanku.”
Ana menahan air mata yang hampir jatuh. “Mungkin. Tapi bukan sekarang, dan bukan untuk kembali.”
Pintu tertutup, meninggalkan keheningan. Ana akhirnya membiarkan dirinya menangis, tapi di balik tangisan itu ada kelegaan. Ia tahu, keputusan ini sulit, tapi inilah satu-satunya cara untuk kembali menemukan dirinya yang hilang.
Di luar, hujan kembali turun. Ana duduk memandang ke jendela. Hatinya masih sakit, tapi ada secercah cahaya yang terasa baru, kebebasan. Untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa hidup tanpa Dave bukanlah akhir, melainkan awal yang ia butuhkan.
***
Langkah Dave mondar-mandir di kamar hotel dan terdengar keras, sepatu kulitnya memantul di lantai marmer. Matanya tajam, rahangnya mengeras. Andre berdiri tak jauh dari Dave, menunggu waktu yang tepat untuk bicara. Ia tahu, kabar yang dibawanya bukan kabar yang mudah.
“Dave,” Andre membuka suara hati-hati. “Aku baru saja dapat informasi. Bella, dia menaikkan gosip ke media. Katanya dia sedang mengandung.”
Dave spontan menghentikan langkahnya. Ia menoleh cepat, sorot matanya penuh amarah bercampur keterkejutan. “Apa?” suaranya meninggi.
Andre menelan ludah. “Dan lebih parahnya lagi, Bella memberi kesan bahwa anak itu adalah anakmu.”
“Brengsek!” Dave menghantam tembok. Napasnya memburu. “Dia benar-benar keterlaluan! Aku sudah bilang hubungan antara aku dan dia sudah selesai. Kenapa sekarang dia menyeret namaku?”
Andre maju selangkah, mencoba menenangkan. “Aku tahu ini gila, Dave. Tapi gosip itu sudah mulai menyebar. Beberapa wartawan bahkan menanyakan kebenarannya. Kalau kita diam, semua orang akan percaya bahwa kamu memang ayah dari bayi itu.”
Dave memijat pelipisnya, frustrasi. “Bella selalu memiliki cara untuk menghancurkanku. Apa dia kira dengan gosip ini aku akan kembali padanya?”
Seakan menjawab kegelisahan Dave, ponselnya berdering. Nama Bella terpampang jelas di layar. Dengan geram, Dave mengangkat panggilan itu dan mengaktifkan pengeras suara agar Andre juga bisa mendengar.
“Dave,” suara Bella terdengar tenang, bahkan sedikit manja. “Kau pasti sudah dengar gosip itu. Aku tidak akan menyangkal. Anak yang kukandung memang milikmu.”
“Jangan main-main, Bella!” bentak Dave. “Kau tahu betul aku tidak pernah ingin punya hubungan lebih jauh denganmu setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau pikir aku akan percaya begitu saja?”
Belle tertawa kecil, sinis. “Percaya atau tidak, dunia akan menilaimu. Aku bisa buktikan kalau bayi ini milikmu. Orang-orang sudah terlanjur tahu, Dave. Kau tidak bisa menghindar.”
Andre memberi isyarat pada Dave agar tetap tenang, tapi emosi Dave sudah di ujung tanduk. “Kau gila! Jangan coba-coba menggunakan namaku. Kalau kamu ingin menjebakku dengan kebohonganmu, aku akan melawan. Aku akan pastikan semua orang tahu kebenaranmu!”
Bella mendesah pelan. “Dave, kau tahu aku tidak berbohong. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab. Jangan paksa aku membuka semuanya di depan media.”
Panggilan terputus, menyisakan keheningan yang menekan. Dave menatap Andre dengan wajah merah padam. “Dia pikir aku bisa dia kendalikan? Tidak akan pernah!”
Andre menghela napas panjang. “Kita harus cepat bergerak. Gosip seperti ini bisa menghancurkan reputasimu, apalagi dengan posisimu sekarang. Kalau publik percaya, semua kerja kerasmu sia-sia.”
Dave mengangguk cepat, nada bicaranya penuh perintah. “Andre, aku ingin kau segera menyanggah gosip itu. Hubungi semua media, keluarkan pernyataan resmi. Katakan bahwa berita itu tidak benar. Jangan biarkan gosip itu bertahan lebih lama.”
Andre menimbang sebentar. “Kalau kita menyangkal terlalu cepat tanpa bukti, Bella bisa balik menyerang dengan klaim yang lebih besar. Apa kau yakin ingin langsung membantah?”
Dave berjalan ke jendela, menatap kota malam yang dipenuhi lampu. “Kalau aku diam, orang akan percaya aku bersalah. Aku tidak akan biarkan Bella menang. Gunakan semua koneksi yang kita punya. Cari tahu juga siapa saja yang sudah diberi ‘bukti’ olehnya. Aku ingin ini selesai sebelum dia makin berani.”
Andre mengangguk, meski dalam hatinya tahu ini tidak akan mudah. Bella bukan tipe perempuan yang menyerah begitu saja. “Baik, aku akan urus. Tapi kau harus bersiap, Dave. Kalau Bella benar-benar hamil, dan dia bisa menunjukkan bukti kuat, ini bisa jadi perang panjang.”
Dave mengepalkan tangan, suaranya penuh amarah dan tekad. “Kalau itu perang, maka aku akan lawan dia sampai habis. Aku tidak akan biarkan namaku dipermainkan. Lagipula, aku tidak pernah tidur dengan Bella apalagi menyentuh dia.”
Ruangan kembali hening. Andre bergegas keluar untuk mengeksekusi perintah, sementara Dave berdiri tegak di depan jendela. Di kepalanya, hanya ada satu hal, Bella sudah melangkah terlalu jauh, dan kini tidak ada jalan untuk kembali.