Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAM MENYUKAI BELINDA
Sebuah palu besi digunakannya memukul gelang. dipukulnya dua kali dan gelangi itu hancur. Dia bungkus dengan kertas lalu dia masukkan ke closet dan disiramnya dengan air hingga patahan gelang itu hilang masuk ke dalam saluran air di dalam closet.
"Ada apa?"
"Ada yang salah dengan gelang itu?"
"Ya!"
"Itu pelacak!"
Belinda lalu duduk di samping Bram yang kembali melanjutkan menghabiskan rokoknya. Belinda kemudian duduk di pangkuan Bram dia bergelayut mesra di pangkuan Bram. Kepalanya direbahkannya di dada Bram. Degup jantung Bram terdengar olehnya. Dia memeluk pinggang Bram. Lalu tangan yang kanan membelai wajah Bram. Membelai dagu Bram.
Bram melirik pada Belinda dan Belinda menyambutnya dengan senyuman.
"Perempuanku kau cantik sekali"
Diciumnya telapak tangan Belinda sekali kecupan.
Jari tangan Belinda lalu meraba ke arah bibir Bram, mengusap-usap bibir yang dari tadi menghisap sebatang rokok.
Bram lalu mencium jemari Belinda dan menjilati jarinya telunjuk Belinda yang mulai masuk ke dalam mulut Bram. Belinda agak geli dengan itu. Dia meringis sedikit. Lalu menurunkan tangannya kembali dan kembali memeluk pinggang Bram dengan erat.
"Kakak siapa kamu sebenarnya?"
Bram memandang ke arah Belinda, dihisapnya rokoknya tadi yang tinggal setengah, ia memalingkan mukanya menghembuskan asap rokoknya, lalu ia mengecup bibir Belinda. Sebuah ciuman hangat, sekali kecup. Aroma rokok tercium oleh Belinda. Bau tembakau.
Belinda yang baru pertama kali merasakan ciuman dan Bram lah yang pertama kali mencium bibirnya. Bibirnya basah. Bram mengusap bibirnya yang tadi mencium bibir Belinda. Bibirnya pun jadi sedikit basah. Basah dari lipstik Belinda yang menempel mengenai bibirnya. Aroma cerri pindah ke bibir Bram. Bibir Belinda manis rasanya.
Bram menjawab pertanyaan Belinda tadi,
"Aku adalah Bram pembunuh, orang bayaran untuk menculik, dan menyandera tawanan."
Belinda memandangi Bram dengan pandangan membola, dia seperti mendengar cerita seorang pahlawan yang sangat jago di medan perang lalu menceritakan kehebatannya. Belinda seperti anak kecil yang sedang mendengar kisah heroik pahlawan itu.
"Aku mendapatkan misi menculikmu karena ingin menekan ayahmu dan presiden negaramu."
"Bila kesepakatannya perjanjian mereka turuti, mereka mau menandatangani surat perjanjian maka kau kulepaskan. Kesepakatan itu ditepati, tapi aku tidak mau mengembalikanmu."
"Kenapa Kak?"
"Aku tidak mau kamu menikah dengan calon suamimu anak presiden itu, dia bangsat, pejudi dan suka main perempuan!"
"Kakak sekarang menculik aku???"
"iya, tepatnya begitu."
"Tapi, aku tidak akan ketemu orang tuaku?"
"Mungkin tidak dalam waktu dekat."
"Kita bersembunyi dulu di tempat yang aman."
"Sampai kau aman, aku bisa melakukan misi balasan."
"Kakak, apakah kamu akan menikahiku?"
Bram memandangi Belinda, menciumi bibirnya sekali lagi, dua kali lagi, dan ketiga kalinya.
Bram memandangi Belinda, menciumi bibirnya sekali lagi, dua kali lagi, dan ketiga kalinya.
"Apakah kamu mau?"
"Tentu saja."
"Aku juga tidak suka dengan anak presiden, aku tidak mau kembali padanya!"
"Aku tidak menyukainya kak, aku hanya menuruti kemauan mommy dan Daddy."
"Dia playboy kak, sewaktu SMP aku satu sekolah dengannya di Junior Hight School, dia selalu menggoda teman perempuan yang cantik. Bahkan waktu itu memacari anak kepala sekolahnya. Presiden lalu marah besar mendengar rumor itu. Kepala sekolah dan anaknya seminggu kemudian menghilang!"
"Bram menghisap rokoknya kembali."
"Kak, kamu ingin menculikku karena kamu menyukaiku?'
"Sepertinya aku ingin lebih dari itu."
"Kamu juga mau bukan?"
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆