NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 Jangan Membantah Cukup Doakan Aku

Gema nama "Ridan" yang disebut Tari dengan penuh semangat seolah menjadi petir di siang bolong bagi Ramdan. Detik itu juga, sosok pemuda tinggi dengan gaya modis dan senyum yang sangat "kamera-ready" muncul dari balik pintu aula. Dia melangkah dengan percaya diri, melambaikan tangan ke arah siswi-siswi yang langsung histeris memanggil namanya.

Ramdan terdiam seribu bahasa. Kursinya terasa panas seketika.

Dia menatap Tari yang masih tersenyum lebar di atas panggung, tampak begitu akrab menyambut kedatangan si YouTuber itu. Rasa "Konstanta" yang tadi baru saja ia banggakan, mendadak terasa goyah. Ada gemuruh cemburu yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ramdan merasa seolah panggung itu bukan lagi miliknya Ridan pun naik ke panggung

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh semuanya , apa kabarnya SMA Kusuma Bangsa?"Ridan mulai pembicaraan

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Kak, alhamdulilah baik" jawab Tari bersamaan dengan audiens

"Halo Tari ,kamu beneran gak apa-apa?"tanya Ridan sambil tersenyum

" Iya Kak,aku baik - baik saja hanya saja tadi kata dokter katanya aku jangan liat kakak" kata Tari

" Lah emangnya kenapa?iya soalnya kalau aku liat kakak maka diabetes aku akan naik karena liat senyum kakak yang begitu manis membuat pabrik gula bangkrut" kata Tari sambil tersenyum manis sedikit melirik ke arah Ramdan

"Wah bisa aja kamu ya, membuat panggung ini terasa panas ,kamu bisa aja ya Ri, dari tadi kakak liat kamu menghidupkan suasana panggung padahal suasana hati kamu lagi redup " kata Ridan sambil melirik sedikit kearah dimana Ramdan duduk. Tari yang mendengar ucapan Ridan, tertunduk menutupi rasa kagetnya, kenapa Ridan bisa tahu apa yang dia alami. Jujur didalam hatinya, Tari memang lagi sangat sedih apalagi nanti sore adalah perpisahan dirinya dengan Ramdan, demi membanggakan sekolah SMA Kusuma Bangsa.

"Kak Ridan, boleh ga kakak langsung shalawat aja, kakak mau bawain shalawat apa nih?"kata Tari

"Hmmm kakak akan bawain shalawat Jibril, Hayyul Hadi,Fein layalik, Qod anshhoha,dan ya imamarrusli, kamu ada request ga?"tanya Ridan pada Tari dan membuat hati Ramdan di bawah semakin panas, Ramdan sadari interaksi antara Ridan dan Tari itu sangat akrab sekali,siapa sih sebenernya Ridan itu ? apakah di antara mereka ada hubungan?

" Hmmm gak kak, sepertinya udah cukup, karena semua shalawat yang sering aku dengerin udah kakak bawain"kata Tari sambil menunduk karena dia tidak mau terlihat sedih oleh Ramdan

Ramdan meremas sandaran kursi di depannya. Pikirannya melayang jauh. Sore ini aku berangkat ke Kalimantan, tapi kenapa sekarang rasanya aku ingin membatalkan semuanya dan tetap di sini menjaga mawar di pinggir jurangku?

Tari melirik ke arah Ramdan, mencoba mencari reaksi cowok itu di tengah kerumunan. Namun yang ia temukan adalah sosok Ramdan yang duduk tegak dengan wajah sedingin es, matanya menatap lurus ke panggung namun dengan sorot yang terluka.

Gema aula yang tadinya riuh, mendadak senyap saat Ridan memegang mikrofonnya erat. Ia tidak langsung memulai bait shalawat, melainkan menoleh ke barisan depan, tepat ke arah sepasang mata tajam yang sedari tadi menatapnya dengan aura dingin.

"Sebelum saya mulai," suara Ridan menggema, tenang namun berwibawa. "Saya dengar, di sini ada sosok hebat yang sebentar lagi akan berjuang di tanah Borneo. Seseorang yang namanya sama dengan nama asli saya, dan katanya...selain punya suara merdu,juga bisa memetik dawai.

Ramdan tersentak, kursinya seolah bergetar. Ia bisa merasakan tatapan Tari yang kini tertuju padanya dengan binar penuh harap.

"Ramdan... sini, naik ke atas," ajak Ridan sambil melambaikan tangan dengan senyum khasnya yang ramah. "Mari kita antar keberangkatanmu nanti sore dengan lantunan shalawat yang paling indah. Saya yang bersuara, kamu yang menghidupkan nadanya."

Aula meledak! Suara teriakan para siswi hampir meruntuhkan plafon. Arga dan Raihan sampai berdiri, memberi tepuk tangan paling kencang sambil mendorong bahu Ramdan agar segera maju.

Ramdan menarik napas panjang. Ia membenarkan letak kacamatanya, mencoba menutupi kegugupan yang luar biasa. Ia berjalan menuju panggung dengan langkah tegap, namun hatinya bergemuruh. Saat ia menaiki anak tangga panggung, matanya tak sengaja beradu dengan Tari.

Tari memberikan jempol kecil sambil tersenyum sangat manis senyum yang membuat Ramdan merasa, biarpun ada ribuan orang di sini, ia hanya ingin bermain untuk satu orang itu.

Ramdan mengambil gitarnya kembali. Ia duduk di samping Ridan. Kontras itu sangat nyata; Ridan dengan senyum hangatnya, dan Ramdan dengan wajah "kulkas"-nya yang justru terlihat sangat gagah saat memegang gitar.

"Siap, Ndan?" bisik Ridan pelan tanpa mikrofon.

Ramdan mengangguk mantap. "Siap, Kak."

Petikan pertama dimulai. Lembut, dalam, dan sangat menyentuh. Suara merdu Ridan pun masuk, membelah keheningan dengan shalawat Jibril yang begitu khidmat. Di atas panggung itu, dua Ramdan bersatu dalam harmoni, menciptakan suasana yang begitu magis hingga membuat Tari, di sisi panggung, tak kuasa menahan air mata yang mulai mengenang di sudut matanya.

Petikan gitar Ramdan melambat sejenak saat Ridan membisikkan judul lagu selanjutnya. Ramdan sempat ragu, namun saat melihat Tari yang berdiri di pinggir panggung dengan mata berkaca-kaca, ia memantapkan jemarinya.

Suara Ridan yang lembut mulai mengalun, tapi saat masuk ke bagian reff, Ridan memberikan kode agar Ramdan ikut bernuansa dalam harmoni suara dua. Dan tepat saat lirik itu keluar...

"Kepergianku dalam berjuang... kau hantarkan dengan doa dan senyuman..."

Ramdan menyanyikan baris itu sambil menatap lurus, dalam, dan mengunci mata Tari. Suaranya yang berat dan jarang terdengar bernyanyi, mendadak terdengar sangat tulus.

"Pulang pun kau sambut dengan kemesraan... Pantaslah bila ku hargai dirimu... sebagai bidadari surgaku."

Tari merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Pertahanannya runtuh. Air mata yang sedari tadi ia tahan, jatuh begitu saja membasahi pipinya. Ia refleks menutup mulut dengan map biru di tangannya, mencoba meredam isak tangis yang pecah. Kalimat "Bidadari Surgaku" dari lirik itu terasa seperti pengakuan resmi dari Ramdan di depan satu sekolah. Tari merasa dunianya hanya berisi dia dan Ramdan, di tengah riuh rendah aula yang mendadak magis. Tari berkata dalam hatinya 'Ndan apakah ini secara tidak langsung kita go publik? meskipun sebenarnya orang lain juga udah pada tahu'

Hening sesaat, lalu... BOOM! Aula Kusuma Bangsa meledak dalam histeria yang tak tertahankan.

Para siswi ada yang sampai menutup wajah karena nggak kuat liat tatapan Ramdan ke Tari.

"RAMDAN GAK ADA OBAT!" teriak salah satu murid dari barisan belakang.

Bu Melly di barisan guru terlihat menyeka sudut matanya dengan tisu, ikut terhanyut dalam suasana perpisahan yang begitu romantis sekaligus religius.

Arga dan Raihan saling lirik, mereka tahu... setelah ini, nama Ramdan Alvaro akan melegenda di sekolah ini bukan cuma sebagai Waketos, tapi sebagai "The Most Romantic Cold Guy".

Ramdan turun dengan gitar yang masih tersampir di bahunya. Langkahnya terhenti tepat di anak tangga terakhir, tepat di depan Tari yang masih berusaha menghapus sisa air mata di pipinya.

Ramdan nggak peduli lagi sama ratusan pasang mata yang masih ngeliatin mereka. Dia maju satu langkah, menunduk sedikit biar sejajar sama wajah Tari, lalu berbisik dengan suara rendahnya yang bikin merinding:

"Ri... hapus air matanya. Kamu jelek kalau nangis, nanti mawar di pinggir jurangnya jadi layu sebelum aku pulang."

Tari tertegun, nafasnya tercekat. Belum sempat dia bales, Ramdan udah naruh tangan kirinya sebentar di atas kepala Tari bukan buat ngacak-ngacak, tapi buat ngasih ketenangan—terus dia nambahin satu kalimat lagi yang bikin Tari bener-bener speechless:

"Tunggu aku di gerbang pulang yang sama ya? Jangan biarkan bidadari surgaku pindah alamat."

Gema selawat baru saja usai, menyisakan getaran magis yang masih terasa di dada setiap orang yang hadir. Tari menarik napas panjang, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih tidak karuan setelah "serangan" lirik dari Ramdan tadi. Ia melirik Kak Anisa, lalu keduanya melangkah maju ke tengah panggung.

"Masya Allah, terima kasih sekali lagi untuk Kak Ridan dan juga... Waketos kita, Ramdan," suara Kak Anisa membuka pengumuman dengan nada hangat yang disambut tepuk tangan meriah untuk terakhir kalinya.

Acara doa bersama dimulai, namun bagi Ramdan, setiap kalimat doa yang ia panjatkan kini terselip satu permintaan egois: Tuhan, jaga dia dari siapa pun, termasuk dari dia yang baru saja naik ke panggung itu. Doa bersama begitu khidmat dan penuh khusyuknya merendahkan diri kepada Allah SWT

Tari mengambil alih mikrofon, suaranya sedikit bergetar namun tetap terdengar tegas sebagai sekretaris OSIS yang profesional.

"Mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 agenda doa bersama kita cukupkan sampai di sini. Untuk seluruh siswa laki-laki dan Bapak Guru, dipersilakan segera menuju Masjid Al-Ikhlas sekolah untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah," ucap Tari. Matanya tak sengaja menyapu barisan depan, tempat Ramdan sedang merapikan gitarnya.

Kak Anisa melanjutkan, "Dan untuk siswi perempuan, silakan mencari tempat yang nyaman untuk melaksanakan salat Dzuhur. Kalian bisa menggunakan aula bagian belakang yang sudah disekat atau kelas masing-masing, yang penting tetap berada dalam lindungan dan lingkungan sekolah."

Tari kembali menambahkan, "Harap menjaga ketertiban saat meninggalkan aula. Untuk teman-teman perempuan yang sedang berhalangan atau haidh, silakan langsung menuju ruang OSIS atau area kantin yang sudah ditentukan untuk beristirahat sejenak."

Begitu mikrofon diletakkan kembali di tempatnya, Tari menghela napas lega. Tugasnya sebagai pengarah acara hari ini sukses besar. Ridan menghampiri dengan langkah ceria, wajahnya penuh semangat kebanggaan. Di belakangnya, Ramdan mengekor dengan langkah tenang, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya.

"Tari, gila! Kamu lancar banget tadi," puji Ridan tulus. Ia berhenti tepat di depan Tari, menjaga jarak aman namun tetap terlihat akrab. "Mumpung aula masih bagus, foto bertiga yuk buat dokumentasi OSIS!"

Tari melirik Ramdan yang berdiri sedikit di belakang Ridan. Cowok itu hanya diam, tapi sorot matanya yang dingin seolah memberikan persetujuan tanpa kata. Mereka pun mengambil posisi di depan panggung yang masih dihias rapi.

Tari berdiri di tengah, diapit oleh Ridan di sisi kiri dan Ramdan di sisi kanan. Tidak ada tangan yang merangkul, tidak ada bahu yang bersentuhan. Mereka hanya berdiri tegak dengan jarak beberapa sentimeter yang saling memisahkan. Ridan tersenyum lebar ke arah kamera ponsel yang dipegang salah satu teman mereka, Tari tersenyum simpul dengan tangan bertaut di depan, sementara Ramdan... dia hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar andalannya. Meski tanpa sentuhan fisik, foto itu sanggup menangkap satu frekuensi yang sama: sebuah kebersamaan yang tulus dan penuh rasa hormat.

Aula yang tadinya penuh sesak mulai terurai. Tari memperhatikan punggung tinggi Ramdan yang mulai bergerak menjauh mengikuti arus para siswa laki-laki menuju masjid. Ada perasaan aneh yang menyelinap—sebuah kesadaran bahwa ini adalah jam-jam terakhir mereka berada di atap yang sama sebelum jarak ribuan kilometer memisahkan mereka sore nanti.

**********************************************

Keheningan menyelimuti ruang OSIS. Di sudut ruangan, Kak Anisa dan Kak Zahra tampak khusyuk menjalankan ibadah di atas sajadah yang mereka gelar di samping meja Arga. Suara lirih takbir mereka menjadi musik latar yang menenangkan sekaligus menyedihkan bagi Tari.

Tari menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam milik Ramdan. Kursi itu masih terasa hangat, seolah pemiliknya baru saja beranjak sedetik yang lalu. Saat ia mencoba merapikan tumpukan map yang sedikit berantakan, matanya tertuju pada sebuah kertas yang terselip di bawah buku catatan matematika tebal milik Ramdan.

Kertas itu tidak dilipat sembarangan. Tepiannya rapi, seolah sang penulis sangat berhati-hati menyimpannya. Dengan tangan sedikit bergetar karena efek PMS dan perasaan yang campur aduk, Tari menarik kertas itu.

Di sana, terukir tulisan tangan yang sangat ia kenali—tegak bersambung, rapi, dan tegas. Tulisan khas sang Waketos yang biasanya hanya menulis angka-angka rumit, kini menuliskan kata-kata yang membuat pertahanan Tari runtuh lagi.

"Untuk Sekretarisku yang Sering Lupa Istirahat,"

Ri, kalau kamu baca ini, berarti aku sudah di masjid atau mungkin sudah di jalan menuju bandara. Maaf kalau tadi di panggung aku terlalu kaku.

Matematika selalu punya jawaban pasti, tapi perasaan aku ke kamu itu kayak angka 'Pi'—nggak akan pernah ada habisnya. Jangan terlalu sering melamun di kursi ini, kursi ini dingin kalau nggak ada orangnya. Tapi kalau kamu rindu, duduklah sebentar, anggap saja aku lagi jagain kamu dari jauh.

Jaga mawar di pinggir jurangnya ya? Jangan biarkan layu karena air mata. Aku pergi buat berjuang, dan kamu adalah alasan kenapa aku harus pulang dengan kemenangan.

— R.A (Konstanta-mu)

Tari mendekap kertas itu di dadanya. Bau sisa parfum wood and sea salt milik Ramdan seolah menguar dari kertas itu, memenuhi rongga dadanya dengan sesak yang teramat manis. Di kursi itu, di tengah ruang OSIS yang sepi, Tari sadar... dia benar-benar sudah jatuh terlalu dalam pada sang "Kulkas Matematika".

Sementara itu di grup wa geng receh makin receh aja

Pajar: ANJAYYYY! @Ramdan Gue nggak tau ya lo selain jago itung-itungan ternyata jago itung-itungan hati juga! "Bidadari Surga" gak tuh? 🎤😭

Boby: Sumpah Ndan, gue tadi di aula berasa lagi liat konser tunggal lamaran. Gue ampir khilaf mau lempar bunga ke panggung! 🌸🤣

Bara: @Ramdan Woy ! Lo tadi nyanyi apa curhat? Suaranya berat amat kayak beban hidup gue pas ngerjain tugas matematika

Arga: Ketua OSIS-nya siapa, yang dapet spotlight siapa. Gue berasa jadi tukang gulung kabel di panggung tadi. @Tari @Ramdan, PJ (Pajak Jadian) ditunggu di kantin pas Ramdan balik dari Kalimantan! 🍜💸

Tiara: SUMPAH YA! Gue tadi liat Tari di pinggir panggung udah kayak adegan drakor. Matanya berkaca-kaca gitu. Lucu bangettt! 😍✨ @Tari Ri, masih napas kan?

Karin: Tari lagi pingsan estetik kali Ra, jangan diganggu. Dia lagi ngereview lirik "Bidadari Surga" di otaknya. Hahaha!

Raihan: Tapi jujur, @Ramdan tadi pas lo tatap-tatapan sama Kak Ridan YouTuber, gue kira bakal ada adegan baku hantam, ternyata malah duet maut. Salut gue! 🎸🔥

Boby: Eh tapi @Tari mana nih? Kok diem aja? Lagi asik berduaan ya di ruang OSIS sama surat cinta? Ups! 🙊

Arga: Loh, Ramdan kan di masjid. Tari di ruang OSIS. Berarti Tari lagi... @Tari Ri, lo lagi duduk di kursi Ramdan ya sambil nyiumin aroma kursinya? Ngaku lo! 🕵️‍♂️🤣

Pajar: Ciaaaa! Tari mode Sad Girl tapi Happy Inside. 📉📈

Tari yang tadinya lagi mellow parah, langsung panik. Pipinya makin merah kayak tomat mateng. Dia bingung mau bales apa, apalagi pas Arga nebak kalau dia lagi duduk di kursi Ramdan.

Tari membatin: "Ini anak-anak Geng Receh punya CCTV apa gimana sih? Kok tau aja aku lagi di kursi Ramdan!"

Tari: Berisik banget sih kalian! 😭 Nggak usah bahas yang tadi deh, itu kan cuma... emang Kak Ridan-nya aja yang pinter milih lagu! @Arga Enak aja! Aku di ruang OSIS lagi ngerjain laporan, bukan lagi nyiumin kursi! (Boong dikit nggak apa-apa kan ya Allah 🙈). Lagian beres shalat Jum'at bukannya dzikir malah ghibah di grup wa.

Pajar: Halah Ri, laporan apa laporan? Laporan pandangan mata ke arah masjid ya? WKWKWK.

Bara: @Tari Pipinya nggak usah dikodein pake emot dong, kita udah tau itu merahnya ngalahin lipstik Bu Melly! 😂

Karin: Ngaku aja Ri, lo sebenernya lagi repeat lirik "Bidadari Surga" kan di otak? "Pantaslah bila ku hargai dirimu..." Aseliii, gue yang nonton aja baper, apalagi lo yang dinyanyiin langsung!

(Beberapa menit kemudian, muncul status 'Online' di bawah nama Ramdan. Grup mendadak hening bentar...)

Ramdan: @Arga Laporannya udah saya cek lewat email tadi pagi, Ga. @Pajar @Boby @Bara mending kalian fokus dzikir daripada ghibah di grup pas masih di masjid.

Ramdan: Dan @Tari ... nggak apa-apa duduk di situ. Kursinya emang lebih nyaman buat mikir daripada sofa. Tapi jangan lupa makan siang, jangan cuma makan perasaan.

Pajar: OMAIGAT!!! "Jangan cuma makan perasaan" katanya!! 💀🔥

Boby: TOLONGG! Kulkasnya bocor guys, dinginnya ilang, gantinya manis banget sampe semut pada join grup! 🐜🤣

Arga: @Ramdan Ndan, lo kerasukan jin apa di masjid?bisa banget ya lo sekarang! Tari, lo denger tuh, jangan makan perasaan... mending makan bakso di kantin

Ramdan: Berisik. Ayo cepetan ke ruang OSIS kan mau evaluasi panitia do'a bersama tadi,ga ada waktu lagi soalnya, nanti jam 14.30 aku berangkat ke bandara . .

Ramdan telah menambahkan Kak Anisa OSIS, Kak Zahra OSIS, dan Arka.

Pajar: BUSYET! Pasukan elit masuk semua! 👁️👄👁️ @Arka, selamat datang di kandang macan, Ka! Jangan kaget ya isinya ghibah semua.

Boby: Ndan, lo mau pindah ke Kalimantan apa mau pindah negara sih? Proteksinya ngeri amat sampe Arka juga ditarik masuk! 😂

Ramdan: @Arka, lo kan yang paling sering stay di lab deket ruang OSIS. Gue titip @Tari. Kalo dia pulang kemaleman atau ada yang gangguin pas gue gak ada, lo yang paling deket buat mantau.

Arka: Siap, Bos! Aman. Gue bakal jadi CCTV 24 jam buat lo. @Tari tenang aja Ri, kalo lo butuh apa-apa tinggal teriak, gue langsung meluncur dari lab! 🫡🧪

Arga (Ketos): Nah, pinter lo Ndan. Arka kan emang gercep. Jadi gue gak kerja sendirian jagain "Harta Karun" lo ini. Hahaha!

Kak Anisa: @Tari, denger tuh Ri. Kamu dijagain satu batalyon! Tadi aja pas shalat aku denger kamu curhat kecil ya pas liat surat itu? Hehehe 🙊✨

Tari: KAK ANISAA! Plisss jangan di grup bahasnya! 😭😭😭 @Ramdan, kamu berlebihan tau gak! Aku kan bukan anak kecil yang harus dijagain se-Geng Receh plus kakak-kakak OSIS dan Arka!

Ramdan: Kamu bukan anak kecil, Ri. Kamu itu tanggung jawab aku. Udah, jangan protes.

Pajar: "TANGGUNG JAWAB AKU" GAK TUHHH! 💀🔥

Bara: Gue butuh oksigen! Kulkasnya meleleh jadi sirup manis bangettt! 🍯🤣

Tari bener-bener pengen nutupin wajahnya pake sajadah Kak Anisa! Dia bener-bener gak nyangka Ramdan bakal se-vokal itu di depan temen-temennya dan para senior. Tapi di lubuk hatinya yang paling dalem, ada rasa anget yang menjalar. Rasanya kayak... meskipun Ramdan jauh, dia tetep "ada" di setiap sudut sekolah lewat orang-orang ini.

 **********************************************

Di luar mesjid Arga , Raihan,Arka lagi duduk sambil tersenyum mandangin Hp nya masing-masing

"Ekhemm asyik bener ya ghibah di grup nya" kata Ramdan tiba-tiba

"Hahahaha tokoh utama kita sudah datang nih," kata Raihan sambil nepuk bahu Ramdan yang lagi duduk di samping Arga karena mau pakai sepatu. Mereka berangkat keruang OSIS barengan

"Ndan kamu fokus aja sama lombanya,soal tugas kamu di pensi tenang aja kita pasti bisa handle kok" kata Raihan sambil menatap wajah partner nya itu.

"Gue percaya sama kalian, karena kalian orang -orang hebat , do'ain gue ya semoga lombanya lancar dan membawa pulang medali emas " kata Ramdan

Arga menarik napasnya, sebenernya dia sangat berat harus melepaskan partner pergi meskipun hanya dua hari tapi apalah daya karena sekolah sudah memutuskan untuk mengirimkan Ramdan sebagai wakilnya, karena sikapnya yang selalu tenang dalam mengerjakan soal-soal. Mereka terus aja melangkah menuju ruang OSIS dengan wajah yang sangat cerah.

Didalam ruang OSIS ada Kak Zahra,Kak Anisa dan Tari mereka duduk melingkar di mejanya Ramdan. Arga dkk yang baru masuk langsung saja duduk melingkar di mejanya Arga.

" Temen - temen mumpung masih ada waktu,kita evaluasi panitia do'a bersama kita mulai dari MC, kalian sangat kompak sekali, kalian saling melengkapi. Terimakasih banyak ya Ri, kamu luar biasa profesional padahal aku tahu kamu sedang tidak baik baik saja, karena akan di tinggalkan sama waketos kesayangan kita semua. Tenang Ri, hanya dua hari kok " kata Arga sambil menatap Ramdan dan Tari bergantian

"Sama - sama kak Arga,saya pribadi minta maaf apabila tadi banyak candaan atau kata-kata yang menyakiti kalian semuanya " kata Tari sambil melirik Ramdan seolah - olah Tari bilang ' maaf ya Ndan tadi aku dah bikin kamu cemburu aku lakukan itu semua agar suasana panggung ramai ' Ramdan yang di lirik Tari hanya memberikan anggukan kepala saja seolah dia bilang 'iya Ri, gak apa - apa'

" Aku nambahin aja dikit maaf kalau tadi pembawaan kami masih banyak kekurangan, maklum kami masih belajar " Kata Kak Anisa

"Dan untuk yang lainnya kalian semua good job, dari mulai Ramdan dan Raihan juga Arka di belakang layar, pokoknya semuanya kalian perfect " kata Arga tersenyum puas dan bahagia

"Terimakasih banyak untuk seluruh panitia kalian telah bekerja sama dan juga sudah berjuang sehingga Alhamdulillah acara do'a bersama kita tadi berjalan lancar dan penuh bahagia maka dengan ini saya membubarkan panitia do'a bersama, dan yang menjadi panitia pentas seni sekarang fokus lagi ke acara pentas seni yang akan di laksanakan pada hari Senin. Untuk hari besok yaitu rapat terakhir menjelang acara pentas seni, jangan lupa kalian persiapkan laporannya dan jangan lupa jaga kesehatan kalian. Maaf seribu maaf untuk rapat besok saya tidak bisa hadir karena saya akan berjuang demi sekolah tercinta ini " kata Ramdan dengan suara seraknya

"Bukannya saya mau lari dari tanggung jawab tapi tugas saya ini sama pentingnya jadi tolong dukungan dan kerjasamanya. Oh iya untuk besok rapat di pimpin langsung oleh sang ketua OSIS kita bersama sekertaris baru kita, Mentari " kata Ramdan sambil tersenyum manis melirik pada Tari

" Oh iya Ri, semua program yang harus kamu handle ada di dalam laptop aku, tinggal buka aja laptopnya " lanjut Ramdan

Tari menganggukkan kepalanya,ia tak berani menatap wajah tampannya Ramdan karena takut air matanya tumpah.

Ramdan melirik pada kak Anisa dan kak Anisa mengerti apa maksud dari Ramdan

"Ri,aku sama Zahra duduk di sana ya,di sofa " kata kak Anisa sambil pindah duduknya dan diikuti oleh Zahra. Sedangkan Ramdan langsung menggeser kursinya kedepan Tari

" Ri, kamu baik-baik aja kan? tenang aja Ri, meskipun kita berjauhan tapi aku akan selalu menjaga kamu lewat do'a. Kamu gak boleh nangis dong, kan aku pergi untuk kembali lagian aku pergi cuma dua hari ini juga tugas negara. Andai aku di suruh memilih, aku tidak mau pergi ke Kalimantan Ri,aku berat rasanya untuk melangkah. Tolong Ri, iringi kepergian aku ini dengan do'a dan senyuman bukan dengan airmata Karena itu akan membuat aku tak mampu untuk pergi " kata Ramdan sambil menatap Tari, namun Tari hanya bisa menunduk agar airmatanya tidak tumpah

"Aku akan selalu mendo'akan mu ,Ndan.Tanpa kamu minta pun aku selalu mendo'akanmu" ucap Tari lirih namun masih bisa terdengar

" Kalau kamu capek mengurusi urusan pensi kamu harus istirahat jangan sampai pas aku pulang kamu sakit, atau pas aku baru nyampe ke Kalimantan aku dengar kamu tumbang. Aku tahu hari ini kamu lagi sakit perut, maka nanti pas pulang ke rumah kamu langsung minum obat, aku udah titip obatnya sama kak Anisa dan kak Zahra. Nanti kamu di temani sama kak Anisa,kak Zahra, Karin dan Tiara. Ga ada penolakan dan no debat, karena kamu adalah tanggung jawabku , paham itu? " Kata Ramdan

" Tapi Ndan,aku takut kalau aku ga bisa handle semuanya dengan sempurna, karena biasanya kan kalau aku menyerah atau kalau aku gagal kamu selalu ada di sampingku " kata Tari sambil berusaha menatap wajah Ramdan meskipun hanya beberapa detik

"Ri, ingat kamu harus yakin serahkan semuanya kepada Allah Ri, biar Allah yang memberikan kelancaran dan kemudahan. Nih..kamu hapus airmatamu itu karena aku gak mau kepergianku di tangisi tapi do'akan aku semoga aku selamat serta lombanya lancar dan pulang kembali membawa medali emas untuk kamu dan sekolah. Tolong jangan menangis ya Ri, kalau kamu perlu bantuan di sini ada Arga, Raihan dan anak-anak OSIS lainnya " kata Ramdan berusaha untuk tenang padahal dalam hatinya dia tidak baik - baik saja

" Ndan mobil jemputan ke Bandara sudah datang, Pak Satria sudah nungguin kamu di depan gerbang sekolah " kata Alvin sambil ngos-ngosan

" Teman - teman aku berangkat dulu ya , titip sekolah dan OSIS ya , kalian gak boleh sedih do'akan aku semoga Allah memberikan kelancaran. Ri, kamu sama Kak Zahra dan kak Anisa di sini aja,ga usah anterin aku ke gerbang, cukup do'ain aku ya , jangan ngebantah kamu tetap di sini " kata Ramdan sambil melangkah pergi di samping nya ada Arga, Raihan dan Arka.

Tari terpaku . Suara Alvin yang terengah-engah seolah menjadi lonceng peringatan kalau dunia Tari baru saja kehilangan porosnya. Tatapan Ramdan yang tajam tapi menyimpan luka itu benar-benar mengunci pergerakan Tari . "Jangan ngebantah," katanya. Singkat, padat, dan menghancurkan.

Tari ingin berlari, ingin memeluk punggungnya yang mulai menjauh, atau setidaknya melambaikan tangan sampai mobil Jemputan hilang dari pandangan. Tapi kaki Tari terasa seperti terpaku pada beton sekolah. Tari hanya bisa menatap bayangannya yang kian mengecil, menyadari bahwa mulai detik ini, variabel 'kita' sudah resmi berubah menjadi 'jarak'. Rasanya sesak, seperti mencoba menghirup udara di ruang hampa. Dia pergi membawa separuh logika Tari ,meninggalkan Tari di sini dengan rindu yang bahkan belum sempat Tari definisikan.

*********************************************

 "Gimana Bab 24? Udah cukup bikin tisu kalian abis belum? 😭💔 Emang perpisahan itu berat, apalagi kalau ditinggal pas lagi sayang-sayangnya sama 'Kulkas Matematika' kita. Tapi tenang, ini baru awal dari ujian logika Tari yang sebenernya.

Spoiler: Di Bab 25 nanti, suasana bakal makin chaos gara-gara satu berita di TV yang bikin jantung Tari (dan mungkin jantung kalian) mau copot! Stay tuned ya, jangan lupa vote dan komen biar Bab 25 cepet cair! 🚀✨"

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!