Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Jalan Menuju Keadilan dan Rekontruksi
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai kantor Sultan, menerangi meja yang kini terlihat lebih rapi dari biasanya setelah kejadian malam sebelumnya. Namun suasana di dalam ruangan tidak sehangat pancaran matahari itu. Sultan duduk di kursinya, menatap layar komputer yang menampilkan laporan terbaru dari tim keamanan tentang aktivitas server pada malam Pak Rio mengaksesnya. Tangannya masih sedikit gemetar ketika menyentuh mouse, bukan karena rasa marah, melainkan karena beratnya tanggung jawab yang dia pikul untuk melindungi perusahaan, tim, dan juga keluarga Pak Rio.
“Hanya dalam beberapa jam, mereka sudah bisa menyebarkan sebagian dokumen ke beberapa pihak,” bisik Sultan pelan, sambil menggeser kertas-kertas di mejanya. Di sebelahnya, Bu Lina sedang memeriksa daftar semua orang yang pernah memiliki akses ke server utama selama sebulan terakhir, meskipun sudah jelas siapa yang bertanggung jawab. Namun mereka perlu memastikan bahwa tidak ada pihak lain yang terlibat, bahwa ini bukan bagian dari skema yang lebih besar.
“Pak Sultan,” ujar Bu Lina dengan suara lembut, “saya sudah memeriksa semua catatan keamanan dan riwayat kunjungan ke kantor. Selain Pak Rio, tidak ada orang lain yang masuk ke ruangan server atau mengakses komputer Anda pada waktu yang tidak biasa. Kecuali…” Dia berhenti sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan.
“Kecuali apa, Bu Lina?” tanya Sultan dengan tatapan yang tajam.
“Kecuali pada tiga hari sebelum kebocoran, ada seorang pria yang mengaku sebagai konsultan dari perusahaan baru yang masuk ke pasar, PT. Mega Inovasi Jaya. Dia datang untuk bertemu dengan Pak Rio dan menghabiskan hampir dua jam di ruang kerja bersama dia. Saya tidak berpikir banyak pada saat itu karena Pak Rio bilang mereka hanya membahas kemungkinan kerja sama kecil,” jelas Bu Lina, menurunkan pandangannya. “Saya seharusnya lebih hati-hati, Pak. Saya seharusnya memeriksa identitasnya dengan lebih teliti.”
Sultan menghela napas dalam-dalam dan menepuk bahu Bu Lina dengan lembut. “Jangan salahkan diri Anda, Bu Lina. Kita semua tidak menyangka bahwa hal seperti ini bisa terjadi. Yang penting sekarang adalah kita mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengatasi masalah ini dan melindungi semua orang yang terlibat.”
Tak lama kemudian, pintu kantor terbuka dan Pak Rio masuk bersama seorang petugas kepolisian yang mengenakan seragam biru tua. Wajah Pak Rio masih terlihat pucat dan matanya bengkak akibat menangis semalam, namun ada rasa tekad yang muncul di dalamnya. Dia telah memberikan semua informasi yang dia miliki kepada pihak kepolisian, mulai dari nama orang yang mengancamnya hingga alamat tempat mereka bertemu dan detail tentang penawaran uang yang mereka berikan.
“Pak Sultan,” ujar Pak Rio dengan suara yang sedikit bergetar namun jelas, “pihak kepolisian sudah mengetahui semua detail tentang PT. Mega Inovasi Jaya dan orang-orang yang bekerja di sana. Mereka akan segera melakukan penyelidikan lebih lanjut dan mungkin akan melakukan penyitaan pada kantor mereka nanti hari. Saya juga telah memberikan semua bukti yang saya miliki, termasuk pesan teks dan rekaman panggilan telepon yang mereka kirimkan kepada saya.”
Petugas kepolisian yang bernama Kompol Adi kemudian menghampiri Sultan dan memberikan sebuah amplop putih. “Ini adalah surat resmi dari kepolisian tentang langkah-langkah yang akan kita lakukan, Pak Sultan. Kami akan memberikan perlindungan maksimal kepada keluarga Pak Rio dan juga kepada perusahaan Anda untuk mencegah terjadinya tindakan balas dendam dari pihak yang bersalah. Selain itu, kami juga membutuhkan bantuan Anda dan tim Anda untuk menyusun laporan rinci tentang dokumen yang bocor dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi program kerja sama dengan PT. Citra Kreatif Indonesia.”
Sultan menerima amplop tersebut dan mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Kami akan memberikan semua dukungan yang kami bisa, Kompol. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang yang tidak bermoral ini merusak impian banyak orang dan merusak nama baik perusahaan kita.”
Setelah pihak kepolisian pergi, Sultan segera menghubungi Rina Wijaya dari PT. Citra Kreatif Indonesia. Dia menjelaskan semua kejadian dengan jujur dan meminta maaf atas masalah yang telah terjadi. Namun, Rina tidak menunjukkan rasa marah seperti yang Sultan bayangkan. Sebaliknya, dia terdengar sangat memahami dan bahkan menawarkan bantuan untuk membantu menangani situasi ini.
“Saya sangat prihatin mendengar berita ini, Pak Sultan,” ujar Rina melalui telepon. “Kita telah bekerja sama dengan baik selama ini dan saya percaya bahwa Anda dan tim Anda tidak akan pernah melakukan hal yang tidak benar secara sengaja. PT. Citra Kreatif Indonesia siap untuk memberikan semua dukungan yang kita bisa, mulai dari memberikan bukti kerja sama kita hingga membantu dalam proses hukum yang akan datang. Kita tidak bisa membiarkan mereka yang mencuri ide dan dokumen kita untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak adil.”
Setelah berbicara dengan Rina, Sultan juga menghubungi Haji Mansur. Ayahnya yang sedang berada di luar kota untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis langsung mengubah rencananya dan mengatakan bahwa dia akan segera kembali ke Malang. Dia sangat marah mengetahui bahwa ada orang yang berani mengancam anggota timnya dan mencuri dokumen perusahaan, namun dia juga menekankan pentingnya untuk menangani masalah ini dengan cara yang benar dan bermartabat.
“Jangan biarkan kemarahanmu membuatmu mengambil keputusan yang salah, nak,” ujar Haji Mansur dengan suara yang penuh kekuatan. “Kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa kita adalah perusahaan yang kuat dan memiliki prinsip yang tinggi. Kita akan membantu Pak Rio dan keluarganya untuk merasa aman kembali, dan kita akan memastikan bahwa mereka yang bersalah mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya. Ingatlah, kebaikan akan selalu menang pada akhirnya, bahkan jika jalan yang ditempuh terlihat sulit.”
Pada sore hari, tim kerja Sultan berkumpul di ruang rapat untuk membahas langkah-langkah selanjutnya. Mereka membahas tentang cara untuk memperkuat sistem keamanan perusahaan, mulai dari memasang kamera keamanan tambahan hingga memberikan pelatihan kepada semua karyawan tentang pentingnya menjaga kerahasiaan informasi perusahaan. Mereka juga membahas tentang cara untuk menyampaikan berita ini kepada klien dan mitra bisnis lainnya dengan cara yang transparan namun tidak menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu.
Alya datang ke kantor membawa makanan dan minuman untuk semua anggota tim yang sedang bekerja keras. Dia juga membantu dalam menyusun dokumen-dokumen yang akan diajukan kepada pihak pemerintah daerah untuk menjelaskan situasi ini dan memastikan bahwa program kerja sama mereka tidak akan terpengaruh secara signifikan.
“Kita telah melalui banyak hal bersama-sama, bukan?” ujar Alya sambil memegang tangan Sultan. “Dari awal kita membangun perusahaan hingga sekarang, kita selalu bisa mengatasi setiap tantangan yang datang. Kali ini juga tidak akan berbeda. Kita memiliki keluarga, teman kerja, dan mitra bisnis yang hebat yang selalu siap membantu kita. Kita akan melewati masa sulit ini dan keluar sebagai perusahaan yang lebih kuat dan lebih tangguh.”
Sultan memeluk istri nya dengan erat dan merasa sangat bersyukur memiliki orang seperti Alya dalam hidupnya. Dia juga melihat ke arah anggota timnya yang sedang bekerja dengan penuh semangat dan tekad, dan merasa bangga dengan apa yang mereka telah capai bersama-sama. Meskipun mereka menghadapi badai yang besar saat ini, dia tahu bahwa ada harapan di ujung jalan. Harapan untuk sebuah masa depan yang lebih baik, di mana kejujuran dan kebaikan dihargai, dan di mana orang-orang yang berani melakukan kejahatan akan mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.
Saat matahari mulai terbenam dan memberikan warna jingga yang indah di langit Malang, Sultan berdiri di depan jendela kantornya dan menatap ke arah kejauhan. Dia berdoa agar semua masalah ini dapat segera terselesaikan dan agar perusahaan mereka dapat kembali fokus pada tujuan utama mereka: untuk membantu orang banyak dan menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Dan di dalam hatinya, dia berjanji bahwa dia akan melakukan segala yang bisa untuk melindungi orang-orang yang dia cintai dan untuk memastikan bahwa impian mereka tidak akan pernah sirna karena tindakan beberapa orang yang tidak bermoral.
Keesokan paginya, kabar tentang penyitaan kantor PT. Mega Inovasi Jaya oleh pihak kepolisian menyebar cepat di kalangan bisnis lokal. Sultan dan timnya mengikuti perkembangan ini dengan cermat sambil terus menyelesaikan berbagai dokumen yang dibutuhkan untuk proses hukum. Pak Rio, yang kini mulai pulih dari tekanan emosionalnya, kembali bekerja dengan penuh dedikasi, membantu tim keamanan dalam mengevaluasi dan memperbaiki sistem perlindungan data perusahaan.
Beberapa hari kemudian, Kompol Adi menghubungi Sultan untuk memberikan laporan awal penyelidikan. Ternyata PT. Mega Inovasi Jaya bukanlah perusahaan yang sah seperti yang mereka klaim. Mereka adalah sekelompok orang yang telah melakukan serangkaian kebocoran data di beberapa perusahaan di Jawa Timur dengan menggunakan taktik yang sama: mengancam karyawan untuk mendapatkan akses ke informasi sensitif.
“Kita telah menangkap tiga orang yang terlibat langsung dalam kasus ini, Pak Sultan,” ujar Kompol Adi melalui telepon. “Mereka telah mengakui perbuatannya dan memberikan informasi tentang rekan-rekan mereka yang lain yang bersembunyi. Kami berharap dapat menangkap semua pelaku dalam waktu dekat dan mengajukan tuntutan hukum yang sepenuhnya terhadap mereka.”
Sultan merasa lega mendengar berita ini. Namun dia juga tahu bahwa pekerjaan mereka belum selesai. Perusahaan masih perlu melakukan banyak hal untuk memulihkan kepercayaan klien dan mitra bisnis, serta untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan pernah terjadi lagi.
Bersama dengan timnya, Sultan menyusun rencana komprehensif untuk meningkatkan keamanan perusahaan. Mereka mengontrak perusahaan konsultan keamanan ternama untuk melakukan audit menyeluruh terhadap sistem mereka, memberikan pelatihan intensif tentang keamanan informasi kepada semua karyawan, dan mengembangkan kebijakan baru yang lebih ketat mengenai akses data sensitif.
Selain itu, Sultan juga memutuskan untuk menjadi lebih transparan dengan klien dan mitra bisnis mereka. Mereka mengirimkan surat resmi kepada semua pihak terkait untuk menjelaskan situasi secara rinci, menyampaikan langkah-langkah yang telah diambil untuk mengatasi masalah ini, dan memberikan jaminan bahwa keamanan informasi akan selalu menjadi prioritas utama perusahaan.
Dalam beberapa minggu berikutnya, tanggapan yang diterima perusahaan sangat positif. Sebagian besar klien dan mitra bisnis mereka menunjukkan dukungan dan pemahaman, menyatakan bahwa mereka menghargai kejujuran dan transparansi yang ditunjukkan oleh Sultan dan timnya. Beberapa di antaranya bahkan menyatakan bahwa kejadian ini membuat mereka lebih percaya pada komitmen perusahaan terhadap keamanan dan etika bisnis.
Pada hari yang cerah beberapa bulan kemudian, perusahaan Sultan merayakan peluncuran program kerja sama baru dengan PT. Citra Kreatif Indonesia. Acara ini dihadiri oleh banyak orang penting dari kalangan bisnis dan pemerintah lokal, termasuk Haji Mansur yang telah kembali ke Malang dan Pak Rio yang kini telah sepenuhnya pulih.
Saat Sultan berdiri di depan podium untuk memberikan pidato, dia merasa penuh rasa syukur dan bangga. Dia berbicara tentang perjuangan yang telah mereka lalui, tentang pentingnya kerja sama dan kepercayaan dalam bisnis, serta tentang harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik.
“Kita telah belajar banyak dari pengalaman yang sulit ini,” ujar Sultan dengan suara yang kuat dan jelas. “Kita telah belajar bahwa keamanan informasi bukan hanya tentang teknologi atau sistem, tetapi juga tentang orang-orang yang mengelolanya. Kita telah belajar bahwa kejujuran dan transparansi adalah dasar dari setiap hubungan bisnis yang sukses. Dan yang terpenting, kita telah belajar bahwa ketika kita menghadapi tantangan bersama dengan tekad dan semangat yang kuat, tidak ada yang tidak bisa kita atasi.”
Setelah pidatonya selesai, seluruh ruangan penuh dengan tepuk tangan yang meriah. Sultan melihat ke arah Alya, Pak Rio, Bu Lina, dan semua anggota timnya yang telah bekerja keras bersama-sama untuk mengatasi masa sulit tersebut. Dia juga melihat ke arah Rina Wijaya dari PT. Citra Kreatif Indonesia, yang memberikan dia senyuman dukungan.
Di luar ruangan, sinar matahari pagi bersinar terang di atas kota Malang, memberikan harapan dan kehangatan kepada semua orang yang tinggal di sana. Sultan tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan mungkin akan ada tantangan baru di masa depan. Namun dia juga tahu bahwa dengan tim yang kuat dan prinsip yang tinggi, mereka siap menghadapi apa pun yang datang dan terus berjuang untuk menciptakan perubahan positif