Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 Aku Mau Kamu
Terakhir Thom menerima pesan dari Anjani kalau wanita itu masih di Rumah Sakit membesuk anak sambungnya. Thom memperkirakan kedatangan Anjani mengikuti instingnya. Dia ingin saat Anjani datang merasa sangat dirindukan jika melihat Thom di pintu masuk menyambutnya. Saat mobil yang Thom tunggu sejak tadi tiba, Thom tersenyum licik, dia segera mengayunkan sepasang kakinya ke arah mobil itu.
Namun langkah Thom terhenti saat melihat wanita yang sangat familiar turun dari mobil yang dia tunggu sejak tadi. "Ibu bareng Anjani?" Thom langsung merubah arah langkahnya, merasa geran dan sangat terkejut.
"Hei Thom! Kamu tidak ingin menyapa ibumu?"
"Ah! Sial, keburu ketahuan ibu keberadaan ku."
Thom berbalik dan segera berjalan kearah ibunya. "Ku kira aku salah lihat, makanya aku nggak peduli, maafin aku ibu."
"Alasanmu saja! Bilang saja bukan ibu yang kamu tunggu."
"Tunggu? Aku nggak nunggu siapa-siapa." Thom menggandeng ibunya sambil memijat pundak ibunya.
"Sulit ku percaya, aku melihat ibu bareng Anjani. Tumben?"
"Thom! Jangan tanya hal itu sama ibu! Ibu jadi tambah kesal dan sangat marah!" Wanita tua yang terlihat segar dan cantik itu sibuk memijat pelipisnya. Mengingat hasil rencana yang Anjani jalankan sungguh membuat kepalanya meledak.
"Ya sudah." Thom menggandeng ibunya hingga masuk lift dan menekan tombol 2 lantai yang berbeda.
"Kamu nggak langsung ke ruangan kamu?" Melvita menatap Thom penuh kecurigaan.
"Ada yang harus aku tangani." Sampai di lantai tujuannya, Thom keluar dari lift namun dia kembali turun lewat tangga untuk kembali ke lantai dasar. Dia yakin Anjani masih di mobilnya. Sesampai di lantai dasar, tepat seperti dugaannya. Mobil yang Anjani tumpangi masih parkir manis di depan pintu utama. Thom langsung mengirim pesan pada wanita yang masih berada dalam mobil itu.
(Aku tunggu di tempat rahasia kita.)
Thom melirik sekilas kearah mobil itu, dan dia segera menuju tempat rahasia pertemuan dia dan Anjani di kantor itu.
Di dalam mobil Anjani tersenyum karena tingkah Thom. "Kalau hanya ingin mengirim pesan, buat apa kau repot-repot turun lagi hanya untuk melihat mobilku lalu mengirim pesan." Tingkah Thom barusan membuat Anjani tersenyum bahagia. Dia bisa melupakan sejenak rasa kesalnya pada anak-anak Abi yang lebih mudah menerima Zella.
Anjani langsung menuju sebuah ruangan tempat dirinya dan Thom biasa bertemu. Baru saja memasuki ruangan itu, Thom langsung mengunci pintu ruangan itu.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bahas denganku, sayang?" ucap Anjani.
Rusthom tak menjawab, dia langsung menarik Anjani untuk berdiri dari kursi roda, dan menyambar bibir yang dipoles lisptik itu. Suara deruan napas memecah kesunyian ruangan itu.
Anjani perlahan melepas pangutan mereka. "Kenapa begitu menggebu? Bukannya kemaren kita baru saja bertemu dan melepaskan semuanya?"
"Tak pernah ada rasa cukup akan dirimu, sayang." Rosthom mendaratkan ciumannya begitu liar di bagian wajah hingga leher Anjani.
"Sayang, sudah dulu. Sebentar lagi ruangan ini akan dipakai."
Rusthom menyudahi kegiatan gilanya. "Apa yang terjadi? Mengapa ibu semarah itu saat keluar dari mobilmu? Dan kenapa bisa kalian barengan satu mobil?"
"Tadi pagi aku menjenguk Rayhan di Rumah Sakit, dan ternyata ada ibu juga di sana. Tapi yang buat ibu marah saat ibu lihat calon istri Abi begitu dekat dengan Rihana. Ibu merasa Zella ancaman baru buat rencana dia."
"Kenapa juga kamu pilih calon wanita baik-baik, harusnya kamu cari mantan ani-ani, ghundik, atau sejenisnya agar mudah mengendalikan mereka dengan kesepakatan, bukan wanita sholehah yang seperti calon istri Abi."
"Kan sudah aku jelaskan kemaren. Aku mencari wanita baik agar jadi tameng yang baik untuk kita. Saat Abi tahu pengkhianatan kita aku bisa ungkit kedatangan Zella berkat aku. Abi tentu akan berpikir untuk membalas jasaku."
"Aku bingung sekarang. Rencanamu perlahan tapi pasti. Rencana ibu sangat halus tapi butuh waktu lama. Tapi sebentar lagi rencana ibu terwujud. Ku dengar Abi sudah membuat surat Hibah untuk dua anaknya, dan ini adalah inti rencana ibu. Memastikan dua anak itu mewarisi harta abi. Tapi ibu yang mengendalikan kedua anak itu."
"Sebab ini ibumu emosi. Karena kedua anak Abi mulai melonggarkan pegangan mereka pada ibumu. Apalagi Rihana."
"Sedang Rihana adalah kunci. Jika Rihana pergi maka Rayhan pun akan mengikuti Kakaknya."
"Tapi hasil dari rencanaku lebih mulus. Abi sejak lama tak peduli dengan segala properti yang dia miliki. Kamu bisa hitung berapa banyak properti yang berpindah atas namamu karena alasan bangkrut?" ucap Anjani bangga.
"Aku tahu itu, sebab itu aku lebih mendukungmu. Tapi aku juga tak tega melihat rencana yang ibuku susun bertahun-tahun terancam gagal."
"Gagal pun seharusnya tak masalah. Karena sebelum ibumu menguasai kedua anak itu, harta milik Abi sudah kita alihkan pelan-pelan."
"Kita lupakan ibu, lupakan Abi, lupakan semua itu. Fokus pada kebahagiaan kita." Tangan Thom bergerilya manja di bagian tubuh Anjani.
"Sayang, lihat keadaan sekarang nggak memungkinkan buat kita!" Anjani menepis gerakan tangan Thom.
"Masih ada waktu satu jam sebelum rapat. Aku mau tambah tenaga dulu." Thom menarik Anjani ke sudut ruangan, dan menciumi liar wanita itu.
"Sayang, jangan sayang." Anjani berusaha menahan Thom. "Aku nggak mau baju aku kusut."
"Hanya itu, maka aku akan hati-hati." Thom menyingkap bagian terpenting,keadaan pun seketika memanas.
***
Di Rumah Sakit.
Rihana duduk di ranjang bersama adiknya, keduanya sangat asyik memperhatikan layar tablet yang mereka pegang bersama. Sedang Zella duduk santai di sofa yang tak jauh dari kedua anak itu. Sedang Abi duduk di kursi rodanya, matanya sangat fokus pada layar laptopnya.
"Pak Abi, apa Anda sibuk?" tanya Zella pelan.
"Tidak, aku hanya memperhatikan hal-hal yang tak penting." Abi segera mematikan layar laptopnya dan menyimpan barang itu.
"Aku berjanji pada Rihana, untuk mengajaknya ziarah ke makam ibunya."
Ucapan Zella barusan membuat wajah Abi langsung merah.
Zella sadar Abi tak menyukai pembahasan ini, tapi dia harus berusaha. "Aku memang tidak tahu sebesar apa masalah antara kamu dan almarhum ibu mereka. Tapi, mereka tak bersalah. Kenapa mereka harus tersiksa karena rindu pada ibu mereka tak bisa mereka lepas?"
Abi berusaha mengendalikan kemarahan yang telah berkobar. Berulang kali Abi mengatur napasnya agar kemarahannya tak meledak lewat kata-kata kasar.
Melihat raut wajah Abi yang semakin tak bersahabat, Zella menyadari kelancangannya. "Maaf. Aku tak berniat membuka kembali luka mu. Aku hanya berusaha membahagiakan gadis cantik di sana." sesal Zella.
Abi menatap kedua anaknya. Dia berusaha menerima kenyataan, anaknya tak bersalah. Mengapa dia harus menghukum anaknya dengan melarang berziarah ke makam ibu mereka. "Maaf, aku tersulut emosi. Silakan saja ajak Rihana ke makam ibunya, nanti Miko akan mengantar kalian."
"Terima kasih!" Wajah Zella begitu ceria, karena dia bisa memenuhi janjinya pada Rihana.
"Kamu tidak mau tanya kekecewaan apa yang diberikan ibu mereka padaku sehingga aku sangat membenci ibu bahkan anak yang lahir darinya?"
"Aku tak berhak bertanya, tapi jika kamu mau bercerita, dengan senang hati aku akan mendengarkan. Ya siapa tahu setelah kamu bercerita tekanan di hatimu sedikit berkurang."
"Kamu tak kepo dengan urusan orang lain?"
"Aku tak suka kepo dengan masalah orang. Aku hanya fokus pada apa saja yang menjadi bagian kebahagiaanku dan orang-orang yang sayang padaku."
"Jadi, apakah nanti aku menjadi bagian kebahagiaanmu?"
"Memangnya Anda mau menjadi bagian kebahagiaanku?"
Mendengar jawaban Zella, Abi menggeratakan gigi-giginya menahan kekesalannya.
"Kalian sudah selesai bucinannya?" sela Rihana.
"Hei, siapa yang lagi bucin!" ucap Zella dan Abi bersamaan.
"Wah kompak banget," ledek Rihana.
"Kayak nonton drama kesukaan Kakak!" Rayhan menambahi.
"Hei bocil! Diam kau!" ucap Rihana dengan bercandaannya pada adiknya.
"Kalau udah selesai, kami yang sakit ini boleh minta tolong sama kalian?" ucap Rihana.
"Kalian mau apa?" tawar Zella.
"Aku mau ice cream," ucap Rayhan.
"Aku mau jus dan buah potong yang ada di market fresh yang ada di seberang itu, boleh?" pinta Rihana.
"Tentu boleh! Tante akan belikan!" Zella langsung berdiri dan meraih tasnya. Pandangan Zella beralih pada Abi. "Kamu mau apa?" tawaran Zella pada Abi.
"Aku mau kamu."
"Huhuiii tut towettt ...." ledek Rihana.
Abi sadar dia salah bicara. "Maksudku aku mau ikut kamu." Abi langsung mengoperasikan kursi rodanya meninggalkan ruangan Rayhan. Dia tak ingin rasa malunya disadari kedua anaknya mau pun Zella. Pergi dari sana adalah jalan terbaik untuk menghindari ledekan kedua anaknya.
Sial! Kenapa aku berasa jadi ABG lagi. Beneran jatuh cinta itu membuat kita jadi bodoh! Abi mengutuki dirinya sendiri.