NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: KONTRAK ITU MULAI BEKERJA

Aira Senja keluar dari gedung Dirgantara Group dengan langkah gontai.

Langit Jakarta masih terang. Matahari belum condong ke barat. Namun dunia di sekelilingnya terasa asing—seolah ia baru saja melewati garis yang tak mungkin ia tarik kembali.

Tangannya masih gemetar.

Kontrak itu.

Tanda tangannya.

Ia menatap jemarinya sendiri seakan tak percaya bahwa tangan itulah yang baru saja menyerahkan hidupnya.

Dengan napas tak stabil, ia menekan layar ponsel dan menghubungi bagian administrasi rumah sakit. Setiap dering terdengar seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak bisa ia kendalikan.

“Selamat siang, bagian administrasi ICU.”

“S-saya Aira Senja,” ucapnya terbata. “Tadi… ada pembayaran atas nama ibu saya?”

Hening.

Beberapa detik yang terasa terlalu panjang.

“Ya, Mbak Aira. Biaya administrasi sudah kami terima. Status ibu Anda kembali aman.”

Kata aman itu seperti pisau bermata dua.

Aira menutup mulutnya. Isak yang ia tahan sejak tadi akhirnya lolos pelan. Lututnya melemas. Ia bersandar pada dinding halte bus, dadanya naik turun tak teratur.

Ibunya selamat.

Itu yang terpenting.

Namun rasa lega itu tak pernah benar-benar utuh. Di baliknya ada kehampaan—dingin, menganga, dan menakutkan.

Sejak hari ini, hidupnya tak lagi sepenuhnya miliknya.

Semuanya telah dibayar lunas.

Dengan harga yang terlalu mahal.

Keesokan paginya, Aira datang lebih awal.

Lantai eksekutif masih sepi saat ia berdiri di depan meja resepsionis. Kemeja putih yang sama, rok hitam sederhana, sepatu hak yang telah kehilangan kilapnya.

Di tengah kemewahan marmer dan kaca itu, ia tampak kecil.

Dan sendirian.

“Mulai hari ini kamu langsung bekerja.”

Suara itu datang dari belakangnya.

Tubuh Aira menegang.

Arlan Dirgantara berdiri beberapa langkah darinya. Setelan jas abu gelap membingkai tubuh tegapnya. Wajahnya tanpa ekspresi—seolah kejadian kemarin tak lebih dari transaksi bisnis biasa.

“Tidak ada masa orientasi,” lanjutnya datar.

“Tidak ada toleransi. Kamu terlambat satu menit saja, aku anggap pelanggaran kontrak.”

Aira menunduk. “Baik, Pak.”

Arlan berjalan melewatinya tanpa menoleh.

“Masuk.”

Dan neraka itu resmi dimulai.

Hari itu Aira berlari tanpa henti.

Dokumen tak pernah habis. Jadwal rapat diubah mendadak. Tenggat waktu dibuat mustahil. Setiap kesalahan sekecil apa pun dibalas dengan tatapan dingin yang lebih menyakitkan daripada teguran keras.

Ia naik turun lift berkali-kali. Tumitnya mulai perih. Kepalanya terasa berat.

Tatapan karyawan lain mengikuti setiap langkahnya.

“Sekretaris baru, ya?”

“Katanya mantan.”

“Pantas saja diperlakukan begitu.”

Aira pura-pura tak mendengar.

Ia hanya memeluk map di dadanya lebih erat, menelan perih yang terus naik ke tenggorokan.

Di dalam ruang CEO, Arlan mengamatinya dari balik meja.

Ia melihat bagaimana Aira hampir tersandung saat keluar ruangan. Melihat bagaimana wanita itu menahan pusingnya. Melihat jemarinya gemetar saat menyerahkan dokumen.

Namun wajahnya tetap dingin.

Setiap kali Aira hampir runtuh, ia menambah beban.

Seolah ingin memastikan satu hal—

Aira Senja benar-benar tidak punya jalan keluar.

Menjelang sore, Aira nyaris pingsan.

Ia berdiri di depan meja Arlan, menyerahkan laporan terakhir dengan tangan bergetar. Wajahnya pucat. Napasnya pendek-pendek.

“Sudah?” tanya Arlan tanpa mengangkat kepala.

“Sudah, Pak.”

Arlan membaca sekilas. Alisnya berkerut tipis. Laporan itu rapi. Hampir tanpa cela.

Ia menutup map tersebut.

“Keluar.”

Aira ragu sejenak. “Itu saja, Pak?”

Kali ini Arlan mengangkat wajahnya.

Tatapan hitam itu tajam—dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang tak bisa Aira baca.

Penyesalan?

Kemarahan pada diri sendiri?

Atau sekadar ilusi karena tubuhnya terlalu lelah?

“Jangan salah paham,” ucap Arlan rendah.

“Aku belum selesai menghukummu.”

Dada Aira mengencang.

“Ini baru hari pertama.”

Aira menunduk, lalu berbalik pergi.

Pintu tertutup pelan.

Ruangan kembali hening.

Arlan bersandar di kursinya dan melirik pergelangan tangannya.

Jam tangan lama dengan tali kulit yang sudah usang.

Hadiah dari seorang gadis yang dulu berjanji tak akan pernah meninggalkannya.

Jarum detiknya terus bergerak.

Lima tahun telah berlalu.

Namun dendam itu… belum juga mati.

Dan yang lebih ia benci—

kenangan itu juga belum.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!