Seorang wanita bernama Eun Chae hampir memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang membosankan setelah mendapatkan diagnosa mengidap penyakit linglung atau amnesia di usianya yang baru 30 tahun. Terlebih parahnya, Eun Chae tidak ingat bagaimana dirinya telah kehilangan kedua orang tuanya setahun yang lalu, dalam sebuah kecelakaan saat berlibur ke luar negeri. Siapa sangka pria yang menolongnya ternyata seorang chef terkenal di media sosial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon originalbychani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 11 : Hal Penting yang Terlupakan
Hari Jumat, 23 Januari 2026. Tak terasa, hari kompetisi memasak akan tiba dalam 24 jam.
"Kim Eun Chae? Tunjukan fotonya padaku," perintah Seong Jun kepada M di kantornya.
Kini, di tangan Seong Jun tertera daftar nama para peserta kompetisi, beserta profil singkat mereka.
Pria itu memelototi kertas laporan yang didapatkan olehnya selama beberapa detik, kemudian menghempaskan benda itu di meja dan tersenyum mengejek.
"Apaan ini? Ternyata benar-benar dia. Tak kusangka, kesempatan ini muncul dengan mudahnya. Tentu saja dia bukan peserta, melainkan asisten tak berguna," celotehnya yakin.
"Benar, Tuan. Kompetisi tahap kedua kali ini cukup berbeda dari biasanya, karena mengharuskan adanya asisten untuk setiap peserta," ujar M, pelayan Seong Jun yang selalu siap siaga itu.
Bagaikan iblis yang menyeringai dalam kegelapan, Seong Jun telah memusatkan sasaran dengan berbagai rencana licik.
"Sepertinya, aku harus membuat si bodoh ini mundur dengan sendirinya. Dia pikir acara sepenting ini untuknya? Hahaha! Konyol sekali," katanya angkuh.
Di sisi lain, Eun Chae sedang menunggu kedatangan Chef Do di depan stasiun kota.
"Chef!" panggilnya kencang sambil melambaikan tangan, seketika melihat sosok pria tampan itu.
"Kita mau kemana? Padahal sudah kubilang, hari ini bukan apa-apa," ucap Chef Do, yang baru saja berjalan mendekati Eun Chae.
"Eh, jangan bilang begitu! Hari ulang tahun Chef bukan sesuatu yang patut diremehkan. Lagipula, sesekali kita harus makan dan minum di luar rumah," tegas Eun Chae, lalu mengajak pria itu berkeliling cafe di daerah Hongdae.
Sebelum Chef Do memprotes, Eun Chae mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung jaket gelembungnya -*disebut 'pae-ding' di Korea, biasanya dipakai saat musim dingin*-, lalu memberikan kotak kecil kepada pria itu.
"Ini, hadiah untuk Chef," kata wanita itu ceria.
Walau enggan, pria itu menerimanya dan kesulitan berkata-kata.
"Apa Chef tidak penasaran dengan isi kotak ini?" tanya Eun Chae iseng.
"Mana mungkin aku membuka hadiah di depan pemberinya?" sahut Chef Do.
"Huh, kaku sekali. Padahal, Chef yang menyuruhku bersantai sehari saja sebelum lomba," gurau Eun Chae.
Chef Do tidak menjawab dan hanya tersenyum, sehingga membuat Eun Chae tertawa renyah.
Bicara soal Hongdae, ada banyak sekali tontonan menarik di tempat itu. Selain jajaran cafe dengan tema tertentu, daerah itu diramaikan oleh para pemusik atau penari lokal, para penggemar fashion yang unik dan beragam, serta tempat karaoke dan hiburan lainnya.
"Hi, i'm a Hongdae girl. Are you open minded?" ucap Eun Chae, usil menirukan gaya berbicara anak muda Hongdae di media sosial.
"What the hell?" balas Chef Do, lalu keduanya tertawa lagi.
"Eun Chae-ya, kemampuan bahasa Inggrismu lumayan juga," kata Chef Do, yang awalnya sedikit terkejut.
"Sebenarnya, aku ini sangat pemalu. Aku hanya bersikap konyol jika merasa dekat dengan seseorang. Percayalah, Chef," ujar Eun Chae terkekeh.
"Berarti, kau merasa nyaman denganku?" lontar Chef Do spontan.
"I-- Iya, tentu saja."
Jawaban Eun Chae nyaris terdengar seperti dipaksakan, namun tidak dipertanyakan lagi oleh lawan bicaranya.
"Ternyata, berteman itu rasanya seperti ini ya," gumam Eun Chae beberapa detik kemudian, saat keduanya masih berjalan-jalan santai.
"Memangnya ada rasanya?"
Kini, pertanyaan Chef Do yang mengganjal itu membuat Eun Chae berpaling ke arahnya dengan wajah cemberut.
"Kenapa Chef hanya paham tentang rasa makanan? Memangnya hidup itu tawar?" desah Eun Chae, nyaris seperti mengajak beradu.
"Aku cuma bercanda," jawab Chef Do, lalu berjalan mendahului Eun Chae.
"Eh, tunggu. Chef, lihat di sebelah sana ada kue ulang tahun yang keren sekali!" panggil Eun Chae, seraya berlarian kecil.
"Hmm.. Sudah kubilang tidak usah. Ayo kembali, kita harus mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibawa besok," alih Chef Do.
"Yah, ya sudah," respon Eun Chae patuh, walau sedikit kecewa.
"Sebelum itu, kita makan siang dulu. Mumpung kita sudah tiba di Hongdae," tambah Chef Do secara tak terduga.
Tentunya, ajakan itu diterima dengan senang hati oleh Eun Chae.
Satu jam seusai makan dan hendak bergegas kembali ke rumah, langkah Eun Chae terhenti karena mendengar sebuah alunan musik yang tak asing baginya.
"Melodi ini--," ucapnya pelan, lalu tanpa sadar berlari ke arahnya.
"Eun Chae-ya!" seru Chef Do, dengan cepat menjangkau langkah wanita itu.
Eun Chae-ya.
Mendadak suara seseorang terbesit dalam ingatan Eun Chae, lagi-lagi diikuti rasa sakit dan pusing yang mendengung di telinganya. Dalam sekejap, kesadaran Eun Chae melemah dan tubuhnya yang terjatuh langsung ditangkap oleh Chef Do.
Dalam kondisi tak sadarkan diri pun, air mata menetes pada pipi Eun Chae yang seputih dan selembut salju di musim dingin.
Pada momen itu, turun hujan salju di Hongdae, sehingga semakin banyak orang terpukau dan berdatangan untuk mengambil foto.
Tanpa membuang waktu, Chef Do segera melarikan Eun Chae ke rumah sakit.
Waktu terus berjalan, hingga pukul 4 sore di kota Seoul. Sudah 2 jam Chef Do menunggu di samping Eun Chae hingga wanita itu bangun.
"Chef?" ucapnya lemah, seraya menatap wajah Chef Do.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya pria itu khawatir.
"Iya, aku tidak apa-apa. Ayo pulang, Chef. Besok adalah hari penting," jawab Eun Chae, lalu mencoba bangkit dari bangsal rumah sakit.
"Pelan-pelan saja. Dokter memberimu vitamin, kata beliau kamu hanya kelelahan. Maaf, aku kurang memperhatikanmu," kata Chef Do lembut, tidak seperti biasanya.
Meski tersanjung oleh kebaikan sang guru, Eun Chae merasa bersalah.
"Bukan begitu. Sebenarnya, ada hal yang ingin kuceritakan.. Jika Chef tidak keberatan--," jelas Eun Chae bimbang.
"Ceritakan. Aku tidak menentangmu," balas Chef Do, sebelum Eun Chae mengurungkan niatnya.
Karena Chef Do selalu tulus mendengarkan keluhan Eun Chae dan sebaliknya, wanita itu perlahan mampu membuka diri.
"Apa Chef masih ingat? Aku pernah bilang bahwa aku sakit. Itu tidak sepenuhnya bohong, karena kejadian seperti hari ini tidak jarang muncul," tutur Eun Chae, sambil menundukan kepalanya.
"Begitu ya. Kurasa memang sudah dua kali aku melihatmu tumbang secara tiba-tiba. Apa kamu pernah berobat dengan dokter saraf, mendapatkan diagnosa, atau berkonsultasi dengan dokter ahli?" tanya Chef Do.
Sejauh ini, siapapun yang mengenal Chef Do pasti menganggapnya sangat disiplin dan egois. Siapa mengira pria itu akan berempati dengan seorang wanita lemah yang kini tidak mampu diabaikannya?
"Dokter yang biasa memeriksa kepalaku pernah berkata-- bahwa aku telah kehilangan sebagian dari ingatanku. Entah ingatan itu akan kembali atau tidak, beliau berkata penyebab utamanya adalah trauma yang cukup parah," ungkap Eun Chae, dengan sedikit terisak dan terbata-bata.
Pada detik berikutnya, tubuh mungilnya terasa hangat oleh pelukan Chef Do. Walau terkesiap, wanita itu tidak sanggup menghindar. Untuk pertama kalinya, Eun Chae merasa diperbolehkan bersikap apa adanya dan mengutarakan seluruh kepedihan hatinya. Apalagi, suatu perasaan lain mulai muncul di antara mereka.
- Bersambung -