NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi di desa datang tanpa aba-aba. Embun masih menggantung di ujung daun, ayam berkokok berlapis-lapis, dan Alya sudah berdiri di depan cermin kecil kamar, mengikat rambutnya dua kali, tak yakin ikatan mana yang paling cocok untuk menghadapi sawah.

Di teras, Halimah sudah menunggu dengan caping besar.

“Enggu'an iki,” katanya sambil menyodorkan. (Pakai ini)

Alya menerimanya. Begitu caping itu menempel di kepalanya, pinggirannya langsung menutup sebagian wajah.

“Lim… iki kok gedhe temenan?”

Halimah menahan tawa.

“Mene riko katon wong ndeso temenan.”

(Biar kamu kelihatan orang desa beneran.)

Alya mendengus, tapi tetap memakainya. Dua langkah berjalan, caping itu melorot. Ia berhenti, menaikkannya lagi. Dua langkah berikutnya, melorot lagi.

Dari kejauhan, Bayu memperhatikan tanpa komentar. Tangannya sibuk memeriksa saluran air di pematang. Baru ketika Alya hampir menabrak tiang bambu, Bayu mendekat dan menahan caping itu dengan satu jari.

“Capile kegedean," ucapnya datar.

Alya mengangguk cepat. “Iya… aku juga ngerasa gitu.”

Bayu menarik tali caping, mengikatkannya lebih pendek. Gerakannya singkat, rapi.

“Saiki coba mlaku,” katanya. (Sekarang coba jalan.)

Alya melangkah. Caping itu bertahan. Ia tersenyum lega lalu lupa menunduk. Ujung caping menyenggol dahan rendah. Tok.

Halimah tertawa lepas.

“Wis sun omongi, riko kudu belajar mungkruk sulung.” (Sudah kubilang, kamu harus belajar menunduk dulu.)

Alya menepuk capingnya, pasrah. Bayu berdeham kecil, entah menahan tawa, entah tidak, tapi yang jelas pria itu sedikit memberi perhatian meskipun terlihat datar.

☘️☘️☘️☘️☘️

Setelah perdebatan masalah caping. Alya kebagian tugas mengusir burung yang turun ke sawah. Halimah memberinya kaleng bekas dan sepotong bambu, Alya pun terlihat begitu antusias, karena tugasnya hari ini lebih ringan dari yang kemarin.

“Digebug begini,” contoh Halimah.

Alya mengangguk semangat. Begitu burung datang, ia memukul kaleng sekuat tenaga.

BRAAAANG.

Burung terbang. Alya tersenyum bangga, sambil bersorak, layaknya seorang anak kecil yang habis dibelikan mainan. Namun lima menit kemudian, Bayu menoleh, menutup satu telinganya.

“Riko ngusir manuk opo ngundang geludug?” (Kamu ngusir burung atau manggil petir?)

Alya seketika memerah menahan rasa kesalbha. “ Iya aku takut mereka balik.” sahutnya sedikit mendengus.

Bayu mengambil kaleng itu, mengetuk pelan ting, ting—ritmenya teratur.

“Cukup gedigi,” katanya. “Manuk wes wedi miber adoh.” (Cukup begini. burung sudah takut terbang jauh)

Karena penasaran Alya mencoba menirukan cara Bayu dan ternyata benar. Kali ini lebih pelan. Burung tetap pergi.

“Oh…” Alya tersenyum kecil. “Jadi gak perlu keras ya.”

Bayu menatap sawah. “Dudu sekabenahe kudu anter." (Tidak semuanya harus keras,)

Kalimat itu jatuh ringan, tapi Alya mendengarnya terlalu dalam, dan banyak pelajaran yang dipetik, mulai cara menggunakan caping petani dan juga cara mengusir burung, hal kecil itu ia resapi sebagai bekal kedepannya jika benar-benar dirinya ingin menjadi petani yang sukses.

,☘️☘️☘️☘️☘️

Hari itu matahari belum tinggi, tapi Alya sudah menyesal datang ke sawah. Bukan karena panas. bukan karena bau lumpur, melainkan karena Bayu, yang selalu usilin dirinya.

“Mlaku edeng-edeng, Al. Iki galengan, dudu trotoar kota,” kata Bayu sambil berjalan santai di depan, tangan dimasukkan ke saku celana, seolah galengan itu selebar jalan raya. (Jalan pelan-pelan Al, ini pematang bukan trotoar kota)

Alya mendengus. “Aku tahu itu galengan. Aku cuma nggak tahu kenapa lebarnya cuma seupil.”

“Galengan ya segini. Kalau lebar, namanya lapangan bola,” sahut Bayu tanpa menoleh.

Alya melangkah hati-hati. Kaki kanannya sudah kena lumpur sedikit, licin, dingin, dan rasanya menjalar sampai ke tulang. Ia menatap sepatu kets putihnya yang mulai bernoda cokelat.

“Bayu… ini sepatu baru.”

Bayu berhenti, menoleh, lalu menatap sepatu Alya dengan wajah datar. “Sekarang sudah enggak.”

Alya hampir melempar caping ke kepalanya, karena kesal, entah kenapa pria itu membuat mood nya kurang baik, bawaannya pingin marah saja.

Mereka melanjutkan berjalan. Di kanan kiri terbentang sawah hijau, padi muda bergoyang pelan diterpa angin. Indah, tenang kalau saja Alya tidak sedang berusaha keras agar tidak tergelincir dan jatuh dengan pose memalukan.

“Aku heran,” gumam Alya. “Kalian kok bisa jalan cepat di galengan begini.”

“Karena dari kecil,” jawab Bayu. “Kalau jatuh, diketawain. Lama-lama terbiasa.”

“Aku jatuh, kamu ketawain juga?”

Bayu tersenyum tipis. “Tergantung jatuhnya lucu atau enggak.”

“Bayu!”

Belum sempat Alya mengomel lebih panjang, kakinya terpeleset.

“WO—!”

Refleks Bayu berbalik dan meraih tangan Alya. Pegangannya berhasil selama setengah detik. Masalahnya, berat Alya menarik Bayu ke depan.

Dan dalam sepersekian detik berikutnya

PLUK!

Bayu yang jatuh lebih dulu. Alya yang menimpa setelahnya. Lumpur muncrat ke mana-mana.

Sunyi sesaat. Alya terdiam di atas Bayu, wajahnya sangat dekat, napas mereka bercampur bau lumpur dan tanah basah. Mata Bayu terbuka lebar, capingnya mengapung miring di sawah.

“…Kamu berat,” kata Bayu lirih.

Alya membeku. “Kamu jatuh duluan.”

“Karena kamu narik aku kayak mau nyeret kambing.”

“ITU REFLEKS!”

Bayu menghela napas panjang. “Selamat datang di kampung Osing. Versi mandi lumpur.”

Alya mendongak. Melihat kondisi mereka bajunya belepotan, celananya Bayu hampir tidak kelihatan warna aslinya ia mendadak tertawa.

Awalnya kecil, lalu membesar dan nggak berhenti.

Bayu menatapnya heran. “Kamu kenapa ketawa?”

“Kita… kita kayak…” Alya menunjuk tangan Bayu yang penuh lumpur. “Kayak bakso jatuh ke got.”

Bayu mendengus, lalu ikut tertawa. Tawa mereka pecah di tengah sawah, mengagetkan burung pipit yang beterbangan.

Beberapa petani di kejauhan melirik. Salah satu bapak-bapak bahkan menggeleng sambil senyum-senyum.

“Nduk kota jatuh di galengan, ya?” teriaknya.

Alya menutup wajahnya. “Aku malu…”

Bayu berdiri lebih dulu, lalu menarik Alya bangkit. Tapi begitu Alya berdiri.

SLUP.

Sepatu kanannya tertinggal di lumpur. Alya menatap kakinya yang kini hanya berkaus kaki. Ia menoleh pelan ke Bayu.

Bayu menunduk, menatap sepatu yang tertanam manis di sawah, lalu berkata tenang.

“Itu sudah jadi bagian dari ekosistem.”

Alya menjerit kecil. “ITU SEPATU MAHAL!”

Bayu tertawa terbahak. “Tenang. Anggap saja sedekah untuk padi.”

Alya memukul lengan Bayu, tapi ikut tertawa juga. Entah kenapa, malu dan kesal bercampur jadi satu, lalu larut bersama tawa.

Hari pertama bertani tanah Osing itu tak berjalan mulus, ada lumpur, ada jatuh dan ada sepatu yang jadi korban.Tapi untuk pertama kalinya, Alya merasa sawah bukan tempat asing. Dan Bayu, meski menyebalkan ternyata bukan teman buruk untuk jatuh bersama.

Entah kenapa setelah mengingat kejadian itu, bibir Alya tanpa sadar tersenyum sendiri. "Seru yang melelahkan," gumamnya sendiri.

Ia lalu masuk ke kamar mandi sambil menenteng sepatu yang sempat terpendam tadi.

Bersambung ...

Pagi menjelang siang semoga kalian sehat semua dan diberikan kelancaran rejeki 🤲🤲🤲🤲

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!