Perselingkuhan? Itulah yang dilakukan Liora, perselingkuhan yang tidak sengaja dilakukannya kala dipaksa meminum minuman keras. Seorang pemuda rupawan yang merenggut kesuciannya. Kesucian yang seharusnya dijaga untuk suaminya. Walaupun dirinya menikah hanya karena hutang budi.
Suami yang cacat, buruk rupa akibat kebakaran. Sang suami yang telah pergi meninggalkannya ke luar negeri untuk urusan bisnis, selama lima tahun.
Dirinya menangis terisak, merutuki kebodohannya yang menikmati malam dengan pria lain. Pemuda yang mengulurkan tangannya, tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Terimakasih," ucap sang pemuda, mengecup punggungnya. Namun wanita itu hanya menangis.
"Apa yang harus aku katakan pada suamiku saat dia pulang nanti?! Aku sudah memiliki suami! Dasar sialan!" umpatnya memukul sang pemuda.
Sang pemuda mengenyitkan keningnya, ini juga yang pertama baginya. Namun, meniduri istri sendiri memang terasa menyenangkan.
"Rahasiakan dari suamimu, jadikan aku simpananmu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapan
Intan menelan ludahnya berkali-kali, menatap kearah pria bertubuh tegap yang berusaha membawa menantunya pergi. Benar-benar bagaikan artis barat yang memiliki bentuk tubuh idaman wanita. Apa ini yang menyebabkan Liora tiba-tiba ingin bercerai?
Tapi putranya memang pantas untuk diceraikan. Komat-kamit ingin rasanya sang ibu marah pada putranya sendiri. Menghela napas berkali-kali mengamati hal yang akan terjadi.
"Louis merindukan ibu?" tanya Liora pada putranya. Anak yang mengangguk menggenggam jemari tangan ibunya.
"Ibu, ayo kita pulang dengan paman David," pinta putranya.
Kira menghela napas berkali-kali, sungguh pria pick, menjadikan seorang anak sebagai umpan.
"Iya, kita pulang ya," Liora tersenyum, menggendong Louis pada akhirnya.
"Liora, jangan lupa syarat agar aku memanggil Arga kembali dari luar negeri." Kairan mencoba menghentikan menantunya.
Liora berusaha tersenyum."Hanya pulang saat malam kan? Selama itu aku kemanapun terserah padaku. Permisi." Wanita itu tersenyum, melangkah pergi, mungkin sebuah isyarat untuk suaminya yang berpura-pura dungu.
Dirinya dapat memilih pasangan dan pergi kemanapun jika tidak ada ketegasan akan diceraikan atau berusaha mati-matian mempertahankannya.
"Liora tunggu! Louis bisa tinggal disini jadi---" Kata-kata Kira disela.
"Sebentar lagi aku akan bercerai. Terlalu memalukan membawa anak yang aku adopsi tinggal di rumah mertuaku." Jawabnya lagi, berjalan meninggalkan rumah diikuti David.
Pria yang tersenyum menghina ke arah Kira. Ingin mengalahkannya? Tidak semudah itu.
*
Plak!
Tania menatap geram ke arah putrinya, jemari tangannya mengepal."Bodoh!" bentaknya.
"Aku tidak tahu ternyata dia penipu, ayah juga setuju dengan---" Kata-katanya disela. Tangannya ditarik sang ibu, melempar beberapa dokumen padanya.
"Perusahaan ada dalam krisis saat ini. Ayahmu sedang mencari bantuan pada saudaranya yang tinggal di Kanada. Sedangkan kamu lihat Intan?! Arga tinggal di Australia selama beberapa tahun berhasil memajukan perusahaan ayahnya. Kairan sudah pensiun mengurus perusahaan dia hanya fokus mengurus aset-asetnya! Karena memiliki anak yang berguna!" bentak Tania tidak tahan lagi melihat putrinya.
Lima tahun lalu, perusahaan keluarganya setara dengan perusahaan Sky Control yang dipimpin oleh Arga. Namun saat ini? Tidak hanya tetap ada diposisinya, tapi perusahaannya hampir mengalami kebangkrutan karena putrinya yang mengenalkan seorang penipu pada suaminya.
Sedangkan perusahaan yang masih dipegang Arga mengalami banyak kemajuan, merambah di beberapa bidang. Bahkan bekerja sama dengan perusahaan asing, mengekspor bahan baku dari dalam negeri ke luar negeri.
Ini tidak bisa diterima olehnya, terlalu melakukan jika kembali meminta bantuan Intan.
"Ibu, Arga menyayangiku, dia akan membantu jika aku meminta bantuan padanya," Lisa menatap ke arah ibunya, air matanya mengalir. Tidak tahu keadaan dapat menjadi seburuk ini.
"Terserah padamu saja! Percuma menguliahkanmu di luar negeri! Buang-buang uang!" teriak Tania, keluar dari kamar putrinya, membanting pintu dengan kencang.
Lisa mulai bangkit, membuka lemari pakaiannya. Tangannya mencari sebotol minuman keras bernilai tinggi yang disembunyikannya.
Meminumnya sedikit, air matanya tidak henti-hentinya mengalir. Entah kenapa segalanya terbayang di benaknya.
Anak SMU yang memakai pakaian resmi, seperti biasanya baru datang dari membantu ayahnya di perusahaan."Cuaca lumayan dingin," ucapnya tersenyum membawa payung untuk menjemput dirinya dari kelas tambahan.
Pernah ada kalanya seorang pelayan datang membawa gaun untuknya."Tuan muda, membelikan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk anda."
Merayakan ulang tahun bersamanya. Dirinya hanya berpura-pura tersenyum saat itu. Menginginkan pria lain, menjalin hubungan kasih dengan kakak kelasnya. Walaupun harus diakhiri karena diketahui oleh ibunya.
Ada juga saatnya Arga membelikan tas keluaran terbaru untuknya. Agar digunakan saat hari pertamanya di universitas. Seorang tunangan yang kuliah sambil bekerja di perusahaan. Tidak memiliki banyak waktu untuknya, namun selalu menunjukkan perhatian padanya.
"Sial!" bentaknya, menangis terisak, mengingat segalanya. Kala Arga menyuruhnya keluar duluan dari jendela. Tangannya gemetar saat itu, mungkin inilah saatnya lepas dari tunangan yang selalu menghalangi jalannya. Mengganjal jendela menggunakan kayu tidak ingin tunangan keluar dari kebakaran.
"Lisa! Buka! Lisa!" suara teriakan Arga saat itu, dirinya melangkah pergi meninggalkannya. Hingga akhirnya menatap tubuh yang terkena luka bakar itu berhasil diselamatkan petugas pemadam, dibawa masuk ke dalam ambulance.
Apa Arga dapat memaafkannya? Tentu saja dapat, setidaknya itulah yang ada dalam fikirannya. Tangannya gemetar meminum lebih banyak minuman keras lagi.
Mengapa Lisa dapat berbuat demikian? Ini dimulai saat perjodohan yang dilakukan untuk menyelamatkan perusahaan keluarganya. Pertunangan saat dirinya baru menginjak sekolah menengah pertama. Mulai saat itu kehidupan dikekang oleh Tania.
Pergaulan yang dibatasi, kursus memasak, balet, piano, segalanya hanya demi pantas bersanding dengan Arga. Tania tertawa bersama Intan yang mengatakan Arga akan senang memiliki istri sepertinya.
Dirinya pernah ditampar oleh Tania hanya karena memiliki seorang kekasih ketika SMU. Ibu yang mengatakan apa ada yang lebih sempurna dari Arga untuk menjadi calon suaminya?
Tidak hanya sekali, beberapa kali kejadian serupa dialaminya. Dipaksa mengakhiri hubungan dengan pria lain, karena dirinya telah memiliki Arga sebagai calon suaminya.
Lisa masih menitikkan air matanya meminum minuman keras seteguk demi seteguk. Apa dirinya salah jika egois? Perlahan merindukan perhatian pemuda yang tidak pernah menginginkan tubuhnya itu. Tidak pernah melakukan kontak fisik walaupun hanya berciuman. Mengapa? Arga dulu terlalu fokus pada perusahaan dan studinya.
Kini dirinya mengerti para pria itu hanya menginginkan tubuhnya saja. Tidak ada yang seperti tunangannya, hanya ingin melindunginya layaknya seorang suami pada istrinya.
*
Sementara itu di tempat lain, seperti tekadnya semula. Semua waktu akan diberikan pada istrinya. Tidak peduli hujan menerpa badai menerjang.
Tin! Tin!
"Mau aku antar ke puskesmas?" tanya sang suami. Maaf salah sang selingkuhan telah lengkap menggunakan mantel kelelawar. Akibat hujan angin yang menerpa.
Winata mengenyitkan keningnya, tengah bermain dengan Louis. Menatap sosok pemuda itu dari teras.
Putrinya masuk ke bagian belakang mantel, berboncengan dengan sang pemuda. Motor yang melaju pergi meninggalkan bagian depan rumah.
"Dasar!" Winata hanya dapat menghela napas kasar. Terserah apa yang dilakukan putrinya asalkan putrinya senang itu sudah cukup untuknya.
*
Dingin? Tentu saja ini benar-benar dingin, namun segalanya berkurang kala tangan wanita itu masuk ke kaos yang dikenakannya. Bermain-main di bagian otot perut dan dadanya.
"Liora, hentikan!" pinta Kira, sudah hampir gila rasanya.
"Hentikan? Yakin mau berhenti?" tanya wanita itu. Situasi yang tidak kondusif, di balik jas hujan, bagian pusar pria yang tengah berusaha mengendalikan motor maticnya itu disentuh dibelai pelan, sedikit turun dari bagian pusarnya. Kemudian salah satu tangannya kembali memainkan otot dadanya.
"Aku bisa gila!" Batinnya, tidak tahan dengan ulah nakal istrinya.
Mungkin jarak yang sudah diperkirakan oleh Liora. Jarak puskesmas yang lumayan dekat dengan rumahnya. Wanita itu turun tanpa perasaan bersalah sama sekali. Berbincang dengan seorang dokter tulang yang mungkin satu jam kerja dengan dirinya.
Kira hanya terdiam menelan ludahnya berkali-kali ingin rasanya mengumpat dan berteriak."Aku suamimu! Kapan kamu akan memberikan jatah lagi padaku!" kata-kata yang hanya dapat tertahan.
ada novel nya lagi ga ?
kyk ini belum deh...ok
otw abis ini
ga ada analogi lagi yg lebih absurd dr ini kah🤣🤣🤦
nama cita cita 🤣
kan ga semua bisa terwujud
senior di kalangan bawah
baru diajak main gituan ,tepar
cemeeen🤣🤣🤣
🤣🤣🤣
salah tangkep
ga enak amet nasibnya juan
jadi ceritanya mau playing victim
eh.... ternyata oh ternyata
ga semua impian jadi nyata bukan?
namanya cita cita🤣🤣🤣