Dinikahi kemudian disiksa, begitulah takdir Seruni. Ia harus menerima perjodohan yang memiliki tujuan tersembunyi. Dinikahi hanya dijadikan ibu pengganti. Terkurung dalam sangkar emas penuh derita, apa ia akan bertahan atau malah melawan?
Sebuah kisah yang menguras emosi dan jiwa, bagaimana cara Seruni bisa lepas dari suaminya yang keji seperti iblis tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Talak
The Devil Husband Bagian 35
Oleh Sept
"Nak, sudah! Cuci tanganmu!" seru bu Fatimah berteriak pada mas Erwin dengan sangat antusias. Sedangkan aku, aku masih mencoba mengatur napas. Menasehati diriku sendiri, semua akan baik-baik saja. Itu sudah berlalu. Mas Erwin juga bukan mas Erwin yang dulu, di mana dia punya kuasa yang besar. Seperti nasehat dokter Rian, jalan keluar tidak akan ada selama aku menghindar. Aku harus menghadapi mas Erwin, demi kebaikanku sendiri.
Aku pun masuk bersama bu Fatimah, bahkan saat di masuk ke dalam untuk menyiapkan minuman, aku juga ikut dengan beliau. Kata bu Fatimah mungkin aku sangat kangen, padahal aku hanya menghindar sejenak dari mas Erwin yang sepertinya sudah cuci tangan dan ganti pakaian.
"Kamu duduk saja, Runi. Biar Ibu sendiri."
Aku menggeleng dan mengambil alih gelas serta teko. "Biar Runi saja, Bu."
Bu Fatimah masih menatapku dengan pandangan tidak percaya. Sesekali dia mengusap pundakku, serasa tidak yakin, aku bayi kecil yang dibuang dulu. Aku sekarang sudah jadi dokter, mungkin bu Fatimah juga bertanya-tanya, mengapa wajahku berubah.
Di sebuah ruang khusus, di mana biasanya bu Fatimah menemui tamu-tamunya. Kami bertiga duduk. Aku duduk di sebelah bu Fatimah di sebuah kursi lama, kursi yang sama sebelum aku menikah dulu. Ruangan ini tidak banyak berubah, masih sama seperti dulu.
Bu Fatimah kemudian membuka obrolan terlebih dahulu, dia menyentuh tanganku, kemudian mulai bertanya, "Ke mana saja kamu selama ini? Kami mengira kamu sudah meninggal."
Aku menghela napas panjang, kemudian menatap mas Erwin.
"Seruni hanya ingin hidup, Bu."
Bu Fatimah terlihat kaget. "Apa maksud kamu Seruni?"
Aku yang selalu takut menghadapi masa lalu, saat ini mendongak tinggi menatap mas Erwin. Biar bu Fatimah tahu, biar mas Erwin tahu, apa yang aku rasakan selama ini.
"Tidak hanya mendapat siksaan selama pernikahan, wanita lain mas Erwin juga berniat mencelakai Seruni. Riana bahkan menculik dan membakar Seruni, Bu."
Aku kini menghadap bu Fatimah, rasanya tidak sanggup menatap mas Erwin terlalu lama. Kemarahan dalam diri ini perlahan membuncah, kejadian masa lalu kembali melintas dalam kepala.
Setelah mengantur napas, kulihat bu Fatimah lagi. Bibirnya bergetar, menahan tangis. Jelas bu Fatimah tahu apa yang aku alami. Mungkin mas Erwin sudah cerita. Karena sekarang mas Erwin sepertinya tinggal di panti asuhan.
"Apa mas Erwin sudah certa?" tanyaku kemudian.
Bu Fatimah lantas meraih dan menggenggam tanganku erat. "Maafkan Ibu, Runi ... jika Ibu tidak meminta kalian menikah, pasti ini tidak terjadi padaku," ucap bu Fatimah penuh sesal. Sedangkan mas Erwin, ketika kulirik, hanya tertunduk.
Aku yang benci, masih belum bisa melupakan, langsung saja menyerang mas Erwin.
"Kenapa mas Erwin ada di sini? Apa ingin menunggu aku keluar?" sindirku kasar. Kemudian kutatap penuh benci. Belum cukup rasanya kalau hanya menyindir. Aku pun kembali berkata pedas dan tegas.
"Aku lihat di rumah sakit tempo hari, Mas sangat terobsesi padaku. Kenapa? Apa masih menganggap aku ini istrimu? Dan dengarkan aku, aku muncul kembali karena satu hal. Aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Tidak peduli mas Erwin mau atau tidak. Aku akan segera mengurus semuanya. Aku akan mengajukan gugatan ke pengadilan agama!" tuturku panjang lebar. Ku kira dia langsung menolak tegas seperti dulu, tapi malah diam membisu.
"Apa tidak bisa bersama?" sela bu Fatimah.
"Bu ...!" balasku kaget. Kemudian berdiri dengan tatapan penuh luka.
"Bu Fatimah gak tahu, bagaimana mas Erwin menyakiti aku dulu! Pria ini ... pria yang sekarang berlagak tidak berdaya ini! Dulu ... dulu dia sangat kejamm pada Runi, Bu!" ucapku dengan nada tinggi. Aku mulai terpancing, kalau mengingat masa lalu.
"Runi ... tenang, duduklah!" Bu Fatimah menarik lenganku, terpaksa aku duduk.
"Maafkan aku!"
Aku mencebik, ketika mendengar permintaan maaf dari mas Erwin.
"Setelah apa yang terjadi ... Mas Erwin hanya mengatakan maaf?" tanyaku dengan tatapan nanar.
"Runi!" sela bu Fatimah yang tidak ingin kami ribut.
Aku yang terlanjur loss kontrol, langsung saja melepaskan semua unek-unek dalam hati.
"Mas Erwin pikir semuanya akan selesai dengan kata maaf? Bagaimana denganku? Aku selalu mimpi buruk karena luka yang Mas berikan! Bagaimana bisa! Sampai sekarang pun aku tidak bisa melupakan semuanya ... semuanya!" ucapku setengah berteriak. Untung bu Fatimah langsung memelukku.
"Runi ... tenang Runi."
Bukannya tenang, aku malah menengelamkan wajahku dalam dekapan bu Fatimah sambil tetap merutuki kejadian masa lalu. Sambil terisak aku kembali berbicara.
"Andai Bu Fatimah tahu, betapa kejinya dia dulu, Bu ... dia menganiaya fisik dan batin Runi ... dia mengikatku di atas ranjang, menyentuhku dengan tidak layak, menyiksa dan meninggalkan banyak luka ... belum habis sampai di situ! Dia hadirkan wanita lain Bu! Dia berhubungan di depan Seruni, mereka manusia keji. Sampai sekarang Seruni merasa jijikk pada diri Seruni sendiri ... apa salah jika Runi ingin mereka mendapat balasan yang setimpal! Mereka sudah menyeret Runi dalam neraka!"
Suaraku sampai serak, dan tangis bu Fatimah semakin pecah. Kami berdua, wanita yang tidak punya hubungan darah, tapi memiliki duka yang sama. Mendengar apa yang aku katakan, bu Fatimah sampai sesak. Kami berdua larut dalam isak tangis.
Sesaat kemudian
Mas Erwin sudah bersimpuh di depan kami, baik aku dan bu Fatimah sama sekali tidak peduli. Bu Fatimah yang semula membela mas Erwin, sekarang berganti di sisiku. Sakit hati kami jauh lebih besar. Luka Lama yang baru saja aku buka sekarang, ternyata menimbulkan luka yang sangat basah, perih seperti disiram air cuka.
"Ceraikan Seruni," ucap bu Fatimah yang kemudian membuatku tertegun. Suasana menjadi hening.
"Lepaskan Seruni, jangan persulit. Karena kalian menikah dulu juga baik-baik," tambah bu Fatimah yang sekarang sudah menjadi penengah dan condong padaku.
Mas Erwin menyentuh lututnya, kemudian mencoba berdiri. Mungkin kakinya kesemutan. Kulihat dia meringis menahan sesuatu, lalu berdiri menatapku dengan wajah sendu. Tapi aku tidak mau iba, setelah apa yang terjadi, aku mengeraskan hatiku untuk mas Erwin. Pria itu menatapku, kemudian melihat ke arah bu Fatimah. Lalu kembali memandang ku dengan dalam.
"Baik ... saya talak kamu. Mulai saat ini kamu bukan lagi istriku!"
Mendengar kata talak dari bibir mas Erwin, seketika jantungku berdegup kencang. Tubuhku bergetar, bu Fatimah memelukku sambil menangis. Begitu juga aku, mataku langsung berkaca-kaca. Tanpa sadar bulir bening jatuh begitu saja tanpa bisa ku bendung ...
Apa aku bersedih? Apa aku bahagia akhirnya lepas dari mas Erwin?
BERSAMBUNG
Follow IG author
Sept_September2020
Kenalan sama author gabut. Hehehe
Like/Suka, komentar ya hehhehs
crita uda hampir slesai ko, penderitaannta g habis2