NovelToon NovelToon
TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

TAHANAN DI PELUKAN SANG PSIKOPAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Psikopat
Popularitas:900
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: LABIRIN TANPA CELAH

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar dengan cara yang sangat menyebalkan. Terang, namun tidak memberikan kehangatan bagi Ghea. Adrian masuk ke kamar dengan setelan kasual namun tetap rapi, membawa kursi roda yang kini menjadi kaki pengganti bagi Ghea.

"Sudah siap melihat 'kerajaan' kita, Sayang?" tanya Adrian dengan senyum yang tidak pernah pudar.

Ghea hanya mengangguk pelan. Ia sudah memutuskan untuk bersikap pasif. Baginya, setiap detik di luar kamar adalah kesempatan untuk melakukan observasi. Adrian membantu Ghea pindah ke kursi roda, lalu mendorongnya keluar.

"Villa ini dibangun dengan sistem keamanan tingkat militer," Adrian memulai penjelasannya sambil menyusuri koridor lantai dua. "Aku tidak ingin ada gangguan dari luar, dan aku tidak ingin kau tersesat."

Mereka berhenti di depan sebuah jendela besar yang menghadap ke arah hutan pinus yang lebat. Adrian menyentuh bingkai jendela itu. "Lihat ini."

Ghea melihat sebuah garis tipis transparan yang tertanam di kaca. "Sensor getaran dan panas," gumam Ghea tanpa sadar.

Adrian tertawa kecil, terdengar bangga.

"Benar. Insting detektifmu memang luar biasa. Jika kaca ini pecah, atau bahkan hanya retak sedikit, alarm akan langsung berbunyi dan seluruh pintu akan terkunci secara otomatis. Tidak ada jalan keluar lewat jendela, Ghea. Hutan di luar sana juga dipasang kamera termal. Bahkan seekor kelinci yang melintas pun bisa ku pantau dari ruang kerjaku."

Ghea menatap hutan di luar. Pohon-pohon itu terlihat sangat jauh. Tanpa sepatu dan dengan kondisi kaki yang cedera, melarikan diri lewat sana tampak seperti bunuh diri.

"Ayo, kita ke lantai bawah," ajak Adrian.

Mereka menggunakan lift kecil yang tersembunyi di balik dinding kayu. Di lantai bawah, Adrian membawa Ghea menuju pintu utama yang terbuat dari baja berlapis kayu ek yang tebal. Tidak ada lubang kunci konvensional di sana. Hanya ada sebuah panel hitam kecil yang berkilau.

"Pintu luar," Adrian menunjuk panel itu. "Hanya bisa dibuka dengan sidik jariku atau pemindaian retina. Kode numerik pun tidak akan mempan. Jadi, bahkan jika kau berhasil melumpuhkan ku, kau tetap akan terjebak di dalam sini bersamaku."

Ghea menelan ludah. Ia memperhatikan jari jempol Adrian saat menyentuh panel tersebut. Lampu hijau menyala, dan suara klik mekanis yang berat terdengar. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan udara dingin dari luar.

"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Ghea lirih. "Jika kau mencintaiku, kenapa kau harus memasang sensor di mana-mana?"

Adrian berjongkok di depan kursi roda Ghea, memegang kedua tangan Ghea yang dingin. "Dunia luar sudah menganggap mu mati, Ghea. Jika kau keluar dari sini, kau bukan lagi siapa-siapa. Kau hanya akan menjadi target bagi orang-orang yang dulu pernah kau tangkap. Di sini, kau aman. Aku hanya ingin memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa mencuri mu dariku."

Adrian kemudian bangkit dan mendorong Ghea menuju area belakang, melewati ruang tengah yang luas. Ghea melihat sebuah layar monitor besar yang tersembunyi di balik lukisan yang bergeser. Layar itu menampilkan belasan sudut villa, termasuk kamar tidur Ghea.

"Kau mengawasiku... bahkan saat aku tidur?" Ghea merasa mual.

"Hanya untuk memastikan kau tidak jatuh dari tempat tidur atau membutuhkan sesuatu di tengah malam," jawab Adrian tanpa rasa bersalah.

Mereka sampai di beranda belakang yang menghadap ke kolam renang dan taman kecil yang dikelilingi pagar tinggi. Di sana, Adrian menghentikan kursi roda Ghea.

"Ada satu hal lagi yang harus kau tahu, Ghea," Adrian membungkuk, membisikkan sesuatu yang membuat darah Ghea terasa membeku. "Dunia luar sudah menghapus namamu. Polisi sudah menutup kasusmu sebagai 'Kematian dalam Tugas'. Tidak ada lagi yang mencarimu. Kau sekarang hanya ada di dalam database-ku."

Ghea mencengkeram lengan kursi rodanya. "Kau bohong. Tidak mungkin semua orang melupakanku begitu saja."

"Kau mau bukti?" Adrian mengeluarkan sebuah tablet dari saku kemejanya. Ia membuka sebuah laman berita kepolisian. Di sana terpampang foto Ghea dengan pita hitam di sudutnya.

'Penghormatan Terakhir untuk Detektif Ghea Zanna: Gugur dalam Pengejaran Pembunuh Berantai.'

Ghea menatap layar itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melihat foto teman-temannya yang berdiri di depan sebuah peti mati yang tertutup rapat. Mereka semua tertipu. Dunianya benar-benar telah hilang.

"Sekarang kau paham, kan?" Adrian mengusap pipi Ghea. "Hanya aku yang kau miliki sekarang. Hanya tempat ini yang menerimamu apa adanya."

Ghea tidak menjawab. Ia menunduk, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang pucat. Adrian mengira Ghea sudah menyerah, pria itu tersenyum puas dan mencium puncak kepalanya sebelum pergi ke dapur untuk mengambilkan minum.

Namun, di balik tundukan kepalanya, mata Ghea justru terlihat sangat tajam. Pikirannya tidak sedang menangis. Ia baru saja menyadari sesuatu saat Adrian membuka pintu utama tadi.

Sidik jari.

Adrian bilang hanya jarinya yang bisa membuka pintu. Ghea melirik tangan kanannya sendiri yang tersembunyi di balik kain gaun. Ia masih menyimpan garpu kecil yang ia curi semalam di dalam saku rahasia gaunnya. Ia tahu ia tidak bisa meretas sistem atau mendobrak pintu baja itu.

Tapi, ia mulai memutar otak. Jika pintu itu hanya butuh sidik jari Adrian, maka ia harus menemukan cara untuk "meminjam" sidik jari itu atau memaksa Adrian memberikannya.

"Kau ingin aku menjadi milikmu, Adrian?" batin Ghea dalam diam. "Baiklah. Aku akan menjadi milikmu yang paling penurut, sampai kau lupa bahwa seorang detektif tidak pernah benar-benar menyerah pada mangsanya."

Adrian kembali dengan segelas air, tidak menyadari bahwa mangsanya baru saja mulai menyusun rencana untuk menghancurkan sangkar emas ini dari dalam.

1
sun
sinopsisnya bagus thor,tapi kalau untuk penulisannya kurang bagus,karena banyak kata yang hilang dan tidak nyambung.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....
Leebit: makasih ya atas komentarnya. sya usahakan bab 2 lebih baik lagi😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!