Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.
Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.
Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.
Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.
Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Selamat Jalan
Bianca sedang mematut diri di depan kaca. Hari Minggu pagi ini dia sudah minta ijin pada mama Lisa akan ikut mengantar Arya ke bandara bersama Mia dan Della. Setelah pulang dari bandara, Bianca memastikan akan langsung ke rumah sakit.
Bianca melirik jam dinding di kamarnya. Masih ada waktu 30 menit sebelum Mia dan Della menjemputnya dengan mobil Mia.
Pantas saja Arya mengundang banyak teman sekolah dua hari yang lalu di cafe, ternyata hari Minggu siang ini Arya akan berangkat ke London untuk melanjutkan kuliah.
Bianca bersiap-siap memeriksa kunci jendela dan pintu. Pintu utama sudah dia kunci juga karena Bianca memutuskan menunggu di teras. Tangannya asyik memainkan handphone.
Arya : Elo pasti datang anter gue kan ?
Ting Satu pesan dmasuk di handphoen Bianca membuat gadis itu tersenyum.
Bianca : iya ..iya… Bawel banget ya Kang Arya 😜😜😜 Kayak sama mantan aja sih. 😂😂
Arya : Maunya bukan jadi mantan tapi pacar beneran kalo perlu istri beneran 😘😘
Bianca : Dih dikasih ati minta ampla 😱😱
Arya : Kalo ada kesempatan kenapa nggak. Awas ya kalo nggak dateng, putuslah pertemanan
Bianca : Duh jangan gitu dong abang ganteng
Arya : Akhirnya ngakuin juga gue ganteng. Awas jatuh cinta 😝😝
Bianca tersenyum sendiri membaca pesan Arya. Sepertinya cowok itu masih belum patah semangat. Baru saja Bianca akan mengetik balasan, panggilan dari nomor Bernard terlihat di layar handphonenya.
“Halo.” Bianca mendekatkan handphone ke telinganya.
“Kak, cepat datang ke rumah sakit ya. Sekarang !”
“Kenapa Ben ? Papa…” Belum sempat Bianca menyelesaikan kalimatnya, sambungan telepon sudah diputus oleh Bernard.
“Bi, udah siap ?” Della sudah berdiri di gerbang.
Bianca bergegas bangun dan menghampiri Della lalu cepat-cepat menggembok gerbang. Hatinya mendadak gelisah.
“Del, sorry gue nggak bisa ikut ke bandara. Barusan Bernard telepon dan minta gue langsung ke rumah sakit .”
“Kenapa Bi ?” Mia membuka kaca dari kursi pengemudi dan sedikit melongokan kepalanya.
“Gue harus ke rumah sakit, Mi. Kalau kalian mau pergi…”
“Udah cepetan naik !” Mia memberi kode pada Bianca dan Della.
“Tapi Mi…”
“Udah ayo cepetan !” Della menarik tangan Bianca dan membukakan pintu penumpang belakang, dia sendiri duduk di depan sebelah Mia.
“Lebih penting ke rumah sakit dulu daripada anterin Arya. Lagian dia juga masih siang kan jam 1 janjiannya.”
Bianca hanya mengangguk sambil menatap Mia dari spion tengah. Kedua jemarinya saling meremat karena perasaan gelisah menyelimutinya.
“Mia, Della.” Suara Bianca terdengar lirih. Air mata masih menetes pelan dari kedua matanya.
“Kalau terjadi sesuatu, tolong jangan bilang ke Arya atau siapapun teman kita.”
“Loh memangnya kenapa Bi ?” Della memutar badannya menatap Bianca yang duduk di tengah kursi belakang.
“Bukan nggak mungkin Arya batalin keberangkatannya. Elo pada tau sendiri kan gimana gila dan nekadnya tuh anak.”
Mia hanya menggangguk sambil menatap dari spion tengah dan Della pun sama sambil kembali ke posisi semula.
30 menit akhirnya mobil Mia sampai di rumah sakit. Mia menghentikan mobilnya tepat di pintu lobby.
“Elo turun dulu sama Della, gue cari parkiran. Nanti gue nyusul.”
“Thankyou Mi.” Bianca menepuk bahu Mia sebelum membuka pintu.
Setengah berlari keduanya langsung menuju lift. Melihat cukup ramai antrian di depan lift karena memang menjelang jam besuk, Della mengajak Bianca naik ke lantai 2 lewat tangga biasa.
Tepat saat kakinya menginjak lantai 2, ponsel Bianca berbunyi.
“Iya Ben. Aku baru sampai di rumah sakit. Sudah di lantai 2.”
“Kak !” Bernard memanggil dari dekat ruang tunggu sambil melambaikan tangannya.
“Gue masuk dulu Del.” Bianca pamit karena Bernard langsung menarik tangannya. Della hanya mengangguk dan memberi kode tangannya supaya Bianca bergegas.
Bernard mengajak Bianca ke pintu lain di samping ruang ICU. Setelah mengenakan baju tambahan khusus ruangan ICU, Bianca masuk ker ruangan yang ternyata merupakan kamar tindakan khusus. Hanya ada papa Indra terbaring di sana dan mama Lisa duduk di sampingnya sambil menangis.
“Ma.” Bianca merangkul bahu mama Lisa.
Mama Lisa menggenggam tangan Bianca di bahunya. Bernard berdiri mendekat merangkul bahu mama Lisa dan Bianca.
“Gimana papa, ma ?” Lirih Bianca.
Mama hanya menggeleng dan tambah menangis membuat Bianca yang berusaha tegar akhirnya ikut menangis.
Tidak lama 2 orang dokter dan 2 orang perawat masuk ke dalam ruangan berpakaian lengkap.
Tiba-tiba papa Indra perlahan membuka matanya.
“Ma, papa sadar.” Bernard spontan mempererat pelukannya di bahu mama Lisa dan Bianca.
Kedua wanita yang tertunduk sambil menangis langsung menoleh menatap papa Indra yang sudah terbuka matanya.
Salah seorang dokter mendekat dan mengecek beberapa alat medis yang tersambung dengan papa Indra.
“Pa.” Mama Lisa dan Bianca memanggil sambil menyentuh telapak tangan papa Indra bersamaan.
Papa Indra hanya tersenyum dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Seperti kata dokter bahwa sebagian tubuh papa Indra mengalami kelumpuhan.
Bernard pun mendekat dan melihat papa Indra kembali tersenyum sambil mengerjap beberapa kali.
“Papa cepat sembuh ya.” Bianca mengelus pelan lengan papa Indra.
Kesadaran papa Indra membuat istri dan anak-anaknya merasa bahagia, apalagi sebelum dibawa ke kamar tindakan kondisinya sempat drop makanya Bianca segera dipanggil ke rumah sakit. Namun ternyata kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Karena sesudahnya papa Indra kembali memejamkan mata dan alat pendeteksi jantung berubah bunyi menjadi tidak beraturan.
Seorang dokter yang lain segera menghampiri dan perawat meminta supaya mama Lisa, Bianca dan Bernard menepi.
Segala usaha dilakukan tapi Tuhan punya rencana lain. Di depan keluarganya akhirnya papa Indra menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kesadarannya yang hanya hitungan menit seolah pamitan terakhir sebelum benar-benar meninggalkan mereka.
Bianca tidak mampu mengendalikan emosinya. Dia menjerit memanggil-manggil papa Indra yang sudah terbaring kaku. Bernard mencoba memeluk kakaknya yang sedikit histeris. Mama Lisa pun mengusap bahu Bianca untuk menenangkannya.
“Tenang sayang,” mama mengusap punggung Bianca saat gadis itu mulai lebih tenang.
“Iklhlaskan hatimu.” ‘Mama Lisa yang berusaha tegar langsung memeluk tubuh Bianca dan keduanya saling bertangisan.
Bernard pun tidak sanggup menahan air matanya. Dia menghampiri dokter yang sudah mengeluarkan pernyataan mengenai meninggalnya papa Indra.
Saat ini ketiganya sudah berada di area depan ruang ICU. Mia dan Della duduk mendapingi Bianca sambil memeluk gadis itu. Bernard dan mama Lisa menemui wakil dari Om Himawan yang memang dipercayakan siap di rumah sakit menggantikan Om Hendra.
Drrtt drrrttt
Della mengeluarkan ponsel yang ada dalam tas Bianca yang dipegang olehnya. Tertera nama Arya di sana. Della menyodorkan handphone itu ke Bianca yang dijawab dengan gelengan.
“Matiin aja.” Lirih Bianca.
Setelah sambungan di handphone Bianca tidak terjawab, Arya mencoba menghubungi Mia.
“Gimana Bi ?” Mia mengulurkan handphonenya memperlihatkan nama Arya di sana.
“Udah matiin aja.” Della yang menyahut.
“Tolong handphone gue, Del.” Bianca mengulurkan tangannya.
Terlihat dia mengetik pesan sambil menarik nafas panjang beberapa kali.
“Elo bilang ke Arya ?” Bianca menggeleng menjawab pertanyaan Mia.
“Gue cuma wa kalo gue nggak bisa datang ke bandara. Sekalian wa ke Om Hendra minta tolong supaya masalah ini jangan kasih tahu Arya dulu.”
Bianca berhenti bicara sejenak dan membaca balasan dari Arya tanpa membuka nama Arya di handphonenya.
“Gue yakin orangnya Om Himawan udah laporan. Om Hendra kan nemenin Arya berangkat, jadi gue minta Om Hendra bisa mencari cara Arya biar nggak tau dulu.”
Ketiganya memutuskan untuk mematikan handphone mereka supaya tidak ada celah buat Arya menghubungi mereka.
Dan hari itu juga, jenazah papa Indra dibawa ke salah satu rumah duka yang ada di Jakarta. Beliau tidak langsung dimakamkan karena masih menunggu beberapa keluarga yang akan datang dari luar kota.
Selamat jalan papa ! Bibi yakin kalau papa nggak akan kesakitan lagi. Bibi juga yakin kalau papa akan diberikan tempat terbaik di surga. Bibi sayang sama papa, Bibi akan selalu kangen sama papa. Bibi janji akan menjadi anak kebanggaan papa dan menjaga mama serta Ben dengan baik.
Bianca memejamkan matanya dan membiarkan airmata kembali mengalir sambil mengucapkan doa dalam hatinya.