NovelToon NovelToon
TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Kim

Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.

Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.

Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.

Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.

Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan terakhir

Beberapa bulan kemudian...

Sejak satu minggu terakhir, kondisi Aditya Wiratama terus menurun. Kanker paru-paru yang selama ini ia lawan akhirnya membuat tubuhnya menyerah.

Pagi itu, ia masih terbaring kritis di ruang VVIP sebuah rumah sakit besar di Jakarta, tubuhnya kurus, kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya.

Dulu ia dikenal sebagai sosok yang gagah dan berwibawa, sekarang napasnya saja terdengar berat, dan kini harus terhubung dengan berbagai alat medis.

Keisha duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan suaminya yang dingin. Matanya sembab, wajahnya lelah karena hampir tidak tidur sejak seminggu lalu. Bibirnya bergerak pelan, tak henti berdoa.

“Tuhan... sembuhkan lah suamiku,” bisik Keisha lirih. “Kalau masih ada waktu untuk kami, beri dia kekuatan. Jangan ambil dia sekarang. Aku masih ingin dia ada di sini.”

Air mata jatuh satu per satu ke punggung tangan Aditya.

“Pah...kamu dengar, kan? Kamu harus bangun. Aku masih butuh kamu. Kaivan juga butuh kamu.”

Di sisi lain ranjang, Kaivan berdiri memandangi ayahnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat kusut. Ia meraih tangan Aditya yang lain dan menggenggamnya erat.

“Papah,” ucap Kaivan pelan, menahan getar di suaranya. “Papah harus bangun. Masih banyak hal yang mau Kai ceritakan. Proyek yang lagi Kai kerjakan, rencana-rencana yang belum sempat Kai bilang ke Papah.”

Kaivan menunduk sedikit dan lebih mendekat. “Papah kalau bangun, Kai janji bakal nurut. Apa pun yang Papah mau, Kai lakukan. Asal Papah jangan tinggalin kami dulu.”

Tak ada jawaban. Hanya bunyi alat medis yang memecah kesunyian.

Kaivan menghela napas panjang, lalu menatap ibunya. “Mah, Kai ke kantor sebentar, ada rapat. Nanti pas jam istirahat Kai balik lagi ke sini.”

Keisha mengangguk pelan. “Hati-hati di jalan, Nak. Jangan ngebut bawa mobilnya.”

“Iya, Mah.”

Kaivan duduk di ruang rapat Wiratama Group. Meja panjang berlapis kaca dipenuhi tablet, laptop, dan berkas-berkas proyek.

Di layar besar di ujung ruangan terpampang peta kawasan yang akan dibangun menjadi kompleks perumahan baru.

“Target kita menyelesaikan tahap pertama dalam delapan belas bulan. Lokasinya strategis, dekat pintu tol dan pusat kota. Potensi kenaikan nilai propertinya tinggi,”ujar Hendra, manajer proyek sambil menunjuk layar.

Kaivan mengangguk tipis. “Delapan belas bulan itu cukup cepat. Semua risikonya sudah dihitung?”

“Sudah, Pak,” jawab Hendra cepat. “Kami hitung berdasarkan kondisi lahan yang relatif datar dan akses logistik yang mudah.”

“Kalau begitu,” Kaivan menoleh ke sisi lain meja, “Bagaimana dengan anggaran tahap pertama?”

“Untuk anggaran tahap pertama, kami perkirakan sekitar lima ratus miliar. Laba bersih perusahaan masih tergolong tinggi,” ujar Rudi dari bagian keuangan angkat bicara.

Kaivan menatap Rudi serius. “Angka itu sudah termasuk cadangan untuk biaya tak terduga?”

“Sudah, Pak. Kami sisipkan sekitar sepuluh persen untuk antisipasi.”

Kaivan mengangguk lagi. “Baik. Jangan sampai kita mengorbankan kualitas hanya demi mengejar target.”

Hendra kembali menampilkan slide berikutnya. “Untuk desain, kami mengusung konsep hunian modern dengan ruang hijau cukup luas. Ini akan jadi nilai jual utama.”

“Pastikan konsep itu benar-benar diterapkan, bukan cuma di brosur. Konsumen sekarang lebih kritis,” potong Kaivan.

“Dipahami, Pak,” kata Hendra.

Suasana rapat terus berjalan, suara para eksekutif saling bergantian memaparkan detail demi detail.

Kaivan mendengarkan, sesekali mengajukan pertanyaan tajam, meski pikirannya melayang ke kondisi ayahnya.

Tiba-tiba Sandy, asistennya, melangkah mendekat dan membungkuk sedikit di sampingnya. Dengan suara sangat pelan, ia berbisik, “Maaf Pak, Pak Aditya sudah sadar.”

Kaivan tersentak. Tatapannya langsung berubah. “Apa katamu? Papa saya sudah sadar?”

Sandy mengangguk. “Pihak rumah sakit baru saja menelepon.”

Kaivan berdiri begitu saja, membuat semua orang di ruangan itu menatap ke arahnya. “Maaf. Rapat kita hentikan di sini. Kita lanjutkan besok,” ucapnya tegas.

“Pak, tapi kita belum—” Ucapan Hendra langsung di potong Kaivan.

“Saya katakan besok!”

Kaivan melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat, meninggalkan para eksekutif yang saling berpandangan.

Ia berjalan ke basement parkir. Beberapa menit kemudian mobilnya sudah melaju kencang menuju rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, Kaivan hampir berlari menuju ruang VVIP tempat Ayahnya di rawat.

Pintu terbuka, dan benar saja, Aditya kini sudah membuka mata, meski tubuhnya masih lemah dan tak banyak bergerak. Keisha berdiri di samping ranjang, tapi wajahnya justru terlihat murung.

“Pah...” Kaivan mendekat, menggenggam tangan ayahnya. “Akhirnya Papah sadar.”

Aditya menoleh sedikit. Suaranya terdengar sangat lemah. “Kai...”

“Iya, Pah. Kai di sini.”

“Papah punya satu permintaan sama kamu.”

Kaivan menelan ludah. Bertanya-tanya apakah permintaan dari ayahnya itu. “Papah mau apa? Selama Kai sanggup, akan Kai lakukan.”

“Papah ingin kamu menikahi anak sahabat Papah.”

Mata Kaivan membulat dan langsung terpaku beberapa detik. “M–menikah?”

Aditya mengangguk lemah. “Papah mau lihat kamu menikah sebelum Papah pergi.”

“Pah, jangan ngomong seperti itu,” sela Keisha dengan mata berkaca-kaca.

Kaivan menarik napas. “Pah... kalau permintaan Papah yang lain Kai akan turuti, tapi jangan ini. Kai belum ada kepikiran untuk menikah.”

Aditya menatap putranya, matanya sayu tapi penuh harap. “Anggap saja ini permintaan terakhir Papah.”

Kaivan terdiam cukup lama, entah apa yang dipikirkannya sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik. Kai mau kalau itu bikin Papah senang. Tapi Papah harus sehat.”

Aditya tersenyum tipis, lalu matanya kembali terpejam.

Beberapa saat kemudian, Keisha mengajak Kaivan keluar sebentar ke kafetaria rumah sakit.

“Calon istrimu bernama Ravela Natakusuma. Umurnya dua puluh delapan tahun. Dia seorang tentara–”

Kaivan langsung menoleh memotong ucapan Keisha. “Apa? Seorang tentara?” tanyanya kaget.

“Iya. Ravela memang seorang tentara.”

“Mah, yang benar saja. Dari dulu kan Mamah tahu aku paling tidak suka dengan profesi itu. Dan sekarang aku malah disuruh menikahi tentara?” ucap Kaivan kesal.

“Terus kenapa? Ada masalah?”

Kaivan menghela napas panjang. “Kai cuma takut, Mah.”

“Apa yang kamu takutkan?” tanya Keisha.

“Kai takut menikah dengan tentara karena pasti dia akan lebih memilih tugas daripada suaminya sendiri. Dan lebih dari itu, Kai takut merasa tidak dibutuhkan,” jawab Kaivan jujur.

Keisha menghela napas dalam, seolah menimbang kata-katanya. “Kai... Mamah mengerti ketakutanmu. Mamah tidak akan memaksamu langsung menerimanya,” ucapnya pelan.

Keisha menatap Kaivan lebih dalam. “Tapi kamu ingat apa yang kamu ucapkan di samping ranjang Papah mu tadi?” tanyanya.

Kaivan menegang.

“Kamu bilang akan melakukan apa pun yang Papah minta, asal Papah sehat,” lanjut Keisha dengan suara yang bergetar. “Dan permintaan itu sangat berarti bagi Papah.”

Kaivan menunduk, rahangnya mengeras.

“Mamah tidak sedang menakut-nakuti kamu. Tapi kondisi Papah mu saat ini sedang kritis. Setiap harapan kecil menjadi pegangan untuknya bertahan,” kata Keisha cepat, suaranya melembut lagi.

Keisha menggenggam tangan Kaivan perlahan. “Kalau kamu menarik kata-katamu sekarang Mamah takut itu justru membuat Papah kehilangan semangatnya.”

Malam harinya, di kamar luas bernuansa hitam dan abu, Kaivan tengah duduk bersandar di headboard ranjang.

Ponselnya masih ada di tangannya, layar menampilkan sebuah foto yang baru saja dikirimkan oleh Ibunya beberapa menit lalu.

Itu foto Ravela, yang akan menjadi calon istrinya.

Usai perdebatan panjang dengan Keisha, Kaivan akhirnya menerima perjodohan tersebut demi sang ayah.

Dalam pesan itu Keisha berkata.

“Ini foto calon istri mu. Foto ini diambil waktu dia baru lulus di sekolah perwira dulu. Mamah tidak punya foto dia yang sekarang.”

Di foto itu, Ravela mengenakan seragam taruna. Rambutnya dipotong pendek, wajahnya terlihat tegas, kulitnya tampak lebih gelap karena sering berada di lapangan. Tatapannya lurus ke kamera, tanpa senyum.

Kaivan menggeser ponselnya sedikit, menatap foto itu lebih lama. “Ini yang akan jadi calon istriku?” gumamnya pelan.

Ia menghela napasnya berat terdengar frustasi. “Mamah bilang dia cantik, tapi lihat ini, bahkan dia terlihat sangat kaku..."

Kaivan menatap langit-langit kamarnya, “Aku tidak pernah membayangkan akan menikahi seorang Tentara,” ucapnya pelan, nada suaranya penuh campuran tak percaya dan kesal.

Kaivan menutup ponsel, meletakkannya di meja nakas. “Sebenarnya aku ingin menolak. Tapi ini permintaan Papah dan aku tidak bisa menolak permintaannya.”

Ia memejamkan mata sejenak. Ingatannya tiba-tiba melompat pada sebuah insiden kecil dengan sosok tentara perempuan waktu itu.

Kaivan langsung menggelengkan kepala. “Kenapa tiba-tiba aku malah kepikiran tentara itu,” gumamnya pelan.

1
Raja Tampan
tinggal kaivan yg blm selesai tgsnya
Raja Tampan
bruan dftrkan pernikahan kalian ke pgadilan agama biar sah semua
Raja Tampan
untng sj kirana tdk bocor
Raja Tampan
ngk liat tmpt mas kaivan🤣👍
Raja Tampan
smua cwok d sukai sm tari, trlalu pd
Sunaryati
Makanya cepat- cepat diurus sesuai aturan negara, untuk nikah secara resmi
Sinchan Gabut
lah, apa hub status tentara sama di gombalin suami Vel Vel... melemah d gombalin cwo lain baru salah 🤣🤣
Sinchan Gabut
Bangun Tari bangun... perlu di guyang air seember? 😏🤣
Kreatif Sendiri
terharu
Alessandro
pas mendung..... bab ini 🙈
Mutia Kim🍑: Hussttt😂
total 1 replies
Alessandro
kamu yg stromg aja meleleh, vela. gmn pembaca ini... meleyot lah pasti
Sunaryati
Kirain Kirana akan marah, syukur dia malah senang. Kalian jangan bersentuhan terlalu jauh sebelum sah di mata hukum.
Mutia Kim🍑: Huhuhu iya kak😭
total 1 replies
tami
plot twist nya bakal lucu kalo suaranya ga merdu 🤣
tami
jirr pede banget tuh si tari 😭
Sinchan Gabut
Gimana, gimana? Sudah SAH tp masih mikir di kira jd wanita gampangan? kalau km g hobah yg ada laki mu yg pindah haluan Vel...
Sinchan Gabut
Bagus Pak Kai, biar sekali2 Vella jg tau kalau lakinya jg butuh penjelasan 😏
Gisha Putri🌛
Tari kepedean bgt🥴
Aruna02
sabar buuu jangan ketus ketus loh 🤪
Aruna02
biarin atuh bangun juga 🤣🤣💋
Pengabdi Uji
Ah elah VELAA kentang bgt gue dibuatnya😌🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!