Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Malam Pengantin yang Berdarah
Desing peluru memecah kaca jendela di lantai bawah, diikuti suara benturan keras yang menandakan seseorang telah berhasil menjebol pintu utama. Maya meringkuk di sudut kamar, memeluk kunci kuno itu erat-erat. Jantungnya berpacu liar. Ini bukan lagi sekadar intrik perusahaan; ini adalah upaya pembunuhan.
Arlan berdiri di ambang pintu kamar, tangannya memegang senjata dengan kemahiran yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Tatapannya dingin, waspada, seolah ia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Maya, masuk ke dalam walk-in closet! Kunci dari dalam dan jangan keluar sampai aku yang memanggil!" perintah Arlan tanpa menoleh.
"Lan, siapa mereka? Apa ini orang-orang Paman Hendra?" suara Maya bergetar.
"Ini lebih besar dari Hendra, May. Cepat masuk!"
Begitu Maya mengunci diri di dalam ruangan sempit itu, ia bisa mendengar rentetan tembakan dari koridor luar. Suara teriakan, langkah kaki yang berat, dan bunyi hantaman tubuh ke dinding kayu yang mahal. Maya menutup telinganya, air mata mengalir deras. Mengapa kebahagiaan selalu terasa seperti fatamorgana bagi mereka?
Setelah sepuluh menit yang terasa seperti selamanya, keheningan mencekam kembali menyelimuti rumah. Maya menahan napas. Tiba-tiba, pintu walk-in closet diketuk tiga kali dengan pola tertentu.
"Maya... ini aku. Buka pintunya."
Maya membuka pintu dan mendapati Arlan berdiri dengan napas tersenggal. Ada bercak darah di kemeja putihnya yang tadi ia gunakan untuk akad nikah. Arlan tampak seperti malaikat maut yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
"Kamu terluka?" Maya segera memeriksa tubuh Arlan dengan panik.
"Bukan darahku," jawab Arlan singkat. Ia menarik tangan Maya. "Kita harus pergi dari sini sekarang. Rumah ini sudah tidak aman. Mereka akan mengirim lebih banyak orang."
"Siapa 'mereka', Arlan?!" Maya berhenti melangkah, menuntut jawaban. "Dan sejak kapan kamu bisa menggunakan senjata seperti itu? Kamu bukan cuma arsitek, kan?"
Arlan menatap Maya dengan tatapan yang penuh dengan kepahitan. "Ayahku mendirikan Dirgantara Group sebagai kedok, Maya. Di baliknya, ada jaringan yang jauh lebih gelap yang melibatkan kontrak militer dan pengadaan senjata lewat 'Proyek Merapi'. Dan aku... aku dilatih untuk melindungi aset itu sejak aku remaja."
Dunia Maya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Pria yang ia cintai bukan hanya menyimpan rahasia tentang ayahnya, tapi juga tentang identitas dirinya sendiri.
Mereka keluar melalui pintu rahasia di ruang bawah tanah yang menuju ke area hutan di belakang rumah. Sebuah mobil hitam off-road sudah menunggu di sana, dengan seorang pria bertubuh kekar di balik kemudi. Maya mengenali pria itu—dia adalah salah satu asisten pribadi Arlan yang selama ini ia kira hanya seorang kurir.
"Ke aman, Bos?" tanya pria itu.
"Ke lokasi 'Gudang 7', sekarang!" perintah Arlan.
Selama perjalanan, suasana di dalam mobil begitu dingin. Arlan sibuk memeriksa ponselnya yang terus berdering, sementara Maya menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kota Bandung yang menjauh. Ia merogoh saku gaun pengantinnya yang robek dan mengeluarkan kunci kuno itu.
"Kunci ini... untuk apa, Lan?" tanya Maya pelan.
Arlan melirik kunci itu, lalu menghela napas panjang. "Itu kunci menuju brankas cadangan di Gudang 7. Ayahmu memberikan itu pada ibumu sebelum dia ditangkap. Isinya adalah daftar nama asli para petinggi yang terlibat dalam Proyek Merapi. Nama-nama yang bahkan Hendra pun tidak tahu."
"Jadi Ayahku dipenjara bukan cuma untuk melindungimu, tapi untuk melindungi seluruh jaringan ini?" Maya tertawa pahit. "Kalian semua pembohong."
"Maya, dengarkan aku—"
"Berhenti, Arlan! Jangan sentuh aku!" bentak Maya saat Arlan mencoba meraih tangannya. "Aku tidak tahu lagi siapa kamu. Pria yang menikahiku pagi tadi terasa seperti orang asing yang paling mengerikan."
Tiba-tiba, mobil mereka dihantam keras dari samping oleh sebuah truk besar. Mobil mereka terpelanting, terguling beberapa kali hingga akhirnya berhenti dalam posisi terbalik di pinggir jurang.
Pandangan Maya kabur. Kepalanya terasa sangat berat dan ada cairan hangat mengalir di pelipisnya. Di tengah kesadarannya yang mulai menghilang, ia melihat Arlan mencoba merangkak keluar dari reruntuhan mobil, sementara beberapa orang bersenjata mulai mendekati mereka dengan senter yang menyilaukan.
Salah satu dari mereka mengenakan sepatu bot yang mengilap, melangkah mendekati Maya yang setengah sadar. Pria itu berlutut dan mengambil kunci kuno yang terlepas dari tangan Maya.
"Terima kasih untuk kuncinya, Nona Dirgantara," suara pria itu berat dan berwibawa.
Maya mencoba melihat wajahnya, namun matanya terlalu kabur. Sebelum ia benar-benar pingsan, ia sempat mendengar Arlan berteriak penuh amarah, diikuti suara pukulan keras.