NovelToon NovelToon
Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Sisi Gelap Dunia Anak SMA

Status: tamat
Genre:Teen / Komedi / Misteri / Masalah Pertumbuhan / Bad Boy / Persahabatan / Teen School/College / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Auraliv

Peringatan! Novel coming of age.
Terinspirasi dari kisah nyata.

Kehidupan remaja tidak hanya di isi masa-masa manis, tetapi juga pahit. Di sini kita akan mengulik sisi berandal dari kehidupan anak SMA. Cerita ini mengangkat tema tentang kenakalan remaja.

Raffi Hannes merupakan remaja yang populer tampan, supel dan punya segudang prestasi. Seperti remaja pada umumnya, Raffi penasaran akan banyak hal. Dia merupakan anak baik-baik yang lambat laun berubah karena rasa penasarannya itu.

Dari mulai ketidaksengajaan mengkonsumsi obat terlarang, membully, hingga pergaulan bebas. Semuanya pernah dilakukan Raffi karena berada di lingkaran pertemanan yang super toxic. Apakah Raffi mampu mengendalikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auraliv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Pembicaraan Raffi & Gamal

...༻☆༺...

Dua alis Raffi hampir bertautan. Terutama saat mendengar imbuhan Gamal. Dia sama sekali tidak mengerti, kenapa Gamal tiba-tiba menyebut dirinya nakal.

"Siapa yang nakal?" tanya Elsa. Ia sepenuhnya telah selesai membaca buku menu.

"Nggak ada kok. Lupain aja," jawab Gamal sembari menatap Raffi dan Elsa secara bergantian.

"Kalian habis dari mana?" Zara tiba-tiba bertanya.

Raffi dan Elsa awalnya terdiam. Keduanya saling bertatapan karena sama-sama bingung harus menjawab apa.

"Ha-habis jalan-jalan doang kok." Elsa memberikan alasan asal. Saat itulah pelayan datang membawa makanan. Secara alami topik pembicaraan teralih akibat rasa lapar.

Raffi, Elsa, Gamal dan Zara, menikmati makanan dengan tenang. Seperti melakukan kegiatan kencan ganda, sesekali mereka saling mengobrol satu sama lain. Hingga waktu berlalu sekian menit. Gamal yang sudah menghabiskan makanan, tampak beranjak menuju toilet. Hal serupa juga dilakukan Raffi, sebab dia mendadak mendapat panggilan alam. Yaitu buang air kecil.

Di toilet, Gamal ternyata sibuk merokok. Dia bersandar dengan santai di depan wastafel. Sedangkan Raffi sibuk kencing di salah satu urinoar yang tersedia.

"Lo tadi begituan ya sama Elsa?" tanya Gamal. Lalu menghisap rokok mahalnya yang terlihat berwarna keemasan.

Deg!

Raffi agak kaget mendengar pertanyaan Gamal. Dia tentu heran. Bagaimana bisa Gamal begitu jeli?

"Gila!" Dari mana lo tau?" Raffi berbalik badan dalam keadaan mata yang membulat. Ia sudah selesai menutup resleting celana.

"Kulit Elsa itu putih. Gimana nggak ketahuan? Yang kulitnya lutung aja bisa kelihatan," terang Gamal. Ia mengeluarkan kepulan asap rokok dari mulut.

"Ketahuan apanya?" Raffi masih saja tak mengerti.

"Cup*ang lo, kampret. Kelihatan banget di leher Elsa." Gamal yang tidak tahan dengan sikap sok polos Raffi, memberitahu secara blak-blakkan. Lagi pula hanya ada mereka berdua di toilet.

"Yang bener lo?" Raffi kaget untuk yang kedua kalinya. Dia sibuk membasuh kedua tangan di wastafel. Mencucinya dengan sabun sampai bersih dan harum.

Gamal memutar bola mata malas. "Lo itu pura-pura nggak tahu atau benar-benar polos sih?" pungkasnya dengan kening yang mengernyit kecil.

"Gue nggak tahu, Mal. Setelah lakuin itu, gue nggak merhatiin Elsa lagi." Raffi memberikan keterangan. Dia baru selesai mencuci tangan. Raffi lantas ikut bersandar di wastafel bersama Gamal.

"Lo mau coba? Rokok sehabis makan itu kenikmatan hakiki loh." Gamal menawarkan rokok kepada Raffi.

"Kagak!" tolak Raffi tegas.

"Gue penasaran, lo bisa ngisap nggak?" Gamal sepertinya begitu ambisius untuk mempengaruhi Raffi. Dia tidak berhenti menyodorkan rokok yang dipegangnya.

"Bekas lo tuh, gue nggak mau!" tanggap Raffi yang masih menolak. Bahkan saat Gamal mengarahkan rokoknya ke mulut.

Gamal tertawa kecil. Lalu mengambil kotak berisi rokok dari saku celana. "Nih! Coba yang baru aja," sarannya. Gamal belum menyerah.

"Gue udah bilang enggak kan. Lo maksa banget sih!" sinis Raffi yang merasa tak habis pikir.

"Ngerokok sendiri soalnya nggak seru. Lagian ini cuman rokok, lebih legal dibanding nge-fly," ucap Gamal sambil bersandar dengan pose kaki menyilang.

"Hush! Jangan nyebut-nyebut begituan deh," tanggap Raffi cemas. Namun Gamal lagi-lagi hanya terkekeh.

"Ya udah, makanya dicoba!" Gamal masih menawarkan Raffi untuk merokok.

Kali ini Raffi terdiam seribu bahasa. Meskipun dia tahu banyak tentang bahaya rokok, tetapi rasa penasarannya lebih besar dibanding apapun. Alhasil Raffi memutuskan mengambil salah satu batang rokok.

Gamal yang melihat, otomatis tersenyum puas. Ia segera membantu menyalakan rokok milik Raffi.

"Hisap pelan-pelan, Raf!" saran Gamal. Dia memperhatikan Raffi yang sudah meletakkan rokok ke mulut. Menghisapnya hingga akhirnya terbatuk karena asap.

"Uhuk! Uhuk!" Raffi terbatuk beberapa kali.

"Selow... di awal-awal emang biasanya gitu. Nanti juga terbiasa." Gamal kini duduk dengan kaki menjuntai di atas wastafel. Sibuk mengamati Raffi.

Lama-kelamaan, Raffi mulai bisa menikmati rokok. Gamal lantas tersenyum bangga. Layaknya seorang guru yang sukses besar.

"Enak kan?" Gamal memastikan. Dua alisnya terangkat dalam waktu bersamaan.

"Lumayan," sahut Raffi. Kemudian kembali menghisap rokoknya. Dia sudah mampu mengendalikan asap rokok yang masuk ke dalam tenggorokan.

"Lo lakuinnya sampai mana sama Elsa?" Gamal kembali bertanya.

"Kepo banget lo. Yang jelas nggak sampai buka celana."

"Bwahaha... cemen banget lo. Itu nanggung! Kayak berak yang tai-nya keluar setengah. Kenapa nggak di selesain coba?" Gamal memiringkan kepala untuk menatap Raffi yang masih berdiri di sampingnya.

Mata Raffi langsung mendelik ke arah Gamal. Ingin rasanya dia menutup mulut Gamal dengan rokok yang menyala.

"Tadi ada gangguan, makanya nggak selesai. Lagian kami lakuinnya di mobil. Itu pun nggak ada rencana sama sekali," jelas Raffi. Ia terlihat menghisap rokoknya lagi. Nampaknya Raffi mulai ketagihan.

"Lain kali sampai selesai dong. Kalau mau aman pakai tameng. Tapi kalau mau enak, mendingan nggak usah pakai," komentar Gamal. Dia sudah puas merokok. Gamal segera membuang rokok ke lantai tanpa mematikannya terlebih dahulu.

"Tameng? Apaan tuh?" Dahi Raffi mengerut jelas. Dia berinisiatif mematikan rokok Gamal yang masih menyala. Menginjak kuat dengan satu kaki.

Gamal perlahan mendekat dan berbisik, "Tameng sama dengan kon to the dom."

Raffi lagi-lagi membisu. Dia mungkin sempat terbuai dengan segala hal yang tabu. Namun bukan berarti Raffi tidak memikirkan resiko. Jujur saja, logika dan keinginannya terus bertengkar dalam benak. Raffi tahu itu salah, tetapi dia juga merasa penasaran. Dirinya tambah penasaran, ketika merasa ada kenikmatan dibalik perbuatan tidak baik tersebut.

Rokok yang belum sepenuhnya habis, dimatikan oleh Raffi. Lalu dibuang ke bak sampah. Ia juga tidak lupa memungut puntung rokok Gamal untuk di buang ke tempat seharusnya.

"Gue kasih tahu sama lo ya, Raf. Gue pernah coba nggak pakai tameng dan..." Gamal mengarahkan bola mata ke kanan atas. Mengingat bagaimana apa yang dia rasakan mengenai ucapannya. Dapat disimpulkan, Gamal tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Raffi mendengus kasar. Kemudian sibuk berkumur-kumur dengan air. Berbeda dengan Gamal yang terlihat tenggelam dalam ingatan.

"Pokoknya enak deh. Lo nggak bakalan tahu kalau nggak nyoba," kata Gamal seraya menoleh ke arah Raffi.

"Lo udah berapa kali lakuin itu sama Zara?" tanya Raffi. Menatap penuh selidik. Dia baru selesai membuang air hasil berkumur dari mulut.

"Emmm... berapa kali ya..." Gamal mencoba mengingat sambil garuk-garuk kepala.

"Anjir! Saking seringnya lo lupa?" Raffi membelalak tak percaya. Dia hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala.

Mata Gamal meliar ke segala arah. Dia merasa tertangkap basah oleh Raffi. Meskipun begitu, Gamal sama sekali tidak menepis pernyataan Raffi.

"Gimana kalau bokap nyokap lo tahu? Berabe pasti," komentar Raffi. Ia mendadak bergidik ngeri.

"Ya usahain jangan sampai ketahuan dong!" balas Gamal. Dia melenggang lebih dulu keluar dari toilet. Raffi yang mematung sejenak, mengikuti setelah beberapa detik kemudian.

..._____...

Catatan kaki :

Urinoar : Tempat buang air kecil pria.

Catatan Author :

Halo guys, kalau mau double up atau lebih. Silahkan komen yang banyak ya... hehehe

1
MRYSS
lah ini kn novel sebelah kok bisa sama cerita nya
MRYSS
thor novel yg ini rajin up dong cape nunggu nya
Tuti irfan
Luar biasa
Nana Said
bahaya nih bisa perang sodara
Nana Said
bagus cerita nya runut
Nana Said
suka banget
Nhimasera Sera Sera
Luar biasa
Nacita
ngeri bgt sih anak2 skrg gustiiiii 😩
Nacita
mereka bego sih ga pake pengaman
Nacita
ya ampun beneran d gugurin dong 🥲
Nacita
ga ada cctv emang d sekitaran rumahnya
Nacita
bener2 gila....
Nacita
parah lo dan...
Nacita
pasti raffilah, karena ketosnya bodoh raffi bkln d jadiin kacung 🤣
ayas
eh kok Vina,Elfa maksudnya
ayas
vina mewakili
coffee vanilla
seruuuu
Mpil Fatnur
raffi emang bener cowok idola..
Mpil Fatnur
ini thor bru pas cerita anak sma nya../Scream/
Mpil Fatnur
berharap jdi raffi dlu ahh../Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!