NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 KHSC

​Setelah insiden ciuman yang mendominasi dan penuh amarah itu, kehidupan di penthouse Arjuna Bhaskara memasuki fase 'keseimbangan yang rawan'. Arjuna, yang hatinya sempat terusik, mengambil langkah drastis untuk mengembalikan kendali. Ia menetapkan jadwal pulang yang nyaris tidak masuk akal, seringkali kembali menjelang Subuh atau bahkan tidak pulang sama sekali, tidur di executive lounge kantornya. Ia mengirimkan pesan teks singkat kepada Nares, yang lebih terdengar seperti perintah administrasi: ‘Aku meeting di luar kota, jangan menunggu.’

​Nareswari, di sisi lain, menjalankan perannya dengan disiplin tinggi. Ia tahu, ia harus menjaga dirinya agar tidak terbawa arus emosi yang bisa menghancurkan kontraknya dan, yang lebih penting, beasiswanya. Ia menjalani hidupnya dalam tiga babak: kampus, ibadah, dan rumah.

​Pagi hari di apartemen selalu dimulai dengan suara Nares merapikan dapur. Ia sudah menyerah mencoba membuat Juna sarapan setiap hari, setelah Juna menginstruksikan koki untuk tetap datang dan menyiapkan makanan di ruang kerjanya. Namun, Nares tidak bisa membiarkan dapur itu mati. Ia mulai membuat smoothies sederhana, menyimpan buah-buahan segar, dan menyeduh teh herbal yang ia yakini bisa menenangkan pikiran Juna.

​Nares menempelkan catatan kecil di kulkas yang berlayar sentuh: “Teh herbal di termos di sebelah kopi. Minum sebelum rapat pagi.” Juna tidak pernah merespons, tetapi Nares menyadari bahwa termos itu selalu kosong saat ia pulang kuliah. Itu adalah pengakuan kecil yang membuat hati Nares hangat.

​Lorong antara kamar tamu utama dan kamar tidur Juna menjadi garis batas yang nyata. Nares hanya melintasi lorong itu saat ia harus ke dapur atau keluar. Ia melihat kamar Juna selalu tertutup rapat, kedap suara, seperti bunker kerja.

​Suatu malam, Nares memberanikan diri. Ia melihat tumpukan laporan di ruang kerja Juna yang terselip keluar dari bawah pintu. Juna sedang berada di kantor, seperti biasa. Nares masuk ke ruang kerja, sebuah ruangan yang didominasi oleh layar monitor besar dan aroma kertas, tinta, serta parfum mahal Juna. Nares tidak menyentuh dokumen apa pun. Ia hanya mengambil semprotan ruangan beraroma vanilla dan kayu manis yang ia beli sendiri. Ia menyemprotkan aroma itu sedikit di sudut ruangan, mencoba menetralkan bau stres dan lembur.

​Ketika Juna pulang pukul tiga pagi, ia langsung memasuki ruang kerjanya. Juna mengerjap. Aroma kayu manis yang hangat. Aroma itu adalah antitesis dari beton dan baja, antitesis dari segala hal yang ia biarkan ada di hidupnya. Juna merasa terganggu, tetapi anehnya, ia bisa bernapas lebih lega. Ia segera membuka jendela, membiarkan aroma itu menguap, namun ia tahu, Nareswari telah melancarkan serangan halus ke dalam bentengnya.

​Keesokan harinya di kampus, Nares berjuang keras untuk mengejar ketertinggalan. Meskipun ia cerdas, ia harus beradaptasi dengan materi kuliah yang kompleks dan lingkungan yang sangat kompetitif. Ia memilih mengambil jurusan Ekonomi dan Bisnis, ironisnya, karena ia ingin memahami dunia suaminya.

​“Nares, kamu benar-benar pintar,” puji Lia, teman sebangkunya yang merupakan anak seorang diplomat. “Penjelasanmu tentang model Supply and Demand tadi lebih mudah kucerna daripada dosen.”

​“Aku hanya terbiasa melihatnya di kehidupan nyata, Lia,” jawab Nares merendah. Ia tidak bisa menceritakan bahwa ia juga sering melihat Juna—walaupun hanya dari jauh—membuat keputusan yang melibatkan ratusan model bisnis kompleks.

​Nares menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan atau ruang Shalat kampus. Ia sangat berhati-hati dalam menjaga perilakunya, menyadari statusnya yang rapuh. Ia menolak semua ajakan nongkrong yang melibatkan larut malam.

​Suatu sore, Nares mendapat tugas kelompok yang mengharuskan mereka mengunjungi perusahaan teknologi besar sebagai studi kasus. Nares langsung tahu perusahaan mana yang harus ia hindari: Bhaskara Corp. Ia tidak ingin Juna mengetahui seberapa jauh kehidupannya di kampus.

​Namun, takdir punya rencana lain. Ketua kelompok, seorang mahasiswa ambisius bernama Danu, bersikeras.

​“Kita harus ke Bhaskara Corp, Nares. Itu yang paling prestisius. Aku sudah mengajukan permohonan, dan koneksiku bilang ada kemungkinan diterima. CEO-nya, Arjuna Bhaskara, sangat legendaris!” kata Danu penuh semangat.

​Nares langsung menolak, wajahnya pucat. “Jangan, Danu. Itu terlalu jauh. Bagaimana kalau kita ke perusahaan manufaktur saja?”

​“Tidak bisa. Ini tugas tentang startup yang menjadi raksasa. Hanya Bhaskara Corp,” balas Danu, curiga dengan penolakan Nares. “Kenapa kamu takut sekali? Kamu kenal seseorang di sana?”

​“Tidak! Aku hanya… aku tidak suka tempat-tempat yang terlalu formal,” kilah Nares, merasa bersalah karena berbohong. Ia tahu, jika Juna mengetahui ia mencoba menyelinap ke kantornya sebagai mahasiswa magang, kontrak mereka mungkin akan berakhir di saat itu juga.

​Nares akhirnya terpaksa mengirim pesan kepada Rio, sekretaris Juna, memohon agar permohonan studi banding dari UWIKA ditolak secara halus.

Di perusahaan Juna sedang memimpin rapat penting dengan investor Jepang. Ia mengenakan jas abu-abu, memancarkan kendali penuh. Topik yang dibahas adalah merger besar di sektor e-commerce.

​Di tengah presentasi yang tegang, ponsel Juna yang biasanya disetel mode diam bergetar dengan notifikasi khusus. Itu adalah pesan dari Rio, sekretarisnya.

​“Pak, ada surat permohonan studi banding dari UWIKA, Fakultas Ekonomi. Ada nama Nyonya Nareswari Kirana di daftar peserta. Saya sudah tolak sesuai permintaan beliau. Tapi, harusnya saya konfirmasi ke Bapak dulu.”

​Juna berhenti di tengah kalimat, matanya menatap tajam ke ponsel. Ruang rapat menjadi hening. Investor Jepang itu saling pandang.

​“Maaf, ada sedikit gangguan teknis,” kata Juna, berusaha menguasai diri. Ia memasukkan ponselnya ke saku, tetapi pikirannya kini sudah terbelah.

​Dia ada di kampus yang sama, di fakultas yang sama, mencoba mengintip duniaku tanpa izin? Juna merasa privasinya dilanggar. Namun, ia juga merasa sedikit aneh. Nares tidak menggunakan nama belakangnya, tidak menggunakan kekuasaannya sebagai Nyonya Bhaskara. Dia berusaha keras menyembunyikan statusnya.

​Setelah rapat selesai, Juna memanggil Rio.

​“Tolak semua permintaan studi banding dari UWIKA. Dan berikan aku salinan jadwal kuliah Nareswari. Semua.”

​“Siap, Pak,” kata Rio, yang sudah terbiasa dengan perintah aneh dari atasannya yang baru menikah ini.

​Juna menatap ke luar jendela, ke arah Ibukota yang ramai. Nareswari, gadis desa itu, perlahan namun pasti, mulai menyusup ke setiap celah hidupnya yang terstruktur. Ini adalah bahaya. Ini adalah kegagalan kendali.

​***

​Lima hari setelah insiden ciuman itu, Juna akhirnya pulang lebih awal, sekitar pukul delapan malam. Ia pulang dalam kondisi yang tidak ia kenali: demam, menggigil, dan sakit kepala hebat. Stres dari merger dan kurang tidur selama berhari-hari akhirnya menuntut bayaran.

​Juna berjalan sempoyongan masuk ke apartemen. Ia hanya bisa mencapai sofa di ruang utama sebelum ambruk. Ia tidak memiliki energi untuk pergi ke kamarnya.

​Nares sedang berada di dapur, membaca buku sambil menunggu air mendidih untuk teh herbal. Ia mendengar suara ‘bruk’ yang keras. Ia berlari keluar.

​Ia melihat Juna tergeletak di sofa, wajahnya pucat dan berkeringat.

​“Juna! Kau kenapa?” Nares berlutut di samping sofa. Ia menyentuh dahi Juna. Panas. Panas sekali.

​“Jangan sentuh aku, Nareswari. Ini hanya flu,” kata Juna, suaranya lemah dan serak. Ia mencoba bangkit, tetapi kepalanya terasa berputar.

​“Flu? Demammu tinggi sekali! Kau tidak bisa membiarkan dirimu begini. Kau butuh istirahat,” kata Nares, tanpa mempedulikan perintah Juna untuk menjauh. Kontrak mereka terhenti saat ini. Ia adalah seorang istri, dan suaminya sakit.

​Nares segera bertindak. Ia mengambil selimut tipis, membungkus Juna. Ia berlari ke dapur, membuat kompres air hangat dan teh herbal khusus yang ia tahu bisa menurunkan demam. Ia juga menelepon Rio untuk meminta obat penurun panas yang ada di kotak P3K kantor.

​Ketika Nares kembali, Juna sudah setengah sadar. Nares duduk di lantai di samping sofa, menyentuh leher Juna dengan kompres hangat.

​“Aku sudah bilang, jangan sentuh aku,” bisik Juna, berusaha terdengar otoritatif, tetapi suaranya tidak memiliki kekuatan.

​“Aku tahu kontrak kita, Juna,” kata Nares lembut, matanya menunjukkan ketulusan yang murni. “Tapi dalam Islam, seorang istri wajib merawat suaminya yang sakit. Ini bukan masalah emosi. Ini masalah tanggung jawab, dan kau tidak bisa menolak hakku untuk melaksanakan kewajiban ini.”

​Nares memegang kepala Juna, membantu Juna untuk duduk. Ia menyodorkan teh hangat. Juna, terlalu lemah untuk melawan, meminumnya perlahan. Ia menatap Nares. Gadis itu tidak panik, tidak menuntut, hanya menjalankan kewajibannya dengan penuh kasih sayang.

​Juna merasakan sentuhan lembut Nares di dahinya, di lehernya, sentuhan itu begitu menenangkan. Juna, yang selama ini mengandalkan kontrol penuh atas hidupnya, kini terpaksa menyerahkan kendali atas tubuhnya pada Nares.

​“Aku kedinginan,” gumam Juna, tanpa sadar.

​Nares segera bangkit, mengambil bantal dan selimut tebal. Ia membaringkan Juna dengan hati-hati. Saat ia akan bangkit, Juna meraih tangannya.

​“Tunggu,” kata Juna, suaranya sangat pelan.

​Nares kembali duduk, menatapnya dengan penuh perhatian.

​“Aku tidak pernah sakit,” akunya, terdengar seperti pengakuan dosa.

​“Semua orang pernah sakit, Juna. Itu artinya kau manusia,” kata Nares, senyumnya sedikit meredakan ketegangan. Ia memegang tangan Juna, dan menggenggamnya. Ia tahu, ini melanggar batas, tetapi ia tidak bisa membiarkan suaminya menggigil sendirian.

​Juna tidak menarik tangannya. Ia membiarkan kehangatan tangan Nares mengalir. Kehangatan itu jauh lebih menenangkan daripada teh herbal atau selimut tebal. Ia tertidur tak lama kemudian, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, dengan rasa aman dan nyaman yang tidak ia peroleh dari kesuksesan atau kekuasaan.

​Nares duduk di samping sofa, memandangi wajah damai Juna yang tertidur pulas. Juna yang tertidur terlihat jauh lebih muda, tidak sinis, dan hampir… rapuh. Nares tahu, malam itu, ia tidak hanya melanggar kontrak, tetapi juga berhasil menemukan celah kecil di benteng Juna yang ia kira tak tertembus.

​Ia adalah seorang istri. Bukan kontrak, tetapi sebuah ikatan suci, dan ia akan menggunakan ikatan itu untuk menyembuhkan suaminya, satu kewajiban pada satu waktu.

​Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!