NovelToon NovelToon
Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Kultivasi Immortal

Menjadi Yang Terkuat Di Dunia Kultivasi Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Harem / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chizella

"Kau akan dibunuh oleh orang yang paling kau cintai."

Chen Huang, si jenius yang berhenti di puncak. Di usia sembilan tahun ia mencapai Dou Zhi Qi Bintang 5, tetapi sejak usia dua belas tahun, bakatnya membeku, dan gelarnya berubah menjadi 'Sampah'.

​Ditinggalkan orang tua dan diselimuti cemoohan, ia hanya menemukan kehangatan di tempat Kepala Desa. Setiap hari adalah pertarungan melawan kata-kata meremehkan yang menusuk.

​Titik balik datang di ambang keputusasaan, saat mencari obat, ia menemukan Pedang Merah misterius. Senjata kuno dengan aura aneh ini bukan hanya menjanjikan kekuatan, tetapi juga mengancam untuk merobek takdirnya.

Bagian 1: Gerbang Dimensi Harta ~ 26 Chapter

Bagian 2: Aliansi Xuan Timur vs Wilayah Asing ~ ???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Chen Huang Vs Xiao Yan

Dunia seolah menahan napas saat dua pasang mata bertemu dalam orbit permusuhan yang mematikan. Xiao Yan, dengan tubuhnya yang kekar dan otot-otot yang menegang seperti lilitan kawat baja, mulai melepaskan tawa yang parau, sebuah suara yang merobek kesunyian hutan yang mencekam.

​"Hahaha! Hanya Dou Zhe Bintang 2 juga berani? Ada apa dengan kultivator akhir-akhir ini."

​Seketika, aura Dou Qi yang liar meledak dari pori-pori kulitnya, berkobar-kobar bagaikan lidah api yang kelaparan. Udara di sekitarnya bergetar, membiaskan cahaya remang-remang menjadi gelombang panas yang mendistorsi pandangan. Tekanan berat dari seorang Dou Zhe Bintang 5 menyebar, menekan rumput di bawah kakinya hingga merunduk pasrah.

​Dengan dagu terangkat tinggi, Xiao Yan membusungkan dadanya, membiarkan energi panasnya menyapu wajah Chen Huang seolah ingin membakar keberanian pemuda itu.

​"Jika kau menyerah sekarang, mungkin aku bisa membiarkanmu hidup."

​Namun, di hadapan badai api itu, Chen Huang berdiri layaknya karang yang tak tergoyahkan oleh pasang. Tidak ada secercah pun keraguan dalam matanya yang sedalam sumur tua.

Secara perlahan, Dou Qi berwarna perak mulai merambat di permukaan kulit tangan kanannya, berkilau dingin bagaikan cahaya gemintang yang membeku. Cahaya itu berdenyut lembut, kontras dengan keganasan api di hadapannya.

​"Hmph, hanya debu juga berani banyak bicara." Suara Chen Huang tenang, namun membawa ketajaman pedang yang baru diasah.

​Alis Xiao Yan bertaut rapat, amarahnya tersulut seketika. ​"Apa?!"

​Tanpa peringatan lebih lanjut, Xiao Yan menghentakkan kaki kanannya ke tanah. Tanah di bawahnya retak, melontarkan tubuhnya maju dengan kecepatan yang luar biasa.

Ia melesat bagaikan meteor jatuh, tangan kanannya yang dibungkus kobaran api merah menyala meluncur lurus, membelah udara dengan suara menderu yang memekakkan telinga. Ia tidak menyembunyikan apa pun, serangan itu adalah manifestasi dari seluruh kekuatannya.

​Boom—!

​Benturan dahsyat terjadi. Sebuah ledakan energi meletus, menerbangkan debu dan daun-daun kering ke udara, menciptakan tirai asap yang kelabu. Para anggota Sekte Harimau Api menahan napas, menunggu untuk melihat kehancuran pemuda sombong yang berani menantang pemimpin mereka.

​Namun, saat angin perlahan menyapu kabut debu itu, sebuah pemandangan mustahil terkuak.

​Chen Huang masih berdiri tegak di tempatnya semula. Kakinya tidak bergeser bahkan satu inci pun. Yang paling mengejutkan adalah posisi tangannya; dengan satu telapak tangan yang terbuka, ia telah mencengkeram tinju berapi Xiao Yan dengan kemudahan yang menghina.

Api yang tadi berkobar hebat kini tampak jinak, berderak lemah di bawah tekanan Dou Qi perak yang dingin milik Chen Huang. Wajahnya tetap datar, seolah ia hanya sedang menangkap sehelai daun yang jatuh, bukan pukulan mematikan dari seorang ahli yang lebih tinggi tingkatannya.

​Bisikan-bisikan ketidakpercayaan mulai merayap di antara anak buah Xiao Yan yang menyaksikan dari balik pepohonan.

​"Lihat, dia menahan serangan Senior Xiao dengan satu tangan!"

"Hebat sekali, bagaimana bisa."

"Dia pasti curang!"

​Ketakutan mulai merambat di wajah Xiao Yan. Ia mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Chen Huang terasa seperti jepitan besi yang tak terpisahkan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat ia menyadari bahwa kekuatan pemuda di hadapannya ini tidak bisa diukur dengan logika peringkat Dou Qi.

​Chen Huang menatap lurus ke dalam mata Xiao Yan yang kini dipenuhi horor.

​"Kau... terlalu lemah!"

​Tanpa memberikan kesempatan untuk bernapas, Chen Huang melepaskan tangan kiri yang sedari tadi diam. Sebuah pukulan pendek, namun mengandung kompresi Dou Qi perak yang luar biasa, menghantam tepat di tengah dada Xiao Yan. Suara tulang rusuk yang mengerang terdengar samar di bawah dentuman energi.

​Xiao Yan terlempar ke belakang bagaikan sehelai kain yang diterjang badai. Tubuhnya meluncur di udara sebelum menghantam batang pohon besar dengan suara tumpul yang menyakitkan.

Saat ia jatuh tersungkur, seteguk darah segar menyembur dari mulutnya, menodai tanah dengan warna merah yang pekat. Ia terkapar lemas, keangkuhannya hancur berkeping-keping bersama fondasi Dou Qi-nya yang baru saja diguncang hebat.

​Di sisi lain, Yun Yuan tetap tenang. Ia berlutut di samping Shi Wu, postur tubuhnya menunjukkan keanggunan yang kontras dengan kekerasan di depannya.

Saat ia bergerak untuk mengalirkan energi penyembuh, kurva punggungnya yang halus dan gerakan bahunya yang luwes menciptakan pemandangan yang memikat, seolah-olah peperangan di sekitarnya hanyalah latar belakang dari tarian sunyinya.

"Dia benar-benar suka pamer." Yun Yuan memegangi dahinya ketika melihat Chen Huang yang menjatuhkan Xiao Yan dengan satu pukulan.

Xiao Yan bangkit dari dekapan bumi yang kasar, gerakannya patah-patah bagai boneka kayu yang dipaksa tegak oleh benang amarah. Jemarinya yang gemetar mengusap noda anyir di sudut bibir, menyisakan jejak merah yang kontras di atas kulitnya yang pucat.

Sepasang matanya bukan lagi sekadar organ penglihatan, melainkan kawah yang meluapkan lava kemurkaan saat menatap sosok Chen Huang. Dari balik cincin penyimpanan yang melingkar dingin di jarinya, sebuah kilatan merah delima muncul—sebutir pil yang berkilau sepekat darah segar yang baru saja membeku.

​"Kau yang memaksaku, maka jangan salahkan aku jika kau mati!"

​Chen Huang hanya mendongakkan dagunya, sebuah keangkuhan yang begitu murni hingga udara di sekitarnya seolah membeku. "Aku, mati? Kau masih terlalu lemah untuk bisa membunuhku."

​Provokasi itu merayap masuk ke telinga Xiao Yan bagai racun yang menyulut api. Tanpa ragu, ia menelan pil itu. Dalam hitungan detik, sebuah simfoni kekacauan pecah di dalam pembuluh darahnya. Dou Qi di dalam tubuhnya mendidih, mengamuk, dan mencabik-cabik ketenangan atmosfer, membuat helai-helai rambutnya berdiri kaku tertiup badai internal.

​"Ghahaha... hahaha... bwahahahaha! Sungguh energi yang sangat kuat! Tidak kusangka pil yang diberikan ayah benar-benar manjur!" Tawa Xiao Yan pecah, serak dan liar, mengguncang dadanya yang kini naik-turun dengan ritme yang buas. Ia merasakan otot-ototnya memadat, dipompa oleh kekuatan yang meminjam dari masa depan, memberikan delusi kemenangan yang mutlak.

​Matanya menyipit, memindai tubuh Chen Huang seolah-olah pria di hadapannya hanyalah mangsa yang terluka. Dengan seringai yang meliuk buruk di wajahnya, ia menekuk lutut sejenak sebelum melesat, membelah udara dengan kecepatan yang meninggalkan bayangan buram.

​Bomb—!

​Dua kepalan tangan bertemu—sebuah tabrakan antara kehendak perak dan nafsu merah. Chen Huang mengerahkan seluruh serat otot di lengannya, mengunci sendi bahunya agar tidak remuk, namun gelombang kejut dari pukulan Xiao Yan tetap mengirimkan getaran yang membuat tulang-tulangnya merintih.

Ia terpukul mundur, tumitnya mencakar tanah hingga menciptakan parit kecil sebelum akhirnya ia berhasil menancapkan pijakannya kembali dengan napas yang memburu.

​"Kekuatannya meningkat tiba-tiba, efek dari pil... yah." Chen Huang berbisik.

Ia melirik telapak tangannya, kulitnya memerah, dan otot-otot di bawahnya berdenyut tak terkendali akibat trauma benturan tadi. Sensasi mati rasa merayap dari pergelangan hingga ke bahu, seolah saraf-sarafnya sedang berteriak dalam diam.

​Namun, Xiao Yan tidak membiarkan kesunyian itu bertahan lama. Ia kembali menerjang, setiap langkahnya menghancurkan permukaan tanah di bawahnya.

​Boom! Boom! Boom!

​"Matilah, matilah!"

​Rentetan pukulan menghujam bagai hujan meteor. Dou Qi yang meluap dari kepalan tangan mereka menciptakan riak-riak cahaya yang menyambar ke segala arah, menghanguskan rumput dan membelah udara.

Chen Huang terjebak dalam tarian defensif yang menyesakkan. Setiap blokade yang ia buat terasa semakin berat punggungnya membungkuk, kakinya terseret, hingga ia terdesak ke tepi jurang pertahanan. Dengan satu sentakan kaki yang presisi, ia melompat mundur, mencoba mencuri oksigen di tengah kepungan badai Xiao Yan.

​"Kekuatannya meningkat terlalu jauh... mungkin Dou Zhe Bintang 7. Pil sialan itu benar-benar merepotkan," batin Chen Huang, sementara matanya terus mengunci setiap pergerakan lawan.

​Xiao Yan kini telah kehilangan akal sehatnya. Ia terus mengejar, menyerang tanpa pola, hanya mengandalkan curahan energi yang meluap-luap. Di kejauhan, para pengikut Sekte Harimau Api bersorak, wajah-wajah mereka dipenuhi keyakinan akan kemenangan.

Sementara itu, di sudut lain, Yun Yuan berdiri terpaku. Jemarinya meremas kain gaunnya, matanya yang indah bergetar saat mengikuti siluet Chen Huang yang terus tertekan. Sebuah perasaan asing, sebuah kecemasan yang lembut namun tajam, mulai berdenyut di dalam dadanya.

​Namun Chen Huang tetaplah karang di tengah samudera. "Jika seseorang ingin mendapatkan sesuatu dengan instan, maka pasti ada bayarannya. Termasuk kekuatan!"

​Tepat saat kata-kata itu selesai, kenyataan pahit mulai menagih hutang pada tubuh Xiao Yan. Cairan merah kental menyembur dari mulutnya, menodai pakaiannya yang sudah koyak.

Ritme serangannya yang semula gila mulai melambat, kekuatannya terkikis oleh kerusakan organ internal yang dipaksa bekerja melampaui batas. Meski begitu, sisa-sisa keangkuhan masih terpahat di wajahnya yang bersimbah peluh.

​Ia mencoba satu serangan pamungkas, namun koordinasinya telah hancur. Chen Huang melihat celah itu—sebuah ruang kosong di antara pertahanan Xiao Yan yang terbuka lebar. Dengan gerakan yang mengalir bagai air namun tajam bagai pedang, Chen Huang memutar tubuhnya dan mendaratkan pukulan telak tepat di hulu hati Xiao Yan.

​Alis Xiao Yan berkerut hebat, wajahnya memucat saat rasa sakit yang menusuk menjalar ke seluruh sistem sarafnya. "Kau! Aku pasti akan membunuhmu, ini salahmu karena menentangku!" teriaknya dengan sisa-sisa kewarasan yang hampir habis.

​Ia menyerang dengan buta, namun Chen Huang menangkis setiap pukulan itu dengan gerakan minimalis yang elegan. Kecepatan Xiao Yan kini tak lebih dari kepakan sayap burung yang patah.

Chen Huang menghindari serangan itu dengan miringkan tubuh yang presisi, lalu mengambil kesempatan untuk menghantam rusuk lawan, membuat suara tulang yang retak terdengar lirih di tengah bisingnya napas mereka.

​Duak—!

​Pukulan pamungkas Chen Huang mendarat di rahang Xiao Yan. Kepalan tangan itu dibungkus oleh Dou Qi perak yang berpendar dingin, memberikan dampak ganda yang menghancurkan.

Tubuh Xiao Yan terpelanting ke belakang, melayang sejenak di udara sebelum menghantam tanah dengan keras, darah mengalir deras dari hidungnya yang patah.

​"Main-mainnya sudah selesai. Nyawamu... akan kuambil."

​Begitu Xiao Yan mencoba merangkak bangun dengan sisa-sisa tenaga, Chen Huang melesat rendah. Sebuah tendangan sapuan mengenai pergelangan kaki Xiao Yan, membuatnya kehilangan keseimbangan.

Sebelum gravitasi sepenuhnya menarik tubuh itu jatuh, Chen Huang menghujani tubuh Xiao Yan dengan rentetan pukulan yang dilapisi perak, secepat kilat yang menyambar bertubi-tubi.

"Hiaghhhh!"

​Dug! Dug! Dug!

​"Aeaghhh!" Jeritan itu pecah, merobek langit sebelum akhirnya senyap. Belasan pukulan itu adalah titik akhir, kesadaran Xiao Yan padam, tubuhnya lunglai tak berdaya di atas tanah yang berdebu.

​Xiao Yan telah tumbang... Chen Huang menang.

​Melihat pemimpin mereka hancur secara mengenaskan, keberanian anak buah Sekte Harimau Api menguap seketika. Mereka berbalik arah, berlari tunggang langgang bagai tikus yang ketakutan, meninggalkan debu yang berterbangan di belakang mereka.

​Chen Huang menghela napas panjang, gravitasi tiba-tiba terasa berkali-kali lipat lebih berat. Ia membiarkan tubuhnya jatuh terlentang di atas tanah yang hangat, membiarkan punggungnya menyentuh bumi yang keras. Napasnya tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat. Pertarungan fisik ini telah menguras cadangan energinya hingga ke titik nadir.

​Di tengah kesunyian itu, sebuah bayangan mulai merayap di atas wajahnya, menutupi terik matahari yang menyengat. Chen Huang membuka matanya perlahan. Di sana, Yun Yuan berdiri, menunduk menatapnya.

Dari sudut pandang ini, Chen Huang bisa melihat bagaimana kain gaun Yun Yuan meliuk indah tertiup angin sepoi-sepoi, membungkus lekuk tubuhnya yang anggun.

Pinggulnya yang ramping namun berisi seolah menjadi pusat gravitasi baru, sementara gerakan napasnya yang lembut membuat bagian dadanya yang indah berayun dengan ritme yang menggoda, tertutup kain yang ketat.

​"Kau baik-baik saja?"

​"Kau masih menanyakan itu?" Chen Huang menyandarkan telapak tangannya di dahi, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih memacu kencang.

​Matanya yang lelah tanpa sengaja menjelajah lebih jauh ke atas, mengikuti garis kaki yang jenjang hingga ke balik rok yang tersingkap sedikit karena posisi Yun Yuan yang membungkuk rendah.

​"Hmm, Yun Yuan. Itu putih, sungguh enak dipandang."

​Awalnya Yun Yuan memiringkan kepalanya, rambut kuning pucatnya yang harum jatuh menjuntai di bahunya, matanya yang besar mengerjap bingung.

"Putih?"

​Namun, sedetik kemudian, ia menyadari arah pandangan Chen Huang yang tertuju tepat ke bagian tak senonoh di balik roknya. Wajahnya yang semula sedikit cemas berubah menjadi semerah mawar yang mekar.

​"Apa yang kau lihat! Dasar cabul sialan!"

Dengan gerakan spontan yang penuh emosi, ia mengangkat kakinya dan menginjak wajah Chen Huang yang masih terbaring lemah. Menekan kepala pemuda itu ke dalam tanah.

​"Tung—Ugh—"

Suara Chen Huang teredam di bawah telapak kaki Yun Yuan, mengakhiri momen kemenangan mereka dengan sebuah tragedi kecil yang memalukan.

1
Azure Lia
sip...
Azure Lia
one hit inimah
ave
setu7 lanjutkan
Fiinnn
mantap
Fiinnn
/Sweat//Sweat//Sweat/
Fiinnn
peluang2/Sweat/
𝓨𝓾𝓻'𝓮𝓻 𝓑𝓾𝓽𝓽𝓮𝓻𝓯𝓵𝔂
baca apa ini/Sweat/
Peri Cecilia-chan: /Sweat/
total 1 replies
𝓨𝓾𝓻'𝓮𝓻 𝓑𝓾𝓽𝓽𝓮𝓻𝓯𝓵𝔂
mayan
🎀⃝ ᥊іᥲ'ᥱr
lebih hot w
🎀⃝ ᥊іᥲ'ᥱr
lagi lagi🗿
🎀⃝ ᥊іᥲ'ᥱr
ouhhw
ᥱׅ꯱Ⴕᥲ
kureng hot
ᥱׅ꯱Ⴕᥲ
awal yg bagus
𝐘𝐮𝐧 𝐖𝐚𝐧𝐠𝐬𝐡𝐮?
okelah
𝐘𝐮𝐧 𝐖𝐚𝐧𝐠𝐬𝐡𝐮?
terbaca 24 ch mayan
Peri Cecilia-chan: yaiya lah orng yg nulis gw/Sweat/
total 1 replies
Berry
gak ada cover lain kah?
Peri Cecilia-chan: banyak ai nya yg ini, kek bahan gabut selagi aku masi nulis isekai slime, jdi kalau pening dan gada ide ya, kutulis random kesini, gada tujuannya ini novel
total 4 replies
Story
berapa kata di chapter ini?
Peri Cecilia-chan: 1200an
total 1 replies
Story
Lebih baik lewat dialog aja nggak sih tingkatan Kultivasinya🗿
Peri Cecilia-chan: entah kenapa aku pengen simpel aja kek sesepuh fantim yg laen🗿
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!