NovelToon NovelToon
Petani Hebat Dengan Sistem

Petani Hebat Dengan Sistem

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Tamat / System / Militer
Popularitas:5.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Dyoka

Seno adalah seorang anak petani yang berkuliah di Kota. Ketika sudah di semester akhir, ia menerima kabar buruk. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus.

Sebagai satu-satunya laki-laki di keluarganya, Seno lebih memilih menghentikan pendidikannya untuk mencari nafkah. Ia masih memiliki dua orang adik yang bersekolah dan membutuhkan biaya banyak.

Karena dirinya tidak memiliki ijasah, Seno tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi. Mengandalkan ijasah SMA-nya pun tidak jauh berbeda. Maka dari itu, Seno lebih memilih mengelola lahan yang ditinggalkan mendiang kedua orang tuanya.

Ketika Seno mulai menggarap ladang mereka, sebuah kejutan menantinya.

----

“Apa ini satu buah wortel dihargai tujuh puluh ribu.” Ucap seorang warganet.

“Mahal sekali, melon saja harga lima puluh ribu per gramnya. Ini bukan niat jualan namanya tapi merampok.” Ucap warganet yang lainnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PH 32 Mulutmu Harimaumu

Setelah kepulangan Miranda dan pamannya, Seno mengecek ponsel miliknya untuk melihat hasil lelang kelima puluh wortel yang ia pasang di The Auction. Seno sudah mempersiapkan hatinya untuk melihat efek dari lelang keduanya ini.

Meski begitu, tetap saja Seno cukup kaget dengan respon yang ada di sana. Kali ini yang berminat membeli tidak hanya puluhan orang tetapi ratusan. Promosi yang dilakukan Seno di bazaar kemarin ternyata cukup ampuh.

Masih ada satu jam lagi sebelum lelang berakhir. Kali ini Seno ingin membaca komentar warganet yang mereka tinggalkan di kolom komentar. Sejak perseteruan antara Sultan Baru dan Sultan Batubara, Seno cukup senang membaca komentar yang ditinggalkan oleh warganet di laman lelangnya.

Beberapa komentar itu cukup menghiburnya. Jadi, Seno sekarang ingin membacanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi selama tiga hari terakhir.

Seno memang sengaja tidak melihat setiap saat perkembangan wortel yang ia lelang. Ia ingin mendapatkan sebuah kejutan. Seperti yang sekarang ia rasakan.

[Sultan Baru : Wah ternyata sudah ada wortel baru lagi yang dipasang. Aku menikmati wortel yang Kamu kirim @Petani Hebat. Aku akan membeli kembali.]

[Kakak Tampan : @Sultan Baru apakah wortel itu memang wortel ajaib? Kenapa Kamu mau membelinya lagi?]

Komentar dari pemilik akun bernama Kakak Tampan itu belum juga ditanggapi oleh Sultan Baru. Mungkin dia tidak mau menambah saingan untuk mendapatkan wortel milik Seno jadi Sultan Baru tidak juga menjawabnya.

[Pemanah Hati : Aku yakin harganya akan naik derastis. Untung saja aku sudah membeli pada saat ada promo.]

[Pangeran Menawan : Meski aku masih memiliki beberapa wortel, aku tetap akan menaikkan tawarannya. Menambah satu dua wortel aku rasa tidak terlalu masalah.]

[Monta : Eh, kenapa tiba-tiba banyak yang ikutan menawar? Dari lima puluh wortel, sekarang ini rata-rata sudah di tawar dengan harga seratus lima puluh ribu per buahnya.]

[Monta : Kemarin mungkin sedikit wajar karena ada dua orang kaya yang saling besaing memamerkan kekayaan mereka. Lalu yang sekarang apa? Kenapa banyak sekali yang berebut membeli.]

[Anak Baru : @Monta coba beli saja dan Kamu akan tahu kenapa mereka berlomba mendapatkan wortel itu]

[Sultan Baru : Sial. Kenapa kalian semua tiba-tiba ingin membelinya. Biarkan aku saja yang membelinya. Rakyat jelata seperti kalian jangan menghambur-hamburkan uang kalian seperti ini.]

[Sultan Baru : Sekarang kalian menaikkan harganya menjadi dua ratus ribu per wortelnya. Jangan paksa aku untuk menaikkan harganya dengan gila-gilaan. Ingat aku seorang sultan yang bergelimpangan harta.]

[Pangeran Menawan : @Sultan Baru hanya karena akun kami tidak memiliki kata sultan seperti akunmu, bukan berarti kami ini orang miskin.]

[Pangeran Menawan : Teman-teman Mahasiswa Kampus H, ayo kita tunjukkan bagaimana sultan sebenarnya. Jangan hanya menungu saja jalannya lelang ini. Jangan biarkan orang itu mengambil satu wortel sekali pun.]

[Pemanah Hati : @Pangeran Menawan aku sudah menawar satu buah wortel dengan harga lima ratus ribu. Tenang saja tidak akan aku biarkan dia mendapatkan satu wortel.]

Seno berhenti membaca komentar sampai di situ. Sekilas ia membaca komentar selanjutnya mengenai para mahasiswa Kampus H yang sekarang menaikkan harga wortelnya cukup tinggi. Mereka merasa tidak masalah dengan hal itu.

Lagi pula, wortel yang mereka tawar hanya satu buah saja. Itu tidak sama seperti Sultan Baru yang pada lelang kemarin membeli dua puluh wortel yang Seno lelang sekaligus.

“Wah, aku rasa ini adalah para mahasiswa ini bersikap cukup bar-bar.” Gumam Seno.

Sebagai pemasang barang yang akan di lelang, Seno bisa melihat nama orang yang menawar wortel miliknya. Dari daftar saat ini, tidak ada satu pun nama akun Sultan Baru. Padahal, ada lima puluh wortel yang bisa ditawar.

Jika Sultan baru menaikkan sedikit harganya, maka yang lain juga menaikan harga tersebut. Mereka tidak memberikan kesempatan bagi Sultan Baru untuk menjadi penawar tertinggi, meskipun itu hanya untuk satu menit saja.

“Kasihan juga pemilik akun itu. Dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menawar. Jika aku jadi dia, pasti aku akan sangat marah.” Gumam Seno sembari menahan tawanya.

Ia bisa membayangkan ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh pemilik akun Sultan Baru. Pasti wajahnya sangat memerah menahan amarah ketika melihat tawarannya dikalahkan oleh yang lainnya.

Jika Seno ingat lagi, para mahasiswa dari Kampus H itu melakukan tindakan seperti ini karena Sultan Baru sudah mengejek yang lainnya sebagai rakyat jelata. Mulutmu harimaumu. Memang perkataan itu ada benarnya.

Seno sendiri paham pemikiran Sultan Baru itu. Jika dirinya menjadi pelanggan pertama yang mencoba wortel dengan kasiat luar biasa seperti itu, pasti dirinya akan sebisa mungkin tidak mengungkapkan kasiatnya kepada yang lainnya. Hal ini agar dirinya bisa menikmati sendiri wortel tersebut.

Sayangnya, promo besar-besaran yang dilakukan Seno, cukup menarik perhatian banyak orang. Apalagi Kampus H adalah kampus swasta elit yang lebih dari lima puluh persen mahasiswanya adalah orang kaya. Jadi, tentunya mereka bisa bersaing memperebutkan wortel itu.

“Kita tunggu saja siapa yang akhirnya akan membeli wortel itu. Apakah Sultan Baru bisa membeli atau tidak.” Gumam Seno.

Tebakan Seno memang tidak meleset. Di tempat lain, Brandon cukup uring-uringan melihat harga wortel yang dilelang Seno semakin naik. Sebelumnya Kakeknya memintanya membeli lagi wortel itu dengan harga semurah mungkin. Brandon pikir dirinya bisa melakukannya.

Ini karena pada lelang sebelumnya hanya dirinya yang memenangkan lelang tersebut. Tidak ada orang lain yang membelinya. Jadi, yang tahu kehebatan wortel itu hanya ia dan keluarganya.

Tetapi, kenapa sekarang banyak sekali yang berantusias membeli wortel itu. Mereka seolah juga mengetahui kasiat apa yang dimiliki oleh wortel tersebut. Jika memang benar begitu, dari mana mereka mengetahuinya?

Ketika Brandon memikirkan hal tersebut, pintu kamarnya terbuka. Diomarch masuk begitu saja ke dalam kamarnya.

“Aku tidak menyangka Kamu itu sangat bodoh.” Ucap Diomarch tiba-tiba.

“Apa maksudmu itu? Aku bodoh?” Tanya Brandon sembari menunjuk ke arah dirinya. “Yang bodoh itu Kamu. Bukan aku. Seenaknya saja Kamu mengataiku bodoh.” Ucap Brandon tidak terima.

“Jika Kamu tidak bodoh, kenapa Kamu masih saja mengatai orang-orang itu. Dengan Kamu mengatai-ngatai mereka, maka kamu semakin digilas habis dan tidak akan diberi kesempatan untuk membuat tawaran.” Jelas Diomarch.

“Sekarang, berhentilah membuat tawaran dan biarkan aku yang melakukannya.” Imbuh Diomarch.

“Tidak bisa.” Jawab Brandon cepat.

“Kakek sudah menugaskanku melakukan hal itu. Jadi, Kamu tidak bisa begitu saja mengambil alih tugas ini dariku.” Ucap Brandon sembari mengarahkan telunjuknya ke arah Diomarch.

Sebelum ini, Agam sudah menugaskan Brandon untuk membeli wortel-wortel itu. Jika dirinya sampai gagal, maka ia akan terlihat buruk di mata Agam. Tugas semudah itu saja dirinya tidak bisa menyelesaikannya.

“Heh.” Diomarch mendengus keras setelah mendengar ucapan sepupunya. Setelah apa yang Brandon lakukan, tentu saja Diomarch tidak yakin Brandon bisa berhasil membeli satu wortel dari lelang itu.

“Apa Kamu yakin bisa membeli wortel-wortel itu? Kamu saja tidak bisa mempertahankan wortel itu lebih dari lima menit. Jadi, mana mungkin Kamu bisa membelinya. Biarkan aku saja yang melakukannya.” Ucap Diomarch.

Tanpa menunggu respon dari Brandon, Diomarch mengecek kembali wortel yang masih di lelang itu. Ini adalah tiga menit terakhir sebelum lelang berakhir. Diomarch cukup kaget melihat perkembangan harga dari wortelnya.

“Sial.” Umpat Diomarch setelah melihat harga wortel yang tertera di sana.

“Sekarang wortel termurah sudah ditawar dengan harga tujuh ratus empat puluh tiga ribu, sedangkan yang termahal adalah depalan ratus ribu. Ini cukup gila. Terakhir aku melihat tadi harganya terendahnya masih di enam ratus lima puluh ribu.”

“Jika aku ingin membeli semua itu, maka aku perlu membelinya dengan harga tinggi.” Gumam Diomarch.

Diomarch tidak langsung membuat tawaran seperti yang lainnya. Yang ia lakukan saat ini adalah memasang tawaran delapan ratus enam puluh ribu untuk sepuluh wortel. Ia berencana mengirimkan tawarannya ketika waktu sudah akan habis.

Pemuda itu yakin dengan harga segitu, ia bisa mendapatkan sepuluh wortel tersebut. Diomarch sadar diri. Ia hanya mampu membeli sepuluh wortel sekarang. Di luar sana pasti ada juga yang berpikiran yang sama seperti dirinya. Jadi, Diomarch hanya menargetkan seperlima dari wortel yang sedang di lelang.

Diomarch hanya menunggu. Ketika waktu lelang kurang lima detik lagi, Diomarch buru-buru mengirimkan tawarannya. Setelahnya ia tinggal menunggu hasilnya tiba.

Ketika waktu lelang habis, Diomarch menemukan namanya di antara nama pembeli lainnya. Ia berhasil membeli sepuluh wortel itu. Diomarch kira dirinya adalah orang yang memberikan penawaran tertinggi. Tetapi ternyata tidak.

Pemilik akun Pemanah Hati sudah membeli dua puluh wortel dengan harga sembilan ratus dua puluh lima ribu rupiah tiap wortelnya.

“Sial. Orang-orang memang bersungguh-sungguh memebelinya. Ini berarti mereka sudah mengetahui kasiat dari wortel itu.”

Sebelumnya Diomarch kira semua orang yang bersaing dengan Brandon memakai cara yang sama seperti yang ia lakukan dulu. Memberikan tawaran semakin tinggi dari penawar sebelumnya, dan ketika harganya sudah tinggi, ia akan membiarkan yang lain memiliki barang tersebut.

Tetapi ternyata semua orang ini bersungguh-sungguh dalam melakukan penawaran. Jumlah yang mereka tawarkan di saat-saat terakhir tadi bisa dibilang tidak sedikit.

“Sepertinya jika ada lelang lagi mengenai wortel ini di masa mendatang, kita tidak akan bisa mendapatkan harga yang murah.”

1
Eda Eda
👍
Sampah Satu
semangaaat
Anonymous
Cerita konyolnya ini…mana ada dizaman hukum sudah berjalan orang bisa berbuat seenaknya….dasar author kotor otaknya….
Anonymous
Author begho taiklah….bikin cerita kok kek gini dasar
Sampah Satu: bagus kok ceritanya. ada bagian realistisnya
total 1 replies
acid
lagi dan lagi.. kalimat yang paling kubenci...
Go Anang
Luar biasa
Khasna
sayangnya cuma Seno yang bisa mengalahkan inti dimensi itu.....🤭🤭
Pi Man
alah rj banyak bacot
Pi Man
alah bacot kau yuce
Pi Man
author peak atau gimana sih , ya kali kekuatan segitu gitu aja , padahal udh beberapa kali dapat poin kekuatan
Pi Man
jual lah brokoli ke militer
Pi Man
kalah sama kangkung wkwkwk
Khasna
siap² aja jadi tawanan 🤣🤣
Khasna
🤣🤣🤣 kecebong yang meresahkan...
Khasna
perjuangan Seno untuk calon keluarga SenDiRa (Seno Dina miRanda) 💪💪🥰🥰
S.NK.W❇️
bukannya kebun sama lebahnya level 7??....
Travel Diaryska
udah bagus2 cewe nya 1 dina aja, malah ditambahin mira hadehh
Elok Fauziah
Aduh ceroboh seno
Elok Fauziah
sebesar kalkun mungkin atau bahkan sebesar burung unta
Jai Nuri
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!