NovelToon NovelToon
Jodohku Suporter Bola

Jodohku Suporter Bola

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hanyrosa93

Sekelompok anak muda beranggotakan Rey Anne dan Nabila merupakan pecinta sepak bola dan sudah tergabung ke kelompok suporter sejak lama sejak mereka bertiga masih satu sekolah SMK yang sama
Mereka bertiga sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbentur biaya kala itu Akhirnya Anne melamar kerja ke sebuah outlet yang menjual sparepart atau aksesories handphone Sedangkan Rey dan Nabila mereka berdua melamar ke perusahaan jasa percetakan
Waktu terus berlanjut ketika team kesayangan mereka mengadakan pertandingan away dengan lawannya di Surabaya Mereka pun akhirnya berangkat juga ke Surabaya hanya demi mendukung team kesayangannya bertanding
Mereka berangkat dengan menumpang kereta kelas ekonomi karena tarifnya yang cukup terjangkau Cukuplah bagi mereka yang mempunyai dana pas-pasan
Ketika sudah sampai tujuan yaitu stadion Gelora Bung Tomo hal yang terduga terjadi temannya Mas Dwi yang merupakan anggota kelompok suporter hijau itu naksir Anne temannya Rey.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanyrosa93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkunjung ke Rumah Bude

Setelah menonton konser, besoknya Yuda mengajak aku menuju ke rumah Pak de dan Buk de nya di daerah Banjar. Yuda baru bercerita sekarang, punya saudara di daerah Banjar.

Pagi-pagi sekali Yuda sudah ke rumahku untuk mengajaknya ke Banjar, aku pun telah dandan dan sudah bersiap-siap akan memesan taksi online menuju ke arah terminal.

Awalnya ayah ibuku tidak mengijinkan, tetapi karena bujukan kekasihku Yuda akhirnya diperbolehkan juga.

“Anne, dompet dan jam tangan jangan lupa bawa,” teriak ibuku ketika aku sedang memakai sepatu.

Aku mengangguk sambil buru-buru memasukkan dompet ke dalam tas. Tak terasa, aku sudah lama berada di luar kamar, padahal Yuda sudah menunggu di luar dengan taksi online yang sudah terparkir di depan rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, dan aku masih harus sedikit berbenah.

"Sudah siap?" Yuda tiba-tiba muncul di ambang pintu, wajahnya cerah meski sepertinya belum sempat sarapan. Matanya tampak berbinar-binar, mungkin karena excitement perjalanan kami ke Banjar, tempat yang baru saja dia ceritakan punya kenangan khusus bagi keluarganya.

"Sudah. Tapi kamu yang belum sarapan, ya?" balasku sambil menatapnya penuh perhatian. Aku tak mau Yuda kelaparan di perjalanan.

"Aku sudah makan roti tadi pagi. Tenang saja," jawabnya sambil tersenyum. "Ayo, kita berangkat, jangan sampai telat!"

Aku menatap Yuda sejenak, merenung. Selama ini, Yuda selalu tampak begitu penuh semangat, apalagi kalau sudah berbicara tentang keluarganya. Ternyata dia memang punya ikatan yang kuat dengan saudara-saudaranya di Banjar, meskipun baru beberapa bulan terakhir ini dia mulai menjalin komunikasi dengan mereka setelah sekian lama terputus.

Kami naik ke taksi dan segera melaju ke terminal. Di perjalanan, Yuda mulai bercerita lebih banyak tentang keluarganya di sana. Ternyata, Pak De dan Buk De Yuda punya rumah di daerah pedesaan yang cukup jauh dari keramaian kota. Mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup besar, dikelilingi oleh sawah dan kebun, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

"Aku nggak sabar ketemu mereka," kata Yuda dengan nada penuh semangat. "Mereka pasti senang aku datang. Terakhir kali aku kesana, aku masih kecil banget."

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Sepertinya, mengunjungi keluarga di Banjar adalah sesuatu yang sangat berarti bagi Yuda, dan aku bisa merasakan kehangatan serta kebanggaan dalam suaranya.

Setelah sekitar seperempat jam perjalanan, kami akhirnya sampai di terminal yang akan membawa kami ke arah Banjar. Begitu turun dari taksi, udara segar langsung menyambut, berbeda dengan hiruk-pikuk kota Tasikmalaya yang biasanya kami tempati.

"Anne, terima kasih sudah ikut aku ke sini. Aku benar-benar ingin kamu ikut, supaya bisa kenalan dengan keluarga aku juga," kata Yuda sambil menggenggam tanganku dengan erat.

Aku merasa hangat di dalam hati mendengar itu. "Aku senang bisa ikut, Yuda. Semoga semuanya lancar dan kita bisa nikmati waktu di sini."

Kami menaiki bus menuju Banjar, dan sepanjang perjalanan, Yuda terus bercerita tentang kenangan masa kecilnya. Ada tawa, ada cerita lucu tentang kecelakaan kecil yang dialaminya saat bermain bersama sepupu-sepupunya. Aku tertawa mendengarnya, merasa semakin dekat dengan dunia Yuda yang baru aku kenal.

Setelah perjalanan panjang, akhirnya kami sampai di rumah Pak De dan Buk De. Rumah itu sangat sederhana tapi penuh dengan kehangatan. Buk De Yuda menyambut kami dengan pelukan erat, dan Pak De hanya bisa tersenyum lebar saat melihat Yuda pulang. Rasanya, semua penantian itu terbayar dengan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka.

"Selamat datang, Yuda! Anne, senang sekali bisa bertemu denganmu," kata Buk De sambil menyuguhkan minuman hangat.

Aku merasa diterima begitu hangat, dan hati ini pun terasa lebih ringan. Sebuah perjalanan yang ternyata bukan hanya tentang tempat, tetapi juga tentang mengenal lebih dalam keluarga yang begitu berarti bagi orang yang kita cintai.

Setelah bertamu beberapa jam di rumah pak de dan Buk de nya Mas Yuda yang di daerah Banjar, Mas Yuda akhirnya mengajak aku pulang kembali ke rumah di Tasikmalaya dan dia pun ingin kembali pulang ke kost'annya karena besok kembali mulai bekerja.

Sebelum pulang, Buk De-nya Mas Yuda memberikan 1 dus bekas mie instan yang berisi oleh-oleh khas, seperti aneka keripik dan cemilan lainnya. Aku merasa agak canggung menerima pemberian itu, meski sebenarnya sudah terbiasa dengan keramahan mereka yang selalu membuatku merasa diterima. “Nggak usah repot-repot, Buk, aku kan cuma singgah sebentar,” kataku, tapi Buk De-nya Mas Yuda sudah tersenyum lebar sambil memaksa aku untuk menerima dus itu.

“Udah, ambil aja, siapa tahu nanti kamu kangen sama makanan khas sini,” ujar Buk De-nya sambil mengusap tanganku dengan lembut. “Nanti kalau ada waktu, mampir lagi ya, kita masak bareng,” tambahnya, membuat aku tersenyum malu. Sejujurnya, aku merasa sedikit terharu. Di tengah rutinitas yang padat dan hidup yang semakin sibuk, kadang aku lupa betapa hangatnya sebuah pertemuan yang sederhana seperti ini—tanpa embel-embel formalitas atau tujuan lain selain silaturahmi.

Mas Yuda, yang sejak tadi sibuk merapikan barang-barang di mobil taksi online yang baru saja diordernya, ikut tersenyum melihat kejadian itu. “Udah deh, jangan ditolak, nanti malah susah kalau kamu nggak bawa pulang,” katanya dengan nada menggoda. Aku hanya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, berusaha terlihat tidak canggung meski sebenarnya dalam hati merasa sedikit bingung dengan betapa hangatnya sambutan mereka.

Perjalanan pulang ke Tasikmalaya terasa cukup sepi, hanya diisi oleh suara mesin mobil yang mendengung pelan. Mas Yuda memilih untuk tidak banyak bicara, mungkin karena dia juga lelah setelah seharian bekerja dan bertemu dengan keluarganya. Aku sendiri sibuk memandangi jalanan yang berkelok, menikmati pemandangan alam yang berubah-ubah, mulai dari sawah yang luas hingga perbukitan hijau yang tampak asri di kejauhan.

“Besok kerja lagi ya?” tanyaku, mencoba membuka obrolan.

“Iya, besok mulai lagi,” jawab Mas Yuda sambil melirik ke arahku. “Kamu sendiri, sudah ada rencana untuk minggu depan?”

Aku menggeleng pelan. “Belum tahu juga sih. Tapi sepertinya minggu depan aku akan mulai restok barang dari pusat.”

Mas Yuda mengangguk, “Iya, semoga laris barang yang dijual di outlet kamu ya.”

Kami terdiam lagi dalam beberapa detik, sebelum akhirnya sampai di kota Tasikmalaya. Jalanan yang biasanya cukup ramai kini terasa lebih tenang, mungkin karena sudah larut malam. Mobil melaju perlahan, dan aku bisa melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala, memberi kesan hangat dan nyaman.

Sesampainya di kost-an Mas Yuda, aku membantu dia membawa barang-barang ke dalam kamar. Buk De-nya memang memberikan cukup banyak oleh-oleh, dan aku merasa sedikit bingung harus menaruhnya di mana. “Ini bisa buat beberapa hari ke depan,” kataku sambil tertawa pelan.

“Ya, tinggal simpan aja di tempat yang aman, nanti bisa dinikmati bareng teman-teman kost,” jawab Mas Yuda sambil membenahi beberapa barang di meja.

Sebelum beranjak pergi, aku memutuskan untuk mengucapkan terima kasih lagi kepada Mas Yuda. “Terima kasih ya, sudah ngajak ke rumah Buk De tadi. Seru juga bisa ketemu keluarga kamu,” ujarku dengan senyum tulus.

Mas Yuda hanya mengangguk dan memberikan senyum singkat, “Sama-sama, Sayang. Jangan lama-lama di sini ya, kalau ada apa-apa langsung kabarin.”

Aku mengangguk, lalu berbalik menuju rumahku yang hanya berjarak beberapa meter dari kost'annya Yuda.

Merasa hangat dengan kenangan kecil itu. Mungkin hanya sebentar, tapi setiap momen yang dihadirkan oleh keluarga Mas Yuda selalu terasa seperti sebuah pelukan yang menenangkan hati.

***

1
Hanyrosa93
sabar
Hanyrosa93
wkwkw biar tegang
Protocetus
baru main udh kecelakaan 😮‍💨
Protocetus
Crazy up min
Hanyrosa93
boleh, yang mana ya novelnya?
Protocetus: kunjungin aja Mercenary of El Dorado
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of Dorado
Hanyrosa93: boleh
total 1 replies
Nay
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!