Eilaria Thomson tak pernah menduga kalau pria yang dicintainya ternyata memiliki saudara kembar.
Gabriel Dawson dan Gabrian Thomson adalah saudara kembar yang saling menyayangi. Mereka akan melakukan apa saja untuk membuat saudara kembarnya bahagia.
Demi mengejar cinta sejatinya, Eilaria rela menikah diam-diam. Setelah menikah itulah, Eilaria tahu ada yang berbeda. Antara Gabrian dan Gabriel, Siapakah yang sesungguhnya ia cintai? Dan siapakah yang akhirnya ia nikahi?
Cerita ini Kisah hidup keluarga Thomson (cerita : I HATE YOU BULE, 3 HATI 1 CINTA) dan kisah anak2 Giani dan Jeronimo (MENIKAHI SELINGKUHAN KAKAK IPARKU)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Jakarta
Gabrian dan Eilaria kini saling berhadapan. Mata keduanya saling menatap. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Lalu secara tak terduga, Eilaria menampar pipi Gabrian, membuat cowok itu terkejut dan menatap Eilaria.
"Jangan menatapku seperti itu, Ian. Kau bukan Iel yang harus menatap aku dengan penuh cinta. Jangan membuat aku bingung lagi."
"Maafkan aku." Kata Gabrian. Ingin sekali ia mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Ingin sekali ia memeluk Eilaria dan merasakan kehangatan napas gadis itu di dadanya. Namun semua harus dikuburkannya jauh-jauh. Eilaria bukanlah miliknya.
Air mata Eilaria jatuh namun dengan cepat ia menghapusnya. "Jangan bersikap lagi sebagai Iel. Walaupun kalian kembar, namun kalian adalah orang yang berbeda. Kalian pasti memiliki perbedaan-perbedaan. Menjauhlah dari kehidupanku, Ian."
Gabrian mengikuti kata hatinya. Ia menarik tubuh Eilaria dan memeluknya erat. Tak perduli walaupun tangan Eilaria memukul punggungnya, Ian tetap memeluk Eilaria. Perlahan, pukulan Eilaria di punggungnya Ian berhenti. Gadis itu pun melingkarkan tangannya di punggung Ian. Ia menangis sangat dalam. Menumpahkan seluruh isi hatinya yang sedang galau. Eil tak tahu mengapa ia harus membalas pelukan Ian dan menangis di dada bidang cowok itu. Eil bahkan lupa kalau ia hanya mengenakan handuk putih yang melilit tubuhnya.
Tangan Gabrian perlahan ada di kepala Eilaria. Ia membelai kepala Eilaria dengan penuh kasih. "Maafkan aku, Eil. Maafkan aku." Kata Gabrian dengan suara yang parau. Ia sendiri menahan seluruh rasa cinta yang dimilikinya untuk gadis itu. Gabrian ingin berteriak untuk mengeluarkan sesak di hatinya. Gabrian ingin berteriak untuk mengeluarkan isi hatinya. Ia mencintai Eilaria sejak pertemuan pertama mereka di lift itu. Ia ingin mengatakan bahwa dalam hatinya tidak pernah ada nama gadis lain. Ia mencintai Eilaria Megan Thomson.
Bukankah ini sesuatu yang menyakitkan? Ia bisa memeluk namun tak bisa memiliki. Ia pernah mencium namun dianggap sebagai orang lain? Andai saja Eilaria bukan milik Iel, Ian pasti akan nekat membawanya pergi. Namun, haruskah ia menyakiti Iel demi cinta dalam hidupnya? Apakah kenyataan ini hendak menyadarkan nya bahwa Eil bukan miliknya?
Tangis Eilaria pun berhenti. Seakan menyadari kalau yang ia peluk adalah Ian dan bukan Iel, perlahan gadis itu melepaskan pelukannya. Ia mundur beberapa langkah dan membalikan badannya. "Aku akan ganti pakaian. Keluarlah. Masuklah lagi jika aku sudah keluar dari kamar."
Gabrian menarik napas panjang. Berusaha membuang semua keinginan buruknya untuk membawa Eilaria pergi sehingga mereka bisa bersama. Ia pun keluar dari kamar.
Saat pintu di belakangnya tertutup, Eilaria pun membalikan tubuhnya. Menatap pintu yang tertutup itu, seiring dengan hatinya yang harus ia tutup terhadap 2 wajah yang menghadirkan 1 cinta dalam hatinya.
*********
Giani akan masuk ke dalam ruangan perawatan Gabriel, saat ia mendengar putranya itu sedang berbicara dengan Jeronimo.
"Dad, mengapa ya Eilaria sepertinya berubah padaku. Tak ada lagi kehangatan cinta seperti waktu kami masih pacaran. Aku takut dia tak akan pernah memaafkan aku karena telah meminta Ian menggantikan aku."
Jeronimo tersenyum. "Wajarlah kalau dia marah. Namun daddy yakin kalau Eil akhirnya akan mengerti."
"Aku takut kalau dia akan menyukai Ian. Aku melihat kalau caranya menatap Ian seperti menyimpan sesuatu. Ian juga seperti itu. Bagaimana pun Ian pernah menyukai Eil. Ia bahkan kuliah di London untuk bisa menemukan Eil."
"Sayang, Ian sangat menyayangimu. Tak mungkin ia akan menyakitimu dengan menikam mu dari belakang. Sekarang lupakan kecurigaan mu itu. Kita akan kembali ke Jakarta. Saat kau benar-benar pulih, maka kau dan Eil dapat pergi ke tempat bulan madu yang sudah kalian rencanakan sebelumnya."
Giani yang masih berdiri di depan ruangan perawatan Gabriel merasakan hatinya hancur. Inilah yang ditakutkannya. Brian dan Briel jatuh cinta pada gadis yang sama. Sebagai ibu, apakah yang harus dia lakukan? Ia tahu kalau Gabriel sangat mencintai Eil. Dan dia juga tahu Gabrian masih mencintai Eil. Sangat terlihat jelas saat Ian menatap Eil. Sekuat apapun anaknya itu menyembunyikannya, ia tahu kalau Ian memendam rasa untuk istri adiknya itu. Giani tak mau anak-anaknya menderita. Ia ingin Gabrian dan Gabriel mendapatkan perempuan yang berbeda yang akan membahagiakan mereka berdua.
"Bibi.....!"
Giani menoleh. Gabby berdiri di belakangnya dengan mata yang sembab.
"Sayang, ada apa?"
"Papaku meninggal."
"Sayang.....!" Giani langsung memeluk Gabby dengan penuh kasih, sambil mengusap punggung gadis cantik itu. Tangis Gabby kembali pecah dalam pelukan Giani.
"Bunda, ada apa?" Gabrian datang bersama dengan Eilaria. Tadi setelah Eil keluar kamar, ia membereskan barang-barang mereka. Saat Eil tahu kalau pesawatnya akan berangkat malam ini, ia akhirnya kembali ke kamar dan membereskan juga barang-barangnya.
"Papanya Gabby meninggal." ujar Giani sambil melepaskan pelukannya.
"Gabby, aku turut berdukacita ya." Kata Gabrian sambil menyentuh tangan Gabby.
"Turut berdukacita." Imbuh Eil.
Gabby hanya mengangguk. Ia terlihat bingung.
"Ada apa, nak?" tanya Giani.
'Aku bingung harus bagaimana, bi. Kakakku nggak bisa datang untuk mengurus jenasah papa karena istrinya masuk rumah sakit. Jadi dia tetap di Jakarta sambil menyiapkan pemakamannya di sana."
"Biar aku membantumu, Gabby. Bunda, aku boleh kan pulangnya bareng Gabby?" tanya Gabrian.
Giani mengangguk. Ia senang jika Ian mau membantu Gabby. Namun ia juga melihat wajah Eil nampak kurang suka. Giani jadi bingung. Ada apa ya?
*********
Pukul 8 malam waktu Singapura, pesawat pribadi milik keluarga Dawson meninggalkan bandara Singapura. Sedangkan Gabrian membantu Gabby dalam mengurus segala sesuatu menyangkut keberangkatan jenasah papanya. Mereka akan naik pesawat pukul 10 pagi keesokan harinya.
Saat pesawat yang membawa keluarga Dawson tiba di Jakarta, Giani meminta agar Gabriel dan Eilaria tinggal di rumah mereka.
Hati Eilaria menjadi sakit, saat ia memasuki ruang tamu dan melihat sebuah foto keluarga berukuran jumbo. Ada Giani dan Jero yang duduk ditengah, sementara keempat anak-anaknya berdiri di belakang mereka. Waktu ia datang ke rumah ini beberapa waktu yang lalu, tidak ada foto itu.
Saat mereka tiba di ruang keluarga, ruangan itu juga penuh dengan foto-foto. Ada banyak sekali foto Gabrian dan Gabriel. Dari mereka kecil, remaja bahkan saat kelulusan mereka dengan seragam SMA. Kemana foto-foto itu saat ia datang beberapa waktu yang lalu? Apakah dengan sengaja disembunyikan?
Hati Eilaria merasa sangat sakit. Namun ia menekan semuanya itu. Apalagi saat memasuki kamar Gabriel. Tentu saja kamar itu berbeda dengan kamar Gabrian. Walaupun sama-sama ada lemari bukunya, namun lemari itu diisi dengan buku-buku tentang ekonomi, ilmu komputer dan segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis. Tak ada satu pun novel di antara rak buku itu.
"Sayang, ada apa?" tanya Gabriel yang baru keluar dari kamar mandi. Pria itu masih harus menggunakan tongkat penyangga karena kakinya belum kuat untuk berdiri sendiri.
"Tidak. Kamu sudah selesai? Aku mau ke kamar mandi dulu." Eilaria bergegas ke kamar mandi. Ia butuh mandi untuk menenangkan pikirannya yang menjadi panas karena kenyataan yang harus ia lihat di rumah ini..
Selama hampir setengah jam Eilaria memilih untuk berendam dengan sabun aroma terapi. Ketika ia selesai dan keluar dari kamar mandi sambil menggunakan jubah mandinya, ia melihat kalau Gabriel sudah tertidur. Memang setiap kali Gabriel selesai meminum obatnya, ia akan cepat mengantuk.
Eilaria membuka kopernya dan mengeluarkan piyamanya. Ia sendiri walaupun lelah namun sama sekali belum merasa mengantuk. Jadi selesai berpakaian, ia duduk di sofa sambil menyalahkan TV dengan suara yang sangat kecil. Sesekali matanya menengok ke arah ranjang saat ia melihat Gabriel yang bergerak.
Karena tak ada acara yang menarik, Eilaria pun merasa bosan. Ia menatap jarum jam yang sudah menunjukan pukul setengah satu dini hari. Biasanya, jika ia mengalami susah tidur, ia akan mengambil novel dan membacanya. Namun semua koleksi novelnya ada di apartemennya.
Ketika ia tak tahu harus melakukan apa lagi, otaknya mengingatkan dia, kalau kamar yang bersebelahan dengan kamar Gabriel, adalah kamar Gabrian. Di sana banyak sekali novel yang belum pernah dibacanya.Kamar itu juga pernah ia tiduri bersama Ian. Hati Eil memberontak oleh dorongan untuk pergi ke kamar itu. Haruskah ia pergi?
***********
Maaf kan emak yang baru up ya....
Akibat acara keluarga yg padat kemarin emak benar-benar kelelahan sampai jatuh sakit. Tadi saja emak nggak masuk kantor.
Semoga suka dengan bab ini.
Kira-kira Eil ke kamar Ian nggak ya?
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼
aku tetap se7 ian bersama Andrea
sak karepmu thor km yg bikin cerita kok 🤣🤣🤣
tp kn emng dunia tipu2 jdi nikmati alurny aja,apa lgi aku datang terahir bacanya 🤣🤣