Aksa, pria dewasa yang sudah matang dan mapan harus dihadapkan dengan ancaman sang Ayah
yang sudah sangat lelah dengan kelakuannya yang selalu bergonta-ganti wanita.
mampukah Aksa menutup luka lamanya. dan membuka hati untuk wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwatirta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karin, aku...
malam berganti karin tidak dapat memejamkan matanya. sekilas ingatan tentang aksa yang mencium keningnya membuat dia sulit memejamkan matanya. jantungnya seakan memompa lebih cepat dari biasanya.
"aaaa.. aku bisa gila lama lama kayak gini. karin ingat! kamu gak boleh terjerat pesonanya lebih dalam lagi. dia itu cowok playboy hal kayak gini pasti sudah dia lakukan kepada banyak wanita". karin berbicara pada dirinya sendiri.
"aku harus keluar untuk menyegarkan pikiran ku". karin segera keluar dari kamarnya. namun saat dirinya membuka pintu bertepatan dengan aksa yang juga membuka pintu.
glek!
karin menelan ludahnya kasar dia keluar untuk menyegarkan pikirannya, alih alih menyegarkan pikirannya yang membuatnya panas. dia malah berpapasan dengan aksa yang berhasil membuat pipinya merona mengingat ciuman singkat tadi.
"mau kemana?". suara bass aksa berhasil membuat karin gelagapan.
"hem", karin berusaha menetralkan hatinya. tanpa karin tau aksa juga merasakan hal yang sama.
meskipun hanya ciuman singkat di kening karin membuat gelora jiwa aksa membuncah. dengan senyum yang sangat tipis aksa berusaha bersikap biasa padahal jantungnya sedang berdetak tak karuan.
"mau ke kolam".
"malam malam begini? gak takut masuk angin?".
"gak. aku duluan ya om".
karin secepat mungkin menekan tombol lift, namun sayang aksa lebih dulu masuk ke dalam lift.
"eh?".
"kenapa? kita kan sama sama mau ke bawah".
aksa tersenyum dan menekan tombil lift untuk turun.
deg
deg
deg
jantung aksa dan karin sama sama berdebar. mungkin mereka saling mendengar detak jantung satu sama lain.
lidah karin begitu kelu untuk memulai pembicaraan, suasana di lift terasa lebih lama dari biasanya.
"kamu sudah makan?". tanya aksa
"belum".
"aku juga belum makan".
"terus?". karin menaikkan kedua alisnya
"apanya?".
"kalo om belum makan kenapa?."
"ya kita makan bareng". jawaban aksa berhasil membuat karin sesak nafas saking kagetnya.
bener bener ni om bikin jantung aku gak sehat!
"ya udah yuk makan bareng!". kali ini aksa yang kaget mendengar ajakan karin. sejak mereka turun dari mobil, aksa tau kalau karin berusaha menghindarinya.
"kamu mau makan apa?". tanya aksa
"apa aja deh yang ada di dapur." karin segera keluar darj lift mendahului aksa yang tersenyum kegirangan.
karin membuka tudung di atas meja makan, tapi tidak ada sisa makanan apapun disana. mungkin karena sudah tengah malam semua makanan sudah diberikan ke pos depan.
"kenapa?", aksa yang baru datang langsung bertanya kepada karin
"astaga! om ngagetin tau". karin mecebikkan bibir mungilnya
jangan bertingkah seperti itu, bibirmu sangat menggemaskan. aksa menggeleng menyadarkan pikiran mesumnya.
"om makanannya udah abis, gimana dong?".
"mau pesen online aja?". karin menggeleng
"om suka omelet gak? bikinnya gampang terus cepet".
"ok apapun makanannya, kalo kamu yang buat pasti aku makan".
"ish, dasar buaya!". karin bergumam pelan.
karin dengan cepat mengambil bahan bahan untuk membuat omelet di kulkas, menyiapkan semua peralatannya dan terahir memakai celemek pink bergambar hello kitty.
"ada yang bisa aku bantu?", aksa mendekat dan berbisik tepat di telinga karin membuat karin mematung, bulu halus kulitnya meremang.
"om?", karin menoleh tepat ketika aksa meghadap ke arah wajahnya. hembusan nafas mereka berdua beradu di udara.
praaaaanggggg
suara gelas jatuh mengagetkan mereka berdua.
shit! aksa menggeram kesal.
"ma'af tuan, bibi kira siapa". karin dan aksa berusaha bertingkah seperti biasa.
"gak papa bi, bibi ngapain? ada yang bibi butuhkan?". karin tersenyum kearah bi ijah
"gak ada neng, neng karin lagi apa? biar bibi bantu". aksa melotot kearah bi ijah. kalau ada bi ijah aksa tidak bisa berduaan dengan karin.
mendapat tatapan sinis dari aksa bi ijah segera menutup mulutnya. sepertinya bi ijah salah langkah.
"iya bi boleh". karin tersenyum
"aduh,," bi ijah memegangi perutnya.
"kenapa bi?"
"kayaknya bibi gak bisa bantu neng, perut bibi mules neng".
"ya sudah bibi istirahat aja, ayo karin anter".
"gak usah neng, entar bi ijah malah kena marah".
"kena marah?" karin mengkerutkan keningnya
mati aku keceplosan, bi ijah segera menutup mulutnya.
"ya sudah neng bibi ke kamar dulu. selamat bersenang senang". bi ijah segera ngacir dari
dapur.
karin melirik tajam ke arah aksa. aksa yang merasa ditatap oleh karin hanya mengedikkan bahunya.
"om ini potong wortelnya", aksa yang belum pernah berkutat dengan dapur dan perlatannya hanya menatap heran wortel dan pisau di tangannya.
"mau diapain?".
"ya dipotonglah om. dipotong dadu kecil. jangan bilang om tau motong wortel". aksa hanya nyengir kuda. karin hanya menggeleng tak percaya kemudian mengambil ponselnya.
"om liat di youtube! tinggal tiruin beres kan."
aksa mengamati video chef handal yang sedang memotong wortel. sepertinya mudah, aksa dengan telaten menirukan setiap gerak chef itu membuat karin tersenyum geli.
"om, bisa minta tolong?". aksa segera berdiri menghampiri karin.
"kenapa?".
"iketin rambutku om, tanganku penuh tepung". karin memperlihatkan kedua tangannya yang sudah putih.
aksa memangkas rapi rambut karin yang mengenai matanya. terpampang jelas leher putih mulus dan jenjang milik karin.
glek!
aksa merasa susah menelan salavinanya. padahal hanya melihat lehernya saja membuat aksa panas dingin.
"om, sudah selasai?", karin merasa gugup pasalnya sentuhan tangan aksa membuatnya merasakan glenyar aneh dalam dirinya.
"sudah".
"aku selesai membuat adonannya, sekarang kita masukkan wortel, bawang, dan susu". karin mencampur semua bahan, memanaskan wajan dan menuang semua bahan kedalamnya.
"wah, ternyata kamu hebat juga memasak. kamu seperti chef yang aku lihat di youtube tadi". aksa memuji karin
"benarkah?", aksa mengangguk.
padahal karin hanya menggunakan daster bahkan tanpa make up namun hal itu justru terlihat seksi di mata aksa. sedikit bulir keringat yang mulai terlihat di dahi karin menambah nilai plus di mata aksa.
hanya butuh beberapa menit, omelet sayur yang karin buat sudah tersaji diatas meja makan. dengan sedikit hiasan karin membuat makanan itu terlihat sangat lezat.
"ayo om dimakan keburu dingin", karin dengan telaten memotong omelet dan menyajikannya untuk aksa.
ah, senangnya dilayani seperti ini. pasti akan menyenangkan kalau kita sudah menikah rin. setiap hari pemandangan seperti ini akan benar benar membuatku bahagia. aksa tersenyum simpul.
"om ayo dimakan, malah bengong". aksa yang tersadar segera menyantap omeletnya.
"enak?". tanya karin. aksa mengacungkan dua jempolnya
"cok lezzetliydi". aksa tertawa membuat karin keheranan. seakan mengerti dengan kebingungan karin, tawa aksa semakin menggema di ruang makan.
"artinya lezat sekali".
"oh". karin mengangguk dan dengan cepat memasukkan omelet kedalam mulutnya. tiba tiba karin berhenti mengunyah ketika ibu jari aksa membersihkan saos di sudut bibirnya. aksa menatap lekat mata karin.
"karin aku....."