Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Khaulah yang masih setia berdiri disana setelah mendengar "Alara Diamon" disebut-sebut oleh mereka. Dan kali ini ia mendengar jika pemilik perusahaan itu mencintai wanita lain? Sungguh, benarkah? Jika iya, ia harus bagaimana. Karena sibuk memikirkan hal yang mungkin belum pasti sampai ia tak sadar jika ayahnya telah kembali dengan membawa dua bungkus makanan juga minuman.
"Sayang..., kok di sini hm? Abi tungguin di dalam kamu gak masuk-masuk."
Khaulah terperanjat melihat kehadiran ayahnya yang tiba-tiba. "A-bi, sudah selesai? Afwan buat Abi menunggu."
Alie tersenyum. "Tidak apa nak. Kamu kenapa disini hm?"
Khaulah bingung untuk menjawabnya. Bagaimana mungkin ia menceritakan yang sebenarnya, pasti ayahnya akan marah jika tahu masalah ini.
"Salma.. kok diam? Tidak seperti biasanya kamu seperti ini. Ada apa hm? Ada yang jahatin kamu? Atau handphone nya hilang gak ketemu?"
Khaulah dengan cepat menggeleng. "Tidak Abi, ini handphone sal ada. Sal tadi masih syok aja heheh..."
"Syok kenapa?"
"Eh, Abi sebaiknya kita ngobrol sambil jalan saja. Ini sudah mau magrib, Abi harus mampir ke masjid kan?"
Alie mengangguk lalu tangannya bergerak mengusap kepala sang anak penuh kasih sayang seolah menghantarkan ketenangan untuk khaulah. Kemudian ayah dan anak itu masuk ke dalam mobil, mobil bergerak meninggalkan parkiran restoran tersebut.
"Apa benar yang dikatakan laki-laki itu? Al mencintai wanita lain. Lalu kenapa dia menerima perjodohan ini? Jika memang benar yang dikatakan laki-laki itu, harusnya Al menolak perjodohan ini. Aku gak mau ya Allah jika aku menjadi alasan penyebab sakit hati wanita lain."
Berbagai pertanyaan muncul dibenak nya bersamaan dengan kekhawatirannya, kekecewaannya. Kegelisahan nya dirasakan oleh Alie yang merasa putrinya banyak berubah menjadi lebih banyak diam setelah pergi dari resto tadi. Ada apa dengan putri nya? Ada kejadian apa sebelum dirinya kembali? Pertanyaan itu muncul dalam pikirannya.
"Kita mampir di masjid depan yah. Nanti kamu bisa makan dengan tenang di sana." Tidak ada sahutan seperti biasanya. Membuat Alie kembali berkata. "Seringkali pikiran buat kita lupa akan rasa lapar yang sudah dirasakan sebelumnya. Kadang Abi kasihan dengan perut orang yang banyak pikiran."
Pernyataan Alie berhasil membuat khaulah menoleh ke arahnya. "Kenapa gitu Abi?" Tanyanya
Sudut bibirnya membentuk lengkungan indah. Senang rasanya bisa mendengar suara putrinya lagi. "Karena, orang yang banyak pikiran saat perutnya lapar seringkali disia-siakan, tidak diperhatikan, seolah hal itu gak penting. Padahal yang memberi tenaga itu yah dengan makan bukan dengan banyak pikiran."
Setelah sholat Maghrib Alie pergi mengantarkan khaulah ke boutique nya. Sampainya di boutique Alie meninggalkan khaulah bersama salah satu karyawan disana. Alie masuk ke ruangan dirinya yang ada di boutique itu untuk menelpon Fatih.
Dering telepon mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Paman Alie?" Ucap Fatih. "Assalamu'alaikum paman."
"Wa'alaikumussalam Al, maaf ganggu kamu kerja."
"Tidak masalah paman, ada apa? Katakan."
"Kamu sudah pulang ke Jogja malam ini?"
"Belum paman, saya masih di Jakarta."
"Kapan kamu pulang ke sana?"
"Jam 9 malam nanti paman, sekarang saya sedang menyelesaikan pekerjaan di sini dulu. Setelah itu baru pulang ke Jogja. Kenapa memang nya paman? Ada hal penting?"
"Ah, begitu yah. Iyah al, ini penting bagi saya."
"Apa itu paman?"
"Begini al, tadinya paman juga akan pulang ke Jogja tetapi ada kerjaan mendadak. Jadi, Salma pulang sendirian, kebetulan saya teringat kamu mau pulang juga ke Jogja kata Ahmed malam ini. Maka dari itu, saya boleh titip Salma bareng kamu?"
"Iyah tentu boleh paman. Apa tiket nya sama dengan milik saya?"
"Kami belum beli tiket nya al, apa nama pesawat yang kamu dapat? Dan dibangku berapa kamu duduk al?"
"Sriwijaya no 44 amar no 45, masih ada bangku kosong di belakang kami 46. Sudah saya pesankan paman."
"Syukron al, berapa harganya?"
"Tidak usah paman, nanti paman dan Salma langsung ke bandara atau bagaimana?"
"Nanti saya ke tempat mu saja al, saya antar kalian."
"Syukron paman, jadi merepotkan."
"Tidak sama sekali, saya yang terimakasih sudah mau dititipkan anak saya."
"Dengan senang hati."
"Tapi ingat jaga jarak, kalian belum sah. Jaga hati kalian jangan sampai syaitan menggoyahkan iman kalian, paham kan al?"
"Paham paman, terimakasih."
"Kembali kasih, assalamu'alaikum."