Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.
Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.
Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.
Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.
Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Antrean Cinta dan Mantra
Kadang, untuk mencari cinta, kita sampai rela antre. Tapi siapa sangka, yang sebenarnya kita cari bukan orangnya - melainkan hati kita yang hilang di tengah jalan.
...Happy Reading!...
...*****...
Elf berhenti di depan pangkalan ojek. Beberapa penumpang turun. Termasuk aku.
Aku merapatkan jaket. Udara dingin menyergap seperti mantan yang tiba-tiba kirim chat tengah malam.
Menyebalkan.
Tapi tetap bikin deg-degan.
Aku berjalan menuju deretan tukang ojek. Mereka berdiri berjejer seperti pasukan siap perang.
Aku memilih salah satu tukang ojek berdasarkan jenis motor. Aku pecinta motor matic, dan beliau kebetulan pakai matic.
Jodoh.
Motor melaju pelan melewati jalan sempit yang diselimuti kabut tipis. Rasanya seperti masuk ke dunia yang asing. Bukan dunia setan, tapi dunia absurd tempat logika ditinggalkan demi sesuatu bernama harapan.
"Mbak, ke Desa Candraloka mau ketemu Mbah Sarmini ya?"
Aku mendekat ke helm abang ojek. Jangan khawatir, kami sama-sama pakai helm. Aman secara fisik, walau secara mental aku mulai bertanya-tanya apa aku masih waras.
"Iya, Pak. Baru pertama kali. Coba-coba aja."
"Banyak yang datang buat coba-coba, Mbak. Pulangnya malah ketagihan."
Seperti kopi susu. Atau mantan yang selalu datang waktu kita mulai bahagia.
"Setiap Jumat Kliwon memang ramai ya?" tanyaku sambil mengusap embun di kaca helm.
"Ramai sekali. Harus antre. Pakai nomor seperti di puskesmas."
Aku terkekeh. Peramal rasa dokter. Bedanya, satu pakai stetoskop, satu pakai kartu tarot.
"Biasanya ada berapa orang?"
"Bisa dua puluh, kadang hampir seratus."
Luar biasa. Bahkan klinik kecantikan langganan Tasha kalah saing.
"Sudah terbukti, Mbak. Banyak yang katanya dapat jodoh setelah ke sana. Siapa tahu, Mbak juga."
Aku tersenyum tipis. Bukan karena percaya, tapi karena kalimat itu terdengar seperti doa yang diam-diam kubutuhkan.
Udara semakin dingin. Jalanan makin sempit, diapit pepohonan tua yang bergoyang pelan. Kabut menebal, menggulung seperti selimut yang menutupi sesuatu. Aromanya mulai berubah. Ada wangi dupa yang samar, seperti undangan tak bersuara untuk masuk lebih dalam.
Seekor burung hitam melintas rendah. Langit pucat. Sunyi. Tapi anehnya, tidak ada rasa takut. Yang ada hanya... tenang.
Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku berhenti pura-pura kuat. Aku tahu aku hancur. Aku tahu aku lelah. Dan aku tidak apa-apa mengakuinya.
Kalau untuk sembuh aku harus datang ke tempat ini, percaya pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan, lalu apa salahnya?
Mungkin ini bukan kelemahan.
Mungkin ini caraku belajar untuk percaya lagi.
Pada cinta. Pada diri sendiri.
Dan kalau ternyata bahagia dimulai dari lereng gunung dan dupa mistis...
ya sudah.
Setidaknya, aku tidak menyerah.
Setidaknya... aku masih mencoba.
Dan mungkin... aku akan pulang dengan versi diriku yang baru.
Mungkin... kali ini, aku bukan sedang mencari jodoh. Tapi mencari versi diriku yang berani untuk mencintai lagi.
...*****...
Beberapa menit kemudian, motor yang kutumpangi berhenti di depan rumah yang terlalu mewah untuk desa terpencil. Sederhana sih, tapi mencurigakan. Mencurigakan banget.
Bukan rumahnya yang bikin aku melongo, tapi kerumunan manusia di depannya. Kata abang ojek tadi, sehari bisa seratus orang. Kupikir dia lebay. Tapi baru jam segini, yang antre sudah seperti antre sembako. Tiga puluh orang. Mungkin lebih. Aku malas menghitung, nanti malah stres duluan sebelum konsultasi.
"Mbak, gak turun?" tegur si abang ojek yang mungkin sudah pegal karena aku masih nemplok di jok belakang seperti koala.
Aku buru-buru loncat turun, copot helm, dan menyerahkan satu lembar uang merah ke abang ojek. Lebih dari tarif normal.
"Lho, ini kelebihan, Mbak," ucapnya.
"Tidak apa-apa. Bonus. Doakan saja urusan percintaan saya beres, ya, Bang," balasku sambil senyum sopan.
Matanya langsung berbinar. "Wah, makasih banyak. Semoga cepat dapat jodoh yang cocok, ya Mbak."
Aamiin, Bang. Aamiin dalam hati sambil pura-pura senyum. Tapi dalam benakku cuma satu: semoga jodohnya tidak sesulit akses ke Candraloka.
"Siap, Bang. Saya masuk dulu."
Setelah dia pergi, aku melangkah ke halaman rumah Mbah Sarmini. Halamannya luas sekali. Bahkan cukup untuk syuting acara reality show bertema cinta dan mistis di lereng gunung.
Kaya benar ini Mbah Sarmini. Atau jangan-jangan memang dia jadi kaya karena bisnis peramalannya. Makin hari makin entrepreneur peramal zaman sekarang.
Cayra, fokus. Tujuanmu di sini konsultasi cinta, bukan audit keuangan peramal. Meskipun kalau jadi akuntan peramal, kayaknya lumayan juga.
Baru mau melangkah, mataku menangkap dua perempuan yang... oh tidak... cukup familiar. Mereka... perempuan yang kemarin membicarakan Mbah Sarmini di angkringan.
Aku langsung panik. Jangan-jangan mereka sadar aku datang ke sini karena nguping.
Aku langsung merogoh jaket, mencari sesuatu untuk menutup wajah. Dan seperti adegan film saat semesta turun tangan, aku menemukan masker. Masih tersegel, bersih, dan ada stiker emoji kutu buku.
Lagi-lagi stiker kutu buku.
Sama persis seperti di gagang payung waktu itu. Oke, ini mulai aneh. Jangan-jangan aku diikuti. Atau semesta sedang mengirimi clue. Tapi clue buat apa. Plot twist. Jodoh. Atau jebakan mistis bertema soft romance.
Belum sempat aku simpulkan konspirasinya, dua perempuan tadi menoleh ke arahku.
Dengan sigap, aku menunduk dan langsung memakai masker itu.
Terima kasih, siapa pun kamu. Masker ini menyelamatkanku dari potensi ghibah massal.
Setelah wajahku aman tersembunyi, aku lanjut masuk ke area rumah. Tapi langkahku langsung terhenti saat seorang ibu-ibu menyodorkan secarik kertas kecil.
"Ini nomor antrean, Mbak. Sekarang yang masuk baru nomor delapan belas."
Nomorku: empat puluh delapan.
Orang yang sedang masuk sekarang: delapan belas.
Tiga puluh orang lagi.
Tiga puluh orang.
Aku menatap langit. "Ya Tuhan... aku kuat, aku kuat, aku kuat," bisikku sambil mencari tempat duduk.
Sayangnya, satu-satunya kursi kosong berada tepat di dekat dua perempuan angkringan itu. Antara takut ketahuan dan pegal, aku akhirnya memilih keselamatan fisik. Duduk sajalah.
Mereka masih asyik ngobrol. Aku menarik napas lega. Tapi belum dua detik tenang...
"Halo, Mbak. Mau konsultasi juga, ya?" tegur salah satunya. Ramah. Terlalu ramah.
Aku mengangguk kecil.
"Konsultasi cinta juga, ya? Masalahnya apa, Mbak?"
Mbak, itu terlalu pribadi. Bahkan Tuhan pun memberi ruang privasi untuk umatnya.
"Banyak, Mbak. Gak bisa disebutin satu-satu," jawabku ketus manis.
"Wah, banyak ya. Mbah Sarmini bisa gak tuh nangani semua masalah cinta Mbaknya?"
"Tenang, bisa lah. Namanya juga peramal," sahut temannya.
"Nomor urut Mbaknya berapa?" tanyanya lagi.
Dengan malas aku tunjukkan kertasnya.
"Wah, kalau udah nomor segitu, baru bisa masuk sore menjelang malam, Mbak."
Sore? Malam?
Ya Tuhan, ini Candraloka atau rumah sakit.
Masalahnya bukan tidak bisa pulang. Ojek banyak, elf pun masih nangkring di pangkalan. Tapi aku kerja besok. Oke, secara teknis besok Sabtu, tapi kantor hanya libur Minggu. Dan aku hanya izin satu hari karena besok aku memiliki janji dengan klien baru seperti apa yang Tasha bilang tadi.
"Kalau Mbaknya nomor berapa?" tanyaku gantian.
"Nomor dua puluh lima. Sedikit lagi masuk."
"Dari rumah jam berapa berangkatnya?"
"Jam empat pagi. Sampai sini jam enam."
Wah. Pesaingku ternyata para pejuang cinta level nasional.
Kupikir aku sudah cukup niat, naik elf jam enam. Ternyata aku bukan satu-satunya yang desperate.
Lucu ya, kita semua datang dengan luka berbeda, tapi berharap satu orang asing bisa menyembuhkannya dengan mantra.
Pertanyaannya sekarang:
Sebenarnya semanjur apa sih Mbah Sarmini ini sampai orang rela antre sejak subuh buta?
Dan yang lebih penting...
Bisakah cinta disembuhkan hanya dengan mantra, jampi, dan kartu tarot?
Atau...
Aku cuma sedang antre untuk kecewa yang lain?