George Zionathan. Pria muda yang berusia 27 tahun itu, di kenal sebagai pemuda lemah, cacat dan tidak berguna.
Namun siapa sangka jika orang yang mereka anggap tidak berguna itu adalah ketua salah satu organisasi terbesar di New York. Black wolf adalah nama klan George, dia menjalani dua peran sekaligus, menjadi ketua klan dan CEO di perusahaan Ayahnya.
George menutup diri dan tidak ingin melakukan kencan buta yang sering kali Arsen siapkan. Alasannya George sudah memiliki gadis yang di cintai.
Hidup dalam penyesalan memanglah tidak mudah, George pernah membuat seseorang gadis masuk ke Rumah Sakit Jiwa hanya untuk memenuhi permintaan Nayara, gadis yang dia cintai.
Nafla Alexandria, 20 tahun. Putri Sah dari keluarga Alexandria. Setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa di paksa menjadi pengganti kakaknya menikah dengan putra sulung Arsen Zionathan.
George tetap menikahi Nafla meskipun tahu wanita itu gila, dia hanya ingin menebus kesalahannya di masalalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 IGTG
Di ruangan bernuansa merah dan hitam, dengan bau yang begitu menyengat. bukan kelompok bunga yang bertaburan, melainkan sisa daging dan tulang manusia.
George duduk menyandarkan tubuhnya di sofa panjang dengan kedua kaki yang berada di atas meja kaca. tidak ada aura kecintaan lagi.
Siluet matanya gelap, benar-benar siap memangsa habis beberapa manusia yang berada di hadapannya.
“Akhhh!!!"
Teriakan seorang pria yang kesakitan itu membuat George menarik sudut bibirnya, dia seakan begitu puas mendengar suara kesakitan itu.
Sementara Arion terlihat begitu terkejut, dia mengenali suara itu. Ya, itu suara putranya. Sedangkan Arsen hanya memasang wajah tanpa ekspresi.
Ekpresi George berubah perlahan namun jelas rahangnya mengeras.
“George, bisakah kau lepaskan, Rick?" Arion meminta meskipun kecil kemungkinan untuk George melepaskan, Rick.
George memejamkan matanya, merentangkan kedua tangannya di bahu sofa, lalu menegakkan kepalanya dan menajamkan pandangannya.
“Max" George sedikit menggerakkan kepalanya.
Max maju satu langkah lalu memberikan sebuah berkas yang membuat Arion dan Arsen menautkan kedua alisnya, bingung.
“Anda hanya perlu menandatangani pengalihan kepemilikan tambang minyak." Ucap Max.
Kedua pria dewasa itu kembali terkejut, tambang minyak yang di kelola oleh Arion bukan miliknya, tetapi itu usaha turun termurun dari kakek buyut mereka, Mr. Romero.
“George!!.. "
“Aakhhh!!" Kembali terdengar suara teriakan yang lebih keras dari sebelumnya.
Dari layar terlihat jelas bagaimana nafas Rick tersentak-sentak, wajah yang begitu pucat. Beberapa kuku jarinya sudah terlepas.
“George, Rick adalah saudaramu, please jangan mempermasalahkan apa yang dia lakukan, oke, paman minta maaf atas perbuatannya dan.. "
“Sejak kapan uang dan kekuasaan mengenal persaudaraan?"
Arion mengusap wajahnya kasar, bingung melanda, di satu sisi putranya memang salah dan sudah melewati batasan, sedangkan di sisi lain, dia sudah mendapatkan amanah untuk mengelola tambang itu sebaik mungkin.
Negosiasi dengan George ternyata lebih sulit dibandingkan dengan Felix ataupun Arsen.
Pandangannya kembali ke arah layar, Rick memegangi perutnya yang begitu menyakitkan, cairan merah mengalir dari jari-jarinya.
Sementara itu Xavier menatap tajam dan kembali memainkan belatinya yang di lumuri cairan merah.
Arsen sejak tadi hanya mengamati, dia berpikir jika George seperti menjadi pemimpin para psikopat, tidak ada yang memiliki perasaan dan hati nurani.
Xavier berjalan dengan tenang, lalu duduk di kursi yang ada di depan Rick, seringai kecil nampak sangat licik dan beraura iblis.
Astga, Nico bergidik, benarkah itu putranya yang George rakit menjadi manusia tanpa hati. George terkekeh, lalu menjentikan jarinya.
“Akhhhh!!" Rick kembali merintih.
“Paman, apa kau akan melihat putramu menjadi santapan pada buaya itu, baru tandan tangan?" Suara George mengalihkan pandangan Arion.
Pria dewasa itu melihat kearah Arsen. “Kau tidak bisa memilikinya George, tambang itu bisnis.. "
“Aku tidak ingin mendengar sejarahnya, berikan padaku atau aku habisi keponakan kesayanganmu itu, Dad?" Ucap George datar dengan tatapan dingin.
“Kau menantang ku George?" Tekan Arsen.
George mengangguk. “Di wilayahku tidak mengenal ikatan darah dan semua ini karenamu yang memberikannya kebebasan melakukan apapun di wilayahku tanpa memikirkan konsekuensinya!!"
George menekankan setiap kalimatnya. “Jangan terlalu meremehkan diamku Dad, sekarang kau bisa menyaksikan bagaimana cara kerja dari Black Wolf."
Mata Arsen melebar sempurna, kala di ruangan itu, Xavier kembali berdiri dan mengambil sesuatu.
“George, apa yang akan kau lakukan!!"
Sial, Arsen terlalu meremehkan putranya sendiri, dia pikir kekejaman dari Black Wolf hanya rumor, sebab dari permasalahan Nafla saja, George tidak begitu menunjukkan taringnya.
George, jangan melewati batasanmu, Daddy tidak pernah mengajarimu.. "
“Aku belajar dari paman Arion, rebut apapun yang menguntungkan dan habisi mereka yang menghalangi jalanmu. Benarkan Paman?"
George menaikan sebelah alisnya, tentu saja Arion mengingat kalimat yang pernah dia katakan pada George, tetapi itu hanya ucapan untuk penyemangat bukan untuk merebut sungguhan.
George mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya, pembicaraan pada tetua memang harus santai. Menyalahkan pematik api dan kembali memperhatikan para senior itu sembari menikmati rokoknya.
Dia memang bukan perokok aktif, hanya di saat-saat tertentu saja George menikmatinya, tetapi untuk minum-minun itu memang hal wajar bagi para ketua Mafia. Semua itu membuatnya lebih tenang.
“Sa.. Sakit.." Lirih Rick di saat Xavier menginjak telapak tangannya.
“Hentikan George!!"
Felix mengacungkan senjatanya dan hanya dalam hitungan detik, anak buah George mengepung mereka dengan senjata yang mengarah padanya.
Mereka berada di markas George, wilayah pria tampan yang memiliki luka di sebelah pipinya itu dan hanya dia yang mampu mengendalikan tempat itu saat ini.
Arsen memegang lengan putra keduanya dan perlahan menurunkan senjata Felix.
“Dad.."
Arsen menggelengkan kepalanya, bukan saatnya untuk bernegosiasi, dia tau kesabaran George sudah pada batasnya, Rick menimbulkan banyak kerugian dan merusak nama baik George di dunia bawah.
Menjual barang-barang kualitas rendah atas nama George, keluar masuk perbatasan dengan menyuap para penjaga.
“Tanda tangan, jangan membuang waktu, Rick tidak akan bertahan." Ucap Arsen.
Arion menggelengkan kepalanya. Namun melihat keadaan Rick yang sudah tidak memungkinkan membuatnya tidak memiliki pilihan lain.
“George, kau sungguh keterlaluan!! kau sungguh serakah!" Felix menggebu-gebu.
George tidak perduli dia melirik kearah Max, untuk segera mengambil kembali berkas yang sudah di tandatangani oleh pamannya itu.
Max memastikannya. “Tuan" Pemuda itu memperlihatkannya pada sang Tuan.
George menganggukkan kepalanya. Senyumnya merekah. “Bagus, lepaskan pengundang itu, sebagai tandanya, Xavier, ambil sebelah telinganya sebagai kenang-kenangan."
“George!! ... kau... "
“Kau bisa menggantikannya, Felix." George tersenyum meremehkan adiknya.
Disisi lain Nafla yang sejak tadi memperhatikan dari ruangan lain, bisa melihat bagaimana cara kerja sang Suami yang begitu kejam dan licik.
Mengambil banyak keuntungan dari perbuatan Rick, tetapi dia memiliki pandangan lain dari yang di lakukan oleh George.
Suaminya bukan benar-benar ingin mengambil alih tambang minyak itu, melainkan menyelamatkannya.
Tidak menutup kemungkinan Rick akan mengobrak-abriknya. anak itu terlalu di manjakan, sehingga berbuat semenang-menang.
“Max, bunuh semua orang yang berada di tambang itu dan ganti dengan orang-orang kita."
“George, jangan mengubah apapun, semua yang bekerja di sana orang kepercayaanku." ucap Arion.
“Kau sudah tidak ada hak untuk mengatur lagi Paman. jadi biarkan aku mengubahnya dengan orang-orang yang benar-benar ingin bekerja."
Brughh
Xavier melemparkan Rick kearah para senior itu, pemuda itu tergeletak di bawah kaki Felix dengan keadaan mengenaskan.
“Rick, kau keras kepala dan terlalu arogan, tidak mau mendengar peringatanku." ucap Felix menggelengkan kepalanya.
setelah itu pandangan Felix teralihkan pada Xavier yang berdiri di belakang George.
“Xavier.." gumamnya, kejadian beberapa tahun lalu membuatnya merasakan bersalah dan menjadi renggangnya hubungan persahabatan mereka.
Xavier tidak bereaksi, meskipun di depan sana ada Ayahnya.
kau bkn aq kesel ngakak