menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Denger Kata Kenya
Brak!
Pintu kamar terbuka lebar. Baskara berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan tatapan mata yang waspada, siap menghajar apa pun yang membuat putri semata wayangnya berteriak histeris.
Namun, pemandangan di dalam kamar justru tampak... sangat normal. Atau setidaknya, terlihat normal karena kelihaian seseorang dalam memutarbalikkan situasi.
Baffin saat ini sedang berdiri tegak di depan lemari pakaian Silva yang menjulang tinggi. Kedua tangannya terangkat ke atas, tampak sedang sekuat tenaga mendorong sebuah koper besar yang bertengger di atas lemari agar kembali ke posisi semula.
Sementara itu, Silva masih meringkuk di atas kasur dengan wajah pucat dan ekspresi ketakutan yang—kali ini—bukan akting belaka.
Baskara menurunkan ketegangannya, menatap bergantian ke arah putrinya dan Baffin. "Kenapa, Silva? Kok teriak-teriak?"
Sebelum Silva sempat membuka mulutnya yang masih kelu, Baffin sudah berbalik dengan napas yang sengaja dibuat agak terengah-engah. "Ini, Om... Tadi Silva nekat mau mengambil boneka beruangnya yang terselip di atas koper itu. Tapi karena dia kurang tinggi, kopernya malah bergeser dan hampir ketiban badan dia."
Mendengar penjelasan itu, Baskara langsung menghela napas panjang. Karena pada dasarnya Silva memang terkenal super ceroboh dan sering melakukan hal-hal ajaib di rumah, Baskara sama sekali tidak menaruh curiga. Pria paruh baya itu langsung memercayai ucapan Baffin seratus persen.
Baskara melangkah mendekat, menatap Silva dengan pandangan penuh peringatan khas seorang ayah. "Silva, lain kali hati-hati! Kalau mau mengambil barang di tempat yang tinggi dan susah kayak begitu, minta tolong orang lain. Jangan sok tahu sendiri. Untung saja kali ini ada Baffin yang sigap menolong kamu. Kalau enggak, kamu sudah masuk rumah sakit ketiban koper berat itu."
Silva hanya bisa melongo. Lidahnya mendadak kelu untuk protes. Ia menatap Baffin dengan pandangan tidak percaya. Cowok es itu benar-benar raja ngeles!
Baffin kemudian meraih boneka beruang yang tergeletak di dekat kaki lemari, lalu melemparnya pelan ke arah Silva. "Sudah aman, kan? Kalau begitu, aku pulang dulu, Om," pamit Baffin dengan sopan, lalu melangkah keluar dari kamar.
Silva masih mengerjapkan matanya bingung, menatap punggung tegap Baffin yang menghilang di balik pintu. Baru setelah Baskara ikut keluar dan menutup pintu kamarnya kembali, kesadaran Silva pulih sepenuhnya.
Gadis itu langsung bangkit dari kasur, melempar boneka beruangnya dengan kesal, lalu menghentakkan kakinya ke lantai. "Dasar cowok menyebalkan! Tukang bohong! Licik!" umpatnya tertahan.
Mencoba melupakan kejadian jantung mau copot tadi, Silva melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual malamnya sebelum tidur. Ia mulai menggosok gigi, membasuh wajahnya dengan sabun hingga segar, lalu terdiam. Silva menatap pantulan dirinya di cermin wastafel dalam waktu yang cukup lama.
Sebenarnya, ia bukan sedang mengagumi wajahnya sendiri. Melainkan karena otaknya secara otomatis memutar ulang kejadian beberapa menit lalu.
Ekspresi Baffin yang mengukung tubuhnya di kasur, sorot mata cowok itu yang mendadak berubah nakal, jarak hidung mereka yang begitu dekat, hingga embusan napas hangatnya... semuanya berputar seperti kaset rusak di kepala Silva. Jantungnya kembali berdegup kencang secara tidak tahu diri.
Merasakan pipinya kembali memanas, Silva buru-buru membilas wajahnya dengan air dingin. Ia mengeringkan wajah dengan handuk kecil, lalu membuka pintu kamar mandi dengan sisa kekesalan yang masih menumpuk di dada.
Begitu kakinya melangkah keluar, Silva langsung menggerutu keras, "Nyebelin banget sih!"
"Siapa yang nyebelin?" sebuah suara berat menyahut dengan santai.
Silva tersentak, tubuhnya membeku seketika.
Pandangannya lurus tertuju ke arah meja riasnya. Di sana, Baffin sedang duduk dengan posisi menyamping yang terlampau nyaman, satu kakinya ditumpangkan ke kaki yang lain, sementara tangannya sibuk mengotak-atik sebuah benda persegi yang sangat familier. Ponsel milik Silva.
"Astaga, APIN! Kok kamu masih di sini?!" tanya Silva dengan nada shock yang setengah tertahan, nyaris berteriak lagi.
Laki-laki itu mendongak dari layar ponsel, menatap Silva dengan cengiran miring andalannya yang super menyebalkan.
"Mau jahatin kamu. Tadi kan belum jadi," balas Baffin enteng tanpa dosa.
"Ih! Jangan coba-coba ya!" Silva mendelik kesal. Ia melangkah menghampiri cowok itu, lalu menarik lengannya dengan paksa. "Awas, minggir. Aku mau skincare-an."
Baffin bangkit berdiri. Namun, bukannya berjalan menuju pintu keluar, cowok itu justru melangkah santai dan merebahkan diri di atas ranjang Silva.
"Aku nyuruh kamu pulang, Apin. Bukan pindah tempat tidur!" omel Silva, berkacak pinggang.
Baffin tidak membalas. Ia hanya memejamkan mata dengan sebelah tangan menyangga kepala. Menyadari berdebat dengan Baffin hanya akan membuang waktu, Silva akhirnya memilih mengabaikannya dan mulai fokus pada rutinitas perawatan wajahnya.
Setelah selesai, Silva kembali menghampiri ranjangnya, berniat mengusir Baffin lagi. Tiba-tiba, ponsel baru yang sejak tadi berada di dalam genggaman Baffin berdering nyaring.
Melihat nama di layar, Silva langsung merampas ponsel itu dengan cepat. Kenya is calling.
Silva segera menggeser tombol hijau. "Halo, Ken?"
"Halo, Sil! Lo gak masuk hari ini?" Suara Kenya terdengar cepat dan berondongan di seberang sana. "Itu di grup si Edel sama Alif nyariin kita berdua. Katanya komplotan kita gak kelihatan seharian di sekolah."
"Iya, aku emang gak masuk," jawab Silva jujur. "Kamu sendiri emangnya juga bolos? Oh iya! Tadi pagi aku liat kamu di mall sama Archard."
"Lo liat gue?!" Suara Kenya meninggi sejenak. "Jadi lo juga ke mall? Sama Baffin?"
"Iya... handphone aku retak gara-gara ribut kemarin, jadi beli baru lagi. Kamu sendiri habis dari mall gak balik ke sekolah?"
Kenya mengembuskan napas berat lewat telepon. "Nah, ini dia yang mau gue ceritain sama lo."
Merasa obrolan ini akan berlangsung panjang, Silva yang semula berdiri di pinggir ranjang berniat untuk duduk.
Namun, belum sempat ia mendaratkan dirinya dengan benar, sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar posesif di pinggangnya. Baffin menarik tubuh Silva dalam sekali sentakan hingga gadis itu jatuh telentang di sampingnya.
Silva terpekik tertahan. Sambil terus menempelkan ponsel di telinga, tangan kirinya berusaha sekuat tenaga menyingkirkan lengan Baffin yang mengunci pinggangnya.
Namun, tenaga Baffin terlalu kuat. Setelah beberapa kali mencoba dan gagal, Silva akhirnya pasrah, membiarkan dirinya menjadi guling dadakan bagi Baffin demi mendengarkan cerita sahabatnya.
"Gue kesel, Sil. Malu juga, bingung juga. Pokoknya perasaan gue campur aduk gak karuan sekarang," keluh Kenya, suaranya mulai terdengar frustrasi. "Jadi gini, setelah selesai belanja kebutuhan sekolah yang diminta guru, gue ngajak dia nonton bentar. Bentar aja gue bilang."
"Terus Archard-nya mau?" tanya Silva penasaran.
"Awalnya dia nolak. Apalagi jam kelas kan belum selesai. Tapi karena gue paksa terus, akhirnya dia pasrah dan kita nonton lah. Tapi yang bikin nyebelin... di tengah-tengah film gue malah nangis!"
"Lho, kenapa? Filmnya sesedih apa emang?"
"Film bertema keluarga gitu. Pokoknya mendadak gue langsung teringat sama bonyok gue," ujar Kenya, nadanya agak melemah sebelum kembali cepat. "Terus pas mau balik ke sekolah, gue mendadak minta diantirin ke kuburan. Duh, baru mikir sekarang gue, kenapa tadi gue gak turun aja di jalan terus pesen taksi sendiri ya? Kenapa malah minta anter dia? Tapi pokoknya, akhirnya dia nganterin gue."
"Terus dia nemenin kamu di dalam makam?"
"Gak. Gue nyuruh dia nunggu di mobil aja. Tapi tetep aja, dia ikut turun walaupun gak masuk ke area pemakaman. Cuma berdiri diam di deket pintu mobil, mantengin gue dari jauh."
Kenya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum melanjutkan. "Habis dari kuburan, mood gue bener-bener hancur total. Makanya gue langsung nyuruh dia balik ke sekolah sendiri."
"Tapi dia pasti maksa buat nganterin kamu pulang, kan?" tebak Silva tepat sasaran.
"Iya! Akhirnya diantarlah gue sampai depan rumah. Sebelum turun, gue sempat bilang ke dia, 'Anggap lo gak liat apa pun hari ini'."
Silva makin tertarik, ia memiringkan tubuhnya, mengabaikan napas hangat Baffin yang kini menerpa pucuk kepalanya. "Terus? Terus gimana lagi?"
"Terus...!" Nada suara Kenya mendadak meninggi lagi, penuh letupan kekesalan. "Barusan banget dia dateng lagi ke rumah gue!"
"Ke rumah kamu?" Mata Silva membelalak.
"Iya! Dia bawain tas gue yang ketinggalan di sekolah , sekalian bawa sate ayam!" Kenya menggeram kesal.
"Wah... berarti dia beneran peduli sama kamu, Ken," ujar Silva antusias, menyimpulkan dengan kepolosan khasnya.
"Peduli pale lo bocil!" semprot Kenya berapi-api. "Begitu dia dateng bawain tas sama sate ayam, tahu gak pikiran gue langsung traveling ke mana?"
"Ke mana?" tanya Silva tidak sabar.
Nada bicara Kenya mendadak melemah, terdengar rapuh. "Gue langsung keingat Rey, Sil..."
Seketika, binar antusias di wajah Silva meredup. "Maksud kamu... kamu jadi teringat waktu Rey dulu sering kasih perhatian ke kamu, yang ternyata ujung-ujungnya cuma karena dia kasihan?"
"Seratus buat lo."
"Kalau gitu, jauh-jauh dari dia! Jauh-jauh sejauh-jauhnya!" balas Silva cepat tanpa berpikir panjang. Ia tahu betul bagaimana hancurnya hati Kenya saat menghadapi masa-masa sulit bersama Rey dulu. Silva tidak mau sahabatnya mengalami patah hati yang sama untuk kedua kalinya.
"Nah, karena gue gak mau hal itu keulang lagi, makanya tadi gue langsung ngomong blak-blakan sama dia. Gue ceritain soal Rey dulu, biar dia paham dan gak usah sok ngasih perhatian lagi kalau cuma didasari rasa kasihan. Tapi, Sil..." Kenya menggantung kalimatnya. Terdengar suara gesekan kuku yang gelisah di seberang telepon. "Gue rasa... tadi gue ngomongnya terlalu banyak deh. Gue jadi kayak—eh, bentar, dingin banget. Gue ambil jaket dulu."
"Kamu kedinginan?"
"Iya, mendadak menggigil, mungkin karena habis mandi." balas Kenya terdengar samar, diikuti suara cetrekan saklar AC yang dimatikan.
Ia berjalan mengambil jaket, memakainya, lalu kembali naik ke atas kasur sembari menyambar ponselnya lagi.
"Kamu mau sakit kali, Ken. Minum obat dulu kalau gitu," saran Silva khawatir.
"Iya, deh, ntar gampang. Ada obatnya kok di kotak p3k," jawab Kenya cepat, otaknya yang biasa cerdas kini terasa buntu karena terlalu fokus pada kepanikannya. "Tadi kita sampai mana ya?"
Silva bergumam sejenak mengingat-ingat. "Kamu ngerasa cerita terlalu banyak ke Archard."
"Nah, iya itu, Sil! Niat awal gue kan cuma mau negesin ke dia jangan perhatian karena kasihan. Tapi gara-gara panik, gue malah kebablasan cerita tentang masa lalu gue sama Rey. Kayaknya seharusnya gue gak usah cerita sedetail itu deh. Gue jadi bingung sendiri sekarang. Apalagi kita baru kenal sama Archard belum ada seminggu!"
"Hmm, tapi kamu ada ceritain soal orang tua kamu juga gak?" tanya Silva mencoba menganalisis.
"Enggak, sih. Cuma soal Rey doang. Itu pun gue gak nyebut namanya."
"Kalau gitu harusnya aman-aman aja. Archard kan tipe cowok kulkas yang irit ngomong kayak Apin. Dia gak bakal ember atau ngomong kemana-mana," sahut Silva menenangkan.
"Tapi itu kan kelemahan gue, Silva. Gimana kalau dia cowok manipulatif yang sengaja manfaatin cerita itu karena tahu itu titik lemah gue?" tanya Kenya lagi, rasa tidak amannya mulai mengambil alih logika pintarnya.
"Kayak-nya Archard gak kayak gitu deh orangnya..."
"Terus kalau dia tetep nekat ngasih perhatian, dan ternyata alasannya emang beneran karena kasihan, gue harus gimana?" tanya Kenya, menyuarakan skenario terburuk di kepalanya.
"Tampar aja," jawab Silva enteng. "Pasti rasa kasihannya langsung berubah jadi sebel."
Kenya mendengus di seberang sana. Sahabatnya yang polos ini kalau berbicara memang kadang suka asal ceplos, tapi anehnya sering kali berhasil memotong kepanikan di kepalanya.
Mendadak, Kenya teringat sesuatu. "Eh, btw, tadi lo bilang lo ke mall sama Baffin. Jadi pas lo ditarik paksa di koridor sekolah tadi pagi, dia langsung bawa lo ke mall?"
"Enggak langsung ke mall, sih," jawab Silva. Gadis itu kemudian mulai menceritakan kronologi keributannya dengan Baffin di halaman belakang sekolah, yang berujung pada aksi bolos massal dan perjalanan mereka ke pusat perbelanjaan.
"Astaga... jadi lo dibeliin handphone baru sama dia? Dan dia juga bilang lo gak boleh deket-deket sama cowok lain lagi?" Suara Kenya seketika berubah heboh. Kebingungannya menguap begitu saja, digantikan jiwa detektifnya yang mendadak aktif. "Fix ini mah! Dia suka sama lo, Sil. Dia cemburu. Dan cemburu itu tanda cinta!"
Silva mendengarkan analisis Kenya dengan ekspresi lempeng, padahal saat ini posisinya masih berada di dalam dekapan erat cowok yang sedang mereka bicarakan. "Enggak, Ken. Dia gak ada bilang kalau dia cemburu."
"Gengsi itu mah! Cowok modelan dia emang kayak gitu. Kalau dia tetep gak mau ngaku, besok-besok lo berangkat sekolah bareng cowok lain aja terus, biar dia panas sampai mau ngaku sendiri!" sahut Kenya memberi saran kompor.
Tut.
Sambungan telepon terputus sepihak.
Baffin adalah pelakunya. Dengan gerakan tenang namun dingin, jarinya baru saja menekan tombol merah di layar ponsel Silva, lalu melempar benda pipih itu ke ujung ranjang.
Mata elangnya menatap tajam ke arah Silva yang terkejut. Tangan Baffin yang berada di pinggang Silva semakin mempererat kunciannya, menarik tubuh gadis itu hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka.
"Awas kalau kamu berani ngikutin saran gak jelas dari temen kamu itu," bisik Baffin dengan nada rendah yang sarat akan ancaman mutlak.