Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Day 10...
15.30
Al kembali memasang earphone di telinganya. Dia tahu ini terlalu cepat untuk datang ke bukit ini lagi tapi membayangkan cookies yang dipesannya membuat Al cepat-cepat menyelesaikan kerjaannya. Al membaringkan tubuhnya, dia tahu Rin akan datang satu jam lagi. Al bisa beristirahat tanpa gangguan duo Jonas dan Arza.
Seseorang menggoyangkan kakinya dan Al terbangun. Dilihatnya Rin tersenyum dengan napas ngos-ngosan. Sepertinya baru sampai. Al duduk menurunkan kakinya agar Rin bisa duduk di sebelahnya.
"Mana?" tanya Al dengan suara serak bangun tidur.
"Hah! Sabar! Gue baru sampe," Rin duduk dan mengeluarkan tumblernya. Suara tegukannya membuat Al juga merasa haus.
"Mau?" tawar Rin menyodorkan tumblernya, kasihan liat Al mupeng liat Rin minum.
"Apa itu?"
"Es matcha!"
"nggak!"
"enak loh!" kekeh Rin sambil meletakkan kembali tumblernya. Dia lalu mengambil kantong yang diletakkannya di bawah.
"Nih! Sesuai pesanan, 3 toples cookies! Karena elo costumer pertama gue, jadi gue bonusin satu menu baru. Tapi gue nggak tahu lo suka apa nggak. Review aja ini!" Rin menyodorkan satu toples kecil berisi semacam cookies juga berwarna coklat dengan taburan kacang.
Al membuka tutup toples dan mengamati cookies itu. Kelihatannya enak. Al ambil satu lalu memasukkan ke mulutnya dan dia memejamkan mata menikmati kue di dalam mulutnya. Rasa crunchy dan lumer coklat jadi satu ditambah rasa gurih kacang. Sempurna! Tidak terlalu manis. Itu yang Al suka.
"Gimana?" tanya Rin. Al lupa kalau gadis itu masih menunggu.
"Not bad!"
"Haaah? Not bad? Biasa aja gitu?" tanya Rin.
"Ya rasa cookies pada umumnya!"jawab Al. Dia ambil satu lagi dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Hmmm gimana bedainnya ya!" Rin menggaruk kepalanya.
"kenapa?" tanya Al.
"Mau bikin variasi cookies lain, tapi beneran itu rasanya biasa aja?" tanya Rin.
"Hmm... Ya, tidak terlalu manis. Gue suka," ucap Al menatap Rin.
"Eh?"
"Cookies ini, menang karena manisnya nggak over," Al menjelaskan dengan kaku.
"Rasanya biasa aja, tapi elo suka. Gitu kan?" tanya Rin. Al mengangguk. Dan mencomot satu lagi. Lalu menutup toplesnya. Dia menghitung jumlah pesanannya di dalam kantong dan puas dengan pengemasannya yang manis. Terlihat profesional karena dibikinin box.
"Berapa?"
"Uhm... 3 toples gitu. Seratus lima puluh ribu. Kemahalan nggak?" tanya Rin. Kening Al berkerut. Kenapa penjual malah bertanya pada pembeli?
"Tiga toples segitu? Jualan jangan cuma dapat capeknya!"
"Maksudnya?"
"Ada pulpen?" Al meminta pena dan buku coretan Rin. Disana dengan perlahan Al jelasin.
"Kalau jualan, hitung dulu keseluruhan harga modal, termasuk biaya gas dan listrik. Atau kurir pengantaran. Total semua. Keuntungan penjualan itu empat puluh sampai lima puluh persen buat elu tapi ini coba ambil yang tiga puluh persennya aja dulu!" aal mencoret catatan dengan angka-angka
"Jadi kalo modal lu segini, ditambah listrik dan gas. Juga beli toples dan pita sekitar lima belas ribuan per toples. Harusnya lu jual per toples segini. Enam puluh tujuh ribu! Kalo lu jual lima puluh ribu, lu rugi hampir tujuh belas ribu per toples!"Al mencoret-coret buku catatan Rin melingkari angka keuntungan, angka penjualan dan angka modal.
"Jadi gue salah kasih harga?" tanya Rin.
"Hmmm... dan lo belum ngitung toples bonusan cookies coklat itu!" ucap Al.
"Rugi banyak gue!" teriak Rin.
"Dan kalo untuk promo, lu bikin paketan dengan hemat dua puluh persenan. Kayak box ini, beli 3.... Harusnya dua ratus lima puluh ribu dapat 3 toples. Nah itu modal toples cookies coklat udah nutupin. Meski untung tipis! Tapi ngak dapat capeknya doang!" Al meletakkan pena Rin. Membiarkan gadis itu memahami apa yang ditulisnya.
"Oh gue paham! Jadi dagangan gue dua ratus tujuh puluh lima ribu deh. Biar nggak tipis banget untungnya. Modal beli coklat sama kacang sangrai," ucap Rin.
"Gue turun dulu, jagain cookies gue!"
"Ngapain? Lo mau kabur ya? Nggak mau bayar?" tanya Rin. Al membuka dompetnya, menyerahkan uang tiga ratus ribu ke tangan Rin.
"Nggak usah dibalikin! Lo tunggu disini! Tenggorokan gue seret!" ucap Al. Rin tertawa saat laki-laki itu turun dari bukit.
Rin jadi senyum-senyum sendiri. Nggak sia-sia dia jual ke Al. Ternyata dia baik banget mau jelasin hal paling penting dalam berjualan.
Tak lama terdengar langkah kaki, Al sudah sampai membawa dua botol air mineral, satu cup kopi dan beberapa makanan ringan.
"Gue foto ini dulu boleh nggak? Buat jualan di kampus!" Rin menunjuk box berisi ketiga toples cookies.
Al segera merapikan kursi, membantu menata letak ketiga toples diatas box dan meletakkan satu toples kecil berisi cookies coklat di samping sebagai bonus. Setelah puas, Rin memosting dagangan di story-nya.
"Bagus?" Rin menyodorkan ponselnya. Al mengangguk.
"Nih, kembaliannya! Gue ambil dua ratus aja. Lo udah bantu ngitungin keuntungan gue," Rin menyerahkan uang seratus ribu ke Al.
"Nggak usah! Buat modal jualan lu! Sisanya beli es matcha lu yang gak enak itu!"
"Beneran? Thanks ya, sebagai gantinya nanti lu jadi orang pertama yang review menu-menu baru gue yah! Gratis!" ucap Rin memasukkan uang ke dompetnya.
"Hmm... Buat reviewnya jangan banyak-banyak. Namanya baru trial. Jangan sampe modal habis buat menu baru. Lo jalanin dulu progres cookies itu, kalo pamornya udah turun, keluarin menu baru. Jadi orang nggak bosen menunya itu mulu!" saran Al.
Rin mengerti. Dia mengangguk penuh semangat ditambah lagi ponselnya berdenting beberapa kali pesanan dari teman kampusnya. Dua orang sekaligus dan dosennya juga memesan 1 box.
Rin menunjukkan pesanan masuknya ke Al. Al mengangguk, tersenyum tipis. Sangat tipis nyaris tak terlihat.
Rin sibuk mencatat pesanannya. Juga daftar belanjaan untuk membuat pesanan tadi. Hanya membeli tambahan sedikit, karena sisa tepung masih ada di rumah.
Al memperhatikan Rin yang sibuk. Dia teringat sesuatu. Dia merogoh sakunya dan... Nggak ada! Dimanapun nggak ada!
"Nyari apa?" tanya Rin.
"Gue mau balikin sesuatu. Tapi kayaknya ketinggalan di rumah!" ucap Al.
"Oh... Gue kira dompet lu ilang!"
Al kembali duduk, memasang earphone kembali dan menikmati matahari yang sebentar lagi akan menghilang.
Rin sibuk dengan catatannya. Tak peduli dengan sekitarnya. Bahkan beberapa kali Al melirik ke arahnya. Terkadang ada senyum tipis dibibirnya melihat Rin yang mulutnya komat kamit menghitung, kadang mengomentari bahan yang dikira-kira cukup atau tidak.
Al mengarahkan ponselnya ke matahari yang sedikit lagi tenggelam. Memotonya dan mengunggahnya ke sosial media dengan caption :
Sehangat mentari sore!
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok