Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Yamazaki
Perkemahan pihak Akechi, Samanosuke yang menggunakan zirah milik Mitsuhide sama sekali tak di kenali oleh bawahannya. Sehingga para samurai yang di pimpin olehnya begitu menaruh hormat padanya. Selain wajah Samanosuke yang cukup mirip dengan Mitsuhide, kali ini Samanosuke menggunakan topeng pelindung muka atas perintah Mitsuhide. Apalagi pembawaan Samanosuke yang mirip kakak sepupunya itu membuat bawahannya semakin yakin bahwa yang memimpin mereka adalah Mitsuhide.
Ketika melihat pasukan baris depan yang di pimpin oleh Matsuda Masachika memberi sinyal padanya, Samanosuke segera mengatur pasukannya untuk bersiap menggempur pasukan lawan. Dari balik pepohonan di celah gunung muncul sepasukan samurai yang menggunakan tombak dan mulai membentuk formasi melingkar dan mengepung pasukan yang di pimpin Nagahide. Dalam keadaan terdesak Nagahide mencoba menerobos keluar dari formasi yang di buat oleh pasukan lawan. Nagahide bersama pasukannya dengan sengit mencoba melawan dan keluar dari formasi. Namun karena kalah jumlah satu persatu dari mereka terbunuh dalam kepungan formasi itu.
Sementara Magoichi yang datang belakangan masih mencoba masuk ke celah gunung, akibat jalanan yang sempit mengakibatkan hanya sekitar sepuluh orang yang bisa melewati celah gunung. Mereka yang telah melewati celah gunung akan langsung di serang oleh pasukan yang di pimpin Samanosuke, sehingga banyak dari mereka yang merenggang nyawa sebelum mencapai area perkemahan Akechi. Magoichi yang sadar musuh telah memasang perangkap memberi isyarat pada pasukan sayap kanan yang di pimpin langsung oleh Hideyoshi untuk mulai menjalankan rencana dari Hanbei. Hideyoshi segera memerintahkan pasukan pemanah untuk menembakan panah api dari atas bukit ke arah perkemahan Akechi untuk memecah konsentrasi musuh. Sementara pasukan penembak sundut di persiapkan untuk menyerang balik dari atas bukit.
Api mulai membumbung di perkemahan Akechi sehingga membuat para samurai yang berada di pihak Samanosuke panik, termasuk pasukan yang mengepung kelompok Nagahide. Nyawa Nagahide sedang berada di ujung tanduk ketika bantuan mulai datang, dia terluka parah. Ada bekas tusukan tombak di lengan sebelah kanan Nagahide.
"Sepertinya ini akhir bagiku, setidaknya Nabioka telah terbunuh," batin Nagahide.
Peluh bercampur darah membasahi zirah yang di gunakan Nagahide. Tak terasa air matanya menetes, dia mengingat kembali ketika dia pertama kali bekerja di bawah Hideyoshi. Orang yang mengajaknya untuk menjadi bawahan Hideyoshi adalah Nabioka Kamon. Mereka telah bersahabat sejak kecil, namun karena perbedaan pandangan Nabioka Kamon membelot dan malah ikut memberontak bersama Mitsuhide.
"Setidaknya kami akan di pertemukan di alam baka nanti." Nagahide tersenyum lalu meraih tanto yang terselip di pinggangnya.
Dia merobek perutnya menggunakan pisau itu dan melakukan ritual seppuku di tengah pertempuran.
*
Pasukan Akechi yang mendapat serangan tiba-tiba dari atas bukit menjadi panik dan memecah konsentrasi mereka. Sehingga pasukan Hideyoshi dapat menembaki mereka menggunakan senapan sundut tanpa perlawanan berarti. Sementara Samanosuke yang mengetahui telah terkepung segera memacu kudanya untuk masuk ke kota Yamazaki. Namun saat sampai kota tersebut telah kosong dan tak ada penduduk lagi, termasuk Mitsuhide yang menghilang tanpa jejak.
Saat mencoba memacu kudanya untuk pergi dari kota, Samanosuke tanpa sengaja melihat ke atas, ada sosok yang melayang di angkasa. Samanosuke bergidik dan ketakutan ketika melihat sosok itu. Makhluk yang terbang di angkasa ini menyerupai manusia, namun memiliki sayap membentang sepanjang 3 meter. Sementara wajahnya berwarna merah dengan hidung yang panjang dan rambut berwarna putih terang. Makhluk ini juga menggunakan pakaian layaknya pendeta dengan katana melekat di pinggangnya. Samanosuke mengenali makhluk ini sebagai tengu salah satu yokai yang berada dalam legenda Jepang. Kemunculan tengu biasanya membawa petaka bagi orang yang melihatnya.
Benar saja, saat melihat Samanosuke makhluk itu langsung terbang melesat ke arah Samanosuke dan mencoba menyerangnya. Samanosuke yang panik ingin melarikan diri dari makhluk itu, dia memacu kudanya dengan cepat ke arah desa Ogurusu yang dekat dengan kota Yamazaki. Namun kecepatan terbang tengu bukanlah tandingan dari kuda itu sehingga saat sampai di desa Ogurusu yang telah terbakar Samanosuke tersusul oleh makhluk itu. Dengan cepat makhluk itu menerjang Samanosuke hingga terjatuh dari kudanya.
"Aaakkkhhhh," terdengar suara aneh dari arah makhluk itu.
Samanosuke terperanjat, walaupun dari luar hanya terdengar seperti suara koakan burung gagak namun, ada suara misterius yang masuk ke pikiran Samanosuke.
"Manusia! Beraninya kalian berperang di daerah ini. Tidak tahukah kalian kalau daerah ini milik kami, Sojobo akan murka jika sampai tempat kami berdiam di rusak oleh manusia rendahan seperti kalian," begitulah suara yang terdengar dalam pikiran Samanosuke.
Samanosuke menerka kalau suara itu adalah suara tengu yang mengejarnya tersebut. Jadi dia mencoba berkomunikasi dengan makhluk itu.
"Kami tidak pernah bermaksud sengaja untuk merusak tempat tinggal kalian. Hanya kebetulan saja pertempuran terjadi di sekitar sini. Kami tidak pernah tahu bahwa di sekitar sini adalah tempat tinggal kalian," Samanosuke memberi penjelasan.
"Aaakkkhhhh," suara kaokan itu kembali terdengar. "Hati kalian para manusia itu selalu diisi rasa iri dan kebencian. Kalian manusia memperluas wilayah kekuasaan dengan cara berperang dan merusak alam. Apa kalian terlalu tamak untuk menguasai seluruh daratan dan menjadikan tempat tinggal kalian tanpa berpikir akibatnya? Kegelapan hati kalianlah yang suatu saat akan menghancurkan kalian,"
Bersamaan dengan selesainya suara itu makhluk itu terbang ke arah Samanosuke dan menyerangnya. Samanosuke terlempar sampai belasan meter dari tempatnya berdiri sebelumnya. Saat terjatuh ke tanah dia kehilangan kesadaran.
*
Pertempuran di celah gunung telah mereda dengan pasukan Hideyoshi yang keluar sebagai pemenang. Pasukan Mitsuhide yang tertangkap di biarkan memilih menyerah dan bekerja di bawah Hideyoshi atau melakukan seppuku sebagai bentuk pengakuan atas kekalahan mereka. Kebanyakan dari mereka memilih menyerah dan berkerja di bawah Hideyoshi, sementara sisanya memilih melakukan seppuku dan mati secara terhormat. Matsuda Masachika adalah salah satu orang yang memilih menyerah, dia adalah salah satu orang yang berada langsung dibawah perintah Mitsuhide.
Hideyoshi turun dari kudanya dan menghampiri Matsuda yang sedang berlutut.
"Apa kau tahu kemana perginya Mitsuhide?" tanya Hideyoshi.
"Saat pertempuran ketika perkemahan terbakar dan kami terdesak, aku melihatnya melarikan diri ke arah kota Yamazaki. Saat ini mungkin dia telah pergi dari kota, di dekat Yamazaki ada desa kecil bernama Ogurusu. Mitsuhide punya kerabat di sana, mungkin dia melarikan diri ke desa tersebut," Matsuda memberi penjelasan pada Hideyoshi.
"Baiklah! Kita akan menuju kesana dan menangkap pengkhianat ini, aku tak akan puas sebelum melihat dia mati." Hideyoshi segera memberi arahan pada bawahannya untuk mengurus mayat-mayat yang berserakan di tempat pertempuran. Sementara dia pergi membawa sepasukan samurai menuju desa Ogurusu yang di maksud oleh Matsuda.
Singkat perjalanan, ketika sampai di desa Ogurusu, Hideyoshi terkejut melihat desa tersebut telah hangus di lahap api dan hanya tersisa reruntuhan bangunan. Hideyoshi memutuskan untuk berkeliling mencari tahu apa yang terjadi dengan desa tersebut. Sampai dia menemukan mayat yang masih menggunakan zirah perang milik Mitsuhide. Saat Hideyoshi hendak memeriksa mayat tersebut ada bulu aneh yang melayang di sekitar mayat itu. Hideyoshi kebingungan melihat bulu-bulu itu karena jika di sentuh bulu-bulu itu akan membias dan berubah menjadi abu. Tak ingin ambil pusing Hideyoshi segera memeriksa mayat itu, dia melepaskan kabuto dan topeng pelindung muka dari kepala dan wajah mayat itu.
Hideyoshi melompat mundur ketika melihat wajah mayat itu membuat para bawahan yang mengikutinya terkejut.
"Apa-apaan ini?" teriak Hideyoshi terkejut.
Mayat itu masih utuh, namun ketika Hideyoshi melihat wajah mayat itu untuk mengetahui orang yang menggunakan zirah Mitsuhide itu. Dia terlihat ketakutan, wajah mayat itu menghilang. Tak ada luka atau apapun di wajah mayat itu, namun mata, hidung serta mulut mayat itu tidak ada. Hanya wajah rata yang tak memiliki bentuk. Para samurai yang melihat mayat itupun menjadi ketakutan, beberapa dari mereka sampai berniat melarikan diri karena takut. Namun melihat Hideyoshi yang kembali memeriksa mayat itu mereka mengurungkan niatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Hideyoshi bertanya dalam hatinya.
Setelah memastikan bahwa itu adalah mayat Mitsuhide, Hideyoshi segera memerintahkan para bawahannya untuk mengubur dan menyembunyikan kejadian tentang mayat itu. Setelah itu Hideyoshi bersama pasukannya kembali ke Kyoto untuk menemui kaisar Goyozei di sana dan berunding tentang penerus klan Oda. Saat sampai di kediaman kaisar, Hideyoshi di sambut baik oleh sang kaisar.
Hideyoshi yang berhasil menumpas pemberontak mendapat perhatian dari kaisar dan bahkan di berikan marga keluarga Toyotomi sebagai bentuk terima kasih kaisar. Mulai saat itulah Hideyoshi di kenal dengan nama Hideyoshi Toyotomi. Dari perundingan itu juga Hideyoshi mengusulkan Hidenobu Oda, anak dari Nobutada Oda yang merupakan putra pertama Oda yang juga gugur pasca pemberontakan sebagai pewaris sah klan Oda. Hideyoshi juga diangkat sebagai kampaku bagi Hidenobu oleh kaisar Goyozei. Tak lama setelah pengangkatan Hideyoshi sebagai kampaku dia juga mengkonsolidasikan diri sebagai pencetus pemersatu daratan Jepang.
*
Provinsi Mikawa, di kediaman klan Tokugawa. Saat kembali dari lembah Ueno hal pertama yang dilakukan oleh Ieyasu adalah mengumpulkan bawahannya yang berada di sekitar provinsi Mikawa dan mengkonsolidasikan diri sebagai penerus dari kekuasaan Nobunaga. Namun saat mengetahui Hideyoshi telah mengkonsolidasikan diri terlebih dahulu Ieyasu membatalkan niatnya.
"Bagaimanapun Hideyoshi-san adalah tangan kanan Nobunaga, dia berhak atas itu." itulah yang dikatakan Ieyasu pada bawahannya saat orang-orang mendorongnya untuk mengambil alih kepemimpinan Nobunaga.
Sementara itu, Ogen yang ikut kembali ke Mikawa menemui Hanzo untuk meminta izin kembali ke Owari. Bagaimanapun Ogen masih bagian dari Iga, jadi dia tak sembarang mengambil keputusan untuk kembali ke Owari sebelum di beri izin oleh Hanzo yang merupakan kepala klan Hattori sekaligus pemimpin di Iga.
"Jaga dirimu baik-baik, saat anak itu lahir aku akan menemuimu di Owari. Anak itu juga merupakan bagian dari keluarga Hattori aku yang akan membimbingnya langsung nanti. Aku akan menyuruh Tanba untuk mengawalmu kembali ke Owari, berhati-hatilah," Hanzo memberi pesan kepada adik sepupunya itu.
Dalam perjalanan kembali ke Owari, Ogen meminta pada Tanba untuk mengantarnya ke gunung Kurama. Dia memutuskan untuk tidak kembali ke Owari tapi malah mengasingkan diri ke hutan Kurama yang terletak di kaki gunung Kurama di Kyoto. Ogen beralasan untuk mengenang kematian Nobunaga yang mati di Kyoto. Pada awalnya Tanba ragu karena melanggar perintah dari Hanzo, namun setelah terus di bujuk oleh Ogen dia menyanggupinya dengan syarat dia akan melaporkannya pada Hanzo saat kembali ke Iga.
Beberapa minggu berlalu sejak bara api di desa Ogurusu padam dan nama Hideyoshi Toyotomi mulai mengguncang seantero negeri. Di bawah rimbunnya pohon-pohon kuno di kaki Gunung Kurama, waktu seakan berjalan lebih lambat. Ogen menghabiskan hari-harinya dalam kesunyian sebuah gubuk tua, merawat kandungannya yang kian membesar sembari menenun doa bagi mendiang suaminya. Namun, kedamaian di gunung suci itu tidak bertahan lama. Memasuki minggu ketiga, keheningan Kurama perlahan berubah menjadi ketegangan yang mencekam, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas menyambut sesuatu yang tabu.
Tepat pada suatu malam ketika bulan purnama bersinar merah merona, Ogen tiba-tiba terbangun dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam bagian bawah perutnya—tanda bahwa sang cabang bayi telah siap melihat dunia. Namun, bersamaan dengan jeritan pertama Ogen yang tertahan, puncak Gunung Kurama mendadak bergolak. Angin topan yang dingin bertiup entah dari mana, menghempas pepohonan cedar raksasa hingga tumbang dan meliuk-liuk liar seolah-olah sedang menyembah sesuatu di udara.
Gangguan alam itu kian menjadi-jadi di sekeliling puncak Kurama. Kawanan burung gagak hitam terbang berputar-putar dalam jumlah ribuan, memenuhi langit malam dengan koakan yang memekakkan telinga—persis seperti suara misterius yang didengar Samanosuke sebelum kematiannya. Petir menyambar bertubi-tubi tanpa adanya hujan, membelah langit malam dan memancarkan kilatan cahaya keunguan yang aneh tepat di atas gubuk tempat Ogen bertaruh nyawa. Alam Kurama tidak sedang menyambut kelahiran seorang manusia biasa; badai mistis yang mengamuk di puncak gunung itu adalah pertanda bahwa darah 'Raja Iblis Surga Keenam' dan garis keturunan shinobi Iga akan segera melahirkan sebuah takdir baru yang mampu menggetarkan jagat spiritual Jepang.