Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: CERMIN RETAK
Kamar tidur berukuran tiga kali empat meter di rumah orang tua Raya di pinggiran kota terasa menyesakkan. Cahaya matahari pagi menerobos melalu celah tirai yang kusam, menerpa permukaan cermin meja rias tua berdebu.
Raya duduk di depan cermin itu. Tangan kirinya yang terbalut perban tipis bergetar hebat saat jemarinya perlahan menyingkap kain kasa yang menutupi bagian leher dan sebagian pipi kirinya.
Di balik balutan itu, terhampar pemandangan yang amat mengerikan. Kulit mulus nan kencang yang dulu sangat ia banggakan kini berubah menjadi jaringan parut berwarna merah kehitaman, keriput, dan melepuh tebal. Luka bakar derajat tiga itu membentang dari bawah telinga, menjalar turun ke leher, dada, hingga paha bagian atasnya.
"Nggak... ini bukan aku..." bisik Raya parau. Suaranya tercekat di kerongkongan.
Air mata menetes deras dari pelupuk matanya, menetes tepat di atas jaringan kulit melepuh di dadanya, memicu rasa perih yang begitu menyengat. Raya memegang dadanya seraya merintih kesakitan, namun matanya tak sanggup berpaling dari bayangan monster di dalam cermin.
Wajah cantik nan segar yang dulu membuat pria-pria menoleh kini telah lenyap. Digantikan oleh cacat permanen yang akan terus menghantuinya seumur hidup.
"Kenapa harus wajahku... Kenapa?!" jerit Raya histeris seraya memukul meja rias, membuat botol-botol salep obat luka bakar terpental dan jatuh berserakan di lantai.
Pintu kamar terbuka kasar. Ibu Sumi melangkah masuk dengan raut wajah kusam dan mata yang sembap karena terlalu banyak menangis.
"Raya! Kamu mau mengamuk sampai kapan lagi, Hah?!" tegur ibunya dengan suara serak. "Suaramu kedengaran sampai ke luar! Tetangga-tetangga dari tadi sudah berkumpul di depan pagar, menunjuk-nunjuk rumah kita!"
Raya menoleh cepat, menatap ibunya dengan mata merah penuh amarah dan rasa putus asa. "Ibu tidak lihat muka Raya kayak apa sekarang?! Raya cacat, Bu! Raya dipecat dari sekolah! Mas Sony tidak mau tanggung jawab dan malah memaki-maki Raya! Kenapa Ibu malah mikirin tetangga?!"
Ibu Sumi menghembuskan napas panjang, berlutut untuk memunguti botol-botol obat yang berserakan. Ada kepedihan sekaligus kekecewaan mendalam di mata wanita tua itu.
"Kamu bilang Sony tidak mau tanggung jawab? Ya memang begitu!" bentak Ibu Sumi seraya berdiri dan menatap anaknya tajam. "Kamu pikir pria hidung belang yang berani mengkhianati istri dan anaknya sendiri bakal setia sama kamu?! Kamu itu cuma dipakai buat pemuas nafsunya, Raya! Sekarang setelah kamu cacat dan dia bangkrut, kamu dibuang begitu saja!"
"Mas Sony tidak bangkrut! Dia cuma dijebak sama wanita iblis itu!" jerit Raya membela diri, menyangkal kenyataan pahit yang mengepungnya.
"Wanita iblis kamu bilang?!" Ibu Sumi mendengus kasar, lalu menepuk dadanya sendiri dengan emosi yang membumbung. "Raya... coba kamu ingat-ingat lagi! Siapa yang selama ini sangat baik sama kamu?! Siapa yang menganggap kamu seperti adiknya sendiri?!"
Kata-kata ibunya menghantam dada Raya seperti tikaman belati dingin.
Memori masa lalu yang berusaha Raya kubur dalam-dalam mendadak berputar kembali di benaknya dengan sangat jelas.
Satu tahun lalu, saat Raya pertama kali diterima menjadi guru di TK Cendekia dan memegang kelas Bima, Ranti adalah wali murid pertama yang bersikap amat sangat ramah padanya. Ranti tidak pernah memandang Raya hanya sebagai pengasuh atau guru biasa.
Ranti sering membawakannya bekal makanan lezat yang dimasak sendiri dari rumah. Saat Ranti menyadari Raya hanya berjalan kaki atau naik angkutan umum ke sekolah, Ranti sering menawarkan tumpangan.
Bahkan, kenangan itu makin menyayat saat Raya mengingat momen ulang tahunnya delapan bulan yang lalu. Ranti mengajak Raya makan malam di restoran mewah, lalu membawanya ke sebuah butik pakaian ternama di mall kawasan Jakarta Selatan.
“Raya, kamu kan sudah dianggap seperti adikku sendiri. Kamu baik sekali, sabar dan telaten mengajari Bima. Pilih saja baju dan sepatu mana yang kamu suka, nanti Mbak yang bayar semuanya,” tutur Ranti kala itu dengan senyum hangat nan tulus seraya mengelus bahu Raya.
Hari itu, Ranti membelanjakan dua gaun bermerek, dua pasang sepatu kulit mahal, dan tas tangan bagus untuk Raya—sesuatu yang tak pernah mampu dibeli oleh gaji guru TK-nya.
Bima pun sangat menyayangi Raya. Anak kecil itu selalu menyambut Raya dengan pelukan hangat dan panggilan "Tante Raya" yang ceria. Ranti percaya penuh padanya. Ranti membuka pintu rumahnya lebar-lebar, menganggap Raya sebagai bagian dari keluarga.
Namun, bagaimana Raya membalas kebaikan murni itu?
Dengan racun. Dengan godaan dan kerlingan mata di belakang Ranti. Dengan memanfaatkan kebaikan Ranti untuk mendekati Sony, menikmati fasilitas mewah yang dibeli dari uang rumah tangga Ranti, hingga akhirnya dengan tega meniduri suami dari wanita yang sudah menganggapnya sebagai adik kandung—di atas ranjang tempat Ranti beristirahat setiap malam.
"Mbak Ranti..." bisik Raya lirih. Penyesalan yang kelam mulai merayapi celah-celah hatinya yang hancur.
"Ingat kan kamu?" cetus Ibu Sumi dengan mata berkaca-kaca. "Mbak Ranti itu kurang baik apa sama kamu, Raya? Dia belikan kamu baju bagus, sepatu mahal, memperlakukan kamu dengan sangat terhormat! Tapi kamu malah menusuk dadanya dari belakang! Kamu racuni rumah tangganya!"
"Raya tidak bermaksud, Bu..." rintih Raya, suaranya gemetar. "Raya cuma... Raya cuma silau... Mas Sony selalu memuji Raya, kasih Raya uang jajan, kasih janji-janji manis..."
"Janji manis dari suami orang!" potong Ibu Sumi murka. "Sekarang lihat hasilnya! Baju-baju mahal yang dibelikan Mbak Ranti sudah tidak ada artinya! Muka kamu rusak, nama baik keluarga hancur, kamu tidak punya pekerjaan, dan pria yang kamu bela mati-matian itu malah membuang kamu seperti sampah!"
Ibu Sumi melemparkan botol salep ke atas meja rias, lalu menyapu air matanya kasar.
"Bapakmu sedang mengurus kepindahan kita kembali ke kampung halaman sore ini," ujar Ibu Sumi dingin. "Kamu tidak punya masa depan lagi di kota ini. Cabut semua impian gilamu untuk jadi orang kaya secara instan. Di kampung, kamu belajar untuk meratapi dosamu sendiri."
Ibu Sumi membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar, membanting pintu dengan keras.
BAM!
Keheningan kembali melingkupi kamar itu.
Raya kembali menatap bayangan dirinya di cermin. Bekas luka bakar melepuh di leher dan mukanya seolah menjadi stempel abadi dari pengkhianatannya.
Raya teringat kembali percakapan terakhirnya di telepon dengan Sony sejam yang lalu. Suara bentakan Sony yang kasar, makian, dan penolakan pria itu untuk membiayai perawatan medisnya terus bergema menembus gendang telinganya.
“Apartemen jidatmu?! Kamu tidak tahu diri ya?! Gara-gara kamu, aku kehilangan rumah, hilang mobil, dipecat dari perusahaanku sendiri! Aku sekarang cuma numpang di rumah ibuku dan tidak punya uang sepeser pun!”
Raya tertawa parau—sebuah tawa keputusasaan yang diwarnai isak tangis.
Dulu, ia membayangkan akan merebut posisi Ranti. Ia membayangkan duduk di mobil mewah Sony, tinggal di rumah elit Grand Residence, dan dipanggil sebagai 'Nyonya Sony Kurniawan'. Ia merasa menang saat Ranti tersingkir.
Namun kini, kenyataan menghantamnya tanpa ampun.
Ranti tidak tersingkir. Ranti justru berdiri tegak, makin berkuasa, kaya raya, dan dihormati sebagai pimpinan baru perusahaan. Sementara dirinya sendiri? Ia hanya mendapatkan cacat fisik, stigma sebagai wanita pemuas nafsu dan perusak rumah tangga, serta kepulangan yang penuh rasa malu ke kampung halaman.
Raya merengkuh lututnya di atas lantai kamar yang dingin. Ia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan paha yang ikut melepuh.
Di dalam kegelapan itu, Raya meratapi wajahnya yang rusak, kariernya yang hancur, dan dosanya yang tak terampuni. Air matanya terus mengalir, membasahi luka bakar di fisiknya—sebuah rasa terbakar yang tak akan pernah bisa disembuhkan oleh obat apa pun, karena api yang sesungguhnya berasal dari penyesalan atas pengkhianatan yang ia rakit dengan tangannya sendiri.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.