"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.7 -Fitnah dan Hukuman
Tak terasa malam pun tiba. Suasana di dalam mansion mewah keluarga Laurent mendadak mencekam. Gavin yang penuh rasa dendam telah memberitahu Arthur dan Eleanor tentang tindakan Damian yang membeli barang-barang mewah serta makan di restoran elit bersama seorang pelayan.
Tidak hanya itu, Gavin juga memutarbalikkan fakta dengan mengadukan Lilian yang dituduhnya telah mencuri uang miliknya secara sembunyi-sembunyi.
"Aku mau Daddy sama Mommy hukum Lilian! Kalau perlu pecat saja! Aku gak suka ada pembantu yang tidak tahu diri seperti itu di rumah kita!" ujar Gavin memprovokasi suasana dengan wajah berpura-pura menjadi korban.
Arthur yang terpancing emosinya langsung mengebrak meja kaca di ruang tamu. "Pengawal! Bawa Damian dan pelayan itu ke sini sekarang juga!" titahnya tegas.
"Baik, Tuan!" jawab para pengawal serempak sebelum terburu-buru melaksanakan perintah.
Gavin yang berdiri di samping sofa tersenyum puas di dalam hati. Ia melipat kedua tangannya di dada sambil menatap ke arah koridor utama. 'Mampus! Habis kalian malam ini! Nggak ada yang bisa menyelamatkan kalian lagi,' bisiknya licik.
Tak lama kemudian, Damian diseret masuk secara kasar oleh dua pengawal bertubuh kekar. Langkah kakinya diseret hingga tubuhnya terdorong keras dan tersungkur tepat di hadapan kedua orang tuanya.
Arthur dan Eleanor sempat terkejut melihat perubahan fisik dari putra kandung mereka. Damian yang biasanya terlihat kusam dan mengenakan pakaian lusuh, kini tampil jauh lebih bersih, rapi, dan segar. Bahkan untuk sekejap, Arthur seperti sedang melihat sosok dirinya sendiri sewaktu masih muda dulu. Ada karisma tersembunyi yang terpancar dari wajah tajam pemuda itu.
Namun, rasa curiga menutup mata hati Arthur. Ia menatap Damian dengan pandangan menelisik dan dingin.
"Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu? Kamu mencuri di rumah ini, Damian?" tanya Arthur dengan nada menuduh.
Damian mengepalkan tangannya di atas lantai, menahan rasa sakit di bahunya. "Enggak, Dad. Aku gak pernah nyuri," balas Damian membela diri dengan suara berat namun tegas.
"Lalu dari mana?! Jangan bohong kamu!" bentak Gavin menuding muka Damian. "Apa kamu jadi simpanan tante-tante girang di luar sana, hah?! Mana mungkin orang miskin kayak kamu mendadak punya pakaian mahal begitu!"
Damian menggeleng cepat atas tuduhan keji saudara angkatnya itu. Matanya menatap Arthur lurus-lurus. "Bukan, Dad! Aku berani sumpah bukan jual diri atau melakukan hal haram apa pun. Ini... ini semua pemberian Lilian."
"Hah! Pasti pembantu itu pakai uangku yang dicuri di kamar, Dad, Mom!" cerocos Gavin makin menjadi-jadi, berusaha menyudutkan Lilian sekalian.
Tak lama berselang, Lilian pun sampai di ruangan itu. Ia dipaksa menyusul dengan masih mengenakan piyama tidur motif lucu yang baru dibelinya kemarin. Rambutnya bahkan sedikit berantakan karena diseret dari kamarnya.
'Aduh, kurang ajar banget mereka! Padahal aku lagi enak-enak santai!' batin Lilian kesal setengah mati menahan amarah. Acara menonton drama dan istirahat malamnya terganggu total gara-gara ulah busuk Gavin.
"Lilian! Katakan yang sebenarnya! Apa kamu mencuri uang milik Gavin untuk memanjakan Damian?!" kini Eleanor yang angkat bicara, suaranya melengking menuntut kejujuran.
Lilian menarik napas panjang dan berdiri tegap. "Tidak, Nyonya! Untuk apa saya mencuri uang Tuan Gavin?" balas Lilian dengan nada ketus tanpa rasa takut sedikit pun.
"Bohong, Mom! Jangan percaya sama omongan pembantu ini! Aku lihat sendiri kemarin dia membawa Black Card pas bayar di resto! Katanya bukan mencuri, tapi kok bisa punya kartu seperti itu? Itu pasti milik keluarga kita!" seru Gavin memotong dengan nada penuh kemenangan.
"Saya tidak mencuri! Enak saja kalau bicara!" balas Lilian heboh. "Tuan Gavin, Anda menuduh saya tanpa bukti dan saya sama sekali tidak terima! Tuan Arthur, sebagai kepala keluarga, Anda harus adil dan mencari bukti dan kebenarannya dulu!"
Arthur memijat pelipisnya yang mendadak pening. Suara perdebatan di ruang tamu itu membuat kepalanya serasa mau pecah. Tanpa niat untuk memeriksa lebih lanjut, ia memutuskan hukuman secara sepihak demi mengakhiri kegaduhan.
"Cukup! Karena kalian berdua tidak mau mengakui kesalahan dan justru saling melempar alasan, terima hukuman ini!" putus Arthur dingin. "Pengawal, cambuk Damian dua puluh kali sebagai bentuk kedisiplinan! Dan kamu, Lilian, gajimu bulan ini dipotong habis tanpa sisa!"
"Jangaannn!" pekik Lilian panik. Matanya membelalak tak percaya.
CETASS!
Suara cambukan kulit yang sangat keras mendadak membahana di ruangan itu, menghantam tepat di punggung Damian. Kain baju baru yang dikenakannya langsung terobek, meninggalkan bekas kemerahan yang memar seketika.
Lilian tersentak kaget. Rasa dingin mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia baru teringat—ini adalah adegan penyiksaan mengerikan yang pernah ia ketik sendiri di dalam draf novelnya dulu! Saat itu ia menuliskannya hanya demi menambah penderitaan sang Male Lead, tapi melihatnya secara langsung di depan mata rasanya jutaan kali lebih mengerikan!
CETASS!
"Enggak! Jangan, Tuan! Saya mohon berhenti!" isak Lilian histeris. Ia berusaha menerobos pengawal, namun ditahan. "Saya yang salah! Saya yang mencuri! Tolong berhenti, Tuan!"
Damian menggeram menahan sakit yang luar biasa. Tubuhnya bergetar hebat di atas lantai hingga akhirnya ia tersungkur dan memuntahkan bercak darah dari mulutnya. Efek cambukan itu terlalu berat untuk tubuhnya yang selama ini kekurangan nutrisi.
"Biarkan saja, Dad! Biar dia tahu rasa! Orang kayak dia kalau gak disiksa gak bakal kapok!" kompor Gavin dengan wajah puas, menikmati setiap jeritan Damian.
Arthur yang makin terbawa emosi melihat Damian memuntahkan darah justru merasa putranya sedang berakting. "Tambah sepuluh cambukan lagi!" balas Arthur tanpa ampun.
"Jangan, Tuan! Tolong jangan!" Lilian menggeleng lemas. Air matanya menetes deras membasahi pipinya. Dalam keputusasaan itu, tatapannya yang penuh amarah dan rasa iba beralih menatap Eleanor yang duduk diam di sofa.
"Nyonya Elea!" pekik Lilian dengan suara bergetar namun penuh penekanan. "Apa Anda tidak punya rasa empati sedikit pun pada anak yang Anda kandung selama sembilan bulan?! Dia anak kandung Anda! Apa Anda tega melihatnya terbunuh di depan mata Anda sendiri?!"
Eleanor terpaku seketika. Kalimat Lilian menghantam dadanya bagaikan godam berat. Jantungnya berdegup kencang secara tidak teratur, dan dadanya mendadak terasa sangat sesak hingga sulit bernapas. Matanya yang samar-samar mulai berkaca-kaca tertuju pada sosok Damian yang mengerang kesakitan, tergeletak tak berdaya dengan punggung bersimbah darah.
Seketika, memori masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam melayang kembali di benak Eleanor. Ingatan saat hari kelahiran Damian—bayi mungil yang dulu sangat ia cintai dan ia peluk erat, sebelum petaka pesta besar itu membuat buah hatinya hilang dan terpisah bertahun-tahun darinya.
Naluri seorang ibu yang telah lama mati untuk Damian di dalam diri Eleanor... mendadak bergetar hebat.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav