Yun Luofeng dikenal sebagai sampah Klan Yun—tak bisa berkultivasi, tergila-gila pada Putra Mahkota, bahkan menjadi bahan tertawaan seluruh Kota Kekaisaran.
Namun setelah sebuah percobaan bunuh diri, Yun Luofeng yang lama telah tiada.
Kini, di dalam tubuhnya hidup seorang genius medis dari dunia lain, membawa Kitab Dewa Medis dan rahasia yang mampu mengguncang Benua Longxiao.
Mereka bilang dia sampah? Dia akan menjadi kultivator yang membuat para genius menundukkan kepala.
Mereka menghina keluarganya? Dia akan membuat mereka membayar.
Dan Putra Mahkota yang membuangnya?
Maaf, bahkan untuk menjadi pelayannya pun belum tentu memenuhi syarat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwinanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — DUA SYARAT YUN LUOFENG
Senja menyelimuti Sungai Qin ketika Mu Wushuang berjalan anggun menuju lelaki tua yang terbaring di lantai.
“Nona, bisakah kau memberi sedikit ruang? Aku perlu memeriksa kondisi kakekmu.”
Gadis dari Klan Ning segera mengangguk dan bergeser. Dalam keadaan panik seperti sekarang, dia tidak sempat memastikan seberapa hebat kemampuan Mu Wushuang. Yang ada dalam pikirannya hanyalah menyelamatkan sang kakek.
Mu Wushuang berlutut dan memeriksa denyut nadi lelaki tua itu.
Beberapa saat kemudian, alisnya perlahan berkerut.
Penyakit ini jauh lebih rumit daripada perkiraannya.
“Nona,” katanya hati-hati, “kondisi kakekmu cukup rumit. Aku mungkin perlu kembali dan membicarakannya dengan guruku.”
Dia sengaja memilih kata-katanya dengan cermat.
Tidak mengatakan mampu menyembuhkan, tetapi juga tidak mengakui ketidakmampuannya.
“Gurumu?”
Mata gadis Klan Ning kembali dipenuhi harapan. Dia mencengkeram bahu Mu Wushuang dengan gugup.
“Kalau begitu, tolong bawa kami menemui gurumu! Selama kakekku bisa diselamatkan, apa pun permintaan kalian akan kupenuhi.”
Mu Wushuang justru memasang wajah serba salah.
“Guruku tidak sembarangan menerima pasien. Kalau aku membawa seseorang tanpa izinnya, beliau mungkin akan marah.”
Harapan di wajah gadis itu perlahan meredup.
Benar juga.
Tabib dengan kemampuan luar biasa biasanya memiliki watak dan aturan sendiri. Tidak mungkin setiap orang bisa bertemu dengannya hanya karena meminta.
“Begini saja,” lanjut Mu Wushuang. “Aku akan kembali dan memohon kepada Guru. Kalau beliau bersedia membantu, aku akan segera memberitahumu.”
Sebuah tawa kecil tiba-tiba terdengar.
Mu Wushuang menoleh tajam.
Yun Luofeng masih berdiri santai di dekat pintu dengan senyum penuh arti.
“Yun Luofeng, apa yang kau tertawakan?” Mu Wushuang menegur. “Aku sengaja membiarkanmu melihat pemeriksaanku supaya kau bisa belajar sesuatu. Kenapa kau selalu salah memahami niat baik orang lain?”
Nada bicaranya terdengar seperti seorang guru yang sedang menegur murid keras kepala.
Yun Luofeng akhirnya berdiri tegak.
“Mu Wushuang, aku mulai sedikit mengagumimu.”
Senyum tipis muncul di wajah Mu Wushuang.
Namun ucapan berikutnya membuat wajahnya menegang.
“Kau tidak mengetahui identitas mereka, jadi kau tidak berani langsung mengambil keputusan.”
Yun Luofeng berjalan perlahan mendekat.
“Kalau setelah diselidiki ternyata mereka berasal dari keluarga biasa, kau bisa mencari cara mendapatkan ginseng seribu tahun itu. Kalau ternyata latar belakang mereka sangat kuat, kau tinggal mengatakan gurumu pun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya.”
Dia tersenyum.
“Dengan begitu, apa pun hasilnya, kau tidak akan menanggung kerugian. Bukankah rencanamu cukup bagus?”
Wajah Mu Wushuang berubah.
Ucapan itu tepat mengenai pikirannya.
“Jangan memfitnahku!” bantahnya. “Aku hanya merasa kasihan dan ingin membantu. Tabib bukan dewa. Tidak semua penyakit bisa disembuhkan.”
“Yun Luofeng!”
Gao Ling akhirnya kehilangan kesabaran.
“Kenapa kau terus menyerang Wushuang? Kalau kau merasa begitu hebat, sembuhkan sendiri lelaki tua itu! Kalau tidak mampu, tutup mulutmu!”
Yun Luofeng menoleh kepadanya.
“Kalau aku berhasil menyelamatkannya, kau harus memenuhi dua syarat dariku.”
Gao Ling mendengus.
“Dua? Bahkan seratus syarat pun akan kusetujui kalau kau benar-benar mampu menyembuhkannya.”
“Bagaimana kalau nanti kau menarik ucapanmu?”
“Begitu banyak orang menjadi saksi. Untuk apa aku mengingkarinya?”
Yun Luofeng menggeleng.
“Orang-orang di sini kebanyakan berada di pihakmu. Aku membutuhkan saksi yang lebih netral.”
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku yang menjadi saksi?”
Suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakang.
Gao Shaochen keluar dari ruangan pribadinya sambil memainkan kipas lipat.
Yun Luofeng mengangkat alis.
“Pangeran Keempat lagi? Kenapa setiap kali aku bertemu Mu Wushuang, kau juga selalu muncul? Jangan-jangan kau menyukainya?”
Wajah Gao Ling langsung berubah.
Tatapannya kepada Gao Shaochen seketika dipenuhi kewaspadaan.
Gao Shaochen batuk kecil.
“Nona Yun benar-benar suka bercanda. Tidak semua orang mempunyai selera seperti seseorang yang membuang mutiara lalu memilih batu biasa.”
Dia tersenyum kepada Yun Luofeng.
“Dibandingkan Nona Mu, aku justru lebih tertarik kepadamu.”
“Sayangnya aku tidak tertarik kepadamu.”
Yun Luofeng menjawab tanpa ragu.
“Kalau begitu carilah Mu Wushuang.”
Senyum Gao Shaochen menegang.
“Jangan mendorongku kepada orang lain. Aku percaya suatu hari nanti kau akan tertarik kepadaku.”
Wajah Mu Wushuang langsung dingin.
“Pangeran Keempat tidak perlu berbicara seolah aku menginginkanmu. Hatiku hanya milik Putra Mahkota.”
Gao Shaochen bahkan tidak meliriknya.
“Nona Yun, apakah aku cukup layak menjadi saksi?”
“Asalkan kau tidak melindungi Putra Mahkota.”
“Tentu.”
“Bagus.”
Yun Luofeng menatap Gao Ling.
“Syarat pertama, mulai sekarang apa pun yang terjadi, jangan menggangguku lagi. Dan jangan pernah menggunakan pertunangan kita yang sudah berakhir untuk menghubungkan namamu denganku.”
Gao Ling tertegun sebelum tertawa dingin.
“Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri. Aku tidak mungkin mengganggumu.”
Yun Luofeng tidak menanggapi.
“Sekarang syarat kedua.”
Tatapannya perlahan beralih kepada Mu Wushuang.
“Kalau aku berhasil menyembuhkan lelaki tua itu, aku ingin kau menampar Mu Wushuang.”
Seluruh ruangan mendadak hening.
“Dan kau baru boleh berhenti ketika aku menyuruhmu berhenti.”
“YUN LUOFENG!”
Gao Ling mengepalkan tangan begitu keras hingga buku-buku jarinya berbunyi.
“Jangan keterlaluan! Aku tidak akan pernah menyetujui syarat itu!”
Yun Luofeng tertawa.
“Kenapa takut? Jangan-jangan Yang Mulia mulai percaya aku benar-benar mampu menyembuhkannya?”
Gao Ling hendak membalas ketika Mu Wushuang memegang tangannya.
“Yang Mulia, setujui saja.”
Gao Ling menatapnya.
Mu Wushuang tersenyum lembut.
“Aku percaya Yun Luofeng tidak akan memiliki kesempatan membuatmu menamparku.”
Dia sendiri tidak mampu memahami penyakit lelaki tua itu. Mana mungkin Yun Luofeng yang baru belajar pengobatan bisa menyembuhkannya?
“Baik!”
Gao Ling akhirnya mengangguk.
“Yun Luofeng, aku menerima kedua syaratmu.”
Kemudian tatapannya berubah menghina.
“Aku tahu semua keributan yang kau buat sebenarnya hanya untuk menarik perhatianku. Kau memang berhasil membuatku memperhatikanmu lagi, tetapi yang kurasakan hanya semakin jijik. Jangan pernah berharap mendapatkan hatiku kembali.”
“Hahaha!”
Tawa Gao Shaochen memecah keheningan.
Gao Ling menoleh tajam.
“Apa yang kau tertawakan?”
“Aku hanya heran,” jawab Gao Shaochen sambil memainkan kipasnya, “kenapa ada orang yang bisa begitu percaya diri sampai tidak menyadari dirinya sedang mempermalukan diri sendiri.”
Wajah Gao Ling semakin dingin.
“Jaga kedudukanmu. Kau hanya seorang pangeran. Jangan bersikap lancang di hadapan Putra Mahkota.”
Mata Gao Shaochen menyipit.
“Terlahir dengan kedudukan tinggi memang sebuah keberuntungan. Sayangnya, kedudukan tidak menjamin seseorang mampu membedakan mutiara dari batu biasa.”
Dia tidak lagi memedulikan Gao Ling.
Perhatiannya beralih kepada Yun Luofeng yang sudah berjalan menuju lelaki tua Klan Ning.
Yun Luofeng berjongkok.
Dari pakaiannya, dia mengeluarkan beberapa jarum.
Gadis Klan Ning secara refleks menghalangi tubuh kakeknya.
Yun Luofeng mengangkat mata.
“Minggir sedikit.”
Gadis itu menatap jarum di tangannya dengan ragu.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Bukankah kalian ingin menyelamatkannya?”
Yun Luofeng menjepit sebuah jarum di antara kedua jarinya. Ketenteraman dalam tatapannya sama sekali berbeda dari sikap malas yang diperlihatkannya sejak memasuki kapal.
“Aku akan mulai mengobatinya.”
Semua orang menahan napas.
Guan Lin justru mendengus.
“Yun Luofeng, jangan membunuh orang hanya karena ingin membuktikan dirimu! Bahkan Nona Mu tidak berani sembarangan mengobati penyakit ini.”
Yun Luofeng tidak meliriknya sedikit pun.
Tatapannya hanya tertuju pada lelaki tua yang semakin sulit bernapas.
Sebab bagi dirinya, sejak jarum pertama diangkat, pertunjukan mereka telah selesai.
Sekarang giliran seorang tabib bekerja.
......................
Bersambung...