Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Amira yang menyadari situasi tersebut bereaksi cepat. Sebelum Rian atau wanita itu menyadari keberadaan mereka, Amira langsung menarik lengan Nadia, menuntun sahabatnya menjauh menuju sudut koridor yang lebih sepi di balik pilar besar agar tidak ketahuan oleh Rian. Amira tak lupa mengarahkan kamera ponselnya, mengambil beberapa foto mereka berdua yang sedang bergelayut manja dari kejauhan sebagai bukti kuat.
Nadia hanya diam membisu. Langkah kakinya terasa amat berat, seolah ada magnet di kakinya, yang membuatnya sulit untuk bergerak. Dadanya bergemuruh hebat, dikuasai rasa sesak yang menjalar dingin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tiba-tiba mengingat semua janji-janji manis Rian di Bali, pelukan hangatnya, hingga ucapan penyesalan saat berlutut di hadapannya beberapa hari lalu, seketika hancur berkeping-keping.
"Jadi semua itu bohong, dan sikapnya padaku selama ini hanya sandiwara? " batin Nadia.
Melihat kondisi sahabatnya, Amira menggenggam erat bahu Nadia. "Nad, kamu tenang dulu di sini ya, jangan kemana-mana. Jangan emosi dan gegabah, jangan samperin mereka dulu. Kamu duduk disini saja, biar aku yang cari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Nadia mengangguk pelan tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun, bibirnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Ia bukan wanita yang impulsif atau suka membuat keributan di tempat umum. Emosi yang meluap hanya akan merugikannya dan mengaburkan langkah yang harus ia ambil setelah ini.
Dengan rasa penasaran yang luar biasa, Amira segera melangkah menyusuri koridor, membuntuti dari jarak aman saat Rian dan wanita itu berpindah ke sebuah toko tas mewah. Amira berpura-pura melihat-lihat jajaran tas di rak terdekat, sementara ponselnya sudah dalam mode merekam video secara tersembunyi.
"Mas Rian, yang warna krem ini bagus banget kan buat aku?" suara Maya terdengar begitu manja, tangannya tanpa canggung membelai lengan Rian.
"Iya, cocok untukmu yang cantik, Maya," jawab Rian dengan suara lembut yang sangat dipahami Amira—nada bicara yang seharusnya hanya diberikan kepada istrinya.
Maya terkekeh pelan dan manja, lalu memiringkan kepalanya menatap Rian dari samping.
"Makasih ya, Mas, udah beliin aku banyak hadiah hari ini. " ucapnya dengan lembut. "Oh ya, Ngomong-ngomong sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi begini dari Nadia? Kamu janji kan secepatnya bakal selesaikan hubungan kamu sama dia? Aku capek harus pura-pura jadi klien kamu terus di depan orang-orang."
Rian menghela napas panjang, merapikan letak tas di tangannya. "Sabar, Maya. Keadaan di rumah lagi agak rumit. Ada Sarah yang selalu berbuat onar, dan Ibu juga sepertinya masih butuh waktu. Aku harus bersandiwara menjadi suami yang baik untuk Nadia, Tapi kamu tenang saja, fokusku cuma kamu."
"Iya, tapi sampai kapan mas?" Maya terlihat manja sambil menggoyangkan tangan Rian.
"Sampai aku berhasil meyakinkan Nadia agar percaya lagi padaku, karena kemarin kita sudah hampir ketahuan, dan kepercayaannya padaku sudah luntur. Aku harus membangun kepercayaannya lagi sampai aku berhasil meyakinkan Nadia agar memberikan uang peninggalan kedua orang tuanya kepadaku "
Deg...
Amira yang mendengar kalimat terakhir Rian hampir saja meledak tapi kembali berusaha menenangkan hatinya. Bagaimana kalau Nadia yang mendengarnya? Dia pasti sakit banget karena merasa sudah dipermainkan.
Amira yang merekam seluruh percakapan dan gestur mesra itu merasa tangannya gemetar menahan geram. Setelah memastikan seluruh rekaman audio dan visual tersimpan sempurna di ponselnya, Amira segera berbalik dan kembali menghampiri Nadia yang duduk termenung.
"Nad, yuk kita keluar dari sini," bisik Amira penuh empati. "Kita cari tempat tenang di luar mal saja."
Nadia menuruti ajakan sahabatnya tanpa membantah. Mereka melangkah meninggalkan mal dan menyeberang jalan menuju sebuah kafe bernuansa kayu yang tenang di seberang jalan—Kafe Mentari.
Setibanya di sana, Amira langsung memesan dua gelas minuman dingin dan camilan untuk membantu menenangkan pikiran Nadia. Suasana kafe yang tidak terlalu ramai memberikan ruang sepi yang sangat dibutuhkan untuk mereka berdua saat ini.
"Kamu tau apa yang aku dapatkan? " tanya Amira dengan wajah yang sudah menahan kekesalan.
Nadia menggeleng sebagai jawaban, pikirannya tiba-tiba kosong melihat kenyataan di depan matanya sendiri.
"Baiklah, kamu harus mendengar ini dengan baik. Setelah itu keputusan ada di tanganmu. "
Amira mengeluarkan headset dari tasnya, menyambungkannya ke ponsel, lalu memasangkan salah satu earbud ke telinga Nadia. Ia memutar rekaman video yang baru saja diambilnya.
Nadia mendengarkan setiap bait percakapan Rian dan Maya dalam hening. Tidak ada jeritan, tidak ada tumpahan air mata, bahkan tidak ada gejolak emosi yang terlihat di wajah cantiknya. Wajah Nadia tampak datar dan dingin, membuat Amira justru semakin cemas melihat ketenangan yang mengerikan itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa hancur dan lumatnya hati Nadia di balik tatapan matanya yang mendadak kosong.
Setelah rekaman berakhir, Nadia melepas earbud tersebut dengan gerakan sangat perlahan. Ia menutup matanya meresapi setiap detik pengkhianatan yang baru saja terbukti di depan matanya. Pengorbanan karier seninya dulu, kesempatan kedua yang ia berikan di Bali, semuanya hanyalah sandiwara manis yang sia-sia.
Nadia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menguasai seluruh emosi yang mengalir melalui aliran darahnya.
"Ternyata seperti ini permainannya. " ucap Nadia lirih.
"Apa yang akan kamu lakukan? " tanya Amira.
Nadia tersenyum tipis, ia sudah memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan setelah ini. Karena sejak awal dia sudah sadar, seseorang tidak akan secepat itu untuk sadar.
Dengan jemari yang tenang tanpa getaran sedikitpun, ia mengambil ponsel dari dalam tas dan menekan tombol panggilan cepat ke nomor suaminya.
Panggilan tersebut diangkat pada dering ketiga.
"Halo, Nad?" suara Rian di ujung telepon terdengar sedikit gugup dan terengah, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang terburu-buru.
"Kamu di mana, Mas?" tanya Nadia dengan nada suara yang sangat datar.
"Aku... aku masih di kantor, Nad. Masih ada rapat proyek sama klien. Kamu sendiri di mana?" Rian meluncurkan kebohongan itu dengan begitu lancar.
Nadia tersenyum sangat tipis—senyuman paling dingin yang pernah terukir di bibirnya.
"Bisa jemput aku sekarang, Mas?" permintaan Nadia terdengar tenang, tanpa nada menuduh.
Diseberang sana, keheningan sempat tercipta sejenak. Rian terdengar kaget dengan permintaan mendadak istrinya. Dia lalu melihat ponselnya,ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Jemput? Kamu sekarang lagi di mana, Nad?"
"Aku di Kafe Mentari, persis di depan mal XX," jawab Nadia singkat.
Seketika itu juga, suasana di ujung telepon Rian menjadi benar-benar hening. Rian membisu, menyadari keberadaan lokasi istrinya yang hanya berseberangan dengan tempat ia berdiri bersama Maya saat ini.