Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.
Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.
Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.
Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.
Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Baik Terlambat
Dulu, ancaman seperti itu sudah cukup membuat Mo Yuuran panik dan memohon ampun. Ia akan menunduk, gemetar, bahkan rela menyerahkan segalanya demi meredakan amarah mereka.
Tapi kali ini, Mo Yuuran hanya berdiri tenang. Wajahnya datar, tanpa sedikit pun rasa takut.
Ia menoleh perlahan, menatap Mo Weiwei dengan sorot mata yang dingin dan asing. Tidak ada lagi kelemahan yang dulu mudah diinjak.
“Silakan,” jawabnya singkat, nada suaranya ringan namun tajam. “Laporkan saja.”
Mo Weiwei tertegun, jelas tidak menyangka jawaban itu. “Kau … kau tidak takut?”
Mo Yuuran tersenyum tipis, langkahnya mendekat dengan anggun. Setiap gerakannya terasa penuh tekanan, membuat Mo Weiwei tanpa sadar mundur setengah langkah.
“Takut?” ulang Mo Yuuran pelan, seolah kata itu terdengar asing baginya. “Aku justru sedang menunggu mereka.”
“Menunggu?” Mo Weiwei mengernyit bingung. “Apa maksudmu?”
Mo Yuuran berhenti tepat di hadapannya, tatapannya menusuk lurus tanpa ragu. Senyum tipis di bibirnya justru terasa lebih mengancam daripada kemarahan.
“Katakan pada Ayah dan Bo Wen,” ujarnya tenang namun penuh kepastian, “aku akan menunggu mereka di Istana Kekaisaran.”
Wajah Mo Weiwei langsung berubah pucat. “I–istana kekaisaran?” suaranya melemah tanpa sadar.
“Benar,” lanjut Mo Yuuran santai, seolah itu hal biasa. “Tempat yang paling adil untuk membahas siapa pemilik sebenarnya dari semua yang kalian klaim.”
Mo Weiwei menggertakkan giginya, mencoba mempertahankan keberanian yang tersisa. “Kau pikir Kaisar akan membelamu begitu saja?!”
Mo Yuuran terkekeh pelan, suara tawanya lembut namun penuh ejekan. Ia menatap Mo Weiwei seolah melihat sesuatu yang sangat menggelikan.
“Aku tidak perlu dibela,” katanya ringan. “Aku hanya perlu kebenaran dan itu cukup untuk menghancurkan kalian. Ah, tapi sepertinya suamiku, Kaisar Zi Xuan pasti akan membelaku mati-matian. Tentu kalian tahu bukan, betapa dia sangat mencintaiku?”
Suasana seketika membeku. Tidak ada satu pun pelayan yang berani bergerak atau bersuara.
Mo Yuuran berbalik dengan anggun, jubahnya berkibar pelan. Langkahnya mantap menuju kereta, tanpa sedikit pun keraguan.
“Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh, nada suaranya terdengar santai namun menekan. “Jangan sampai mereka tidak datang.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Aku tidak suka menunggu orang yang tidak punya keberanian mempertanggungjawabkan perbuatannya.”
Setelah itu, ia naik ke dalam kereta kekaisaran diikuti oleh Xia Lu yang merasa puas melihat semua itu.
Kereta kuda melaju perlahan meninggalkan kediaman keluarga Mo. Di dalamnya, suasana terasa sunyi, hanya terdengar suara napas tertahan dari Xia Lu yang duduk di sudut dengan gelisah.
Beberapa kali ia melirik Mo Yuuran, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun setiap kali tatapan mereka hampir bertemu, ia langsung menunduk kembali.
Mo Yuuran yang menyadari kegelisahan itu akhirnya menghela napas pelan. Ia menoleh, menatap Xia Lu dengan tenang namun lembut.
“Ada apa?” tanyanya ringan. “Katakan saja, jangan takut.”
Xia Lu terkejut, tubuhnya sedikit menegang. Ia ragu sejenak sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian.
“Yang Mulia Permaisuri .…” suaranya pelan, hampir bergetar. “Kenapa … baru sekarang mengambil kembali semua itu?”
Mo Yuuran tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke luar jendela, menatap pemandangan yang perlahan berlalu.
“Maksudmu?” tanyanya singkat, memberi ruang bagi Xia Lu untuk melanjutkan.
Xia Lu menggenggam ujung bajunya, mencoba menenangkan diri. “Selama ini … mereka sudah lama menikmati semuanya,” lanjutnya hati-hati. “Bahkan … mereka dengan mudah menyuruh Yang Mulia melakukan apa pun yang mereka inginkan.”
Ia menelan ludah sebelum menambahkan dengan suara lebih kecil, “Kenapa Yang Mulia baru melawan sekarang?”
Keheningan kembali menyelimuti kereta. Mo Yuuran tetap diam, namun pikirannya bergejolak.
Tentu saja ia tidak mungkin mengatakan kebenaran, bahwa ia telah mati, lalu kembali di kehidupan lalu, dan melihat semua kebusukan itu dengan mata yang berbeda.
Ia menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada Xia Lu. Wajahnya tetap terlihat tenang.
“Karena aku bodoh,” jawabnya akhirnya, suaranya datar namun jujur. “Aku terlalu percaya dan terlalu menutup mata.”
Xia Lu tertegun, jelas tidak menyangka jawaban itu.
Mo Yuuran tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. “Aku pikir selama aku mengalah, semuanya akan baik-baik saja,” lanjutnya pelan. “Aku pikir mereka adalah keluarga yang tidak akan benar-benar menyakitiku.”
Ia berhenti sejenak, lalu tertawa kecil, pahit. “Ternyata aku salah.”
Xia Lu menunduk, hatinya terasa sesak mendengar itu. Ia tidak berani menyela.
Mo Yuuran menyandarkan punggungnya, tatapannya kembali menerawang. “Dan ketika seseorang akhirnya menyadari kesalahannya .…” ujarnya perlahan, “tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya.”
Ia menoleh lagi pada Xia Lu, sorot matanya kini tajam dan penuh keyakinan. “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”
****
Prang!
Sebuah guci mahal terlempar ke lantai, pecah berkeping-keping hingga serpihannya berserakan ke segala arah. Aula kediaman Mo yang biasanya megah kini dipenuhi suara kehancuran.
Prang!
Kali ini Lihau sendiri yang melempar guci lainnya, wajahnya dipenuhi amarah yang tak bisa ia kendalikan. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan emosi yang meledak-ledak.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Mo Yuuran?!” teriaknya keras, suaranya menggema di seluruh aula. “Kenapa dia benar-benar berubah seperti itu?!”
Mo Weiwei yang berdiri di sampingnya menggertakkan gigi, tangannya mengepal kuat. Wajahnya pucat, namun matanya dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan.
“Aku juga tidak tahu Bu,” gumamnya pelan, mencoba mencerna situasi yang semakin di luar kendali. “Tapi … apa jangan-jangan dia benar-benar mengalami gangguan ingatan?”
Lihau menoleh tajam, alisnya berkerut dalam. “Gangguan ingatan?” ulangnya dengan nada curiga.
Mo Weiwei mengangguk cepat, seolah menemukan pegangan. “Bisa saja, bukan? Apalagi saat kecelakaan itu, ” lanjutnya terburu-buru. “Lalu si Ning Ning yang bodoh itu mungkin sempat mengatakan sesuatu padanya sesuatu yang membuatnya marah dan berubah seperti ini.”
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi. Lihau terdiam, mencerna kemungkinan itu dengan wajah serius.
“Bisa saja seperti itu,” akhirnya ia berkata pelan. “Kalau dia tahu sesuatu maka wajar dia tidak lagi patuh.”
Mo Weiwei menelan ludah, jantungnya berdegup lebih cepat. Namun satu hal lain langsung terlintas di pikirannya.
“Tapi sekarang sudah terlambat,” lanjut Lihau dengan nada dingin. “Si Ning Ning sudah mati. Tidak ada yang bisa kita tanyakan lagi.”
Keduanya kembali terdiam. Ketegangan di udara terasa semakin berat, seolah menekan dada mereka.
Setelah beberapa saat, Lihau menoleh perlahan. “Apa kau sudah mengirimkan surat pada ayahmu?” tanyanya serius. “Kita tidak bisa menangani ini sendiri.”
Mo Weiwei mengangguk tanpa ragu. “Sudah,” jawabnya cepat. “Aku bahkan mengirimkannya sejak kematian Ning Ning.”
Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Seharusnya sekarang surat itu sudah sampai dan sudah dibaca oleh Kak Bo Wen dan ayah juga.”
Lihau menyipitkan mata, sorotnya kembali tajam. “Bagus,” katanya pelan. “Kita butuh mereka secepatnya.”
Mo Weiwei menggigit bibirnya, kegelisahan masih jelas terlihat di wajahnya, ia merasa situasi ini benar-benar keluar dari kendali mereka.
Mereka belum tahu saja, jika gaji, dan semua sumber penghasilan mereka telah diambil alih oleh Mo Yuuran.
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar