"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Jaring di Balik Rempah
Karung kayu manis itu tiba di dapur Srigading sedikit lebih berat dari biasanya.
Bukan berat yang bisa dirasakan oleh tangan seorang kasim muda yang mengangkutnya. Hanya selisih segenggam. Tetapi Dyah Ayu sudah menimbang setiap karung rempah yang masuk ke paviliunnya selama tiga hari terakhir, dan ia tahu persis berapa berat sekarung kayu manis dari Pasar Pandean.
Ia menunggu sampai kasim itu pergi. Lalu ia membuka ikatan karung, merogoh ke dalam tumpukan batang kayu manis yang kasar dan harum, dan mengeluarkan satu batang yang terasa lebih ringan di ujungnya.
Di dalam gulungan kulit kayu itu, terselip selembar lontar setipis kuku, digulung rapat.
***
Srigading tidak lagi sepi.
Sejak dekrit di Balai Depan, enam Bhayangkara dari Sayap Dalam, pasukan pengawal Kedaton yang hanya menjawab langsung kepada Raja, berjaga di setiap sisi paviliun. Atap ijuknya sudah ditambal. Pintu jati yang didobrak sudah diganti dengan yang baru. Sumur di halaman belakang masih ditutup, tetapi kini dengan papan baru dan tali timba yang utuh.
Tidak ada yang bisa masuk tanpa diperiksa. Tidak ada yang bisa keluar tanpa dicatat.
Permaisuri tahu itu. Dan Dyah Ayu tahu bahwa Permaisuri tahu. Setiap selir yang ingin tahu apa yang dilakukan Selir Utama di dalam paviliunnya hanya perlu bertanya kepada para Bhayangkara.
Ia membaca lontar dari Perpustakaan. Ia memasak bubur sendiri. Ia tidak menerima tamu.
Tidak ada yang bertanya tentang karung rempah.
Karena rempah adalah urusan dapur. Dan dapur adalah urusan orang-orang yang tidak dianggap ada.
***
Kesepakatan di atas ranjang Candrakirana sudah dibayar penuh.
Tiga ratus orang Watugaluh tidak lagi berdiri di kandang tawanan alun-alun selatan. Hayam Vira menepati sumpahnya dengan cara seorang Raja yang tidak suka membuang tenaga: para tawanan itu dipekerjakan. Perempuan-perempuan dibagi ke dapur-dapur istana dan rumah-rumah para pejabat. Lelaki-lelaki yang kuat dijadikan kuli angkut di gudang upeti dan pasar keraton.
Mereka tidur di bawah atap. Mereka makan dua kali sehari.
Dan tidak satu pun bangsawan Kagendra pernah benar-benar menatap wajah mereka.
Mbok Sumi kini mengaduk santan di dapur utama Kedaton, dengan bayinya digendong di punggung. Pak Karto, pandai besi Watugaluh yang dulu menempa mata bajak untuk seluruh kadipaten, kini mengangkut karung-karung upeti di Gudang Perbendaharaan Timur. Lengannya yang sebesar batang pisang menimbang setiap karung di atas dacin besar, setiap hari, dari fajar sampai senja.
Dan setiap malam, Ki Bongkok merayap di lorong-lorong pelayan di bawah akar pohon asam, mengumpulkan apa yang mereka lihat.
Dyah Ayu tidak meminta mereka mencuri. Ia hanya meminta mereka menghitung.
***
Ia membuka gulungan lontar itu di atas meja, di bawah cahaya pelita.
Tulisan Ki Bongkok kecil dan miring, menggunakan arang kayu yang ditajamkan. Bukan aksara Kawi yang rumit, melainkan sandi angka yang mereka sepakati di gudang pusaka. Setiap garis adalah satu karung. Setiap titik adalah satu peti.
Garam dari Lasem: datang 120 karung. Pak Karto timbang sendiri.
Di bawahnya, tulisan lain. Lebih rapi, ditiru dengan hati-hati dari lontar tanda terima resmi Gudang Perbendaharaan Timur:
Garam dari Lasem: diterima 80 karung.
Dyah Ayu meletakkan ujung jarinya di atas kedua angka itu.
Empat puluh karung. Satu kiriman. Dari satu kadipaten pesisir.
Ia menarik peti kayu kecil dari bawah ranjangnya. Di dalamnya, tersusun rapi tujuh lembar lontar sejenis yang ia kumpulkan selama tiga hari terakhir. Satu dari karung kemiri. Satu dari keranjang cabai kering. Satu dari tumpukan daun pandan. Satu dari ikan asin.
Ia membentangkan semuanya berjajar di atas meja.
Garam dari Lasem. Ikan asin dari Tuban. Kain tenun dari Gresik. Kayu jati dari Bojonegoro. Semua upeti dari pesisir timur. Semua masuk melalui gerbang yang sama, ditimbang di gudang yang sama, dicatat oleh juru tulis yang sama.
Dan setiap kali, selisihnya hampir sepertiga.
***
Ke mana sepertiga itu pergi?
Jawabannya datang di karung kemiri hari kedua, dalam tulisan seorang perempuan Watugaluh yang kini menjual sayur di Pasar Pandean.
Gerobak malam. Dari pintu belakang gudang ke gudang Juragan Wangsa. Tiga kali seminggu.
Juragan Wangsa.
Dyah Ayu mengingat nama itu. Lintah darat yang meminjamkan empat puluh keping perak kepada ayah Ratih, lalu meminta adik perempuan Ratih sebagai pengganti utang. Lelaki yang memiliki gudang terbesar di Pasar Pandean, dan yang tidak pernah kekurangan barang meskipun kapal-kapal dagang dari timur sering tenggelam.
Garam yang tidak pernah tercatat di Gudang Perbendaharaan dijual murah di gudang Juragan Wangsa. Ikan asin. Kain. Kayu. Uangnya kembali ke seseorang.
Seseorang yang memegang kunci Gudang Perbendaharaan Timur. Seseorang yang menunjuk juru tulisnya sendiri.
Rakryan Rangga Wirapati. Menteri Sayap Kanan. Pemegang perbendaharaan pesisir timur selama dua belas tahun.
Dan menantu Rakryan Wiradipa.
***
Tetapi angka-angka di atas lontar arang bukanlah bukti.
Dyah Ayu tahu itu lebih dari siapa pun. Dekrit Raja di Balai Depan memotong dua arah. Tidak seorang pun boleh menuduhnya tanpa bukti tertulis yang disahkan oleh Dewan Tujuh. Dan tidak seorang pun akan percaya tuduhan dari seorang selir tawanan Watugaluh tanpa bukti yang sama.
Jika lontar-lontar ini datang dari tangannya, Permaisuri hanya perlu mengucapkan satu kalimat di depan Dewan: Selir dendam memfitnah keluarga hamba.
Ia butuh tiga hal. Catatan kedua juru tulis gudang. Salinan resi upeti asli dari kadipaten pengirim. Dan bukti ke mana uang itu mengalir.
Butuh empat hari lagi.
Catatan kedua didapat dari Gending, juru tulis muda Gudang Perbendaharaan Timur. Lelaki kurus yang setiap malam menyalin angka-angka sebenarnya ke lontar kedua yang ia sembunyikan di bawah lantai rumahnya, karena ia takut suatu hari dijadikan kambing hitam. Istrinya kini mencuci pakaian bersama Mbok Sumi. Mbok Sumi hanya perlu mendengarkan keluhan seorang istri yang suaminya tidak bisa tidur.
Resi upeti asli didapat dari tukang perahu Lasem yang membawa garam ke ibu kota. Setiap pengirim upeti menerima salinan resi yang dicap oleh gudang. Pak Karto hanya perlu menunjukkan resi itu kepada Ki Bongkok setelah tukang perahu itu mabuk tuak di warung pelabuhan.
Dyah Ayu menyandingkan resi Lasem dengan tanda terima gudang. Ia mendekatkan keduanya ke pelita.
Lilin segel merah di resi Lasem keras dan mengilap, dengan cap matahari bersudut delapan yang tajam di setiap ujungnya. Lilin segel di tanda terima gudang lebih lunak, sedikit berminyak di permukaannya, dan ujung kedelapan matahari itu sedikit tumpul.
Ia mengendusnya. Bau lilin lebah, dan sesuatu yang lain. Damar. Lilin murah dari pasar, dicampur damar agar lebih cepat mengeras.
Cap segel Perbendaharaan Kerajaan diukir dari perunggu, dan lilinnya dibuat khusus di Kedaton. Siapa pun yang mengecap tanda terima ini menggunakan cap yang dibuat ulang di luar keraton, dengan lilin pasar.
Stempel palsu.
Dan bukti terakhir, yang paling berharga, datang dari tempat yang tidak ia duga.
Ratih menyelipkannya ke dalam keranjang pakaian kotor yang dikirim dari Paviliun Permaisuri ke tempat cuci. Tiga lembar lontar kecil, ditemukan di dasar kotak perhiasan tua yang sudah tidak dipakai di bilik dayang.
Tanda terima pembayaran. Untuk keperluan dupa, sesaji, dan pemeliharaan Keputren. Dua ratus keping perak. Tiga ratus keping perak. Dua ratus lima puluh. Dibayarkan oleh Rakryan Rangga Wirapati.
Dan di bawahnya, tercetak dalam lilin merah yang keras dan sempurna, cap segel teratai dan mahkota.
***
Dyah Ayu tidak mengirimkan semuanya kepada Raja.
Raja masih terbaring di Kedaton Dalam. Setiap orang yang masuk ke biliknya dicatat oleh Prajurit Estri di gerbang Keputren dan para juru tulis Permaisuri. Jika selir dari Srigading mengirimkan gulungan lontar, berita itu akan sampai ke Paviliun Permaisuri sebelum lontar itu sampai ke tangan Raja.
Ia mengirimkannya melalui jalan yang paling membosankan di seluruh keraton.
Setiap tujuh hari, Mahapatih Gajahwira menerima laporan logistik dari lumbung-lumbung pasukan di perbatasan. Tumpukan lontar setebal lengan, berisi angka-angka beras, garam, minyak, dan anak panah. Tidak ada yang pernah membacanya dengan teliti kecuali Mahapatih sendiri, lelaki tua yang hampir mati karena asap kecubung di pelataran candi, dan yang dibangunkan dari pingsannya oleh air kelapa dan arang yang diperintahkan oleh seorang selir Watugaluh.
Pak Karto mengangkut tumpukan lontar itu dari gudang ke kantor Mahapatih setiap pagi ketujuh.
Di antara laporan lumbung Sayap Timur dan laporan anak panah Sayap Utara, terselip satu gulungan yang dibungkus kain lusuh dan diikat tali ijuk. Tidak bersegel. Tidak bernama.
Di dalam gulungan itu, ada satu batang kayu manis kering.
***
Pelita di meja kerja Raja menyala sampai lewat tengah malam.
Prabu Hayam Vira duduk di atas bantal, bahunya masih terbalut kain baru yang dilumuri ramuan tabib. Lengannya yang terluka diikat ke dada. Ia membaca dengan satu tangan, menahan lembar-lembar lontar dengan pemberat batu giok.
Mahapatih Gajahwira berlutut di seberang meja, wajahnya kelabu.
"Hamba menemukannya di antara laporan lumbung, Sinuwun. Hamba tidak tahu siapa yang meletakkannya. Hamba sudah membacanya tiga kali sebelum berani membawanya ke sini."
Hayam Vira tidak menjawab.
Ia membaca catatan Gending. Membaca resi Lasem. Ia mengangkat tanda terima gudang ke dekat pelita, memiringkannya, mengamati lilin segel yang sedikit berminyak. Ibu jarinya menyusuri ujung-ujung matahari bersudut delapan yang tumpul.
Lalu ia membuka tiga lembar lontar terakhir.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Hanya bunyi sumbu pelita yang mendesis.
Mahapatih Gajahwira melihat tangan Raja itu berhenti bergerak di atas lontar. Melihat jemarinya menekan cap lilin merah berbentuk teratai dan mahkota, begitu keras sampai lilin itu retak di bawah kukunya.
Hayam Vira mengangkat lontar itu ke dekat wajahnya. Ia menghirup udara di sekitarnya, pelan.
Kayu manis. Samar, tertinggal di serat-serat lontar.
Sudut bibirnya bergerak. Hanya sedikit. Lalu menghilang.
"Panggil Lurah Lembu Peteng."
Mahapatih tersentak. "Sinuwun, sudah lewat tengah malam..."
"Sekarang."
Butuh waktu sepemakan sirih sampai seorang lelaki bertubuh pendek dan kekar, dengan wajah penuh bekas cacar dan zirah hitam Sayap Dalam, berlutut di ambang pintu. Rambutnya masih basah. Ia jelas baru dibangunkan dari tidurnya.
Hayam Vira tidak menoleh dari lontar di tangannya.
"Bawa dua ratus orang Sayap Dalam. Bukan Sayap Utara. Bukan Prajurit Estri. Hanya orang-orangmu sendiri." Suaranya datar, pelan, dan setiap kata seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur. "Kepung kediaman Rakryan Rangga Wirapati sebelum ayam berkokok pertama. Tutup setiap pintu. Setiap jendela. Setiap selokan."
"Dan Rakryan Wirapati sendiri, Sinuwun?"
Hayam Vira meletakkan lontar bercap teratai itu di atas meja. Ia menutupnya dengan telapak tangannya, seolah takut lilin merah di atasnya akan melarikan diri.
"Tidak ada yang masuk. Tidak ada yang keluar. Tidak ada surat, tidak ada utusan, tidak ada dayang yang membawa bakul nasi." Ia mengangkat matanya, akhirnya, menatap Lurah itu lurus. "Dan kalau besok pagi ada utusan dari Keputren yang datang membawa pesan untuknya, tangkap utusan itu. Siapa pun dia."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..