Dibuang dan dijadikan pelayan oleh keluarga angkatnya, Lin Yue tidak menyangka bahwa seminggu sebelum kiamat ia mengaktifkan Sistem Suaka di rumah tua neneknya.
Saat Virus Genesis meletus, manusia, hewan, dan tumbuhan bermutasi menjadi monster berelemen. Di tengah kiamat yang mengerikan, rumah tua Lin Yue diubah oleh Sistem menjadi zona aman mutlak!
Aturan Lin Yue sangat sederhana: "Mau makanan hangat, listrik, dan perlindungan? Bayar sewa pakai Kristal Inti di kepala zombie!"
Dari kos-kosan 4 kamar sederhana, Lin Yue membangun perumahan elit hingga kota suaka terbesar di dunia, memaksa keluarga angkat yang dulu menyiksanya berlutut memohon perlindungan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KAMAR PERTAMA TERSEWA
BAB 11: Kamar Pertama Tersewa
Brak! Cklek!
Pintu besi tebal Kamar 101 tertutup rapat secara otomatis, menyisakan derak berkecepatan tinggi dari mekanisme penguncian digital internal yang langsung mengunci kokoh dari dalam. Seketika itu juga, seperti ada dinding penyerap suara tak berwujud yang memotong semesta, seluruh raungan mengerikan dari tiga ekor zombie di seberang jalan, bau busuk udara kiamat yang menyengat hidung, serta embusan angin malam yang dingin menusuk tulang lenyap tanpa sisa.
Suasana di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu mendadak menjadi begitu hening, hangat, dan sangat menenangkan.
Xiao Chen masih terduduk lemas di atas lantai keramik polimer yang bersih, dingin, dan benar-benar bebas dari debu. Punggungnya menyender pasrah pada pintu besi yang kokoh, napasnya tersengal-sengal parah dengan Paru-paru yang terasa panas terbakar akibat berlari tanpa henti. Kedua matanya yang sembap, merah, dan bengkak membelalak lebar, memandangi setiap sudut ruangan dengan tatapan shock yang bercampur tidak percaya.
"I-Ini... ini nyata? Aku tidak sedang bermimpi di detik-detik kematianku, kan?" bisiknya terbata-bata dengan nada gemetar.
Ruangan itu tidak gelap seperti ruang bawah tanah atau bangunan mati di luar sana. Langit-langit beton yang rapi diterangi oleh pendaran cahaya putih lembut yang berasal dari unit lampu LED modern. Cahaya itu terang benderang, konstan, dan sama sekali tidak menunjukkan kedipan atau penurunan voltase—sebuah bukti mutlak bahwa aliran listrik di dalam ruangan ini mengalir secara stabil, sempurna, dan mandiri!
Di tengah kegelapan total yang melanda seluruh sudut Kota Jiangcheng selama dua minggu terakhir akibat runtuhnya pembangkit listrik pusat, pendaran cahaya lampu LED ini terasa bagaikan sebuah keajaiban sihir yang mengagumkan sekaligus tidak masuk akal.
Xiao Chen merangkak pelan di atas lantai. Tangannya yang dipenuhi jelutuh hitam mengusap permukaan keramik polimer yang terasa begitu halus dan mulus. Di sudut kanan ruangan, berdiri sebuah tempat tidur tunggal dari kayu jati yang dilengkapi kasur busa empuk, terbungkus seprai putih bersih yang belum pernah tersentuh kotoran kiamat. Di samping tempat tidur, terdapat meja kerja multifungsi yang kokoh beserta sebuah kursi kayu sederhana.
Namun, perhatian fisik dan insting bertahan hidup Xiao Chen seketika teralih total saat matanya menangkap keberadaan sebuah pintu kayu kecil di sudut lain ruangan: Kamar Mandi Dalam.
Dengan lidah yang terasa amat kering bagaikan ampelas dan tenggorokan yang terakar pecah-pecah akibat dehidrasi parah selama berhari-hari, Xiao Chen merangkak setengah merayap mendekati pintu kamar mandi tersebut. Tangannya yang gemetar mendorong pintu kayu hingga terbuka lebar.
Di dalam kamar mandi yang berarsitektur bersih dan dilapisi keramik putih anti selip, sebuah keran air berbahan stainless steel berkilau tanpa noda terpasang sempurna di atas wadah bak kecil.
Dengan sisa-sisa tenaga yang memicu gemetar hebat di jemarinya, Xiao Chen menjangkau tuas keran tersebut, lalu memutarnya perlahan ke arah kiri.
Sssss... Wuuuuuush!
Kucuran air jernih yang sangat deras dan segar seketika menyembur keluar dari mulut keran, meluncur membasahi bak keramik!
Air itu tidak berwarna keruh kecokelatan seperti air sumur tua yang tercemar, tidak memiliki bau kebusukan belerang, dan sama sekali tidak terinfeksi oleh limbah atau racun mutasi virus. Ini adalah air bersih murni hasil proses distilasi energi Suaka—air paling murni di seluruh Distrik Jiangcheng saat ini!
"Air... AIR BERSIH! INI BENAR-BENAR AIR BERSIH!" jerit Xiao Chen dengan suara serak histeris yang tertahan di kerongkongannya.
Tanpa membuang waktu satu detik pun untuk mencari gelas atau wadah, Xiao Chen langsung menangkupkan kedua telapak tangannya yang kotor di bawah kucuran air deras tersebut, lalu meminumnya dengan sangat rakus.
Guk... guk... guk...
Rasa dingin, manis, dan menyegarkan seketika mengalir membasahi setiap jengkal kerongkongannya yang Kering, menyuntikkan dorongan vitalitas dan kehidupan baru ke dalam organ fisiknya yang hampir runtuh akibat kelelahan. Xiao Chen tidak peduli jika bajunya basah kuyup; ia terus meneguk air jernih itu hingga lambungnya terasa penuh dan kenyang. Setelah rasa hausnya terpuaskan sepenuhnya, ia menangkupkan air lagi lalu membasuh seluruh wajah, leher, dan kepalanya yang kotor berlumpur.
Ia menyenderkan dahi basahnya ke dinding keramik kamar mandi, lalu menangis sesenggukan secara emosional. Air matanya mengalir bercampur sisa-sisa air bersih di pipinya.
Selama dua minggu penuh sejak kiamat meletus, ia hidup bagaikan tikus got. Ia merangkak di antara tumpukan kotoran, bersembunyi di dalam saluran pembuangan yang busuk, meminum air genangan got yang menjijikkan hanya untuk menahan dahaga, dan harus mempertaruhkan nyawa melarikan diri dari sergapan mayat hidup setiap detik. Namun kini, di dalam ruangan beton tebal yang sangat aman ini, ia mendapatkan perlindungan mutlak, diterangi listrik hangat, serta memiliki pasokan air bersih tak terbatas yang bisa ia nikmati kapan saja.
Dua buah Kristal Inti Keruh Level 0 yang ia serahkan tadi rasanya benar-benar tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan nilai surga yang baru saja ia dapatkan ini!
"Saudari pemilik tempat ini... dia bukan manusia biasa. Dia pasti seorang penguasa atau dewa penyelamat di dunia baru yang hancur ini," gumam Xiao Chen seraya menyapu air matanya dengan lengan baju. Tangannya terkepal erat, memandangi arah pintu keluar dengan rasa hormat, kepatuhan, dan gentar yang luar biasa mendalam.
Sementara itu, di lantai dua bangunan utama rumah tua neneknya, Lin Yue duduk bersandar dengan santai di kursi kayu dekat jendela. Di depannya, layar transparan biru Sistem memproyeksikan data statistik terbaru dari seluruh kompleks Suaka miliknya.
[Panel Manajemen dan Operasional Kos-kosan Suaka:]
Unit Tersewa: Kamar 101 (Penyewa Terdaftar: Xiao Chen) — Masa Sewa Sisa: 6 Hari 23 Jam.
Status Unit Lain: Kamar 102 (Kosong), Kamar 103 (Kosong), Kamar 104 (Kosong).
Pendapatan Sewa Terkumpul: 2 Buah Kristal Inti Keruh Level 0.
[Pembaruan Saldo Energi Sistem Utama Saat Ini: 10 Poin Energi Level 0]
Lin Yue memperhatikan baris-baris angka digital di layarnya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang dingin penuh kepuasan.
Saldo energinya kini menggenap menjadi sepuluh poin setelah mendapat tambahan dua poin dari pembayaran transaksi sewa Xiao Chen. Mesin pencetak modal otomatis yang ia rancang sejak awal resmi berputar. Dengan sepuluh poin energi di tangannya, ia tidak hanya memiliki cadangan modal yang cukup untuk melakukan upgrade atau pembelian barang di Toko Pertukaran Sistem, tetapi juga telah membuktikan bahwa model bisnis Landlord di era kiamat ini berjalan sangat efektif.
Ia tahu persis sifat alami manusia di saat terdesak: Begitu seseorang merasakan nikmatnya kenyamanan dan keamanan mutlak setelah melewati penderitaan neraka, orang tersebut akan bersedia melakukan apa saja demi mempertahankan kenyamanan itu. Xiao Chen tidak akan pernah mau kembali menjadi pemungut sampah yang hidup ketakutan di luar sana.
...----------------...
Tiga hari berlalu dengan sangat cepat sejak Xiao Chen resmi menempati Kamar 101.
Di era kiamat di mana seluruh infrastruktur telekomunikasi, sinyal seluler, dan jaringan internet telah lumpuh total, berita tidak lagi menyebar melalui media sosial atau aplikasi pesan instan. Berita tentang keselamatan dan sumber daya menyebar melalui metode paling kuno namun paling efektif: bisikan-bisikan ketakutan, kabar angin, serta kesaksian langsung dari para penyintas yang bersembunyi di celah-celah reruntuhan kota.
Xiao Chen sadar betul akan posisinya. Meskipun ia telah menemukan tempat bernaung yang sempurna, masa sewanya di Kamar 101 hanya berlaku selama tujuh hari. Jika dalam waktu empat hari ke depan ia tidak mampu menyerahkan dua buah Kristal Inti Keruh tambahan kepada Lin Yue, ia akan dikeluarkan secara otomatis oleh Sistem dan kembali terlempar ke dalam neraka di luar sana.
Karena alasan itulah, pada pagi hari ketiga, setelah menguras tenaganya dengan mandi air hangat dan beristirahat total, Xiao Chen memberanikan diri keluar dari area Suaka di bawah perlindungan Barrier Listrik untuk mencari barang-barang berharga serta memburu informasi di sekitar koridor jalan utama Distrik Jiangcheng.
Di sebuah gedung pusat perbelanjaan tua yang telah hancur berjarak sekitar dua ratus meter dari rumah tua Lin Yue, Xiao Chen tidak sengaja berpapasan dengan tiga orang penyintas dari kelompok pemungut liar—kelompok yang dua hari lalu sempat menolak mentah-mentah saat ia memohon sedikit sisa makanan.
"Xiao Chen?! Kamu... bagaimana mungkin kamu masih hidup?!" bisik salah satu penyintas bertubuh kurus kering dengan sepasang mata cekung yang membelalak heran. "Bukannya tiga hari lalu kami melihatmu dikejar-kejar oleh zombie mutan jenis atlet ke arah lorong gang timur?"
Ketiga penyintas itu mengepung Xiao Chen dari jarak aman, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan rasa takjub yang luar biasa.
Pakaian yang dikenakan Xiao Chen memang masih tampak lusuh dan kusam bekas benturan kiamat, tetapi kulit wajah pemuda itu tampak sangat bersih dari debu, matanya jernih, bibirnya tidak lagi pecah-pecah akibat dehidrasi, dan seluruh badannya memancarkan kesegaran fisik yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelaparan atau dehidrasi parah seperti kondisi mereka bertiga saat ini.
Xiao Chen menyipitkan matanya, menatap ketiga mantan rekannya itu dengan pandangan dingin yang dilapisi rasa bangga tersembunyi.
"Aku berhasil lolos dan menemukan area perlindungan," kata Xiao Chen pelan dengan nada suara yang sangat tenang. "Di ujung gang timur dekat benteng pagar besi... ada sebuah rumah tua bertingkat dua. Dan tepat di sampingnya, berdiri empat unit bangunan kamar kos beton tebal yang sangat modern."
"Kosan? Kamu gila ya?! Di tengah kiamat kayak begini ada bangunan kos-kosan?!" seru penyintas kedua dengan nada setengah tidak percaya bercampur ejekan.
"Tutup mulutmu! Jangan berteriak jika kamu tidak ingin memancing perhatian rombongan zombie dari jalan seberang!" potong Xiao Chen cepat dengan tatapan mata yang tajam dan penuh ancaman.
Ketiga penyintas itu mendadak bungkam, terintimidasi oleh perubahan aura percaya diri yang dipancarkan oleh Xiao Chen.
"Dengarkan aku baik-baik," bisik Xiao Chen merapat, membuat nada suaranya terdengar sangat misterius. "Tempat itu dikuasai oleh seorang Saudari muda yang memiliki kekuatan luar biasa dan sangat dingin. Di sekeliling bangunannya terpasang kubah pelindung transparan dan pagar listrik ajaib yang sanggup membakar serta menghancurkan saraf zombie sampai hangus dalam hitungan detik saat mereka mencoba mendekat!"
Ia menghentikan ucapannya sejenak, melihat reaksi keterkejutan di wajah ketiga pria di depannya, lalu melanjutkan dengan nada yang kian mantap:
"Dan yang paling gila dari semuanya... di dalam kamar kos itu, ada aliran listrik yang menyala terang benderang dua puluh empat jam penuh. Ada tempat tidur empuk, dan yang paling penting... ada saluran air bersih jernih tak terbatas di dalam kamar mandi yang bisa kamu minum sepuasnya tanpa perlu takut racun virus!"
Deg!
Ketiga penyintas itu tersentak hebat seolah-olah baru saja disambar petir di siang bolong. Paru-paru mereka terasa menegang, dan deru napas mereka mendadak menjadi sangat berat dan memburu.
"L-Listrik? Tempat tidur? Air bersih jernih tak terbatas yang bisa diminum?!" bisik penyintas yang paling tua dengan bibir bergetar hebat. "Xiao Chen... kamu jangan bercanda! Mana mungkin ada surga seperti itu di tengah kota mati ini?!"
"Kalau kalian mengira aku berbohong, silakan berjalan sendiri dan lihat papan pengumuman emas yang tergantung di pintu gerbang luar rumah tua itu!" tegas Xiao Chen dingin. "Tapi aku peringatkan kalian bertiga dari sekarang... Saudari pemilik Suaka tempat itu sama sekali tidak menerima pembuat ulah, penjahat, atau orang-orang yang berpikiran licik. Biaya sewanya adalah dua buah Kristal Inti Keruh per minggu. Jika kalian memiliki kristal itu di kantong kalian, kalian bisa masuk dan menikmati surga. Tapi jika kalian mencoba berbuat ceroboh atau berniat jahat... pagar listrik dan hukumannya akan memastikan kalian mati tanpa sisa di tempat!"
Setelah menyelesaikan ucapannya, Xiao Chen membalikkan badan tanpa membuang waktu lagi untuk berdebat, meninggalkan ketiga penyintas itu yang berdiri membatu di tengah reruntuhan dengan pikiran yang terguncang hebat.
Hari itu juga, cerita dan bisikan tentang keberadaan Kos-kosan Ajaib Suaka mulai menyebar dari mulut ke mulut seperti api menyambar jerami kering. Berita itu merayap cepat di antara kelompok-kelompok kecil penyintas yang terdesak, kelaparan, dan sekarat di seluruh penjuru Distrik Jiangcheng. Sebuah gelombang keputusasaan, rasa takjub, harapan hampa, hingga ketamakan terselubung mulai terarah secara masif menuju satu titik lokasi: Benteng Suaka milik Lin Yue.
Bersambung....
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...