Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Rahasia di Atap Gedung
Lia menemukan Basti di atap gedung, di bangku besi karat dekat menara air, dengan dua kaleng soda dingin dan tampang seperti murid yang baru diskors.
"Kamu di sini." Lia duduk di sisinya, merapatkan blazer karena angin atap lebih dingin dari yang ia kira. "Semua orang mencarimu."
"Aku dikeluarkan dari rapat. Wajar kalau aku menghilang."
"Kamu tidak dikeluarkan. Kamu keluar dengan dramatis."
"Itu keahlianku." Basti menyodorkan kaleng. "Kamu marah?"
Lia membuka kaleng itu dan meneguk, lalu menatap langit Bandung yang cerah dan tak peduli. "Aku ingin marah. Tapi aku tidak bisa memutuskan pada siapa."
"Aku."
"Salah satunya kamu." Ia menoleh. "Kamu memprovokasi dia, Bas."
"Aku tidak memprovokasi. Aku menanyakan pertanyaan yang semua orang di ruangan itu takut tanyakan." Basti menyandarkan punggung. "Dia marah bukan karena angka. Dia marah karena hal lain."
"Karena apa?"
"Kamu tahu karena apa."
Lia terdiam. Ia menatap kaleng di tangannya, lalu menatap kota yang berkilau di kejauhan. Bekas embun membasahi telapak tangannya, dingin dan menenangkan. "Dia tetap tidak boleh memperlakukan orang seperti itu."
"Tidak boleh."
"Sinta hampir menangis."
"Dan kamu berdiri membela kami semua." Basti menatapnya. "Aku bangga. Serius."
"Aku hanya bicara jujur."
Tangan kirinya masih gemetar, dan Basti, yang membaca bahasa tubuhnya sejak umur delapan tahun, meraih tangan itu dan menggenggamnya sebentar tanpa berkata apa-apa.
"Kamu berbicara di depan seluruh divisi kepada CEO yang baru saja memecat orang hanya karena salah ketik. Itu bukan jujur, itu berani." Ia menyenggol bahu Lia. "Tapi itu bukan alasan aku mencarimu."
"Bukan?"
"Aku mau bilang sesuatu. Dan kamu tidak boleh tertawa."
Lia mengangkat tangan. "Aku bersumpah."
Basti menarik napas panjang. Wajahnya mendadak berubah. Tidak ada lagi sorot jenaka, tidak ada lesung pipi, hanya kegugupan yang telanjang, seperti anak sekolah yang mau menyerahkan surat cinta.
"Aku suka Nica."
Sunyi.
"Sejak SMA. Sejak kelas dua. Sejak dia meminjamkan aku penghapus waktu ulangan Fisika dan bilang, 'Kamu jangan mencontek, ya.' Padahal aku tidak mencontek." Ia menunduk. "Dan aku tidak pernah bilang. Sepuluh tahun lebih, Ophelia. Aku bahkan sampai pindah kota, pindah kantor, pindah kos, tapi tidak pernah berani menelepon dia lebih dari lima menit."
Lia meletakkan kaleng di bangku dan menatapnya.
"Aku tahu."
Basti mengangkat kepala. "Apa?"
"Aku tahu, Bas. Sejak kelas dua SMA. Sejak kamu memberi dia jaketmu waktu hujan di gerbang sekolah dan berpura-pura itu jaket temanmu."
"Kamu tahu?"
"Jaket itu ada namamu di kerahnya."
Basti menutup wajah dengan telapak tangan. "Astaga."
"Bahkan Nenek tahu."
"Nenekmu?"
"Nenek bilang, 'Anak Bu Nurul itu suka sama anak perempuan yang rambutnya diikat dua.' Aku bilang, bukan urusan kita. Tapi ya, semua orang tahu."
"Kecuali Nica."
"Aku tidak yakin."
Basti terdiam. Ia menurunkan tangannya perlahan, dan Lia bisa melihat matanya sedikit basah. "Kamu pikir dia tahu?"
"Aku pikir dia menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu kamu menjadi laki-laki yang cukup berani." Lia tersenyum. "Nica bukan orang yang akan bicara duluan, Bas. Kalian berdua sama. Sama-sama menunggu, sama-sama takut. Sepuluh tahun. Kalau kalian pasangan kuda, kalian sudah tertinggal seluruh lomba."
Basti tertawa, dan tawa itu terdengar setengah tangis. "Aku butuh bantuan."
"Aku tahu."
"Kamu mau?"
"Aku sudah menunggu lima belas tahun kamu mengatakannya." Lia mengambil kaleng itu lagi. "Tentu saja mau. Aku bahkan sudah membuat rencana."
"Kamu sudah membuat rencana?"
"Sejak semester satu kuliah. Tapi aku tidak tahu kapan waktunya." Ia mengetuk dagu dengan jarinya. "Dinner. Hari Jumat. Kita bertiga, di warung ayam goreng Bu Nur, tempat kita biasa makan dulu."
"Bertiga?"
"Aku akan mengundang Nica, kamu, dan aku. Lalu di tengah acara, aku akan menerima telepon penting dan pergi."
"Kamu akan pergi?"
"Kamu ingin ditinggalkan berdua dengan Nica, kan?"
Basti terdiam. Lalu wajahnya perlahan cerah. "Kamu jenius."
"Aku tahu."
"Menurutmu aku pakai kemeja putih atau biru?"
"Biru. Nica pernah bilang biru cocok untukmu."
"Dia bilang begitu?"
"Semester tiga, di depan lift kampus. Kamu tidak ingat karena waktu itu kamu sedang salah tingkah."
"Tapi bagaimana kalau dia tidak..."
Ponsel Lia bergetar. Ia melirik layar, dan alisnya naik.
"Panjang umur," bisiknya. "Dari Nica."
Ia menekan tombol angkat. "Halo?"
"Ophelia." Suara Nica terdengar aneh, sedikit kaku, seperti orang yang sudah mengulang kalimat itu di kepala berkali-kali. "Aku mau tanya sesuatu. Tolong jangan tertawa."
"Aku tidak akan tertawa."
"Apakah benar kamu dan Basti..." Ia berhenti. "Grup alumni bilang mereka pacaran. Dan aku tahu itu tidak benar, karena aku sudah mengenal kalian, tapi, ya. Aku cuma ingin dengar dari kamu. Kamu tahu aku tidak pernah percaya grup alumni."
Lia menatap Basti. Basti membeku di tempat dengan wajah pucat.
"Tidak, Nic. Kami tidak pacaran. Basti itu saudaraku. Kami tidak akan pernah, dalam dunia mana pun."
"Oh." Sunyi sebentar. "Oke."
"Kenapa?"
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya..." Suara Nica sedikit bergetar, dan Lia mendengar napas panjang yang ditarik pelan. "Aku merasa lega, dan aku tidak tahu kenapa aku lega."
Lia menutup mata dan tersenyum. "Nic, Jumat malam kamu kosong?"
"Kenapa?"
"Reuni kecil. Aku, kamu, dan Basti. Di warung Bu Nur."
"Basti di sana?" Nada Nica naik satu oktaf, lalu ia buru-buru turun lagi. "Oh. Ya. Kosong. Aku bisa datang."
"Jam tujuh?"
"Jam tujuh."
Lia menutup telepon dan menatap Basti dengan mata berbinar. Pria itu sudah setengah berdiri, tangan mencengkeram bangku, mulut terbuka lebar.
"Dia bilang lega?"
"Dia bilang lega."
"Ophelia, dia bilang lega."
"Iya, Bas. Duduk. Kamu akan pingsan."
Ia duduk. Mereka berdua tertawa dalam keheningan atap, dengan angin sore mengibaskan rambut Lia dan mengacak-acak jaket Basti. Untuk sesaat, dunia terasa sangat sederhana. Lia memandang sahabatnya yang kini menghitung jari dengan wajah orang yang sedang menimbang baju apa yang harus ia pakai. Ada kehangatan aneh di dadanya, bercampur sedikit rasa perih yang tak ia kenal. Bukan iri. Ia hanya baru menyadari bahwa cinta, ketika akhirnya terucap, membuat seseorang menjadi lebih terang, dan ia sendiri sudah lama tidak menyalakan lampu di dalam dirinya.
"Terima kasih," kata Basti akhirnya.
"Belum. Tunggu sampai Jumat."
"Tetap terima kasih."
Lia mengangguk. Tapi ketika ia menoleh ke arah tangga darurat, ke pintu besi yang setengah terbuka, ia melihat sekilas bayangan seseorang di sana, berdiri diam dengan jas gelap. Ketika ia berkedip, bayangan itu sudah hilang.
Ia mengerutkan dahi, menatap pintu besi itu lebih lama dari perlu.
"Ada apa?" tanya Basti.
"Tidak ada." Lia menggeleng cepat. "Hanya angin."
Tapi angin tidak meninggalkan aroma cendana.