NovelToon NovelToon
DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: R. AL

Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.

Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.

Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."

Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.

Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - DUA DETAK DALAM SATU RAHIM

Telepon dari Opa Robert masih menyala di layar HP Arga yang bergetar di atas meja UGD. Lampu UGD berkedip pelan. Bau antiseptik menyengat.

Arga tidak langsung menjawab. Tangannya masih mengepal. Baju rumah sakit yang dia pakai masih lusuh karena dia belum ganti sejak seminggu lalu menemani Sinta yang bedrest total gagal.

"Arga, Oma bilang Luna sudah melahirkan? Mana cucuku Kelvin Jr?" Suara Opa Robert di seberang terdengar panik, berat, seperti menahan marah.

Arga menatap perutku.

Perutku yang ada dua kantung. Yang ada dua detak jantung. Yang ada dua garis tapi isi dua ayah. Yang rahimnya dibeli untuk menyelamatkan dua nyawa.

"Opa, cucu Opa ada dua-duanya di dalam rahim Sinta sekarang. Kembar beda ayah. Satu Arga Jr. Satu Kelvin Jr. Dalam satu rahim. Perang baru saja dimulai lagi."

Di seberang, hening. Lalu terdengar Oma merebut HP. "Arga! Apa maksud kamu! Luna mana? Kenapa perut Luna kempes?"

Luna yang perutnya sudah kempes tersenyum. Air matanya bukan darah hitam seperti KTP nangis darah BELUM DIKUBUR - MENUNGGU TUBUH BARU di Bab 13, tapi air mata bening kemenangan. Dia mengelus perutnya yang kempes dengan lembut, seperti mengelus kenangan.

"Oma, aku di sini Oma. Aku baik-baik saja. Aku sudah tanda tangan di atas materai, kalau anak ku lahir dari rahim Sinta, aku tidak akan rebut Arga lagi. Aku cuma mau anak ku hidup. Aku cuma mau Kelvin Jr hidup."

Aku memegang perutku yang sakit luar biasa. Dua yang mencakar dari dalam. Satu mencakar lembut, Arga Jr. Satu mencakar kasar, Kelvin Jr. Dua gerakan yang berbeda dalam satu tempat yang sama. Detak jantung keempat yang tadi pelan, kini menjadi keras di telinga ku.

Di layar USG yang masih menyala di samping ranjang, yang tadi sembilan puluh bpm pelan sekali itu, tiba-tiba naik jadi seratus empat puluh bpm. Menyusul detak Arga Jr yang seratus lima puluh bpm. Dua garis naik turun di layar, bersahutan, berebut oksigen, berebut ruang.

Dokter kaget. Dokter yang dari tadi diam karena bingung harus berbuat apa dengan kasus kembar beda ayah dalam satu rahim yang baru pertama kali dia lihat selama dia jadi dokter kandungan. "Bu Sinta, yang sembilan puluh bpm tadi naik! Jadi seratus empat puluh bpm! Janin kedua hidup! Keduanya hidup! Mereka saling menguatkan!"

Gelang emas putih ku yang tulisannya KELVIN JR - DARI PAPA KELVIN DI MALL BAB 10, yang tadinya berdetak pelan, sekarang berdetak kencang. Seirama dengan dua detak di perutku. Gelang itu bukan sekedar gelang. Itu janji. Janji dari seorang ayah yang sudah tidak ada, yang menitipkan anaknya ke dalam rahim orang lain agar tetap hidup.

Dan di dalam mobil Alphard hitam plat B yang masih parkir di depan UGD, HP Arga masih berdering. Opa Robert telepon lagi. Oma telepon lagi. Semua telepon.

Arga mematikan HP nya. Dia mendekat ke ranjang ku. Dia berlutut. Dia memegang tangan ku yang dingin dan penuh keringat.

"Sin, sakit ya?"

Aku tidak bisa menjawab. Karena sakitnya bukan sakit kontraksi biasa. Sakitnya seperti ada dua orang kecil di dalam perut ku yang sedang berpelukan tapi juga saling mendorong, mencari posisi paling nyaman. Satu ingin di kiri, satu ingin di kanan. Tapi rahim ku yang kecil, rahim yang pernah keguguran tiga kali dan tetap bisa dua garis lagi, rahim petarung itu, harus menampung dua-duanya sekaligus.

Luna mendekat juga. Dia tidak cemburu lagi. Raut wajahnya yang dulu penuh amarah saat tahu Arga menikahi aku, sekarang berubah menjadi raut seorang ibu yang pasrah. Dia memegang tangan ku yang satunya.

"Sinta, terima kasih ya sudah mengandung anak ku. Kelvin Jr. Sekarang anak ku ada di rahim kamu. Bersama anak mu Arga Jr. Kembar beda ayah dalam satu rahim. Kalau nanti lahir di kasur tipis saat fajar di Bab 40, dua-duanya lahir sebagai anak Arga. Dua-duanya dapat hak yang sama. Aku dapat ketenangan. Kamu dapat keluarga."

Aku menatap Luna. Perempuan yang dulu aku anggap rival. Perempuan yang dulu aku benci karena dia datang membawa janin delapan bulan dan memindahkan ke rahim ku yang baru enam minggu. Tapi sekarang aku mengerti. Dia tidak gila. Dia hanya seorang ibu yang tidak mau anaknya mati sendirian di dalam perutnya yang sudah tidak kuat.

Arga berdiri, masih pakai baju rumah sakit, masih bedrest total gagal, tapi tangannya mengepal lebih kencang. "Luna, kamu gila. Kamu pindahkan janin delapan bulan ke rahim istriku yang baru enam minggu. Rahim Sinta bisa robek. Sinta bisa keguguran jadi satu garis lagi di Bab 29 seperti yang sudah tertulis."

Luna menggeleng pelan, masih mengelus perutnya yang kempes. "Tidak akan robek Arga. Karena rahim Sinta itu rahim kuat. Rahim yang pernah keguguran tiga kali dan tetap bisa dua garis lagi. Rahim petarung. Cocok untuk mengandung dua anak sekaligus. Dan aku sudah tanda tangan di atas materai, kalau anak ku lahir dari rahim Sinta, aku tidak akan rebut Arga lagi. Aku cuma mau dua anak ini lahir hidup-hidup."

Dokter memanggil suster. "Siapkan ruang rawat VIP. Bu Sinta harus bedrest total. Tidak boleh bangun sama sekali. Dua janin beda usia dalam satu rahim ini sangat berisiko. Yang satu sudah delapan bulan, yang satu baru enam minggu tapi dipaksa tumbuh cepat karena hormon dari janin pertama. Kita harus jaga."

Aku dipindahkan ke ruang rawat. Ranjang didorong pelan. Arga mendorong di sisi kiri, Luna di sisi kanan. Pemandangan yang aneh. Suami dan mantan istri yang bersama-sama mendorong ranjang istri baru yang mengandung anak mereka berdua.

Di dalam ruang rawat, sunyi. Hanya suara mesin detak jantung. Dua mesin. Satu untuk Arga Jr, satu untuk Kelvin Jr.

Aku memejamkan mata. Aku mencoba bicara dengan dua janin di dalam perut ku.

"Arga Jr, Kelvin Jr, ibu di sini. Kalian jangan berantem ya di dalam. Berbagi tempat ya. Ibu tahu sempit. Ibu tahu sakit. Tapi ibu akan jaga kalian berdua. Sampai lahir. Sampai bisa ibu gendong berdua."

Seolah mendengar, gerakan mencakar kasar dari Kelvin Jr pelan-pelan melembut. Yang tadinya kasar, sekarang mengelus dari dalam. Menyentuh dinding rahim dengan lembut. Arga Jr yang dari tadi lembut, membalas dengan tendangan kecil yang manja.

Dua detak itu akhirnya sinkron. Seratus empat puluh dan seratus lima puluh, naik turun bersamaan, seperti dua orang yang sedang berpegangan tangan.

Luna yang duduk di kursi samping ranjang menangis. Bukan tangis kemenangan lagi. Tangis haru. "Sinta, dulu aku pikir kamu cuma rahim sewaan. Rahim yang dibeli. Tapi sekarang aku lihat, kamu ibu mereka. Bukan aku. Aku cuma yang mengandung pertama. Kamu yang berjuang sampai akhir."

Arga memegang kepala ku, mencium kening ku yang basah. "Sin, maaf. Karena aku kamu harus mengandung dua. Karena keluarga ku kamu harus sakit begini. Kalau kamu mau, kita berhentikan. Kita bilang ke Opa, cukup satu saja."

Aku menggeleng sekuat tenaga, meski kepala ku pusing. "Jangan, Arga. Jangan. Dua-duanya sudah hidup. Dua-duanya sudah ada detak. Aku pernah keguguran tiga kali. Aku tahu rasanya kehilangan detak. Sekarang ada dua detak di dalam aku. Aku tidak akan buang satu pun. Biarin mereka kembar beda ayah dalam satu rahim. Biarin mereka lahir sebagai anak Arga. Biarin mereka berdua panggil aku ibu."

Di luar ruang rawat, Opa Robert dan Oma sudah sampai. Mereka berlari dari parkiran Alphard hitam. Oma masuk duluan, langsung memeluk Luna yang perutnya kempes.

"Luna, mana cucu Oma? Kenapa perut kamu kempes?"

Luna menunjuk ke arah ku, ke arah ranjang ku, ke arah perut ku yang besar dengan dua detak. "Oma, cucu Oma ada di sana. Dijaga sama Sinta. Sinta rahim petarung. Dia jaga dua-duanya."

Oma menatap ku. Tatapan yang dulu benci karena aku dianggap merebut Arga, sekarang berubah menjadi tatapan hormat. Oma mendekat, memegang tangan ku.

"Sinta, Oma minta maaf ya. Dulu Oma pikir kamu cuma mau harta. Tapi ternyata kamu mau jaga cucu Oma. Dua cucu Oma."

Aku tersenyum dengan air mata. Perut ku masih sakit, tapi hati ku hangat. Untuk pertama kalinya sejak aku divonis rahim lemah dan keguguran tiga kali, aku merasa rahim ku berguna. Rahim ku yang dulu dianggap gagal, sekarang menjadi satu-satunya rahim yang bisa menampung dua nyawa beda ayah sekaligus.

Malam itu, di ruang rawat yang dingin, ada empat orang yang menjaga satu ranjang. Arga di kiri, Luna di kanan, Opa dan Oma di kaki ranjang. Dan di tengah ranjang, aku, Sinta, dengan perut yang berisi dua kantung, dua detak jantung, dua garis tapi isi dua ayah, yang rahimnya dibeli bukan karena uang, tapi karena harapan.

Harapan agar tidak ada lagi tangisan darah hitam di KTP BELUM DIKUBUR - MENUNGGU TUBUH BARU.

Harapan agar Bab 29 yang tertulis keguguran jadi satu garis lagi tidak pernah terjadi.

Harapan agar dua anak ini lahir di kasur tipis saat fajar di Bab 40 sebagai saudara kembar, bukan sebagai rival.

Aku mengelus perut ku pelan. Dua yang mencakar tadi sekarang sudah tidur. Satu mencakar lembut, Arga Jr. Satu mencakar kasar yang sudah melembut, Kelvin Jr. Detak jantung keempat yang tadi berantakan, sekarang menjadi lullaby.

Dua detak dalam satu rahim.

Dan aku, untuk pertama kalinya, merasa menjadi ibu yang utuh.

BERSAMBUNG,.,....

1
aina susiyanti77
keren kk😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!