NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SANAK KELUARGA DI BALIK BAYANG

BAB 17: SANAK KELUARGA DI BALIK BAYANG

Tirai hujan yang membasahi pesisir Jakarta Pusat perlahan berganti menjadi rintik halus saat hembusan angin laut malam menerpa pelataran Klinik Medika Utama.

Sirine mobil kepolisian meraung-raung di kejauhan, mengiringi pemindahan dr. Fransisca ke dalam tahanan taktis Mabes Polri.

Di dalam bus laboratorium bergerak milik VPCI yang terparkir tak jauh dari lokasi, pendar cahaya dari empat monitor raksasa memantulkan kesibukan Dion yang jemarinya menari liar di atas papan ketik.

Kartu memori enkripsi titanium yang direbut Reno di lorong eskapasi kini terhubung langsung ke pemindai data siber.

Barisan kode raksasa terurai cepat, menelanjangi ratusan nama, transaksi keuangan, serta cetak biru rekayasa identitas palsu para buronan internasional yang menggunakan jasa jaringan "Mata Timbangan".

"Gue berhasil menembus enkripsi tingkat tiganya, Ren!" seru Dion tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Suaranya bergema penuh kemenangan, memecah ketegangan di dalam bus laboratorium.

"Seluruh berkas transaksi dr. Fransisca selama tiga tahun terakhir ada di sini. Daftar klien, formula stabilisator isotop, sampai jaringan distribusi racunnya di Asia Tenggara!"

Widya Kusuma yang berdiri di samping Dion mencatat nama-nama yang muncul di layar dengan ketelitian tinggi.

"Ini skandal terbesar abad ini. Ada belasan nama mantan pejabat eksekutif dan pengusaha asing yang dikabarkan 'meninggal secara alami' beberapa tahun lalu, ternyata hidup nyaman dengan wajah baru di luar negeri."

Namun, di sudut ruangan laboratorium bus yang beraroma antiseptik, dr. Sara Maheswari sedang mengikat kasa steril terakhir di bahu kiri Reno Devano. Jemari sang dokter forensik bergerak lembut namun cekatan, memastikan pendarahan di bahu mitranya benar-benar terhenti.

"Luka jahitanmu hampir robek sepenuhnya saat kamu menahan pintu eskapasi tadi, Reno," tegur dr. Sara dengan nada suara yang memadukan ketegasan medis dan perhatian yang mendalam.

Matanya menatap tepat ke manik mata Reno.

"Jika kamu terus-terusan mengabaikan kondisi fisikmu demi mengejar petunjuk kilas balik, tubuhmu tidak akan bertahan untuk menghadapi pimpinan puncak jaringan ini di Eropa."

Reno menatap tangan dr. Sara yang masih memegangi perban di bahunya. Senyum tipis yang hangat terukir halus di bibir sang detektif.

"Aku punya dokter forensik terbaik yang selalu memastikan aku tetap berdiri, Sara. Jadi aku tidak khawatir."

dr. Sara menahan napas sejenak, pipinya bersemu halus sebelum ia merapikan kembali tas peralatannya dengan batuk kecil untuk menutupi kecanggungannya. "Jangan mengombal dalam kondisi berdarah, Detektif. Fokus pada data."

"Bos! Dokter Sara! Lihat ini!" panggil Dion mendadak, suaranya berubah drastis dari nada penuh kemenangan menjadi getaran panik yang membeku.

Reno dan dr. Sara melangkah cepat mendekati meja kendali Dion. Di layar utama, sebuah berkas transaksi berlabel khusus berwarna merah menyala mendadak terbuka secara otomatis.

Berkas itu berisi rekaman medis dan foto proses rekonstruksi wajah yang dilakukan lima tahun lalu di fasilitas rahasia "Mata Timbangan".

Di atas lembar berkas tersebut, tertera nama asli pasien sebelum diubah: Raymond Devano.

Reno membeku seketika.

Seluruh darah di dalam tubuhnya seolah terhenti mengalir. Manik matanya melebar, menatap foto pria paruh baya di layar seorang pria yang memiliki garis rahang, bentuk mata, dan struktur wajah yang begitu mirip dengan dirinya.

"Ray... Raymond Devano?" bisik Widya dengan raut wajah horor. "Reno... bukankah itu..."

"Kakak kandung ayahku..." kata Reno dengan suara yang mendadak parau dan amat berat. Dinding dadanya bergemuruh hebat oleh hantaman emosi yang tak pernah ia duga.

"Paman Raymond. Pria yang dinyatakan tewas dalam kebakaran pabrik kimia dua belas tahun lalu bersama orang tuaku."

dr. Sara menatap layar dengan keterkejutan yang tak kalah dahsyat.

"Pamanmu... masih hidup? Dia mengubah wajahnya melalui jaringan 'Mata Timbangan' lima tahun lalu?!"

"Bukan cuma masih hidup, Dok," potong Dion dengan tangan gemetar saat membongkar struktur direktori terdalam berkas tersebut.

"Lihat jabatan dan kode otorisasi pemilik rekening penampungan utama 'Mata Timbangan' ini... Kode otorisasi tertingginya berinisial R.D.! Pamanmu bukan sekadar klien, Ren... Raymond Devano adalah pendiri sekaligus pemimpin tertinggi jaringan 'Mata Timbangan' yang beroperasi dari Eropa!"

Suasana di dalam bus laboratorium VPCI mendadak senyap bagaikan kuburan. Deru hujan rintik-rintik di luar bus seolah tenggelam oleh kenyataan mengerikan yang baru saja menghantam mereka.

Kebenaran yang selama ini dicari oleh Reno alasan di balik pembunuhan orang tuanya, rahasia di balik Proyek Hitam dua belas tahun lalu, serta keberadaan racun tak terdeteksi ternyata tidak berhenti pada Frans sang Eksekutor atau dr. Vivin Kusuma.

Dalang terbesar yang mengendalikan jaringan kejahatan medis internasional itu adalah darah dagingnya sendiri: paman kandungnya yang dianggap telah lama tewas.

Tiba-tiba, monitor utama Dion berkedip kasar. Garis-garis gangguan sinyal berwarna keemasan memotong tampilan berkas medis Raymond.

Sebuah transmisi video berenkripsi khusus masuk secara paksa ke dalam sistem VPCI, bypass seluruh sistem pertahanan buatan Dion.

Layar monitor menggelap, lalu menampilkan bayangan ruangan kerja mewah berdinding kayu oak dengan latar belakang jendela besar yang memperlihatkan pemandangan menara kota Jenewa, Swiss, di tengah salju malam.

Di atas kursi kulit tinggi di balik meja kerja tersebut, duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna abu-abu gelap.

Wajahnya adalah hasil karya rekonstruksi bedah yang sangat sempurna, namun di tangan kanannya, ia memegang sebuah tongkat perak berkepala emas berbentuk mata timbangan.

Suara pria itu terdengar melalui speaker bus laboratorium suara yang dalam, tenang, dan berwibawa, namun membawa nada intimidasi dingin yang mampu membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.

"Selamat malam, Keponakanku... Reno Devano."

Reno melangkah maju hingga berjarak hanya beberapa senti dari layar monitor, mengepalkan tangannya di samping paha hingga buku-buku jarinya memutih. "Raymond..."

Pria di dalam video itu tersenyum tipis sebuah senyuman yang begitu mirip dengan senyuman almarhum ayah Reno.

"Aku sangat bangga melihat betapa tajamnya indra ke-6 yang kamu warisi dari tragedi dua belas tahun lalu, Reno," ujar Raymond Devano dengan nada santai seraya menyesap minuman di cangkirnya.

"Kamu berhasil melumpuhkan Frans, membongkar rahasia Vivian, dan kini menutup cabangku di Jakarta. Kamu membuktikan bahwa darah keluarga Devano memang tidak pernah melahirkan orang biasa."

"Kenapa, Paman?!" jerit Reno menembus transmisi, suaranya sarat akan amarah dan duka mendalam yang selama bertahun-tahun terpendam. "Kenapa kamu membantai saudaramu sendiri?! Kenapa kamu menciptakan jaringan iblis ini?!"

"Saudaraku ayahmu adalah pria lemah yang naif, Reno," jawab Raymond dingin tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun di matanya.

"Dia ingin menyerahkan formula racun saraf itu ke polisi bodoh untuk dimusnahkan. Dia tidak paham bahwa ilmu pengetahuan medis tertinggi adalah tentang kekuasaan untuk menentukan siapa yang berhak mati dan siapa yang berhak lahir kembali! Tragedi dua belas tahun lalu adalah seleksi alamiah agar hanya yang terkuat yang memimpin."

dr. Sara melangkah maju berdiri persis di samping Reno, menatap lurus ke arah monitor.

"Kamu menggunakan racun dan rekayasa medis untuk menjual kebal hukum bagi para penjahat, Raymond! Kamu adalah noda bagi seluruh dunia kedokteran!"

Raymond mengalihkan pandangannya pada dr. Sara, terkekeh pelan.

"Ah... Dokter Sara Maheswari. Putri dari sahabat lamaku, Eleanor," kata Raymond seraya menyandarkan tubuhnya.

"Ibumu memilih mati membawa rahasia formula itu, Sara. Dan sekarang kamu berdiri di sana, sudi menjadi tameng bagi keponakanku. Sangat dramatis. Tapi permainan kalian di Jakarta hanyalah langkah kecil di atas papan catur raksasaku."

Raymond mengangkat tongkat berkepala emasnya, mengarahkannya tepat ke layar kamera.

"Kamu sudah merebut kartu memori milik Fransisca, Reno. Di dalam kartu itu ada sebuah berkas berlabel 'Project Phoenix'. Itu adalah jadwal eksekusi sekaligus peluncuran racun generasi terbaru yang akan diujicobakan pada Konferensi Tingkat Tinggi Kedokteran Internasional di Zurich dalam waktu empat puluh delapan jam dari sekarang."

Mata Reno membelalak. "Zurich..."

"Datanglah ke Eropa jika kamu ingin menghentikan pembantaian ini, Reno," bisik Raymond dengan senyuman dingin yang mengerikan.

"Bawa serta Dokter Sara dan kemampuan 'penglihatan darahmu'. Mari kita selesaikan perang keluarga ini di meja otopsi terakhir kita. Jika kamu menang, kamu akan mendapatkan kebenaran utuh dari kematian orang tuamu. Tapi jika kamu kalah... nama Reno Devano dan VPCI akan terhapus selamanya dari muka bumi."

BIP!

Transmisi video itu terputus mendadak, mengembalikan tampilan layar monitor pada barisan kode data yang berkedip-kedip.

Suasana di dalam bus laboratorium kembali menjadi begitu hening. Bara meremas gagang pistolnya, sementara Widya dan Dion menatap Reno dengan kecemasan yang teramat sangat.

Reno berdiri tegap di tengah ruangan. Pusing bekas psychometry dan amarah di dadanya meluruh, berganti menjadi ketenangan yang luar biasa tajam sebuah ketenangan dari seorang detektif yang telah menemukan muara akhir dari seluruh pencariannya.

Ia memutar tubuhnya, menatap dr. Sara yang sedang menatapnya dengan pandangan penuh kesiapan dan rasa percaya yang abadi.

"Zurich, empat puluh delapan jam dari sekarang," kata Reno dengan suara rendah, tenang, namun memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

dr. Sara menyambar tas medisnya, merapatkan posisi jas laboratoriumnya dengan senyuman tegas di bibirnya.

"Saya akan menyiapkan seluruh serum penawar dan instrumen otopsi lapangan paling presisi yang kita miliki, Reno. Kita terbang ke Eropa malam ini."

"Bara, koordinasikan tim taktis khusus," perintah Reno melangkah menuju pintu keluar bus.

"Dion, Widya, amankan seluruh data ini dan tetap terhubung dengan jaringan Interpol. Pertarungan akhir VPCI baru saja dimulai."

Di bawah pendar lampu pelabuhan dan tumpahan gerimis malam, Reno Devano dan dr. Sara Maheswari melangkah keluar berdampingan.

Bayangan masa lalu yang membayangi keluarga mereka kini telah menampakkan wujud aslinya.

Dan di atas papan catur internasional yang membeku di Swiss, sang detektif berindra ke-6 dan sang dokter forensik siap menerjang kegelapan paling dalam demi mengukir keadilan hukum yang sejati.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!