NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun orange

Udara di kamar Sora terasa semakin dingin. Tirai balkon melambai-lambai diterpa angin malam, seakan ingin mengabarkan hujan deras akan segera mengguyur area kota hingga pelosok desa. Langit berselimut pekat, diselingi kilatan petir yang sesekali saling menyambar.

*Duaaarrrr!*

"Sebenarnya kamu siapa, Ino?!"

Sora yang baru saja siuman rasanya ingin pingsan kembali. Ia tak menyangka Bundanya bisa mengenali Axcel yang terbalut pakaian feminin. Sora memejamkan mata, memasrahkan nasibnya. Namun, lagi-lagi ia dibuat terperangah. Axcel justru tertawa kemayu, lalu bergelayut manja di lengan kanan Nyonya Jolly. Dengan nada manja, ia menjelaskan betapa rindunya dirinya pada Sora. Karena ponsel sahabatnya tak bisa dihubungi, ia nekad datang, tetapi satpam depan melarangnya masuk dan menyebut Sora sedang dipingit.

"Jadi karena penasaran, Ino menyelinap, Tante. Ino masuk lewat sana. Kan Ino jarang-jarang boleh keluar rumah, kalau nggak kesini Ino mau kemana lagi? Maaf ya, Tante... Kalau soal kafe itu, Ino bisa jelasin kok."

Kewaspadaan Nyonya Jolly tampak luluh. Entah mengapa, ia selalu merasa tersentuh setiap menatap mata Ino yang sendu. Meski tampak ceria layaknya Sora, sorot mata Ino menyimpan kedalaman yang berbeda, seperti anak yang telah melalui banyak kepedihan tanpa pernah mengeluh. Nyonya Jolly menepuk pelan tangan Ino sembari menghela napas panjang, lalu berniat menyampaikan ajakan makan malam di bawah.

Sora yang tahu Bundanya bermaksud 'menginterogasi' Axcel tanpa kehadirannya, mendadak bangkit dari pingsan nya.

"Ayooo, Bunda! Aku juga lapar!"

Sora mencabut paksa selang infus yang masih terpasang di tangan kirinya, padahal cairannya baru terserap separuh. Ia berjalan penuh semangat mendahului Nyonya Jolly dan Ino. Kedua orang itu saling pandang, heran melihat Sora yang mendadak segar bugar.

"Tan, Sora sembuh pasti gara-gara seneng banget ada Ino di sini. Bener, kan, beib? Kamu kangen aku banget, yaaa? Untung aku cepet dateng!"

Sora hanya mengangguk-angguk pasrah. Matanya fokus menatap piring yang penuh dengan makanan, lalu melahapnya dengan porsi besar. Tuan dan Nyonya Mubis sampai mengamati gerak-gerik putrinya dengan cemas.

"Ssshhhtt... Bun, anak gadis kita kok kayak kesurupan begini, ya?" bisik Tuan Mubis.

Nyonya Jolly meletakkan jari telunjuk di bibir suaminya agar tidak bicara sembarangan. Di era modern seperti sekarang, mana ada lagi cerita kesurupan, kalau pun setan mengganggu, tentu caranya sudah beda.

Uhuk! Uhuk!

Sora mendadak tersedak saat Nyonya Jolly menanyakan tentang keberadaan mereka di Moon Cafe tempo hari. Axcel menatap Sora yang mulai gelisah. Tahu sahabatnya dalam kesulitan, ia mengambil alih kendali suasana.

"Ino yang maksa Sora masuk ke Moon Cafe, Om... Tante. Awalnya aku pikir itu cuma kafe biasa, tempatnya sepi banget. Kita juga asyik main game di ruang VIP. Pas keluar, eh tahu-tahu udah malam dan makin ramai. Habis itu kita langsung pulang. Perasaan Ino juga nggak enak. Untung staf di sana baik-baik. Nggak nyangka ya, Tan, ternyata itu klub malam. Hiii... kita nggak bakal mau kesana lagi! Najiiiss."

Sora tercengang melihat cara Axcel membalikkan situasi dengan wajah polos seolah tak berdosa.

"Ooh... ternyata begitu. Tante paham. Tapi masalahnya, para wartawan itu sudah sering memeras Tante dengan berbagai ancaman. Mereka sudah tiga kali mendatangi Tante dan Om."

Mulut Sora menganga lebar. Ia tak percaya orang tuanya begitu mudah menerima penjelasan sesederhana itu. Lalu untuk apa selama ini ia stres setengah mati? Mengapa ia harus ketakutan sampai hampir menerima rencana pernikahan yang tak diinginkannya, jika ternyata masalah ini bisa selesai hanya dengan alibi konyol? Sora tertawa miris dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri.

"Tante tenang aja, nanti biar Ino minta Mami yang beresin semuanya. Enak aja mereka memeras Tantenya Ino yang baik hati ini! Lihat aja, Ino bakal bikin mereka kapok. Udah nyebarin rumor jelek, pakai ngancam-ngancam segala. Mereka belum tahu siapa Ino! Lagipula siapa itu Axcel? Jelas-jelas Sora lagi main sama Ino, kok."

Sebenarnya Nyonya Jolly pun ragu pada tuduhan wartawan. Asumsinya soal Axcel hanya berpatokan pada cerita teman-teman kampus yang melihat pria itu membawa Sora pergi. Begitu mendengar penjelasan Ino, perasaannya langsung lega. Kebenciannya pada Axcel selama ini hanyalah pelampiasan karena ia butuh sosok untuk disalahkan demi melindungi nama baik putrinya.

Berkat Ino, suasana makan malam berlangsung hangat dan penuh tawa, seolah Ino adalah bagian dari keluarga yang baru kembali dari perantauan. Namun, di tengah kehangatan itu, Sora justru sibuk berspekulasi. Jika orang tuanya tahu bahwa Ino dan Axcel berada dalam raga yang sama, akankah mereka tetap menerima Axcel sehangat ini? Dan apakah Axcel tidak tersinggung melihat kepribadian Ino begitu disambut di rumahnya?

---

"Aaahhh... senangnya! Akhirnya aku bisa main lagi. Mmm, gimana kalau kita begadang? Aku mau dengerin kamu cerita. Mau curhat juga boleh, aku kangen kamu!"

Sora tertegun. Kata 'kamu'...bukan 'kau' yang biasa dipakai Axcel. Sora menyadari sosok yang kini duduk di ranjangnya benar-benar Ino. Bagaimana bisa? Apakah Ino muncul atas kemauannya sendiri? Apakah ia berhasil menenggelamkan kesadaran Axcel?

"Kenapa? Kamu kaget, yaaa? Sahabat macam apa coba, sahabatnya dateng tapi nggak mengenali? Aku kecewa, huhuhu..."

Sora menepuk pipinya pelan agar tetap fokus. Bukankah ini kesempatan bagus untuk menginterogasi Ino? Namun, ia harus berhati-hati agar Ino tidak curiga.

"Huaaaa... Ino! Sahabatkuuu... aku juga kangen! Aku udah dua hari dikurung Bunda, terus dipaksa nikah!" tangis Sora berakting, mengimbangi Ino.

Hattchhiiii!

"Kamu masuk angin, ya? Ah, bodoh banget aku ini. Sebentar, aku ambilin kaus kaki sama sandal biar kamu nggak makin dingin. Aku tutup pintu balkon dulu, ya."

*Sreeek... sreeek...*

"AAA!" Sora menjerit kecil.

Sesosok pria berpakaian serba hitam dengan masker menutupi wajah mendadak melongok dari balik pintu balkon. Sebagian tubuh pria itu masih bergelantungan di dahan pohon besar.

"Kenapa? Ada apa? Aaa... Kak Riooo! Kak Rio kesini mau jemput aku pulang, ya? Ayok, aku mau pulang! Tapi jajanin aku sepuasnya dulu, ya!" seru Ino girang.

Sora mengelus dada lega. Rupanya itu Rio, bukan perampok atau hantu. Ia heran melihat Ino begitu akrab dengan asisten Axcel tersebut. Namun, Sora tidak boleh membiarkan Ino pergi sebelum mendapat jawaban.

Rio masih bergelantungan melirik ke arah Sora. Gadis itu memberikan kode gelengan kepala dan menyilangkan tangan di dada sambil berkomat-kamit. Ajaibnya, Rio mengerti maksud kode tersebut.

"Tuan Ino, kalau Tuan pulang sekarang, Nyonya Besar pasti nggak bakal memberi izin Tuan buat main keluar lagi. Gimana kalau Tuan main dulu di sini sampai puas? Besok baru saya jemput. Gimana?" bujuk Rio.

Ino mencerutkan bibir, tetapi rautnya kembali ceria saat melihat Sora menyambutnya dengan senyuman. Setelah berpamitan, Rio dengan sigap merosot turun melewati dahan pohon tanpa tangga portabel.

"Memangnya ada kenangan apa sama gaun orange mu itu, Ino? Kenapa kamu suka banget sama warna itu?" pancing Sora sembari memperhatikan Ino yang sibuk mengunyah camilan dari Bi Muna.

Ino membutuhkan waktu agak lama untuk merespons. Pandangannya menerawang saat menggumamkan kata-kata yang sulit dipahami tentang warna orange yang membara seperti neraka, tempat iblis berwajah manusia harus dibakar. Ia mengaku sudah terlalu lama menunggu hari pembalasan.

"Sebenarnya Bukan aku yang suka warna orange tauuu... Tapi Warna gaun yang kamu simpen di lemari pojok itu, aku suka banget. Bisa nggak buatin yang seukuran badanku?"

"Terus kenapa kamu malah beli gaun orange?" cecar Sora.

"Karena aku ingin menyimpan dendam ini... sampai bisa mengirim mereka ke neraka."

Sora menahan napas. Siapa sebenarnya yang telah menyakiti Ino? Mengapa hanya Ino yang menyimpan luka mendalam ini, sementara Axcel hidup relatif tenang dan hanya berfokus pada perusahaan, Nyonya Evelyn, serta Ino sendiri?

"Kamu pasti bertanya-tanya, kan?" bisik Ino pelan. "Mereka sengaja membakarnya hidup-hidup. Sampai saat ini aku masih cari saksi dan bukti. Rumor-rumor yang mungkin kamu denger itu... memang benar. Tapi kalau aku bunuh mereka langsung, rasanya nggak adil. Aku mau menyiksa mereka pelan-pelan... Hoaaamm... Kayaknya aku kekenyangan, deh."

Mata Ino mulai terpejam saat kepalanya menyentuh bantal. Sora terperanjat. Ini saatnya mencari tahu nama orang yang mendalangi semua ini!

"Terus yang nyakitin kamu siapa namanya, No? Laaah... malah molor! Yaaaah... gimana, sih!" Sora mendesah kecewa, lalu mengelus rambut sosok di hadapannya. "Ino, dengerin aku, ya... Aku bakal bantuin kamu balas dendam kalau kamu besok masih di sini. Jadi, jangan lupa bangun besok, ya..."

⭐⭐⭐⭐⭐

*Waduh, Kiravers! Rahasia besar masa lalu Ino mulai terkuak perlahan! Siapa sebenarnya "iblis berwajah manusia" yang dimaksud Ino? Dan apa yang bakal terjadi kalau Axcel mendadak bangun besok pagi tanpa tahu apa yang sudah diucapkan Ino ke Sora? Jangan lupa tinggalkan jejak suka dan komentar kalian, ya! Sampai jumpa di part selanjutnya!*

1
Helmy Faldy Alaydrus
bau jigong🤣
Pena kira: di sembur pulaaa
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
dirukyah ini?
Pena kira: Mbah dukun bertindak🤣
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
hadirrr
Pena kira: makasih kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
👍👍👍
Pena kira: terimakasih kakak
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
bisa bisa nya nggak apal ama muka sodara sendiri
Pena kira: pikun kak🤣
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
lanjut
Pena kira: siap kk
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
jadi paman dari pihak si mama nya ini ya yang pada kerja di perusahan ayah nya axcel? gitu kok belagu amat
Pena kira: songong banget kan, hmmm...enak nya diapain sih orang kek gini ?
total 1 replies
Helmy Faldy Alaydrus
menarik👍
Pena kira: happy reading kak
total 1 replies
falea sezi
males sora nya oon🤣 di buat tegas lah gk menye 😒 mau kasih giv jd batal sebel liat sora yg bego plin plan pdhl bukti jelas
Pena kira: kak sezi...raosting novel baru ku dong judulnya: Tawanan Pangeran Siren
😍
total 2 replies
falea sezi
kok bisa selena di hamilin siapa😕
Pena kira: ayoo kak tebak
total 1 replies
falea sezi
novel bagus kenapa sepi 👍 q kirim hadiah deh🤣
Pena kira: makasih, bantu share juga dong kak 🤩
total 1 replies
falea sezi
Audrey ini tipe cwek pick me
Pena kira: lebih dari pick me si yaa
total 1 replies
falea sezi
bodoh anak kuliahan g tau alter ego ya🤣
Pena kira: tul bangettt
total 1 replies
falea sezi
kn di clue sora mcnya kok jd ada Audrey
Pena kira: baca terus kakak😅
total 1 replies
falea sezi
nyimak klo bagus q kirim. bunga👍
Pena kira: thank KK♥️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!