Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Permata di Antara Bebatuan
Bagian perdagangan istana terletak jauh di sisi selatan, terpisah dari kemegahan aula utama dan taman-taman kerajaan yang biasa dikunjungi para bangsawan. Di sinilah barang-barang keluar masuk, catatan pajak disusun, dan orang-orang yang dianggap "tidak cukup baik" untuk posisi lain akhirnya ditempatkan.
Zhou Chen berjalan menyusuri gudang-gudang kayu yang berjejer rapi, ditemani Ah Fu yang kini mengikutinya dengan rasa hormat yang jauh berbeda dari beberapa hari sebelumnya. Sejak tekniknya diperbaiki, Ah Fu tidak lagi memandang tuannya sebagai pangeran yang tidak becus—ada sesuatu yang berubah dalam caranya menatap Zhou Chen, semacam kepercayaan yang mulai tumbuh diam-diam.
"Yang Mulia yakin ingin ke sini?" tanya Ah Fu, sedikit bingung. "Biasanya para pejabat perdagangan yang datang menghadap ke istana, bukan sebaliknya."
"Justru karena itu," jawab Zhou Chen, matanya menyapu sekeliling dengan seksama, "tidak ada yang pernah repot-repot datang langsung untuk melihat siapa yang bekerja di sini."
Mata Dewa-nya sudah aktif sejak langkah pertama ia masuk ke area itu, menganalisis setiap orang yang lewat secara sekilas—kebanyakan hanya menunjukkan status biasa: pekerja sehat, sedikit lelah, tidak ada yang istimewa. Namun ia tahu, dari ribuan orang yang dianggap "biasa saja", pasti ada yang benar-benar terlewatkan.
Di sudut gudang ketiga, seorang pemuda kurus sedang menyeret peti berat sendirian, keringat membasahi bajunya yang lusuh. Wajahnya babak belur ringan—bekas hukuman fisik yang tampak masih baru.
"Itu Xiao Hei," gumam Ah Fu pelan, seperti tak ingin didengar orang lain. "Dulu dia calon prajurit di barak utama, tapi dikeluarkan karena dianggap tidak berbakat. Sekarang dia hanya buruh angkut biasa di sini."
Zhou Chen mengarahkan pandangannya ke pemuda itu, dan seketika informasi mengalir masuk:
Xiao Hei Usia: 17 tahun Kultivasi saat ini: Penguatan Tubuh Tingkat 1 Potensi: 87% (Sangat Tinggi) Kelemahan: Teknik pernapasan salah sejak awal latihan, menyebabkan tenaga dalam tersumbat Catatan: Jika teknik pernapasan diperbaiki, berpotensi mencapai Alam Raja dalam waktu kurang dari sepuluh tahun.
Zhou Chen menahan napas.
Delapan puluh tujuh persen. Angka yang bahkan lebih tinggi dari kebanyakan prajurit senior yang pernah ia analisis di halaman latihan istana. Namun pemuda dengan potensi sebesar ini justru dibuang begitu saja hanya karena kesalahan teknik dasar yang tak seorang pun repot-repot memperbaikinya.
"Kenapa dia dikeluarkan dari barak?" tanya Zhou Chen, suaranya tenang meski dalam hati ia mulai geram.
Ah Fu menggaruk kepalanya. "Katanya... tenaga dalamnya tidak pernah berkembang meski sudah berlatih bertahun-tahun. Instrukturnya bilang dia tidak berbakat, jadi lebih baik disingkirkan daripada membuang-buang sumber daya latihan."
Bukan tidak berbakat, pikir Zhou Chen, menatap Xiao Hei yang masih berjuang menyeret peti beratnya tanpa menyadari sedang diperhatikan. Hanya diajari dengan cara yang salah.
Zhou Chen mendekat, membuat Xiao Hei tersentak kaget dan buru-buru berlutut begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
"Y-Yang Mulia! Mohon maafkan hamba yang tidak menyadari kedatangan Anda—"
"Berdiri," potong Zhou Chen. "Aku ingin bertanya sesuatu."
Xiao Hei berdiri dengan gugup, matanya tak berani menatap langsung. "S-silakan, Yang Mulia."
"Kudengar kau pernah berlatih di barak utama."
Wajah Xiao Hei langsung memucat, seolah menyangka akan diejek atau dihina karena kegagalannya. "I-itu... benar, Yang Mulia. Tapi hamba tidak berbakat, jadi—"
"Siapa yang bilang begitu?"
Pertanyaan itu membuat Xiao Hei terdiam, bingung.
Zhou Chen melanjutkan, nada suaranya tenang namun penuh keyakinan yang tak biasa. "Teknik pernapasan yang diajarkan padamu salah sejak awal. Bukan bakatmu yang kurang—instrukturmu yang gagal mengajarimu dengan benar."
Mata Xiao Hei membelalak. "Yang Mulia... tahu tentang teknik pernapasan bela diri?"
Zhou Chen tidak menjawab langsung. Sebaliknya, ia berkata, "Kalau kuberi kesempatan untuk memperbaiki fondasimu dari awal, apakah kau bersedia mencoba sekali lagi?"
Untuk sesaat, Xiao Hei hanya terdiam, seolah tidak yakin apa yang baru saja ia dengar sungguhan atau hanya khayalan. Sudah berbulan-bulan sejak ia dikeluarkan dari barak, dan sejak itu, tidak seorang pun—bahkan keluarganya sendiri—pernah lagi menganggapnya mampu menjadi seorang ahli bela diri.
"H-hamba..." Suaranya bergetar, matanya mulai berkaca-kaca meski ia berusaha menahannya. "Hamba bersedia, Yang Mulia. Sungguh bersedia."
Zhou Chen mengangguk pelan, senyum tipis terukir di wajahnya.
"Kalau begitu, mulai besok, kau akan berlatih di bawah bimbinganku."
Sepanjang hari itu, Zhou Chen terus menyusuri bagian perdagangan, mengarahkan Mata Dewa ke setiap orang yang ia lewati—pekerja gudang, penjaga pintu, pedagang kecil, bahkan seorang tabib tua yang bekerja mengobati pekerja yang terluka.
Sebagian besar memang hanya orang biasa. Namun di antara ratusan orang yang terlewatkan itu, ia menemukan beberapa lagi yang membuatnya berhenti melangkah:
Seorang gadis muda yang bekerja sebagai penimbang barang, yang ternyata memiliki refleks luar biasa dan potensi tersembunyi sebagai pemanah.
Seorang pandai besi tua yang dianggap "sudah terlalu tua untuk berguna", padahal pemahamannya tentang logam dan senjata jauh melampaui pandai besi resmi istana.
Dan seorang mantan tentara yang dipecat karena dituduh pengecut dalam sebuah pertempuran—padahal, menurut analisis Mata Dewa, ia sebenarnya satu-satunya orang dalam pasukannya yang menyadari jebakan musuh, tetapi tak seorang pun mendengarkannya saat itu.
Satu per satu, Zhou Chen mengumpulkan nama-nama itu dalam ingatannya, menyusun rencana yang perlahan mulai terbentuk jelas di kepalanya.
Kerajaan ini penuh dengan permata yang terkubur di antara bebatuan yang diabaikan, pikirnya, menatap langit sore yang mulai memerah di atas bagian perdagangan yang sederhana ini. Semua orang hanya melihat batu. Tidak ada yang repot-repot memeriksa apa yang tersembunyi di dalamnya.
Ia tersenyum tipis, sebuah tekad baru mulai tumbuh di dalam dirinya—tekad yang jauh berbeda dari keinginannya semula untuk sekadar hidup tenang dan tidak terlibat dalam perebutan takhta.
Kalau dunia ini terus memaksaku untuk bertarung demi bertahan hidup... maka biarlah aku membangun kekuatanku sendiri. Bukan dengan pedang dan pasukan besar sejak awal. Tapi dengan mereka yang diabaikan oleh semua orang.
Ia belum tahu bahwa keputusan sederhana di sore itu—mengunjungi bagian perdagangan yang terlupakan—akan menjadi fondasi dari sesuatu yang kelak dikenal di seluruh benua sebagai Pasukan Mata Langit.